Gendhis terpaksa menerima tumpangan dari Attar. Dia masuk ke dalam mobil milik Attar.
Selama perjalanan ke apartemen, tak ada sepatah kata pun terucap dari bibir Gendhis.
"Kenapa diam saja dari tadi, kamu sariawan?" tanya Attar melirik ke arah Gendhis sebentar yang sedari tadi lebih memilih melihat jalanan dari kaca samping.
Mendengar ucapan Attar membuat Gendhis menoleh ke arah Attar sejenak. "Saya tahu kamu marah, saya cuma...
"Kenapa sih bapak selalu saja bikin saya kesal, pak..maaf ya saya itu lelah. Saya mau cepat pulang dan saya mau bersih-bersih, masak, makan dan habis makan tidur. Besok pagi saya harus ke Rumah Sakit lagi. Lalu kerja, lalu ke Rumah Sakit lagi buat jagain Shena. Begitu terus setiap hari."ungkap Gendhis
"Maaf kalau saya buat kamu kesal. Saya juga tahu kamu merasa di permainkan. Tapi Dis, saya perlu memastikan sesuatu dulu dan sekarang saya rasa sudah pasti. Saya juga lelah dengan semua yang terjadi pada hidup saya."ucap Attar.
Lalu tiba-tiba Attar menepikan mobilnya di bahu jalan dekat apartemen Gendhis.
"Istri saya benar-benar mau pergi. Dia tak lagi mempertimbangkan bagaimana keadaan saya nanti jika tidak ada dia. Sudah hampir tiga bulan dia berubah dingin. Entahlah, apa memang semua itu berawal dari saya dan keluarga yang menginginkan di pernikahan kami hadir seorang anak. Nyatanya dari kemarin-kemarin dia bersemangat untuk kita mencoba memiliki nya dari apapun yang di sarankan orang-orang pada kita. Tapi, entah kenapa beberapa bulan ini dia menyerah."ungkap Attar membuat Gendhis menatap lekat sosok Attar yang ada di balik kemudi.
"Lalu bapak menikahi saya untuk bapak bisa mempunyai keturunan, begitu?" Pertanyaan yang terucap dari bibir Gendhis sontak membuat Attar menoleh ke arah Gendhis.
"Kamu salah paham, saya bahkan tidak berniat begitu. Bagaimana pun juga pasti punya perasaan. Kamu bukan mesin pencetak anak untuk saya, tapi..kalau pun kita menikah tanpa cinta saya ingin menjalaninya selayaknya rumah tangga pada umumnya."ungkap Attar membuat Gendhis menundukkan kepalanya.
"Apa maksud bapak mengatakan hal itu pada saya. Bukannya bapak sendiri yang bilang jika pernikahan yang bapak janjikan itu batal."ujar Gendhis yang sangat ingat dengan kata-kata yang keluar dari mulut Attar siang tadi.
"Maaf Dis, saya tahu tadi siang saya sangat yakin dengan sikap istri saya yang mau mendengarkan permintaan saya untuk membatalkan niatannya ke Korea untuk melanjutkan spesialis nya. Tapi nyatanya dia tidak mengindahkan ancaman saya."ungkap Attar pada Gendhis.
"Lalu bapak mau nya apa ?" tanya Gendhis menatap lekat laki-laki yang ada di samping nya.
Gendhis sadar jika dia tak mungkin melupakan kebaikan Attar yang memberikan pengobatan Shena dan juga menangani masalah panti. Semua yang di lakukan nya bukan tanpa uang yang banyak. Bahkan ratusan juta dia keluarkan untuk melakukan hal itu. Gendhis juga bukan tipe orang yang tak tahu terimakasih.
Walaupun terpaksa harus menjadi istri kedua dan bahkan paling buruk nya, dia hanya di butuhkan saat dia di inginkan. Mungkin sudah menjadi garis takdir nya. Dia harus balas budi dengan apa yang di lakukan Attar untuk dirinya.
"Mau aku, kamu tanya mau aku Dis?" tanya Attar dan Gendhis pun langsung menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Aku laper Dis, bisa kan aku makan di apartemen kamu?"
Ambyaarrr..
"CK..pak Attar ini, saya lagi serius malah di bikin bercanda."protes Gendhis dengan mengerucutkan bibirnya.
"Saya nggak bercanda Dis, saya serius..saya laper."jawab Attar membuat Gendhis menyipitkan matanya.
