Tina mengerjapkan matanya perlahan saat ia mendengar namanya dipanggil oleh seseorang. Saat membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit rumah sakit yang berwarna putih. Ia mengalihkan pandangannya ke samping dan terlihat ada Yena di sana.
"Tina!" Yena langsung histeris saat melihat Tina membuka mata. "Kamu udah sadar? Dokter! Dokter!" Yena kemudian berlari keluar ruangan mencari dokter. Sementara itu Tina masih mencerna apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
Ah ya, Tina ingat sekarang. Tadi dia sedang berada di lift untuk pergi ke restoran prancis. Tapi lift yang ia tumpangi tiba-tiba saja rusak. Hal terakhir yang Tina ingat sebelum pingsan adalah saat pria yang satu lift dengannya itu memeluknya.
Loh, tunggu. Restoran Prancis? Mata bulat Tina langsung terbelalak saat ia menyadari sesuatu. Wanita itu sontak bangkit dari kasur dan bersiap untuk turun dari ranjang.
"Hei, hei, Tina, kamu mau kemana?" Yena yang kembali masuk bersama seorang dokter mencegah Tina. "Kamu masih sakit loh,"
"Yena! Nggak ada waktu lagi! Kita kan harus ketemu Pak Moris secepatnya!" Tina tetap bersikeras ingin pergi.
Yena menggelengkan kepalanya lemah. "Udah telat. Sekarang udah jam dua siang,"
"Hah?" wajah Tina terlihat syok. "Terus gimana? Lo udah sempat ketemu Pak Moris kan?'
Yena terdiam sejenak sebelum kembali menggelengkan kepalanya. "Aku dapet kabar kalau kamu kecelakaan jam setengah dua belas, terus aku langsung lari ke sini. Aku lupa ngabarin sekretarisnya Pak Moris, jadi beliau nunggu sekitar setengah jam,"
"WHAT?!" suara Tina melengking. "Kok bisa sih?! Lo nggak tau Pak Moris itu gimana? Dia itu perfeksionis, nggak suka membuang-buang waktu! Kita bahkan butuh waktu setahun buat ketemu dia, Yena! Bisa-bisanya Lo anggurin dia begitu aja?!"
"Ya gimana? Aku udah keburu panik, Tina. Aku khawatir banget saat nerima kabar kamu kecelakaan sampai pingsan di lift. Saat itu fokus aku cuma pengen lihat keadaan kamu," Yena berkata penuh sesal. "Tapi aku udah telepon sekretarisnya Pak Moris dan menjelaskan semua kejadiannya kok. Katanya beliau mengerti dan bersedia untuk reschedule,"
"Sial," Tina mengacak-acak rambutnya kesal. Rencananya yang sudah sangat sempurna itu terpaksa hancur karena insiden lift yang rusak. "Kalau gitu, gue harus nemuin Pak Moris sekarang. Lo tahu kan hotel tempat beliau menginap?" Tina lagi-lagi berusaha turun dari kasur, tapi Yena buru-buru mencegah.
"Udah Tina, jangan dipaksain, kamu kan masih sakit. Lagian kamu tau sendiri kalau Pak Moris paling nggak suka diganggu privasinya," Yena kemudian membimbing tubuh Tina agar kembali berbaring ke atas ranjang. "Nanti aku bakal konfirmasi ke sekretarisnya Pak Moris. Katanya sih, ada waktu sekitar dua atau tiga hari lagi sebelum beliau kembali ke Prancis,"
Tina memejamkan matanya sembari menghela napas panjang. Kerjasama dengan Pak Moris merupakan proyek yang sangat penting demi kemajuan Athena Beauty. Pasalnya, Pak Moris adalah owner sebuah merk kosmetik dari Prancis yang sangat terkenal, dan Tina ingin bekerjasama dengan melakukan kolaborasi produk. Dengan begitu, Athena Beauty tidak hanya terkenal di Indonesia saja, tapi juga seluruh dunia.
Tapi, gara-gara kejadian hari, bisa-bisa semuanya hancur!
Sial banget! rutuk Tina di dalam hati.
"Sekarang aku pengen kamu fokus buat kesembuhan kamu dulu ya. Please, dengerin kata dokter," ucap Yena setengah memohon. Tina hanya melirik sahabat sekaligus sekretarisnya itu, kemudian mengangguk pasrah. Yah, ucapan Yena memang benar. Dia butuh istirahat sekarang.
"Baik, kalau begitu, pasien sudah bisa saya periksa?" Dokter pria yang tadi masuk bersama Yena akhirnya bersuara. Sebelumnya, dokter itu hanya berdiri sambil memandangi Tina dan Yena dengan kebingungan. Apalagi mendengar suara Tina yang marah-marah kepada Yena membuat nyali seorang dokter juga ikutan ciut. Setelah mendapat anggukan singkat dari Tina, dokter akhirnya memeriksa keadaan wanita itu.
"Tidak ada luka yang serius. Tapi saya sarankan agar beristirahat dulu selama dua hari penuh dan meminum obat yang saya resepkan dengan rutin. Kalau dalam dua hari ada keluhan lain, silahkan kembali ke sini," ucap dokter itu setelah memeriksa Tina. Yena pun mengucapkan terimakasih, kemudian ia mengantarkan Tina pulang ke rumah.
