"WHAT THE HELL?!"
Tina tersentak bangun dari tidurnya saat mendengar teriakan nyaring Yena. Ia mengedipkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan dengan cahaya pagi yang masuk dari jendela, sebelum menyadari situasi yang mengejutkan. Di sebelahnya, Jo masih tertidur pulas sambil bertelanjang dada, tak menyadari kehebohan yang terjadi.
"Apa-apaan ini?!" teriak Tina panik sambil menendang Jo keras-keras, membuat pria itu jatuh terguling dari kasur. "Kenapa dia ada di sini?"
"Aduduh..." Jo menggeliat sambil memegangi punggungnya. "Sakit..."
"Salah sendiri! Kenapa Lo bisa ada di sini!" teriak Tina. Ia benar-benar syok karena Jo tiba-tiba berada satu kasur dengannya. Apalagi saat melihat lelaki itu bertelanjang dada.
Astaga, apa yang sudah terjadi semalam? Apa jangan-jangan Gue dan Jo... Tina mulai mengecek pakaiannya sendiri.
"Masih lengkap kok," gumamnya lega.
"Tina," Yena masih berdiri mematung dengan mulut terbuka. "Aku tidak percaya hubungan kalian berdua sudah sejauh itu,"
"Jangan bicara sembarangan woy!" Tina melempar Yena dengan bantal. "Ini nggak seperti yang Lo pikirin!"
"Terus, gimana kamu bisa jelasin hal ini, coba?" tanya Yena.
Tina memegangi kepalanya frustasi. Jujur, dia juga tidak tahu apa yang terjadi. Seingatnya, semalam dia sudah memastikan Pak supir mengantarkan Jo ke kamar pembantu, lantas bagaimana bisa pria itu sekarang ada di sini? Sementara Tina kebingungan, Jo yang akhirnya tersadar, bangkit dari posisinya dan memandangi mereka berdua dengan heran.
"Loh, kok Bu Tina sama Mbak Yena bisa ada di sini?"
"Seharusnya Gue yang tanya, Bejo!" jawab Tina kesal.
Jadi, sebenarnya apa yang terjadi? Yah, kita butuh mundur ke beberapa jam yang lalu. Saat itu, Tina yang kesal bukan kepalang setelah Jo muntah di gaunnya segera masuk ke kamar tanpa mengunci pintu. Ia membersihkan diri, lalu berganti baju menggunakan sehelai pakaian tipis. Setelah itu, ia tertidur pulas.
Pada tengah malam, Jo yang tidur di kamar pembantu di lantai bawah terbangun dan merasa tenggorokannya kering. Masih dengan setengah terpejam, lelaki itu berjalan terseok-seok keluar kamar. Mengandalkan insting, ia pergi menuju dapur untuk mengambil minum.
"Ah...leganya..." ujar Jo setelah menenggak habis seisi botol air mineral yang ia ambil dari kulkas. Ia pun berniat kembali ke kamar, tapi lukisan yang ada di langit-langit rumah itu mencuri perhatiannya.
"Wah...cantiknya..." Jo berseru kagum dan tanpa sadar ia melangkah naik melewati tangga. Barulah saat sampai di lantai dua, ia kebingungan.
"Loh? Loh? Loh? Dimana ini?" Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Efek mabuknya masih belum hilang, jadi Jo terus berjalan tanpa arah yang jelas. Ia coba membuka pintu kamar satu per satu sampai akhirnya tiba di kamar Tina. Pintu yang tidak terkunci membuatnya masuk begitu saja.
Tina yang tidur pulas, tidak menyadari kehadiran Jo. Jo, yang setengah sadar, menganggap kasur di dalam kamar itu sebagai kasurnya sendiri. Ia pun langsung merebahkan diri dan tertidur kembali. Tapi sebelum itu, ia sempat membuka pakaiannya karena merasa kepanasan.
Lama kelamaan, dua manusia itu saling mendekat untuk mencari kehangatan satu sama lain. Dan tanpa sadar, mereka berdua akhirnya berpelukan sepanjang malam.
...----------------...
Yena memandangi Jo dan Tina secara bergantian dengan mata memicing. "Serius semalem kalian nggak ngapa-ngapain?"
"Nggak ada, sumpah! Semabuk-mabuknya Gue, nggak mungkin Gue ngapa-ngapain sama cowok kampungan kaya dia! Gue juga punya selera kali!" sergah Tina kesal. "Mendingan Lo tanya sendiri deh sama dia! Kenapa dia bisa masuk kamar Gue sembarangan!"
