"Pagi mba Sil, udah sampai aja mba?" sapa Gendhis saat sampai di meja kerja nya.
"Pagi Dis, biasalah deadline dari bos."ujar Sisil dengan sibuk menatap laptopnya.
"Ada yang perlu Gendhis bantu mba? " tanya Gendhis.
"Ahhh..iya, kamu bisa buatin kopi boss ya..nggak lupa tugas itu kan?"
Gendhis mengangguk dan segera ke arah pantry. Tak perlu waktu lama Gendhis mengantarkan kopi buat sang bos.
Tok tok tok
"Masuk..!"
Suara Attar membuat Gendhis langsung membuka pintu ruangan itu.
Terlihat Attar sedang sibuk dengan laptopnya dan terlihat sangat serius. Bahkan Gendhis yang melihat ekspresi bos nya yang sedang serius itu membuat pesona bos nya itu bertambah berkali-kali lipat.
"Silahkan pak kopinya."ucap Gendhis meletakkan cangkir kopi di meja kerja Attar.
"Hemm.." jawab singkat Attar yang masih fokus dengan laptopnya.
Gendhis pun berbalik dan melangkah ke arah pintu. Namun sebelum tangannya menggapai gagang pintu tiba-tiba suara Attar menghentikan langkahnya.
"Gendhis." panggil Attar.
Gendhis pun langsung menoleh ke arah Attar.." Saya pak." ucap Gendhis.
"Kemarilah !" ucap Attar membuat Gendhis melangkah mendekat ke arah Attar.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanyanya.
Attar beranjak dari tempat duduknya dan mendapat kearah Gendhis.
"Duduk disana dan tolong kamu cek kembali dokumen itu. Saya ingin istirahat sebentar, setelah selesai tolong bangunkan saya." ucap Attar dan melangkah ke arah dimana ada kamar yang cukup besar di bagian belakang ruangan nya.
Gendhis tanpa banyak bicara, dia pun langsung mengerjakan apa yang menjadi tugasnya.
Diluar ruangan terlihat Niko menuju ke ruangan Attar. Namun langkah nya terhenti saat Sisil memanggil nya.
"Nik, mau kemana?" tanya Sisil melihat Niko melangkah menuju ke ruangan Attar.
"Ke kutub Utara Sil, sudah tahu gue mau ke ruangan bos, masih nanya saja." ucap Niko ketus.
"Bukan gitu, bos sama Gendhis sedari tadi di dalam berdua. Kira-kira mereka ngapain yah?"
"Semprul Lo, jangan lupa dia laki-laki setia Sil, lagian gue rasa Gendhis juga perempuan baik-baik."ucap Niko.
"Tahu sih, tapi..kalau Gendhis sama pak bos gimana menurut Lo?"
Mendengar pertanyaan Sisil membuat Niko teringat dengan rencana keduanya untuk membuat Attar meninggalkan wanita yang selalu membuat sahabat mereka tersiksa dalam pernikahan nya.
"Haaa..kalau itu benar ucapan Lo, Gendhis gadis yang baik dan gue yakin dia bisa jadi istri yang baik buat Attar." Ucap Niko teringat bagaimana Gendhis yang selama sebulan ini bekerja di Atarikza Group.
"Sudah, sekarang kita pergoki aja mereka. Setelah itu, kita suruh Attar nikahi Gendhis gimana?'
Pemikiran Sisil benar-benar membuat Niko tepok jidat. "Emang kata Gendhis hamil anaknya Attar makanya minta tanggung jawab." ucap Niko membuat Sisil meringis memamerkan deretan giginya merasa konyol pikirannya.
Keduanya pun memutuskan untuk masuk ke ruangan Attar. Ternyata keduanya salah, ternyata di sana mereka hanya menemukan Gendhis yang sedang duduk di kursi kebanggaan Attar.
Ceklek.
Pintu ruangan Attar terbuka dan Gendhis yang sedari tadi sibuk membolak-balik dokumen di depannya pun langsung menoleh ke arah pintu.
"Kalian, kalian cari pak Attar ya? Beliau di kamar itu, seperti nya dia sedang tidak enak badan deh." ucap Gendhis setelah mematikan laptop yang sudah selesai dia gunakan.
"Kurang enak badan?"tanya Niko membeo.
"Iya pak Niko, tadi pak Attar bilang ke saya kalau beliau mau istirahat sebentar, tapi sampai sekarang belum keluar dari ruangan itu."jawab Gendhis menjelaskan kembali tentang keadaan bos mereka.
Dengan langkah cepat, Niko masuk ke dalam kamar Attar yang ada di dalam ruang kerjanya.
"Tar, heii..Lo nggak enak badan?" tanya Niko dengan wajah khawatir dan segera menghampiri Attar.