Awalnya, Tina tak ingin mengabari orang tua nya tentang kecelakaan yang menimpanya. Dia tak mau orang tua nya yang sedang liburan keliling dunia itu menjadi khawatir. Tapi, tanpa Tina beritahu pun, bawahan papanya itu sudah mengabari mereka lebih dulu.
"Tinaaa!" terdengar teriakan dramatis mamanya dari seberang telepon. Wajah wanita berusia lima puluh tahun itu terlihat banjir oleh air mata. "Katanya kamu kecelakaan? Apa benar?"
"Iyaaa..." Tina menjawab malas. "Liftnya rusak,"
"Kamu baik-baik saja kan, Nak?"
"It's Okay Ma, buktinya sekarang aku bisa nelepon Mama kan?"
"Ya Tuhan, syukurlah. Mama sama Papa khawatir banget. Mama bahkan sudah kepikiran mau pulang ke Indonesia sekarang juga. Ya ampun, kamu harus pecat teknisi di gedung kantor kamu. Bisa-bisanya mereka nggak ngecek dulu? Kalau ada apa-apa sama kamu gimana?"
"Iya Ma, ini juga pertama kalinya ada kejadian kaya gini. Soalnya aku tahu betul teknisi di gedung aku selalu mengecek secara berkala. Tapi yah, namanya musibah nggak ada yang tahu. Mungkin hari ini hari sialnya aku Ma,"
"Hush! Jangan bicara sembarangan kamu! Nggak ada yang namanya hari sial, semua hari itu baik!" tegur sang Mama. "Ya sudah, sekarang kamu istirahat dulu ya. Sekarang Mama sudah lega. Kalau ada apa-apa langsung hubungi kami ya Nak,"
"Iya Ma. Udah, Mama sama Papa tenang aja. Nikmati liburan kalian berdua. Bye! Have fun Mama, Papa!"
"Bye, sayang!"
Telepon pun ditutup. Tina langsung merebahkan badannya kembali ke atas kasur. Badannya terasa capek sekali. Ia kemudian memejamkan matanya dan memilih untuk tidur. Siapa tahu, besok pagi saat bangun, tubuhnya sudah terasa segar kembali.
Sayang, esok paginya, bukannya badannya terasa segar, Tina malah merasakan leher sebelah kanannya terasa kaku sampai ia tak bisa menoleh.
"Aw!" Tina menyentuh leher sebelah kanannya. "Kayanya Gue salah bantal deh,"
Tina kemudian beranjak turun dari ranjang dan berniat pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Belum sampai langkahnya memasuki dapur, kakinya tiba-tiba terasa menginjak sesuatu yang licin dan membuatnya terpeleset.
"Ahhh!" Tina berteriak sambil jatuh terjengkang. Ia menatap ke bawah dan melihat genangan air yang ternyata berasal dari dispenser yang bocor. Punggungnya terasa sakit akibat jatuh dengan posisi yang tidak tepat.
"Aduduh..." Dengan susah payah, Tina berusaha bangkit dan mencari kain pel untuk membersihkan air yang tergenang. Sambil mengelap lantai, pikirannya dipenuhi kekhawatiran mengenai proyek dengan Pak Moris. Bagaimana jika kesempatan itu benar-benar hilang?
Setelah selesai membersihkan, Tina melangkah menuju meja makan untuk duduk sejenak dan menenangkan diri. Namun, malang, saat ia menarik kursi, salah satu kakinya patah dan kursi itu roboh membuat Tina jatuh lagi.
"Astaga, Gue lagi kenapa sih hari ini?" keluh Tina dengan frustrasi. Ia merasa seolah hari-hari belakangan ini tidak memberikan sedikit pun keberuntungan padanya.
Tina akhirnya menyerah dan memutuskan untuk kembali ke kamar. Dia mencoba menghubungi Yena melalui telepon untuk mencari tahu jadwal meeting dengan Pak Moris. Namun, sinyal telepon di kamarnya tiba-tiba hilang, membuatnya tidak bisa menghubungi siapapun.
"Duh, ada apa lagi sih ini?!" Tina mulai merasa benar-benar kesal. Ia berjalan ke arah jendela untuk mencoba mencari sinyal. Tapi saat membuka tirai, ia melihat burung merpati hinggap di luar jendelanya dan tiba-tiba terbang masuk ke dalam kamar, membuat kekacauan dengan kotorannya yang berceceran di lantai.
"Ini benar-benar nggak masuk akal!" teriak Tina, panik dan mencoba mengusir burung itu keluar. Setelah beberapa menit perjuangan, akhirnya burung itu terbang keluar kembali, meninggalkan Tina yang kelelahan dan putus asa.
"Wah, gila..." Tina sampai tidak bisa berkata-kata. "BENAR-BENAR SIALAN!!!" teriaknya kesal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Dwi MaRITA
karma tuk tina ini mah.... krn nolak bejo sih... walo blm diseleksi... 🙈🙉🙊/Shhh/
2024-08-03
2
Dewi @@@♥️♥️
jadi penasaran seberuntung apa si jo sekarang
2024-06-27
1
Eva Karmita
astaga hari sial Tejo pindah ke Tina 😩🤣🤣
2024-06-23
1