Jo, tersangka utama dalam masalah ini hanya bisa menggaruk-garuk tengkuknya bingung. "Jujur mbak, aku juga nggak inget apa-apa. Seingatku, semalam aku masih ada di tempat pesta,"
"Sebenarnya apa yang terjadi sih, Jo? Kenapa Lo bisa mabok begitu?"
"Mabok? Jadi semalam saya mabok, Bu? Ya Alloh, maafkan hamba. Hamba berdosa karena sudah menyentuh minuman haram. Saya beneran nggak tahu kalau itu alkohol. Saya cuma dikasih sama mas-mas ganteng mantannya Bu Tina itu," Wajah Jo terlihat menyesal.
"Maksud Lo si Andra? Wah, emang cowok anj*ng! Dia pasti sengaja mau ngerjain Lo deh," Tina mengepalkan tangannya. "Jangan-jangan, semalam itu Andra berniat buat nyeburin Lo ke kolam, tapi malah dia sendiri yang kecebur?" Senyum Tina tiba-tiba mengembang saat mengingat penampilan Andra yang basah kuyup.
"Astaga! Dari sekian banyak hal menyebalkan yang terjadi semalam, itu adalah yang paling lucu! Seharusnya gue rekam waktu dia masih di dalam kolam!" Tina mulai tertawa terbahak-bahak. Hal itu membuat Jo langsung menatapnya heran.
Aneh sekali wanita ini, batin Jo. Sebentar-sebentar marah, sebentar-sebentar ketawa.
"Bukan hanya itu hal baiknya," Yena tersenyum sambil menyerahkan tablet mahalnya yang sempat ia jatuhkan tadi kepada Tina. "Sebenarnya sejak awal aku datang ke sini untuk memberikan kabar baik. Tapi fokusku langsung buyar saat melihat kalian berdua tidur bareng sambil berpelukan, mana nggak pakai baju lagi,"
"Gue pake baju, kali! Cuma emang tipis aja!" Emosi Tina muncul saat Yena kembali membahas perkara 'tidur bareng'. "Yang aneh itu dia! Tidur kok pakai copot-copot baju!" tunjuknya pada Jo.
Jo hanya bisa mengelus-elus dadanya sendiri. Sabar ya jantungku, dari tadi kamu dikagetin terus sama suara Bu Tina.
"Oke, oke, aku akan anggap pemandangan aneh yang aku lihat tadi hanyalah mimpi buruk. Sekarang, aku mau kamu membaca baik-baik email yang tertera di sana," Yena berusaha menenangkan emosi Tina yang meledak-ledak. Tina pun menuruti ucapan Yena dan membaca baik-baik isi email yang ada di layar.
Mata Tina bergerak perlahan membaca kata demi kata. Dan saat pandangannya berada pada akhir kalimat, matanya membulat.
"I-ini beneran? Pak Moris mau melakukan kolaborasi produk dengan kita?!"
Yena menganggukkan kepala sambil tersenyum. "Iya. Pak Moris ingin berkolaborasi dengan Athena Beauty untuk produk kecantikan khusus remaja yang akan launching. Aku tidak tahu trik apa yang kalian lakukan semalam untuk membujuk Pak Moris, tapi selamat, kalian berhasil."
Senyum Tina mengembang, matanya berbinar-binar kesenangan. Saking senangnya, ia sampai terlonjak kegirangan.
"Jo!" seru Tina sambil memeluk Jo erat-erat. "Kita berhasil!"
Jo yang terkejut karena tiba-tiba Tina memeluknya langsung terdiam kaku. Sementara itu, Tina yang baru sadar langsung cepat-cepat melepaskan pelukannya.
Sial, rutuk Tina di dalam hati. Reflek gue jelek banget! Kenapa pakai acara peluk-peluk segala, sih?
"Ehem! Ehem!" Yena pura-pura batuk sambil tersenyum jahil. "Ada yang udah nyaman peluk-pelukan, nih!"
"SHUT UP, YENA!"
...----------------...
Sementara itu, di apartemen mewah seorang Andra Pangastu.
"gue nggak terima dipermalukan kaya begitu!" Andra menggebrak meja di depannya dengan kesal. "Gue harus membalasnya!"
Andra mengangkat selembar kertas yang berisi biodata diri Jo. "Coba kita lihat, akan berapa lama Lo bisa bertahan, Bejo," ujarnya sambil tersenyum licik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Dewi @@@♥️♥️
rencana licik apa yg sedang d pikirkan oleh si Andra ya
2024-06-28
3
Eva Karmita
jo kayaknya jantungmu harus dipasang ring deh biar ngk gampang copotnya 😩😂😍
2024-06-28
1
HANA
Assalamu'alaikum, BeTina lovers, kasih komen dan like setelah baca bab ini yaa🥰
2024-06-28
0