Pagi-pagi sekali, Jo sudah berdandan rapi dengan mengenakan setelan jas usang yang sudah lama tak ia pakai. Ia ingat betul dulu Pak Santoso memberikan itu padanya sebagai hadiah kelulusan SMA. Kata Pak Santoso, Jo harus memakai jas itu saat nanti ia mendapatkan pekerjaan yang baik. Jo pikir, ia tak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk memakai jas itu, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain.
"Wah Jo! Rapi bener Lu!" celetuk Pak Sar yang sedang bersiap bekerja, narik angkot seperti biasa. "Jadi beneran Lu dapet kerjaan di Athena Beauty?"
"Betul Pak! Ini berkat Pak Sar yang udah kasih rekomendasi ke aku! Makasih ya Pak!"
"Loh, tapi bukannya bapak nawarinnya jadi OB? OB kok bajunya rapi begini?" Istri Pak Sar ikut menimpali. "Memangnya kamu nggak curiga Jo? Gimana kalau ternyata kamu dijadikan tumbal proyek sama mereka?"
"Astaghfirullah Bu, jangan ngomong sembarangan ah!" seru Jo.
"Ya siapa tahu loh. Aku sering dengar kalau orang-orang kaya itu gabutnya suka makan organ manusia,"
"Astaghfirullah! Jangan nakuti-nakutin deh Bu!"
"Jo! Jo!" seorang ibu-ibu sambil menggandeng putranya berlari mendekati Jo. "Nanti, kalau kamu udah dapet kerjaan yang bagus, minta tolong masukin anakku juga ya. Terserah deh kerja apa aja di sana! Daripada nganggur terus dia di rumah!"
"Waduh Bu, nggak janji ya. Saya aja baru mau masuk hari pertama,"
"Ah, kamu itu belum jadi kaya aja udah sombong banget Jo," tukas Ibu-ibu itu ketus.
"Heh, sudah, sudah, jangan mengganggu orang penting mau kerja. Ayo Jo, berangkat sama gua. Gua gratisin!" ucap Pak Sar yang membuat Jo terbelalak senang.
"Beneran Pak? Asyik!" Jo pun bergegas mengikuti Pak Sar masuk ke angkotnya. Dia tak mau berlama-lama mengobrol dengan para ibu-ibu dan mendengar pembicaraan yang aneh-aneh.
Beberapa menit kemudian, angkot Pak Sar berhenti di depan gang yang dihuni orang-orang kaya. Dua orang sekuriti segera menghentikan mereka dan bertanya banyak hal.
"Lu serius disuruh datang ke sini Jo?" tanya Pak Sar ragu-ragu. "Ini kawasan orang elit loh,"
"Iya, betul kok Pak. Bentar ya, biar saya telponin Mbak Yena," Jo pun segera menghubungi nomor Yena. Lalu setelah terhubung, Jo memberikan ponselnya kepada dua sekuriti yang mencegat mereka. Barulah saat Yena mengatakan bahwa Jo adalah tamu yang diundang ke sana, dua sekuriti itu mempersilahkan angkot Pak Sar masuk.
"Wah, mimpi apa gua semalem bisa masuk ke kawasan ini," Pak Sar tak henti-hentinya berdecak kagum. Apalagi saat akhirnya google map mengarahkan mereka ke sebuah rumah paling megah di sana, Pak Sar sampai tak sanggup menutup mulutnya. "Aje gile... Rumah ini bahkan lebih besar dari seluruh kos-kosan kita Jo!"
"Iya Pak," Jo ikut terperangah mengagumi keindahan rumah itu.
"Mas Bejo!" terlihat Yena melambaikan tangannya di depan rumah. "Sini masuk Mas!"
"Jo! Dipanggil tuh!" Pak Sar menyenggol-nyenggol Jo.
"Iya Pak. Kalau begitu, saya permisi ya. Makasih udah nganterin saya ke sini,"
"Siap Jo, janganlah sungkan-sungkan. Kaya sama siapa aja. Semangat ya, jangan sampai membuat kesalahan yang bisa bikin Lu dipecat. Kalau perlu, buat bos Lu jatuh cinta, biar Lu bisa tinggal di rumah mewah ini!" bisik Pak Sar sambil terkekeh.
"Ah, Pak Sar bisa aja. Mana mau Pak, wanita secantik dia jadi pacar saya?" Jo ikutan terkekeh. Ia kemudian melambaikan tangannya pada Pak Sar dan berlari menghampiri Yena. Yena lalu meminta Jo untuk mengikutinya.
Begitu Jo melangkahkan kakinya melewati pintu utama, ia langsung disambut oleh sebuah foyer yang dihiasi dengan lampu gantung kristal besar yang memancarkan cahaya keemasan. Dinding-dindingnya dihiasi oleh lukisan-lukisan klasik berbingkai emas yang menambah kesan luas dan megah. Lantai marmer yang mengkilap seolah memantulkan keanggunan setiap sudut ruangan. Jo sempat ingin membuka sepatunya karena takut lantai itu akan kotor, tapi Yena melarang.
Jo berdiri terpana, menyerap keindahan sekelilingnya. Di sebelah kanan foyer, terdapat ruang tamu yang luas dengan sofa kulit berwarna krem yang terlihat sangat nyaman. Di tengah ruangan, ada meja kaca dengan desain modern dan karpet Persia yang mewah membentang di bawahnya. Di sisi lain ruang tamu, ada rak buku besar berisi berbagai buku dan ornamen artistik. Sebuah piano grand hitam mengkilap berada di pojok ruangan, menambah kesan elegan dan prestisius.