"Bapak kan bisa makan di rumah, ada istri bapak juga kan, terus bapak juga punya handphone canggih yang pastinya bisa memesan makanan secara online. Terus, bapak juga punya uang yang bapak bisa gunakan buat beli makanan yang enak dan juga mewah."ucap Gendhis dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Memang lah saya punya uang buat beli makan, istri saya pun ada dirumah, terus ponsel saya pun bisa say gunakan buat pesan makanan dari luar tapi, yang jadi masalah disini, saya pengen makan masakan kamu Dis, boleh yaaa...?"
Gendhis benar-benar tak habis pikir kenapa bos nya saat ini yang sedang dalam mode manja membuat dirinya gemas. Ternyata bisa juga bosnya yang terlihat sangar seperti kucing yang manis bila mode manja.
"Saya serius Dis, ayolahh..."pinta Attar dengan suara manjanya.
Astaga...
"Oke, kita ke apartemen saya. Tapi masakan saya cuma masakan rumahan jangan sampai pak Attar nyesel."ucap Gendhis membuat Attar tersenyum senang.
Attar pun langsung tancap gas menuju apartemen Gendhis. Sampai di unit apartment nya Gendhis meminta Attar untuk duduk di sofa dan tak lupa Gendhis membuatkan kopi untuk menemani Attar menunggu masakan nya matang.
Dengan senang hati Attar menikmati kopi yang membuat dirinya ketagihan itu. Sambil menunggu masakan matang, Attar mengutak-atik ponselnya untuk mengecek email yang masuk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di rumah Attar, terlihat Clara yang mondar mandir di kamarnya setelah Attar memutuskan untuk keluar dari rumahnya.
Dia sudah beberapa kali mengirimkan pesan pada Attar untuk menanyakan dimana keberadaan nya. Lalu dia pun berusaha menghubungi nomer telpon Attar namun panggilan nya selalu di abaikan.
"Kemana sih kamu , jangan-jangan dia kerumah orang tuanya. CK...apa kata mereka, mereka saja belum menegur ku soal niat aku belum mau program bayi tabung, tambah sekarang aku mau pergi ke Korea. Apa tanggapan mereka.."gumam Clara saat mengingat bagaimana sikap ibu mertuanya yang kurang suka dengannya sedari awal dia menikah dengan Attar.
Clara bertambah kesal saat dia menghubungi Andre ternyata laki-laki itu pun tak menghiraukan panggilan darinya.
"Sia*an kenapa sih Andre juga nggak bisa di hubungi, jangan-jangan dia lagi telponan sama istrinya itu. CK...kenapa sih, nggak ceraiin aja istrinya itu. Bikin kesel aja."gerutu Clara saat Andre juga tidak bisa dia hubungi.
"Pak, ayo kita makan."ucap Gendhis dengan membuka appron yang ada di masih melekat di tubuh nya.
"Sudah matang, kok cepet banget.."ucap Attar karena dia merasa baru saja melihat' ponselnya untuk mengecek email.
"Bapak kalau sudah sibuk suka lupa waktu. Ini sudah empat puluh menit saya di dapur. Bapak bilang cepet, CK..apalagi saya cuma masak mie rebus pasti bapak bilang saya lagi sulap.."cerocos Gendhis dengan melangkah mendekat ke arah di mana sudah ada hidangan sederhana untuk makan malam mereka.
"Ternyata aslinya kamu cerewet ya, kenapa selama ini kamu seolah takut sama saya?" tanya Attar duduk di salah satu bangku di mini bar yang ada di dekat dapur apartemen Gendhis.
Dia melihat betapa cekatan nya Gendhis menyiapkan makanan untuk dirinya. Apalagi dengan bau makanan yang terasa menggugah selera.
"Saya kan profesional pak, saya nggak mau kalau kecerewetan saya buat bapak nggak nyaman waktu kerja. Lagi pula saya belum ada sebulan bekerja dengan bapak."ungkap Gendhis dengan menyediakan makanan untuk dirinya.
Hidangan sederhana di atas meja hanya ada sayur sop, ayam goreng, tempe goreng, sambel dan kerupuk. Tapi, hidangan itu terasa istimewa bagi Attar. Apalagi melihat ketulusan hati Gendhis melayaninya.
Saat merasakan masakan Gendhis Attar sempat terdiam sesaat merasakan kenikmatan masakan sederhana itu namun langsung melekat di hati Attar.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
neng ade
klo di lidah cocok perut pun kenyang dan hati pun senang
2024-11-03
0
neng ade
enak aja nyuruh Andre cetakkan istrinya.. emang kamu siapa .. ga sadar diri ya klo km juga punya suami dan sm Andre tuh cuma selingkuhan
2024-11-03
0
Lanjar Lestari
betul tu dr lidah turun ke perut br dr mata turun ke hati masakan Gendhis enak nya Attar sampaai meleleh hatimu
2024-10-19
0