Perlahan, kabut tebal yang menyelimuti mulai memudar, menyingkap wujud siluet itu semakin jelas. Senyuman hangat terukir di wajah sosok tersebut—senyuman yang begitu kontras dengan hawa mengerikan yang ia pancarkan sebelumnya.
Ketika sosok itu sepenuhnya terlihat, para prajurit elit dibuat tertegun. Bentuknya menyerupai manusia, nyaris tidak ada ciri fisik yang menunjukkan dirinya sebagai iblis, kecuali empat tanduk pendek yang mencuat di kepalanya dan sepasang sayap hitam yang terlipat rapi di punggungnya.
Rambut hitam pendeknya menjuntai hingga ke bawah telinga, kulitnya kecoklatan dengan bola mata merah menyala—ciri khas bangsa iblis. Ia mengenakan armor hitam legam dengan detail yang begitu rumit, dihiasi ukiran bunga teratai emas yang menyusuri sarung pedang hitam mengkilap di punggungnya. Desain pedang itu mencolok, tampak seperti milik salah satu dari empat Maha Dewi Penjuru Arah.
"Oi, kalian yang di sana," suara sosok itu terdengar ringan namun tegas. "Apakah ini jalan menuju Istana Langit?"
Para prajurit elit membeku. Hati mereka masih terpaku oleh tekanan mengerikan yang baru saja mereka rasakan. Tidak ada yang menjawab.
Sosok itu, yang tak lain adalah Raja Iblis Zhask, tersenyum lebih lebar, memperlihatkan giginya yang rapi. "Kenapa kalian diam saja? Aku bertanya, apakah ini benar-benar jalan menuju Istana Langit?"
Ketua pasukan elit akhirnya memberanikan diri menjawab meski suaranya bergetar. "Ya... ini jalan satu-satunya menuju Istana Langit. Apa ada yang bisa kami bantu?"
Zhask tertawa pelan, seakan lega mendengar jawaban itu. "Bagus, akhirnya aku menemukan jalan yang benar. Terima kasih, paman."
Para prajurit elit semakin bingung. Tak ada sedikit pun tanda-tanda permusuhan dari sosok di hadapan mereka, meski mereka tahu betapa mengerikannya kekuatan yang tersembunyi di balik senyum itu.
Zhask menatap mereka lagi, kali ini dengan nada ramah. "Aku sarankan kalian tidak pergi ke bawah sana. Tempat itu penuh jebakan ilusi. Aku terjebak cukup lama di sana—menyebalkan sekali. Terlihat menggoda, tapi pada akhirnya hanya ilusi belaka."
Sang kapten menelan ludah, mencoba menjaga ketenangannya. Ia akhirnya memberanikan diri bertanya, "Kau benar-benar Raja Iblis Zhask, penguasa alam Neraka itu?"
Zhask mengangguk santai. "Tentu saja. Nama itu sering disebut penduduk neraka, kan? Aku Raja Iblis Zhask Agung. Senang berkenalan dengan kalian."
"Sekarang, aku akan pergi ke Istana Langit," lanjutnya. Senyuman di wajahnya tak luntur sedikit pun, meski kata-katanya terdengar seperti ancaman. "Aku datang untuk menghajar Kaisar Langit habis-habisan. Dia telah melakukan terlalu banyak kerusakan dan ketidakadilan, terutama terhadap kami, penghuni Alam Neraka."
Mendengar pernyataan itu, sang kapten mencoba berpikir cepat. Ia tahu situasinya genting, namun harus berhati-hati agar tak memicu amarah raja iblis. "Kenapa kau tidak membicarakannya secara damai melalui jalur diplomat antar alam? Tidakkah ada cara lain selain konfrontasi seperti ini?"
Zhask menghela napas panjang, tangannya terlipat di dada. "Diplomat? Hah. Itu sudah pernah kucoba. Apa hasilnya? Penghinaan, penolakan, dan bahkan perang kecil yang memakan banyak korban di pihak kami. Diplomasi tidak ada artinya bagi penguasa sombong seperti Kaisar Langit."
Zhask menatap langsung ke arah kapten, senyumnya menghilang untuk pertama kalinya. "Tapi jangan khawatir, paman. Aku tidak berniat melukai kalian—selama kalian tidak menghalangiku. Tugasku hanya menghancurkan tirani di atas sana."
Sang kapten memberi kode halus kepada pasukannya untuk tetap tenang, meski ia tahu Zhask tidak mungkin bisa dibohongi. Aura ublis itu terlalu dalam untuk disembunyikan dengan gerakan sederhana.
"Aku mengerti," jawab kapten hati-hati. "Kami hanyalah penjaga gerbang. Jika itu tujuanmu, maka kami tidak punya hak untuk menghalangi mu. Namun..." Ia berhenti sejenak, mencoba menyusun kata-kata. "Aku mohon, pikirkan lagi jalan yang kau pilih ini."
Zhask tertawa kecil, kali ini terdengar lebih dingin. "Pikirkan lagi? Jangan khawatir, aku sudah memikirkannya selama ratusan tahun."
Dia melangkah maju, melewati barisan prajurit yang masih mematung di tempat. Setiap langkahnya meninggalkan hawa yang membuat udara seolah membeku.
