"Jadi menurut teori Lo, keberuntungan Gue bakalan kembali kalau Gue bersentuhan sama dia?" Tina menunjuk Jo dengan ragu. "Kenapa bisa gitu?"
"Kalau nggak percaya, coba aja kalian bersentuhan lagi," ucap Yena yakin. Hal itu membuat Tina dan Jo saling berpandangan.
"Apa lihat-lihat?" sambar Tina galak. "Emang nggak ada cara yang lain apa?"
"Yaudah coba aja sih," Yena gregetan. "Tinggal pegangan tangan aja apa susahnya,"
"Susah! Gue itu Tina loh! Pemilik Athena Beauty! Nggak sembarang orang bisa nyentuh Gue!"
"Jadi, kamu memilih untuk sial seumur hidup ketimbang megang tangan mas bejo?"
Tina terdiam dan mulai berpikir. Ia lantas menoleh ke arah Jo yang juga kelihatan bingung. "Yaudah sini pegang," Tina mengulurkan tangannya. "Tapi jangan ambil kesempatan dalam kesempitan, ya!"
Jo memandangi tangan mulus Tina yang terulur padanya. Ia menelan ludahnya kasar, pasalnya dalam seumur hidupnya, belum pernah Jo memegang tangan seorang wanita. Jo mengangkat tangannya, tapi kemudian menurunkannya lagi, mengangkatnya lagi, dan menurunkannya lagi, membuat Tina makin kesal.
"Astaga!" Tina yang tidak sabaran segera meraih tangan Jo dan menggenggamnya. "Tinggal pegang aja susah amat!"
Glek!
Jo bisa merasakan darahnya berdesir hebat saat tangan mereka bersentuhan. Tak hanya itu, jantung Jo terasa berdebar dengan kencang.
"Gimana?" Tina menoleh ke arah sang sekretaris. "Sahamnya naik nggak?"
"Yap, seperti yang udah diduga," Yena menunjukkan layar handphonenya pada Tina. Terlihat grafik saham Athena Beauty kembali naik dengan pesat.
"Itu artinya, Gue harus kaya gini terus sama dia?" seru Tina. "Arghhhh! Sial! Gue nggak mau!"
"Mas Bejo," Mengabaikan protes Tina, Yena beralih menatap Jo. "Apa Mas bejo bersedia membantu kami? Seperti yang mas lihat, satu-satunya cara agar keberuntungan bos saya bisa kembali adalah dengan saling bersentuhan,"
Jo yang masih salah tingkah karena akhirnya menggenggam tangan wanita terdiam sejenak. Hal itu membuat Tina makin meradang. "Ngapain masih mikir? Lo tuh harus tanggungjawab mengembalikan keberuntungan Gue!"
"Ya saya sih mau mau aja ya mbak, apalagi kalau pegangan tangannya sama cewek secantik mbak Tina," Jo terkekeh, tapi segera membungkam mulut saat melihat lirikan maut Tina. "Tapi, saya punya syarat,"
"What?! Lo gila ya? Masih minta syarat segala?!"
"Ya iya lah mbak. Walaupun saya senang waktu mbak Tina nyentuh-nyentuh saya, tapi saya ini juga bukan cowok gampangan. Saya nggak mau dipegang-pegang begitu aja,"
"Heh! Nggak ada juga yang mau megang-megang Lo kalau nggak terpaksa, kali!"
"Syaratnya apa Mas Bejo?" Yena bertanya. Tina mendengus kesal karena sekretarisnya itu mau-mau saja menuruti ucapan Jo.
Jo menelan ludah sejenak sebelum menjawab ucapan Yena. "Saya mau jadi karyawan tetap di Athena Beauty,"
"Hah?!" Tina langsung mendelik. "Eh, denger ya! Orang yang bisa kerja di perusahaan Gue itu bukan orang sembarangan! Harus memenuhi kualifikasi! Lulusan terbaik aja belum tentu bisa diterima, apalagi Lo?! Nggak, nggak, Gue nggak terima syarat begituan!"
"Yaudah, kalau gitu saya juga nggak mau kerjasama sama kalian," Jo melepaskan tangannya dari Tina.
"Lo tuh!"
"Tina," Yena mendekati bosnya. "Jangan gitu dong. Coba pikirin sisi positifnya deh. Lagian kan kamu memang membutuhkan mas Bejo untuk terus berada di dekat kamu. Kalau kalian nggak bersentuhan, kesialan itu bakalan terus mengikuti kamu loh,"
Ucapan Yena membuat Tina mendengus kesal. "Tapi, Gue harus kasih dia posisi apa coba? Kayanya dia juga nggak jago ngapa-ngapain," Tina melirik Jo dengan julid.
"aku kepikiran satu pekerjaan," Yena menjawab yakin. "Jadi asisten pribadi kamu aja, gimana? Sebagai asisten, dia bisa mengikuti kamu kemana-mana dan kamu bisa meminta keberuntungan sewaktu-waktu. Mas Bejo dapat kerjaan, kamu dapat keberuntungan, win win solution, kan?"
"Duh..." Tina menepuk jidatnya kesal. "Harus banget begitu? Nggak ada cara lain lagi?"