"Mas Bejo, sini ikut saya," suara Yena membuyarkan lamunan Jo. Ia kemudian mengikuti Yena melewati ruang tamu, menuju lorong yang dindingnya dipenuhi oleh foto-foto keluarga dan penghargaan. Pada setiap foto itu terdapat wajah Tina yang tersenyum dengan cantik.
Mereka kemudian melewati ruang makan yang tak kalah mengagumkan. Sebuah meja makan panjang dari kayu jati dengan kursi-kursi berlapis kain beludru berwarna merah marun menjadi pusat perhatian. Lampu gantung lainnya yang lebih kecil namun tak kalah cantik, menggantung di atas meja, memberikan pencahayaan hangat dan intim. Jendela-jendela besar dengan tirai sutra memungkinkan sinar matahari masuk, memberikan suasana yang cerah dan menyegarkan.
Setelah melewati dapur modern dengan peralatan lengkap dari stainless steel dan pulau dapur besar dengan permukaan granit hitam, Yena mengarahkan Jo ke tangga besar yang melingkar. Pegangan tangga dari kayu mahoni dan karpet merah yang lembut di setiap anak tangga memberikan kesan megah. Jo menatap ke atas, melihat lukisan langit-langit yang indah yang menggambarkan adegan mitologi.
"Mbak Tina ada di ruang kerjanya di lantai atas. Ikuti saya," kata Yena sambil tersenyum, menaiki tangga dengan anggun.
Di lantai atas, Jo melihat pintu-pintu kamar yang tertutup rapat, menunjukkan privasi yang dijaga ketat. Mereka berhenti di depan sebuah pintu ganda yang besar dan berukir indah. Yena mengetuk pintu dengan lembut. Sementara itu, Jo bisa merasakan jantungnya berdetak kencang.
"Masuk," terdengar suara dari dalam.
Yena membuka pintu dan Jo pun memasuki ruang kerja Tina. Ruangan itu luas dengan meja kayu besar di tengahnya. Di atas meja, terdapat berbagai dokumen yang tertata rapi dan sebuah laptop modern. Dinding di belakang meja dihiasi dengan rak buku yang penuh dengan buku-buku tebal dan beberapa penghargaan dalam bingkai kaca. Ada jendela besar di satu sisi ruangan yang memberikan pemandangan taman belakang yang hijau dan asri. Kursi kulit berwarna hitam terlihat nyaman dan elegan, melengkapi suasana profesional ruangan itu.
Tina duduk di belakang meja, mengenakan setelan bisnis yang elegan. Terlihat cantik, namun kejam. Ia mengangkat wajahnya saat Yena dan Jo masuk.
Jo merasakan dirinya saat ini benar-benar gugup luar biasa saat kedua mata tajam itu menatapnya. Kemarin saat bertemu Tina di kos-kosannya, Jo masih merasa biasa saja. Tapi, sekarang ini, di ruangan yang begitu megah dan formal, Tina tampak berbeda. Ia duduk dengan anggun di balik meja kerjanya yang besar, dikelilingi oleh segala simbol kekuasaan dan keberhasilan. Seolah-olah menegaskan bahwa mereka berdua berasal dari dunia yang berbeda.
"Aku sering dengar kalau orang-orang kaya itu gabutnya suka makan organ manusia,"
Tiba-tiba, ucapan istri Pak Sar terngiang-ngiang di kepala Jo. Jo buru-buru menepis pikiran itu.
Duh, gara-gara pagi-pagi udah dengerin gosip, jadi begini nih! Keluh Jo di dalam hati.
Tatapan tajam Tina menelusuri penampilan Jo dari ujung rambut hingga ujung kaki. Jo yang ditatap begitu oleh seorang wanita sesempurna Tina tentu menjadi salah tingkah. Ia berulangkali menelan ludahnya gugup.
Tanpa berkata apapun, Tina kemudian melambaikan tangannya ke arah Yena, dan seolah mengerti maksud sang bos, Yena menganggukkan kepala dan langsung bertepuk tangan tiga kali. Tiba-tiba saja, dua orang laki-laki berbadan kekar masuk ke dalam ruangan dan berdiri mengelilingi Jo.
"Bawa dia," ucap Tina sambil menunjuk Jo. Kedua pria kekar itu lantas menyeret Jo keluar ruangan.
"Eh? Eh? Ada apa ini?" Jo yang kebingungan mencoba meronta-ronta untuk melepaskan diri. Tapi tentu saja percuma karena tenaganya kalah kuat dengan dua pria yang membawanya.
"Aku mau dibawa kemana? Hei!!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Dwi MaRITA
waduh.... lho bejo kok diseret...harusnya mah digendong lah....
yaelah tina², ngasih instruksi yg meserah dikit lah.... padahal bilangnya "bawa" tp 2 pria ntu malah nyeret.... 😪
2024-08-08
3
Eva Karmita
hati" Jo seperti kamu mau di jadikan tumbal seperti kata istri bapak tukang angkot tadi 😂😂😂😂😂
2024-06-25
1
yellya
mau di make over lu jo,biar ganteng 🤣🤣🤣
2024-06-24
1