Jo melangkah keluar dari gedung rumah sakit dengan langkah tertatih-tatih. Menurut dokter yang memeriksanya, Jo baru saja mengalami kecelakaan di dalam lift dan langsung di bawa ke sini. Sebenarnya Jo tidak terlalu peduli dengan kecelakaan yang menimpanya, tapi dia lebih takut jika disuruh membayar biaya rumah sakit. Apalagi kelihatannya gedung rumah sakit ini sangat besar, bukan seperti puskesmas di dekat kos-kosannya yang cuma sepetak.
"Tenang saja mas. Karena Anda mengalami kecelakaan di gedung Athena Beauty, jadi perusahaan lah yang menanggung semua biayanya," jelas seorang perawat yang membuat Jo langsung menghela napas lega.
"Jad, sekarang saya bisa pulang kan sus?" Jo sudah beranjak dari kasur dan bersiap melangkah keluar ruangan.
"Eh, kita perlu memeriksa kondisi masnya dulu. Mas ada keluhan? Bagian mana yang sakit?" suster itu tampak heran melihat keadaan Jo yang terlihat segar bugar.
Jo menanggapi ucapan sang suster dengan memegang-megang tubuhnya sendiri. Setelah memastikan, ia pun tersenyum lebar kepada wanita di depannya itu.
"Nggak ada yang sakit kok sus. Jadi saya boleh pulang, ya? Saya laper belum makan," ucap Jo sambil mengelus perutnya sendiri. Suster itu hanya bisa terbengong sambil menganggukkan kepalanya.
"Y-ya, si-silahkan Mas,"
Jo pun melenggang keluar ruangan.
"Haduh, bukannya dapet kerjaan, malah jadi masuk rumah sakit," Keluh Jo dalam perjalanan pulang menuju kosan. Ia terpaksa berjalan kaki karena sudah tidak punya cukup uang untuk membayar bus. Uang di dompetnya hanya sisa sepuluh ribu dan niatnya akan ia belikan nasi di warteg. Lauk tempe saja sudah cukup, asal bisa membuatnya kenyang.
Jo pun membelokkan langkahnya ke depan sebuah warteg kecil. Jo langsung menghampiri pemilik warteg dan meminta porsi makan untuk harga sepuluh ribu.
"Banyakin nasinya ya Mak!" pinta Jo. Pemilik warteg langsung mendelik mendengar ucapan pria itu.
"Heh! Yang bener aje! Udah ngasihnya cuma ceban! Minta nasinya dibanyakin! Bikin gue rugi aje!" omel ibu pemilik warteg yang hanya dibalas dengan senyum cengengesan Jo. Setelah mendapatkan satu porsi nasi dan lauk yang tidak seberapa banyak, Jo pun membawanya ke meja yang masih kosong.
"Lumayan lah, buat ganjal perut," ucap Jo sambil bersiap memasukkan tempe ke dalam mulut. Tapi, belum sempat tempe itu masuk, aktivitasnya terhenti saat melihat ada seorang pengemis yang memandanginya dengan wajah memelas.
Jo pun jadi merasa kikuk, tapi ia memutuskan untuk meneruskan makan. Ia mengubah posisi duduknya ke arah samping supaya tidak melihat pengemis itu. Tapi, saat Jo melirik lagi ke arah pengemis, tatapan mata pria berbaju lusuh itu masih tertuju padanya.
"Haish," Jo berdecak frustasi. "Terpaksa hari ini cuma makan pisang deh," lanjutnya sambil membawa bungkusan itu keluar warteg. Ia sodorkan nasi dan tempe itu pada sang pengemis.
"Nih Pak!" ujarnya kemudian.
"Eh?" Pengemis itu tampak kaget. "Sa-saya cuma mau lihat-lihat aja kok,"
"Cuma lihat-lihat tapi kok dari tadi berdiri di situ terus," ucap Jo sambil meraih tangan si pengemis dan memberikan bungkusan nasi itu padanya. "Udah, nggak usah malu-malu, dimakan aja!"
Wajah sang pengemis langsung berubah sumringah. "Terimakasih banyak ya Nak!"
"Iya Pak, Sama-sama. Lain kali jangan berdiri di depan sini, nanti dimarahin. Pemiliknya galak soalnya!" bisik Jo sambil menunjuk ke arah warteg. Setelah itu Jo pun berniat pergi meninggalkan si pengemis, tapi laki-laki itu langsung menahan tangannya.
"Kamu sudah membuktikan bahwa masih ada manusia baik di dunia ini," ucap si pengemis yang membuat Jo terheran-heran. "Untuk itu, kamu berhak mendapatkan hadiah dari saya,"
"Hah?"
"Kameramen! Sini!" Pengemis itu melambaikan tangannya ke suatu arah entah kepada siapa. Tapi alangkah terkejutnya Jo saat melihat ada satu orang dengan kamera besar di tangannya keluar dari balik semak belukar.
"Selamat! Kamu mendapatkan hadiah satu juta rupiah dari saya!" Pengemis itu kemudian membuka tas lusuhnya dan mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribuan. Jo yang melihat itu hanya bisa melongo tak percaya. Apalagi saat pengemis itu kemudian memberikan kertas-kertas berharga itu kepadanya.
"I-ini uang beneran?" Jo memegang uang-uang itu dengan mata terbelalak.
"Iya, itu uang beneran, dan saya memberikannya kepada kamu karena kamu sudah lolos social experiment kami," ucap sang pengemis sambil tersenyum lebar.
"Hah? So...so apa?" Jo yang memang tidak jago berbahasa Inggris terlihat bingung.
