"Lo manusia beneran?"
"Ya iyalah Bu saya manusia beneran, memangnya kalau bukan, apaan? Setan?" Jo bersungut-sungut sambil mengusap pipinya sendiri. "Lama-lama pipi saya peyot sebelah nih ditampar mulu!"
Tina masih tampak terkejut dengan kehadiran Jo, tapi kemudian ia bertanya dengan nada ketus. "Ya lagian Lo ngapain pagi-pagi udah ke sini?"
"Loh, ini kan udah jam delapan lebih Bu. Biasanya saya juga udah ke sini kan jam segini,"
"Oh, iya juga ya," Tina bergumam salah tingkah. Haish, gara-gara semalam bermimpi yang aneh-aneh, dia jadi merasa canggung untuk berbicara sambil menatap Jo.
"Yaudah Bu, kalau gitu saya tunggu di mobil ya," Jo berbalik dari hadapan Tina, bermaksud untuk pergi ke parkiran. Tapi Tina malah salah fokus saat melihat leher Jo yang terlihat lebam.
"Leher Lo kenapa? Habis jatuh?" Tina tak kuasa menahan diri untuk bertanya.
"Oh, ini..." Jo menyentuh area bekas pukulan preman kemarin. "Saya habis dikeroyok preman Bu,"
"Hah? Kok bisa? Memang sih Lo itu tinggal di sarang preman, tapi apa mereka sering menyerang penduduk sekitar juga?"
"Nah itu dia yang bikin saya bingung Bu," Jo tampak menggaruk-garuk tengkuknya. "Masalahnya saya nggak kenal sama preman-preman itu, entah mereka orang mana. Mungkin mereka ada dendam sama preman di daerah saya, jadi melampiaskannya ke saya,"
"Memangnya pernah ada kejadian seperti itu sebelumnya?"
Jo menggeleng. "Nggak pernah sih Bu. Soalnya rata-rata para preman takut sama ketua preman di daerah saya itu. Namanya Bang Boim, orangnya tinggi keker! Mukanya ngeri!"
Tina tampak berpikir serius. Bukan tentang Bang Boim, preman yang kata Jo menyeramkan itu. Namun, kejadian yang menimpa Jo terasa janggal baginya. Mengapa bisa begitu kebetulan hal itu terjadi setelah mereka bertemu Andra di kantor?
"Ini pasti ulah Andra," Tina berkata yakin. "Wah, udah gila tuh cowok. Gue harus buat perhitungan sama dia," Tina kemudian bergegas keluar, dan Jo mengikuti di belakangnya dengan tergopoh-gopoh.
"Jangan Bu, nggak usah," Jo menahan tangan Tina yang hendak masuk ke mobil. "Saya udah nggak apa-apa kok. Lagian saya udah laporin tentang hal ini sama Bang Boim, dan dia bilang bakal ngurusin preman-preman itu,"
Tina menoleh menatap Jo. "Beneran? Ini bahaya loh, Lo aja sampai digebukin preman begitu,"
"Nggak apa-apa kok Bu, beneran," Jo meyakinkan. Tina menghela napas panjang, kemudian mengangguk.
"Oke, tapi mulai sekarang, kalau ada apa-apa Lo jangan diem aja, bilang ke Gue,"
"Siap Bu,"
"Ini bukan karena Gue khawatir sama Lo ya, tapi karena Gue takut keberuntungan Gue kenapa-napa," lanjut Tina menjelaskan.
"Iya Bu,"
"Beneran! Ini bukan karena Gue khawatir sama Lo, ya!" Tina kembali menegaskan dengan suara tinggi.
"Astaga, iya Bu, iya... Saya ngerti kok," Jo membukakan pintu mobil untuk Tina dan sedikit mendorong tubuh wanita itu agar segera masuk ke dalam. Bisa panjang percakapan mereka nanti kalau diteruskan.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke kantor. Sepanjang jalan, Tina sudah berusaha untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain, tapi lagi-lagi matanya selalu tertuju ke arah Jo. Entah kenapa, suara tawa Jo yang menggelegar saat sedang mengobrol dengan Pak Supir jadi terdengar merdu di telinga Tina.
Astaga, apa sekarang gue udah mulai gila? Tina membatin sambil berusaha menenangkan dirinya sendiri. Apa seharusnya gue pergi ke psikiater?
Mobil mereka pun sampai di depan kantor dan Jo dengan sigap langsung membukakan pintu mobil untuk Tina. Melihat Tina yang kesusahan turun karena rok yang ia pakai terlalu pendek, Jo segera membuka jas luarnya dan menutupi kaki Tina.
Tina terperangah melihat perlakuan Jo yang terlihat begitu gentleman. Sejak kapan cowok kampungan ini kelihatan keren?
Sembari mengipas-ngipasi wajahnya yang terasa panas, Tina melanjutkan langkahnya ke dalam kantor. Para karyawan yang melihat kedatangan CEO mereka segera menundukkan kepala.
"Selamat pagi Bu," sapa mereka dengan hormat, dan Tina menjawabnya dengan senyum tipis.
"Pagi Pak Jo," Berbeda dengan saat menyapa Tina, para karyawan wanita tampak menyapa Jo dengan ramah.
"Oh, pagi," Jo menjawab sambil tersenyum lebar.
Tina sontak langsung melirik ke arah Jo. "Sejak kapan Lo akrab sama para karyawan?"
"Oh, mereka itu orang yang pernah saya bantuin Bu," jawab Jo sambil tersenyum.
"Bantuin? Bantuin apa?"
"Ya apa aja Bu. Benerin printer, buangin sampah, bikinin kopi, ya macem-macem lah!"
Langkah Tina langsung terhenti saat mendengar penjelasan Jo. Ia lalu berbalik dan menatap Jo dengan serius. "Jo, jangan mau disuruh-suruh begitu sama mereka. Lo itu asisten Gue, jadi tugas Lo cukup bantuin Gue aja!"
"Saya nggak disuruh kok Bu, saya yang nawarin diri. Soalnya saya nggak tega kalau ngelihat orang kesusahan," Jo buru-buru meluruskan.
"Huh, Lo nggak tega ngeliat orang susah, tapi suka banget nyusahin Gue," Tina mendengus kesal dan kembali melanjutkan langkahnya menuju ke lift. Entah kenapa saat ini hatinya terasa panas.
...----------------...
Sementara itu di kediaman Andra.
"Apa? Gagal?" Andra menatap para preman sewaannya dengan marah. "Kalian itu bodoh apa gimana? Masa mengurus satu orang doang nggak becus!"
"Maaf bos," Salah satu preman yang merupakan bos mereka semua menjawab. "Tikus kecil itu sangat licin. Dia punya seribu macam cara untuk melawan kami,"
"Gue nggak peduli!" Andra melemparkan vas bunga dari atas mejanya ke arah tembok.
PRANG!
Vas porselen itu jatuh berkeping-keping.
"Lo semua udah gue bayar, jadi nggak ada kata gagal! Terserah kalian semua mau berbuat apa sama dia! Kalaupun perlu dib*nuh, habisi saja!"
Para preman langsung saling pandang. Awalnya mereka hanya diperintahkan untuk menghajar laki-laki bernama Jo, tapi sekarang bahkan disuruh membun*h?
"Kenapa diam? Kalian nggak sanggup?"
Sang ketua langsung berlutut di hadapan Andra. "Tentu saja kami sanggup! Kami akan melakukan apapun untuk menjalankan perintah!"
"Gue tunggu hasilnya!" Andra menendang perut sang bos preman kuat-kuat, membuat lelaki kekar itu langsung tersungkur ke lantai. "Kalau nggak berhasil, kalian yang gue habisin!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
jumirah slavina
iya...
lebih tepatnya Lo itu lagi tergila² sm Jojo...
aacciieeeee 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-02-27
1
Dewi @@@♥️♥️
di Tina tun sudah mulai selalu terbayang -bayang sama Jo,,mulai perhatian juga,,,dan sepertinya Tina tun cemburu nih si Jo akrab dengan para karyawan wanita d kantor
2024-07-01
3
pisces
suara jo yg menggelegar gak kyk suara petir malah merdu kyk suara simfoni ya tina 😜
andra nih mmg biang kerok kok, tak cewek lho ndra ginjalmu biar sadar
2024-07-01
1