Attar menyalakan mesin mobilnya. Lalu dengan perlahan dia mulai meninggalkan area rumah miliknya.
Clara yang baru saja keluar dari kamar mandi tidak mendapati suaminya di kamar pun mengernyitkan dahinya. Dia melihat dari jendela kamarnya mobil suaminya sudah tidak ada.
"Attar.....
Clara benar-benar di buat geram dengan tingkah Attar. Tapi dia tidak bisa terus ngomel-ngomel tidak jelas. Dia segera bersiap untuk pergi ke Rumah Sakit.
Beberapa waktu kemudian, Clara sudah selesai bersiap dan langsung turun ke lantai dasar. Terlihat salah satu pembantu nya sedang membersihkan ruang tamu.
"Bi, bapak apa sudah berangkat?" tanya Clara pada salah satu pembantu nya.
"Eh nyonya, iya bapak sudah keluar. Apa nyonya mau langsung berangkat? Nggak sarapan dulu nyah?"
"Saya langsung berangkat. Saya sudah kesiangan."ucap Clara yang langsung berjalan menuju pintu depan.
Clara pun langsung tancap gas guna cepat sampai di Rumah Sakit.
Sementara Attar yang sedang menuju rumah orang tua nya pun menyempatkan diri untuk menghubungi Gendhis.
Entah kenapa rasanya dia begitu ingin menghubungi gadis itu.
"Hallo Assalamualaikum pak, ada apa ya pagi-pagi telpon saya?"
"Wa_ Wa'alaikum salam, kenapa kamu nanya begitu, memangnya saya nggak boleh telpon kamu sepagi ini? Kamu sudah berangkat belum?mau saya jemput atau gimana?"
"Saya sedang di Rumah Sakit pak, habis subuh tadi saya ke Rumah Sakit. Sebentar lagi saya berangkat,bapak nggak usah jemput. Nggak enak nanti ada rumor jelek tentang bapak."
"Kamu peduli dengan nama baik saya Dis,bahkan istri ...
"Pak maaf, dokter Shena sudah datang. Seperti nya saya harus cari informasi tentang keadaan Shena. Bapak hati-hati di jalan. Saya tutup Assalamualaikum.."
Tut...Tut..Tut...
"Wa'alaikum salam.."jawab Attar.
Dia merasa baru kali ini ada yang berani memutuskan sambungan telepon nya begitu saja. Anehnya lagi Attar tidak merasa marah seperti biasanya.
"Astaghfirullah, ada apa dengan aku ini. Kenapa harus marah juga ya..padahal mereka nggak salah juga."batin Attar saat mengingat bagaimana sikap nya selama ini yang selalu kesal jika ada orang yang tiba-tiba mematikan panggilan saat dia masih ingin bicara.
Tak berapa lama Attar sampai di rumah orang tuanya. Dia pun langsung masuk ke dalam rumah besar itu.
"Assalamualaikum.." ucapnya saat masuk ke dalam rumah itu.
"Wa'alaikum salam.."jawab kedua orang tua Attar.
Terlihat Damar dan Taru sedang sarapan pagi di meja makan. Melihat putra mereka datang membuat mereka saling pandang.
"Wahhh.. seperti nya anak kita sebentar lagi jadi anak Sholeh pah, lihat lah tumben beberapa hari ini dia sering datang kesini pagi-pagi sekali. Ada apa sebenarnya kamu pagi-pagi sudah datang kesini? Istri kamu sudah berangkat ke Rumah Sakit?"
Attar mendengar sindiran sang mama pun hanya bisa diam dan menyendokkan nasi goreng ke dalam piring.
"Kamu belum sarapan Tar, kemana..
"Dia telat bangun mama, lagi pula ada yang mau Attar bicarakan sama mama juga papa."potong Attar membuat Damar dan Tari saling melemparkan tatapan satu sama lain.
"Soal apa, kamu kenapa lagi sama istri kamu itu? Apa dia masih kekeh buat kuliah di Korea?" tanya Tari pada sang putra.
"Iya. Dia tetap mau kuliah di Korea. Tapi bukan itu yang Attar mau bahas. Attar mau tahu pendapat mama sama papa kalau aku poligami."ungkap Attar membuat kedua orang tuanya itu terkejut.
"Attar jangan sembarangan kamu. Papa sama mama nggak ngajarin kamu nyakitin hati perempuan loh,Jika ada masalah selesaikan dengan baik-baik. Bagaimana pun juga kamu harus bicarakan dengan kepala dingin dan juga hati tenang."ujar Damar menasehati putra nya itu.
"Memang nya apa yang buat kamu putuskan untuk menikah lagi? berpoligami itu nggak mudah Tar, kamu harus benar-benar adil dan bisa membimbing kedua istri mu nanti. Tar, sebenarnya apa sih yang buat kamu bertindak kayak gini?"
"Bukannya mama yang nyuruh aku nikah lagi, kenapa sekarang mama masih tanya apa alasan aku menikah lagi?"