“Sebetulnya, aku hanya ingin bersenang-senang saja. Tidak lebih dari itu,” ucap ringan raja iblis setelah melewati barisan mereka, senyum tipis menghiasi wajahnya yang tampak tenang, seolah dunia hanyalah permainan kecil baginya.
Ia lalu melangkah balik, pandangannya jatuh pada sosok ketua pasukan elit yang berdiri tegap meski tubuhnya bergetar. “Bagaimana kalau paman bergabung denganku, menjadi aliansi ku untuk menumbangkan Kaisar Langit? Kalau paman setuju, nanti aku akan memerintahkan Lucifer memberimu jabatan tinggi di bawah pemerintahan ku.”
Ketegangan di udara kian pekat. Para prajurit menahan napas, menunggu jawaban sang ketua.
“Tawaran yang… menarik,” jawab sang ketua akhirnya, nadanya rendah namun penuh ketegasan. “Namun maaf, aku tak bisa melakukannya. Kaisar Langit adalah atasanku. Aku tak ingin mengecewakan beliau.”
Zhask tersenyum, kali ini lebih lebar, menunjukkan kehangatan yang hampir tampak tulus. Ia mendekat, matanya yang merah menyala bersinar tajam namun ramah. “Wah, sayang sekali, paman. Padahal kau ini prajurit yang baik hati. Kau bahkan telah menunjukkan jalan menuju istana langit kepadaku.”
Namun, momen damai itu mendadak pecah. Sebuah kapak besar bersinar dengan energi surgawi Count 2 melesat dari arah prajurit bertubuh kekar. Senjata itu mengarah langsung ke ke kepala Zhask, memotong udara dengan desing mematikan.
“Jaga ucapanmu, Iblis rendahan!” bentak prajurit itu, suaranya bergema, penuh amarah. “Kau tak pantas berkata buruk tentang Kaisar Langit!”
Zhask hanya menggeser tubuhnya sedikit, dan kapak itu meleset, menghantam lantai di sampingnya. Dentuman keras menggetarkan tanah, menciptakan retakan yang menyebar seperti jaring laba-laba. Zhask berbalik perlahan, ekspresi ramahnya menghilang digantikan oleh aura dingin dan penuh tekanan.
“Bodoh.” Kata itu meluncur dari bibirnya, suaranya rendah namun mengandung ancaman yang menusuk jiwa. “Apa kau mencoba membunuhku?”
Prajurit bertubuh besar, Rega, tidak gentar. Ia melangkah maju, dadanya membusung penuh keberanian. “Iblis rendahan sepertimu tidak pantas bertemu dengan Kaisar Langit! Kalian hanyalah makhluk hina yang seharusnya menjadi budak kami, bangsa Langit!”
“Cukup, Rega!” bentak sang ketua, suaranya menggema tegas. Namun, Rega tidak bergeming, kemarahan sudah menguasainya. Ucapan buruk raja Iblis Zhask kepada Kaisar Langit membuat Rega naik pitam, menghancurkan rencana yang telah mereka semua susun dengan rapi.
“Ia perlu diberi pelajaran, Ketua!” jawab Rega dengan suara keras. “Sebagai makhluk rendahan, ia harus tahu tempatnya!”
Zhask menutup matanya sejenak, mengambil napas panjang. Ketika ia membuka matanya kembali, energi kutukan yang begitu masif menyebar dari tubuhnya, menciptakan pusaran angin yang membuat para prajurit tersentak mundur. “Diamlah, kau mahluk bodoh…” desisnya, suaranya seperti guntur di tengah badai.
Namun sang ketua segera maju, berdiri di antara Zhask dan Rega. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, sikapnya penuh hormat. “Maafkan kelancangan prajuritku, wahai Raja Iblis. Aku memohon, maafkan dia atas tindakan bodohnya.”
Zhask menatap sang ketua cukup lama sebelum akhirnya menghela napas panjang. Aura mengerikannya perlahan mereda. “Karena paman telah menolongku, aku akan memaafkannya. Tapi ajarkan dia sopan santun lain kali, paman.”
Sang ketua mengangguk cepat. “Terima kasih atas kebaikan Anda, wahai Raja Iblis Zhask Agung.”
Zhask kembali tersenyum, kali ini senyuman yang tampak benar-benar hangat. “Baiklah, paman. Aku akan pergi ke Istana Langit sekarang. Sampai bertemu lagi lain waktu, dan semoga kalian semua tetap sehat selalu.”
Ketua pasukan membalas dengan hormat. “Semoga dirimu juga sehat selalu.”
Zhask melangkah menjauh perlahan, tubuhnya mulai menyatu dengan gelapnya awan di atas. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti. Sebuah kilauan merah terang muncul di tanah tempat ia berpijak, membentuk pola segitiga besar dengan simbol-simbol kuno yang bercahaya seperti api.
Zhask melirik ke bawah, alisnya terangkat. “Hmm… teknik penyegelan, ya?” desisnya.
Simbol itu meledak dengan cahaya, mengurungnya dalam lingkaran energi yang memancar ke segala arah. Dari dalam cahaya itu, suara keras terdengar, menggema dengan kekuatan suci. “Raja Iblis Zhask, kau tidak akan pernah mencapai Istana Langit!”
Zhask berdiri diam di tengah pusaran energi yang mencoba menekannya. Namun, bukannya terlihat terancam, ia justru tersenyum kecil. “Penyegelan tingkat tinggi, ya? Cukup mengesankan.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments