"Lo yang bener aja dong! Gue tuh CEO perusahaan loh! Masa disuruh naik angkot, sih?!" sembur Tina pada Jo. Saking kesalnya, mereka tidak jadi ke pabrik dan Tina memilih meluapkan kemarahannya pada Jo.
"Tapi kan, Ibu nggak bilang mau naik kendaraan apa. Jadi saya pikir, naik angkot juga nggak masalah," jawab Jo tak mau kalah.
"Ya Lo coba deh pikir pakai logika! Mana ada CEO perusahaan gede kayak gue naik angkot? Masa Gue harus jelasin satu persatu, sih?!" Tina semakin marah, nada suaranya makin tinggi.
"Maaf Bu..."
"Moaf, maaf! Udah, keluar sana! Ngelihat muka Lo bikin Gue jadi makin pusing!" Tina melambaikan tangannya mengusir Jo.
"Jadi, sekarang saya boleh pulang Bu?" Tanya Jo yang membuat kemarahan Tina semakin memuncak.
"Gue bilang keluar! Bukan pulang! Ngerti nggak, sih?!"
"I-iya Bu! Ngerti, ngerti," Jo langsung berbalik badan dan keluar dari ruangan bosnya itu dengan langkah terbirit-birit. Sepeninggal Jo, Tina langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kursi.
"Lama-lama bareng dia Gue bisa darah tinggi nih," Tina memijit-mijit kepalanya yang terasa pusing. Tak berselang lama, pintu ruangannya diketuk.
"Siapa?" teriak Tina dengan kesal. "Saya lagi nggak mau diganggu!"
"Ini saya Bu," Yena muncul dengan wajah khawatir. Tina yang melihat kedatangan sekretarisnya itu langsung mengomel.
"Lo liat nggak tadi kelakuan cowok itu?! Bisa-bisanya dia mesenin Gue angkot, coba? Aduh, udah deh! Nggak lagi-lagi Gue kerja bareng dia! Bisa mati kena serangan jantung mendadak Gue!"
"Shhh... Tina, jangan ngomong begitu dong," Yena berusaha menenangkan Tina. "Yang sabar aja, ya?"
"Gimana Gue bisa sabar, Yena?!"
"Ini kan hari pertama di kerja, jadi wajar kalau masih banyak kesalahan. Lagian, dia kan tadi udah bantuin kita nyelesaiin masalah di pabrik. Iya, kan?"
Tina masih memberengut kesal meski dalam hatinya membenarkan ucapan Yena. Ia lalu melirik Yena dengan heran karena wajah sekretarisnya itu tampak seperti mau menyampaikan sesuatu.
"Kenapa lagi? Ada masalah?" tebak Tina yang dijawab anggukan kepala oleh Yena.
"Kita dapat undangan dari Elixir untuk menghadiri ulang tahun Nyonya Elisa besok malam,"
"Gue nggak tertarik buat dateng," jawab Tina spontan.
"Tapi Pak Moris diundang juga, dan dari kabar yang aku dengar, beliau belum menekan kontrak dengan Elixir sampai sekarang,"
"Serius Lo?" Mata Tina langsung terbelalak. "Yaudah, konfirmasi kalau gue bakalan hadir!" Ucapnya bersemangat, namun sesaat kemudian semangatnya itu kembali turun. "Tapi Andra kan pasti juga ada di sana. Gengsi dong Gue kalau dateng cuma sendirian,"
"Kenapa sendirian? Kan kamu bisa bareng dia," Yena menunjuk ke arah luar, merujuk pada Jo yang tadi diusir Tina.
"Nggak! Nggak! Nggak!" Tolak Tina mentah-mentah. "Mau ditaruh mana muka Gue kalau bawa cowok biang kerok itu? Yang ada, Andra malah makin seneng karena Gue bawa cowok yang levelnya jauh di bawah dia!"
"Nggak masalah, kan? Kamu tinggal menunjukkan kepada Andra kalau kamu sudah move on, dan Andra yang harga dirinya setinggi langit itu pasti akan kesal bukan main. Jangan lupa, kamu butuh Jo untuk memberikan keberuntungan. Siapa tahu dengan adanya Jo, Pak Moris jadi berubah pikiran dan mau bekerjasama dengan kita, kan?"
Ucapan Yena membuat Tina berpikir agak lama. Bagaimanapun, dia masih kesal dengan kelakuan Jo seharian ini, tapi sebenarnya dia juga mengakui kalau ucapan Yena lagi-lagi ada benarnya.
"Lagian ya, kalau aku lihat-lihat, Jo itu lumayan ganteng kok. Kalau dia dipermak sedikit lagi, aku yakin ketampanannya akan menyaingi Andra," ujar Yena yang membuat Tina langsung meliriknya julid.
"Hello? Yena? Apa selera cowok Lo udah berubah? Bisa-bisanya seorang Bejo Lo bilang ganteng? Mana dibandingin sama Andra lagi, ya jauh lah!"
"Come on Tina, makanya jadi cewek jangan terlalu bucin sama satu cowok. Kamu itu udah dibutakan sama Andra, sampai nggak sadar kalau di sekeliling kamu juga ada cowok ganteng!"
"Dih, Lo nya aja kali yang buta," Tina masih tidak percaya. "Kalau gitu, gue tantang Lo buat permak si Jo. Gue mau lihat kegantengan yang Lo maksud itu,"
"Oke!" Yena menyanggupi ucapan Tina. "Awas ya, jangan sampe Lo malah kesemsem sama dia!"
"Nggak mungkin!" ucap Tina. Tina yakin seratus persen kalau dia tidak akan terpesona dengan penampilan Jo.
Tapi, besok malamnya, keyakinan Tina tergoyahkan. Saat Tina sedang merias diri di dalam kamarnya dengan seorang make-up artist terkenal, Yena masuk dan menggandeng seorang lelaki bersamanya.
"Tina!" Yena berkata penuh semangat. "Coba lihat!"
"Apaan?" Tina bersikap ogah-ogahan. Yena yang tidak sabar melihat reaksi Tina langsung memutar kursi beroda yang diduduki sahabatnya itu agar menghadap ke belakang.
Tatapan Tina akhirnya tertuju pada laki-laki di depannya. Tanpa sadar, wanita itu terperangah. Di depannya, berdiri tegap seorang laki-laki luar biasa tampan dengan postur tubuh bak model-model majalah.
"Si-siapa dia?" tanya Tina dengan gagap.
"Astaga! Kamu aja sampai nggak bisa kenalin! Berarti usaha kita berhasil ya Mas Jo!" Seru Yena kegirangan.
"Apa?" Tina sampai bangkit dari kursinya saat mendengar ucapan Yena. "Ini Jo?"
"Hai mbak, eh, Bu," Jo menyapa canggung.
"Tuh, kan? Apa aku bilang? Jo nggak kalah ganteng dari Andra, kan? Memang sih, aku menambahkan sedikit make up supaya wajahnya kelihatan lebih mulus. Tapi hasilnya Oke kan?"
Tina masih terus menatap penampilan lelaki di depannya dengan rasa tidak percaya. Saat di-make over pertama kali, Jo memang sudah kelihatan tampan. Hanya saja kali ini laki-laki itu terlihat jauh lebih tampan. Tapi tentu saja Tina segera mengatur ekspresinya agar kembali datar. Ia tak mau ketahuan sudah terpesona pada penampilan lelaki itu.
"Yah, biasa aja lah. Nggak ada bedanya dari yang terakhir kali. Setidaknya nggak malu-maluin kalau diajak ke pesta nanti," ucap Tina acuh tak acuh.
"Astaga, Tina! Tinggal mengakui aja susah banget, sih?"
"Kalau modal ganteng doang buat apa, Yena? Jangan sampai dia melakukan hal-hal aneh di sana dan malah mempermalukan aku nanti," Tina memutar kursi dan kembali menghadap cermin.
"Tenang, aku udah briefing Mas Jo sedetail mungkin. Mas Jo, apa kita mau latihan lagi supaya lebih meyakinkan?"
"Boleh mbak," jawab Jo. Dari raut wajahnya terlihat gugup.
"Hayo, tadi saya bilang apa? Ekspresinya nggak boleh kelihatan nervous, harus senyum! Yap, begitu!" Yena mengarahkan persis seperti guru yang sedang mengajar muridnya. "Nah, sekarang letakkan tangan Mas Jo ke pinggang saya,"
Tina terbelalak mendengarnya. Apa-apaan tiba-tiba disuruh megang pinggang? Diam-diam Tina memperhatikan mereka dari pantulan cermin.
"Begini Mbak?" Jo meraih pinggang Yena dengan ragu-ragu.
"Duh, kan saya udah bilang jangan kaku-kaku Mas. Sedikit lebih mesra dong. Nah!" Yena membetulkan letak tangan Jo. "Oke, sekarang, coba panggil saya 'sayang' gitu,"
"Sayang,"
"Terlalu kaku. Coba lebih luwes lagi. Sayaang.."
"Sayaang..."
"Kurang mesra, terus nada suaranya agak lebih direndahin. Sayang..."
"Sayang..." Jo menirukan instruksi Yena.
"Nah, itu dia! sempurna! Oke, sekarang, coba Mas Jo deketin bibirnya ke bibir saya," ucapan Yena kali ini benar-benar membuat Tina terkejut. Jo juga menurut saja ucapan Yena dan mendekatkan bibirnya. Jarak bibir mereka pun semakin dekat, lalu...
BRAK!
Tina menggebrak meja rias di depannya.
"Kalian berdua apa-apaan, sih?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Maya Ratnasari
kakaaaa thoooorrr, yaoloh, sakit perut ge nahan tawa
2025-02-21
1
jumirah slavina
tembulu ya TinaNtoon 🤣🤣🤣🤣🏃🏃
2025-02-26
1
Siti Nina
😂😂😂😂😂
2025-01-08
0