"I_iya, memang benar mama nyuruh kamu nikah lagi. Tapi, kalau memang istri kamu itu udah nggak bisa di bilangin. Tar,lagian mau nikah lagi emang sudah punya calon ?"
"Sudah."jawab singkat Attar dengan menyelesaikan sarapannya.
Damar tentu nya terkejut dengan ucapan putranya itu.
"Hah...yang benar saja kamu, yakin calon istri kedua kamu itu baik. Jangan kayak model istri kamu loh, mama bisa struk punya mantu satu lagi macam kayak istri kamu itu." ujar Tari yang memang tak kalah terkejutnya dengan Damar.
"Aku nggak mungkin nikah sama perempuan yang sejenis sama Clara mah, pah, nanti saja lah..kalau memang Clara nekat untuk tetap ke Korea, aku akan ambil langkah poligami."ucap Attar dengan entengnya.
Damar dan Tari tak habis pikir cara pikir Attar yang begitu mudahnya membuat keputusan untuk poligami. Bahkan dia tahu akan akibatnya nanti.
Setelah selesai dengan sarapannya dan bicara hal ingin poligami itu, Attar berpamitan untuk pergi ke kantor.
Disisi lain Gendhis yang sedari tadi menunggu kedatangan Bu Ratna dan pak Hasan untuk menjaga Shena mereka sudah datang dan saatnya dia berpamitan untuk berangkat kerja.
"Gendhis jalan dulu ya bah, bu,"pamit Gendhis pada kedua orang tua angkatnya.
"Hati-hati ndok.."ucap Ratna pada gadis baik itu.
Gendhis berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Dengan sedikit terburu-buru dia berjalan dengan sedikit berlari. Namun tiba-tiba seseorang memanggil namanya.
"Gendhis, tunggu !" panggilan seseorang itu membuat Gendhis menoleh ke arah sumber suara.
Ternyata Andre dan Clara yang sedang berjalan bersisian. Memang terlihat serasi antara keduanya. Keduanya dokter yang cukup di kenal di rumah sakit itu.
"Eh kalian,ada apa ya dok? Apa ada sesuatu yang dokter ingin sampaikan mengenai urusan Shena?"
Gendhis mencoba untuk menjaga hati Clara saat dia bicara pada Andre. Dia tahu jika Clara selalu tidak menyukai dia jika berurusan dengan Andre.
"Aku dengar kamu mau bawa Shena ke Singapura, apa itu benar?" tanya Andre memastikan kabar yang dia dengar dari rekan sejawat nya.
"Ternyata banyak uang juga sekarang kamu Dis, aku salut padamu."ucap Clara ikut berkomentar.
Walaupun memang Gendhis tahu arti dari kata-kata Clara tapi Gendhis tak ambil pusing.
"Banyak duit sih nggak Cla, cuma Alhamdulillah ada rejekinya saja."ujar Gendhis dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Apa yang kamu putuskan memang sudah benar, lagi pula keadaan Shena harus segera di tangani. Apa kamu sudah punya donor jantung untuk Shena nanti ?"
"Emmm..aku sih kurang tahu, yang jelas orang yang membantuku yang mengatur semuanya."ujar Gendhis.
"Wahhh... seperti nya dia orang spesial yah Dis, apa calon suami kamu yang sudah membantu kamu?" tanya Clara dengan senyuman mengejeknya.
"Bisa di katakan begitu, karena memang dia sudah melamar aku ke Abah dan ibu panti kemarin."jawab Gendhis .
"Wahhh.. selamat ya Dis, akhirnya kamu sold out juga. Nggak ngarep yang sudah pasti nolak kamu kan?" sindir Clara dengan lidah yang tajam nya itu.
"Nggak kok, lagi pula aku hanya ingin memberikan yang terbaik buat keluarga ku di panti. Karena hanya mereka yang aku punya. Oh iya kalau kalian ada waktu nanti datang ke nikahan aku yaa... waktu nya akan aku kasih tahu nanti."ucap Gendhis.
"Memangnya kapan kamu akan nikah?"
"Mungkin akhir-akhir bulan ini."ujar Gendhis asal saja menjawab. Padahal Attar belum membahas sampai sejauh itu. Rasanya dia jengah dengan sifat Clara yang selalu memandang nya rendah.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
neng ade
ya jawab aja Dhis sekena nya buat ga di remehkan terus
2024-11-03
0
Lanjar Lestari
Clara memang g bs hargai irang lain dan suami lp dulu rebut Andre dr Gendhis terus Andre jg yg lebih pilih Clara dr pd Gendhis ya wajar kl Andre di jodohin ke2 Ortunya sm anak temannya
2024-10-19
0
Nar Sih
dasar mulud ngk dijga klau bicara clara ,,kmu boleh mehina gendhis tapi .gimana rasa hti mu bila yg slalu kau hina jdi madu mu pasti kamu nyesselll🤣🤣
2024-07-10
0