Jo berdiri mematung sambil menatap Tina yang berjalan menghampirinya dengan mulut ternganga. Apa ini mimpi? batin Jo. Kenapa ada bidadari turun di kos-kosan kumuh ini?
"Hey! Halo!" Tina melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Jo. "Mas Bejo?"
"Eh, i-iya! Saya Bejo! Panggil saja Jo! Loh, sampean itu kan..." Jo menjeda kalimatnya untuk berpikir sejenak. "...mbak yang di lift!"
"Nama saya Tina," Tina membetulkan. Ia merasa kesal karena ternyata Jo tidak mengenalinya. Bukankah pria itu sempat mau mendaftar kerja di perusahaannya, tapi kenapa Jo tidak mengenalinya? Apakah Jo tidak meriset dulu tentang perusahaan yang akan ia lamar?
"Saya perlu bicara berdua sama kamu, empat mata," bisik Tina dengan tatapan mengintimidasi.
"Dengan saya?" Jo menunjuk dirinya sendiri dengan heran. "Soal apa mbak?"
"Saya nggak bisa menjelaskannya di sini," sergah Tina kesal. "Kamu nggak ada tempat yang lebih tertutup supaya orang-orang itu nggak ngelihatin kita terus?" Tina melirik ke sekelilingnya, dan tampak ada beberapa orang yang mengintip mereka dari masing-masing kamar. Sepertinya mereka heran karena melihat Jo mengobrol dengan seorang wanita cantik.
"Oh, kalau gitu masuk ke kosan saya aja mbak!" Jo berjalan menuju kamarnya dan membuka pintu kosan. "Silahkan,"
Tina sebenarnya enggan untuk masuk. Tapi ia tak tahan lagi melihat orang-orang di kos-kosan itu menatapnya dengan curiga. Karena itu dengan terpaksa Tina berjalan masuk ke dalam kamar kumuh Jo, diikuti Yena di belakangnya.
"Eh, Jo," Ibu pemilik kos menarik tangan Jo sebelum pria itu ikut masuk ke kamar. "Mereka itu siapa? Kok bisa kenal sama Lo?"
"Oh, yang tadi ngobrol sama aku itu bos di perusahaan tempat aku ngelamar kerja kemarin Bu," jawab Jo berbisik-bisik.
"Kenapa die nyariin Lo?"
"Mana aku tahu. Udah ya Bu, jangan kepo. Aku lagi ada tamu," Jo kemudian cepat-cepat masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dari dalam rapat-rapat, membuat ibu kos memberengut kesal karena tak mendapat informasi yang dia inginkan. Saat melihat Tina dan Yena masih berdiri di depan pintu, Jo buru-buru mengambil karpet dan menggelarnya di atas lantai.
"Duduk sini mbak, silahkan," Jo menepuk karpet dan menyuruh dua wanita cantik itu duduk. Yena menuruti ucapan Jo dan duduk bersila pada karpet, tapi tidak dengan Tina yang masih berdiri tegak.
"Nggak, makasih, saya berdiri saja," ucap Tina sambil memperhatikan sekeliling kamar, khawatir kalau tiba-tiba ada kecoa yang muncul di sana.
Jo hanya mengangguk maklum mendengar penolakan Tina. Ia lantas mengalihkan pandangannya ke Yena. "Sebenarnya ada perlu apa mbak, kok sampai jauh-jauh ke sini buat mencari saya?"
"Gini mas Bejo, sebenarnya..." Yena berusaha menata kalimatnya sebaik mungkin, tapi Tina yang tak sabaran buru-buru menyahut.
"Kamu ada hubungan apa sama Elixir?!" tanya Tina tanpa tedeng aling-aling. "Kamu orang yang disuruh buat ngapa-ngapain saya, kan?"
"Hah? El, el siapa mbak?" Jo merasa bingung karena tiba-tiba Tina menuduhnya. "Saya nggak kenal itu siapa,"
"Elixir," Yena menjelaskan. "Kami curiga kalau mas Bejo adalah orang suruhan dari perusahaan itu yang berusaha menjatuhkan perusahaan kami,"
"Apa?" Bejo kaget bukan main. "Saya? Saya aja nggak kenal sama bosnya eli eli itu mbak! Lagian buat apa saya menjatuhkan perusahaan mbak!"
"Halah, banyak alasan Lo," Tina yang mulai kesal sudah tidak lagi menggunakan bahasa formal. "Kalau memang Lo nggak ada hubungannya sama perusahaan itu, kenapa setelah Gue ketemu sama Lo, Gue jadi kena sial terus?"
"Kena sial?"
"Iya, betul! Sebenarnya mantra apa yang udah Lo kasih ke Gue, hah?!"
"Mantra? Mantra apa mbak?" Jo makin kebingungan. "Saya beneran nggak tahu apa-apa!"
"Mas Bejo, saya harap mas Bejo mau bekerjasama dengan kami. Dengan begitu, kami tidak akan melaporkan perbuatan mas Bejo. Kalau mas Bejo tidak mengaku, terpaksa kami akan menyeret masalah ini ke persidangan," Yena berkata dengan tegas.
"Persidangan?" Saking kagetnya, Jo sampai bangkit dari duduknya. "Ya nggak bisa gitu dong mbak! Jangan asal nuduh orang sembarangan! Saya ini beneran nggak tahu apa-apa!"
Tina dan Yena saling berpandangan. Sejujurnya saat ini mereka bingung apakah Jo berbohong atau tidak. Pasalnya, saat ini ekspresi Jo menunjukkan kalau dia benar-benar tidak tahu apa-apa.
"Kalau gitu, Lo bisa jelasin nggak kenapa Gue jadi kena sial setelah ketemu Lo?" Tina menatap Jo tajam. "Masalahnya, kesialan yang menimpa Gue itu sampai mempengaruhi saham perusahaan yang udah Gue bangun bertahun-tahun, tau!"
"Ya saya juga nggak tau mbak kalau masalah itu, tapi..." Jo menatap Yena dan Tina secara bergantian. "Beberapa hari ini saya emang merasa ada banyak banget keberuntungan yang menimpa saya,"
"Tapi saya bener-bener nggak tahu kenapa bisa begitu mbak! Suer!" Jo mengangkat dua jarinya membentuk tanda peace. "Saya juga heran kenapa bisa begitu. Padahal saya ini selama dua puluh lima tahun hidupnya sial terus, dan tiba-tiba sekarang jadi beruntung terus!"
"Gue juga! Selama dua puluh lima tahun, gue selalu hidup beruntung, dan baru kali ini gue kena sial!" seru Tina. "Dan ini semua gara-gara Lo!"
"Jangan-jangan, nasib kalian tertukar?" Yena menimpali. "Mas Bejo mendapatkan keberuntungan dari Tina, dan Tina mendapatkan kesialan dari mas Bejo?"
"Kalau gitu, Lo harus tanggung jawab!" Tina menuding Jo kesal. "Balikin keberuntungan gue!"
"Saya juga nggak tahu caranya mbak!" Jo ikut berseru frustasi. "Padahal saya kira akhirnya saya berhasil dapat keberuntungan setelah bertahun-tahun hidup sial. Tapi ternyata saya malah mengambil keberuntungan orang lain," wajah Jo berubah muram.
"Hm, kalau menurutku, insiden kecelakaan itu yang bikin nasib kalian jadi tertukar gini," Yena kembali berucap.
"Maksud Lo?"
Yena menatap Tina dengan yakin. "Gimana kalau kalian coba masuk ke lift lagi?"
"Lo gila?!" Tina mendelik kesal. "Gimana kalau liftnya rusak lagi gara-gara gue bareng sama dia?"
"Apa salahnya dicoba, kan?" Yena mengangkat bahu. "Lagian kali ini ada aku dan beberapa teknisi yang langsung mengawasi,"
"Aduh mbak, kalau disuruh masuk lift lagi, saya nggak mau deh! Saya kapok!" Jo menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. "Saya nggak mau coba-coba menantang maut!"
"Heh, ya nggak bisa begitu dong! Lo harus tanggungjawab!" Tina merasa kesal dan menghampiri Jo. "Lo harus balikin keberuntungan gue!"
"Kalau ada caranya saya balikin mbak, tapi jangan naik lift lagi deh! Plis!" Jo berjalan mundur menghindari Tina.
"Justru cara balikin nya ya naik lift!" Tina semakin kesal dan meraih tangan Jo. "Pokoknya Lo nggak boleh nolak!"
"Plis mbak, jangan deh!" Jo memohon-mohon.
"Astaga!" seruan Yena membuat Tina dan Jo sontak menoleh ke arahnya. "Saham Athena Beauty tiba-tiba meningkat dengan pesat!"
"Serius Lo?" Tina terbelalak. "Apa mungkin keberuntungan gue udah kembali?" Tina berseru senang dan langsung melepaskan tangan Jo untuk menghampiri Yena. Dengan cepat, gadis itu meraih ponsel yang ada di tangan sekretarisnya. Tapi saat ia melihat layar ponsel, grafik saham perusahaannya kembali turun dengan drastis.
"Ah, sial!" rutuk Tina. "Ternyata cuma kebetulan!"
"Bukan kebetulan Tina," Yena berkata sambil memandang Jo dengan mata berbinar-binar. "Kayanya Gue tahu caranya gimana bikin keberuntungan kamu bisa balik lagi,"
Tina mengernyitkan dahi penasaran. "Caranya?"
Yena memandang Jo dan Tina secara bergantian. "Kalian berdua harus sering bersentuhan mulai sekarang,"
"Apa?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
R_3DHE 💪('ω'💪)
ini novel aneh sih.... tapi asik
2024-12-11
0
Susanti
bisu gitu y tapi lucu si
2024-12-25
1
Dwi MaRITA
wah.... bejo malah nyengir teros tuh.... kalok dpt sentuhan tina teros... berasa dpt durian runtuh, benjut² dah sekalian 🙈🙉🙊😅😂😂😂
2024-08-03
2