Yena menggelengkan kepalanya menandakan kalau memang tidak ada cara lain. Sementara kedua wanita itu serius berdiskusi, Jo memandangi mereka dengan harap-harap cemas.
Gimana kalau mbak Tina menolak syarat dariku dan memilih menempuh jalur hukum? Ya Allah, aku nggak mau dipenjara! Jo berdoa di dalam hati. Saat ia melihat Tina dan Yena menoleh ke arahnya, Jo langsung memasang wajah datar seolah-olah tidak terlihat cemas sama sekali.
"Oke," Tina menghela napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya. "Gue Terima syarat Lo. Tapi gue juga punya syarat,"
"Syaratnya apa mbak?"
"Lo harus merahasiakan semua ini dari siapapun, dan Lo harus selalu siap kalau Gue membutuhkan keberuntungan Lo. Jadi mulai sekarang, Lo akan jadi asisten pribadi Gue. Deal?"
Jo tersenyum lebar, "Deal! Terima kasih, Mbak Tina. Saya janji akan melakukan yang terbaik." Jo meraih tangan Tina dan menggenggamnya erat-erat. Tina langsung melepaskan tangannya dari Jo.
"Satu lagi, jangan pegang-pegang Gue sembarangan! Harus Gue yang lebih dulu minta, baru Lo boleh nyentuh Gue!"
"Siap mbak!" Jo lagi-lagi tersenyum lebar.
"Kalau gitu, mulai besok Mas Bejo bisa langsung berangkat kerja ya. Saya minta nomor Mas Bejo untuk memudahkan komunikasi," Yena mengulurkan ponselnya pada Jo dan Jo dengan sigap langsung mengetik nomornya. Setelah itu, Yena pun berpamitan dan kedua wanita itu keluar dari kamar Jo.
Saat pintu terbuka, alangkah kagetnya mereka saat melihat ada belasan orang berdiri di depan kamar Jo. Ternyata itu adalah para penghuni kos yang merasa penasaran.
"BUSET! Pada ngapain di sini?!" Jo langsung mengusir mereka. "Hush! Hush! Jangan ngumpul di sini! Balik sana!"
"Jo! Mereka itu siapa? Kenapa nemuin kamu?" Salah satu penghuni kos bertanya penasaran.
"Sst, udah nggak usah kepo!" Jo berusaha menghalau para penghuni kos yang penasaran.
"Jo, ayolah, cerita dong," desak penghuni kos lain. Yena yang melihat keributan itu segera melangkah maju.
"Kami dari perusahaan Athena Beauty Pak, Bu. Mas Bejo sekarang resmi jadi karyawan tetap kami. Mohon maaf atas keributannya," ucapnya dengan tegas.
Semua penghuni kos langsung terdiam dan saling berpandangan. "Athena Beauty? Perusahaan skincare itu? Serius, Jo? Mimpi apa Lo bisa dapat kerjaan di sana?" salah satu dari mereka bertanya dengan kagum.
"Ya, serius. Sekarang kalian udah tahu kan? Jadi sana balik ke kamar masing-masing," jawab Jo sambil mendorong mereka menjauh dari pintu kamarnya. Tina yang melihat Jo mengusir penghuni kos hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Gimana bisa Gue terlibat sama orang kaya dia?" gumamnya pelan.
Setelah berhasil mengusir kerumunan, Jo menoleh kembali ke Yena dan Tina. "Maaf, Mbak. Maklumin aja ya. Para penghuni di sini memang suka kepo," katanya sedikit malu.
"Nggak apa-apa, Mas Bejo. Yang penting, mulai besok kamu siap kerja, ya," kata Yena sambil tersenyum.
"Iya, siap Mbak. Terima kasih banyak," Jo menjawab sambil membungkuk hormat. Tina menghela napas panjang dan langsung melangkah pergi dari sana. Ia sudah tidak ada tenaga lagi untuk sekedar menjawab ucapan terimakasih Jo.
"Benar-benar mimpi buruk," keluh Tina saat mereka berada di dalam mobil. "Apa kata orang-orang nanti, coba?"
"Udah lah, nggak usah mikirin omongan orang, yang penting kita akhirnya dapat titik terang soal keberuntungan kamu kan?" Yena menghibur. "Siapa tahu yang terjadi selanjutnya bukan mimpi buruk, tapi justru mimpi indah, kan? Who knows?"
"Lo bisa ngomong begitu karena bukan Lo yang ngalamin sendiri Yena," Tina mendengus. Ia lalu menatap tangannya yang bekas menggenggam tangan Jo. "Kayanya habis ini Gue harus cuci tangan pakai kembang tujuh rupa,"
Yena hanya tertawa terbahak-bahak menanggapi ucapan Tina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Dwi MaRITA
bentar².... kalok tina makek air kembang 7 rupa, ntar malah tambah kepincut ma bejo loh.... 🙈
2024-08-03
3
Dewi @@@♥️♥️
nanti kalau si Bejo dah pakai pakaian kantoran ,, pasti jadi tampan,,si Tina lama² terpesona
2024-06-27
1
Eva Karmita
ya ngk gitu juga kali Tin ... memangnya Bejo jelek apa 😏 jgn terlalu sombong entar kalau udah keseringan ketemu malah kamu yg susah pisah sama Bejo
2024-06-24
1