"Intinya, kami membuat sebuah eksperimen tentang kebaikan hati manusia, dan kamu terpilih, makanya kamu berhak mendapatkan hadiah,"
"Ja-jadi, ini buat aku?"
"Iya benar,"
Mendengar hal itu, Jo langsung menutup mulut saking terkejutnya. "Mimpi apa aku semalam Ya Tuhan?!"
Pengemis itu kemudian menjelaskan pada Jo kalau sebenarnya dia adalah seorang youtuber terkenal dengan subscriber hampir sepuluh juta orang. Youtuber itu memang sering melakukan penyamaran untuk memberikan sedikit uang kepada orang-orang yang beruntung. Jo hanya manggut-manggut saja meskipun sebenarnya dia masih kebingungan.
"Sebenarnya, ada apa ini? Kenapa aku tiba-tiba jadi beruntung?" Jo masih saja tidak mempercayai nasibnya yang tiba-tiba berubah. Rasanya baru tadi pagi dia mengalami kesialan yang begitu banyak, tapi sekarang tiba-tiba dia mendapatkan rezeki nomplok dari Tuhan.
"Terimakasih Ya Allah..." Jo mengecup uang-uang di tangannya dengan senyuman lebar. "Itu berarti hari ini aku bisa makan dan nyicil bayar kosan! Nggak perlu takut diusir deh!" ujarnya senang. Ia kemudian melangkahkan kakinya kembali ke warteg dan menemui ibu pemilik dengan percaya diri.
"Saya pesen lagi Mak! Lauknya pakai ayam! Dua biji!"
...----------------...
"Ini uang beneran?" Ibu Kos tampak mengecek kertas di tangannya dengan sangsi. Ia menerawang uang yang diberikan Jo sambil melirik laki-laki itu curiga. "Lo habis maling dimana?"
"Ya Alloh Bu, jangan fitnah! Saya itu habis dapat rezeki nomplok! Harusnya ibu seneng karena saya bisa nyicil bayar kosan!"
Ibu kos masih melirik Jo dengan matanya yang setajam silet, tapi kemudian ia menyimpan lima lembar uang ratusan ribu itu ke dalam kantong dasternya.
"Ya sudah, yang ini Gue terima! Jangan lupa dilunasin yang masih kurang!"
"Siap Bu!" Jo tersenyum lebar. Ia menghela napas lega setelah ibu kosnya yang super cerewet itu akhirnya meninggalkannya.
"Woy Jo!" Pak Sar, salah satu penghuni kos yang bekerja sebagai supir angkot meneriaki Jo. "Gimana yang tadi? Jadi keterima kerja?"
"Belum Pak!" Jo ikut berteriak. "Belum rezeki!"
"Kebetulan gue ada kenalan yang lagi cari tukang cuci piring di restoran! Lu mau kagak?"
"Mau Pak! Mau!" jawab Jo tanpa pikir panjang. Saat ini dalam pikiran Jo yang terpenting ia bisa mendapatkan pekerjaan untuk menyambung hidupnya sehari-hari.
"Ya sudah, kalau gitu besok Lu berangkat ke sono ya!"
"Siap Pak!" Jo tersenyum lebar. Rasa-rasanya hari ini dia cukup beruntung. Sudah mendapat uang, dapat pekerjaan pula.
"Ya Allah, semoga besok kerjaan hamba lancar," doa Jo sebelum ia tidur malam ini.
Esoknya, Jo pun pergi ke restoran tempatnya bekerja. Sebenarnya Jo sudah was-was kalau-kalau kesialan yang sering menimpanya itu datang lagi dan akan membuatmu dipecat. Tapi ajaibnya, selama satu minggu berkerja di sana, Jo menjalaninya dengan normal-normal saja. Bahkan tidak ada satupun piring yang pecah saat ia cuci. Suatu hal yang langka karena biasanya di hari pertama Jo sudah bica memecahkan sepuluh buah piring.
"Kinerja kamu bagus. Piring yang kamu cuci benar-benar bersih dan keset. Ini ada bonus buat kamu," ucap pemilik restoran suatu hari.
Jo menerima uang dua ratus ribu itu dengan rasa heran. Baru kali ini dia mendapatkan pujian atas kinerjanya — meskipun hanya mencuci piring —, dikasih bonus pula. Jo jadi merasa kalau sekarang Tuhan benar-benar memberikan keberuntungan padanya. Buah dari kesabaran Jo selama dua puluh lima tahun menghadapi kesialan dalam hidupnya.
Jo pun pulang ke kosan dengan hati senang. Tapi, saat sampai di depan kosan, ia terkejut bukan main saat melihat seseorang yang tidak ia duga-duga.
Tina, bos galak Athena Beauty sudah berdiri menunggunya di sana. Saat melihat kedatangan Jo, wanita cantik itu langsung berjalan menghampirinya.
"Saya sudah menunggu kamu dari tadi Bejo,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Dwi MaRITA
untung bejo hanya ketemu utuber.... kalok ketemu helmi yahya mah dapet uang kaget 20 jeti, apa nggak tambah terkezot pingsan tuh die.... 🙈🙉🙊😅😂😉
2024-08-03
2
Dewi @@@♥️♥️
sepertinya si Tina sudah tau kalau keberuntungannya tertukar dengan kesialan si Bejo,,,,namanya Bejo,artinya beruntung, tapi hidupnya selama 25tahun selalu sial
2024-06-27
1
Eva Karmita
kesialan Bejo sudah diambil alih sama Tina 🤭🤭
2024-06-23
1