Niko yang tidak melihat respon dari Attar pun langsung mendekati sahabat nya itu. Dia menyentuh kening Attar dan dia pun merasa terkejut karena saat menyentuh kening sahabatnya itu ternyata Attar demam.
"Astaghfirullah, Lo demam Tar...CK, gue bilang juga apa, Lo nggak pernah dengerin omongan gue sih, Dis tolong ambil air dan kain kompres dan lo Sil, ambil obat buat Attar." ucap Niko mengomando kedua sekretaris Attar untuk melakukan sesuatu.
"Baik pak," jawab Gendhis dengan bergegas menuju ke arah toilet yang ada di dalam ruangan Sementara Sisil mengambil obat yang dia simpan di laci kamar Attar.
"Kenapa lo bisa sakit gini sih, CK.. benar-benar menyusahkan." gerutu Niko mengendurkan dasi yang di pakai Attar dengan susah payah.
Lalu dia pun tak lupa membuka kemeja milik Attar dan menyisakan kaos putih polos yang masih melekat di tubuh nya.
"Pak, maaf airnya." ucap Gendhis meletakkan sebuah mangkok keramik lengkap dengan handuk kecil yang dia temukan di toilet milik bosnya itu.
"Bisa bantu saya mengurus bos mu yang keras kepala ini, saya dan Sisil yang akan menghandle pekerjaan nya."ucap Niko membuat Gendhis merasa terkejut.
Bahkan bukan hanya Gendhis yang terkejut tapi Sisil pun sama terkejut nya dengan Gendhis.
"Tapi pak, saya nggak enak kalau saya yang merawat pak Attar ,istrinya..
"Tenang saja, istrinya tidak mungkin keberatan kalau kamu merawat suaminya."ucap Sisil memotong ucapan Gendhis.
"Sudahlah, jangan banyak berpikir. Nanti aku suruh OB buat bawa bubur buat pak Attar. Kamu nggak boleh kemana-mana, karena kalau pak Attar demam begini emang harus ada yang menunggu di samping nya."ujar Niko segara membawa Sisil untuk keluar dari kamar itu.
Gendhis pun dengan pasrah akhirnya dia mengambil alih untuk merawat Attar yang sampai saat ini enggan membuka matanya.
Dengan perlahan dia memeras handuk yang dia basahi dengan air dan dia tempelkan ke kening Attar.
Sementara Attar yang merasakan ada hal yang mengusik ketenangan nya, dia merasa keningnya merasa dingin namun dia malas untuk membuka matanya. Dia merespon hanya mengerutkan keningnya sesaat.
"Maaf ya pak,saya lancang."ucap Gendhis membenarkan posisi tidur bosnya itu.
Tok tok tok
Setelah lima belas menit berlalu dengan telaten Gendhis mengompres tubuh Attar ,terdengar suara ketukan pintu dan dengan cepat Gendhis membukanya.
Ternyata seorang OG yang datang membawakan bubur untuk Attar dan makan siang untuk Gendhis.
"Terimakasih mba." ucap Gendhis pada si OG.
"Sama-sama Bu Gendhis." jawab si OG.
Setelah melihat OG itu pergi Gendhis pun berusaha membangunkan Attar untuk makan bubur dan meminum obat.
"Pak, Pak Attar..bisa bangun sebentar pak, bapak harus minum obat."ucap Gendhis dengan lembut.
Merasa tidurnya terusik, Attar membuka matanya perlahan. Hal yang pertama dia lihat adalah Gendhis.
"Pak ,maaf bapak makan dulu ya buburnya, setelah itu bapak minum obat buat cepat pulih."ucap Gendhis.
Karena malas menjawab akhirnya Attar pun hanya mengangguk setuju. Dengan perlahan Gendhis membantu Attar untuk duduk. Namun, karena tubuh Attar yang lumayan berat dan tubuh Gendhis yang ringan, tubuh Gendhis ikut terbant*ng dan sialnya tubuh Gendhis saat ini ada diatas tubuh Attar.
Mata Gendhis melebar saat sepersekian detik ada di atas tubuh Attar. Sementara tubuh Attar pun menegang . Terpaku saat menatap dalam wajah cantik Gendhis dan dengan tanpa di komando lagi senjata saktinya ikut menegang.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
neng ade
Attar jangan bertindak konyol ya itu Gendhis loh bukan Clara
2024-11-03
0
gedang Sewu
waduuuhhh terbangun 🤣🤣
2024-11-09
0
Lanjar Lestari
eh sakit Attar kr sibuk kerja mikirin kerjaan dan mikirin istri yg g mau di atur jd sak8t sdh lah Tar menikah aja lg Gendhis calon Istri yg akan nurut suami dan majain km g nyesel deh nanti ke2 ortumu pasti setuju
2024-10-19
1