"Hai," Tina mendekati Allena dengan wajah ramah. "Boleh aku duduk di sini?" ucapnya sambil menunjuk kursi yang ada di samping Allena.
Gadis remaja itu mengangguk dengan kepala tertunduk. Merasa mendapatkan persetujuan, Tina pun duduk di kursi sebelah Allena, dan Jo di sebelah Tina.
"Aku Tina, salam kenal," Tina mengulurkan tangan. Dengan ragu-ragu, Allena menyambut tangannya.
"Allena," jawabnya singkat.
"Gaun kamu bagus. Apa ini rancangan khusus dari desainer brand D?" tanya Tina dengan tujuan mencairkan suasana. Tapi setelah dilihat lebih dekat, gaun yang dipakai Allena memang cantik dan unik.
Allena menggelengkan kepalanya. "Aku yang membuatnya," jawabnya dengan suara pelan.
"Serius?" Tina terbelalak. Ia benar-benar tak menyangka akan hal itu. "Wah! Bagus sekali! Kamu sungguh berbakat!"
"Terima kasih," Allena tersenyum tipis dengan wajah yang masih tertunduk.
"Kalau aku jadi kamu, aku pasti sudah memamerkannya kepada semua orang," kata Tina dengan nada serius, tidak lagi bicara basa-basi. "Ayo kita ke aula utama, orang-orang harus mengetahui bakatmu."
Allena menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Mereka akan jijik saat melihatku."
"Apa? Kenapa begitu?" tanya Tina keheranan.
Allena perlahan mengangkat wajahnya, dan barulah saat itu Tina bisa melihat wajah Allena yang penuh dengan jerawat. Menyadari ekspresi kaget Tina, Allena kembali menundukkan kepalanya.
"Tuh, kan? Kamu saja jijik melihatku. Papaku bahkan sering memarahiku untuk merawat wajah supaya tidak menurunkan kualitas produk perusahaannya," kata Allena dengan suara bergetar.
Tina menghela napas panjang. Ia menjadi paham kenapa Allena menjadi sangat tidak percaya diri. Putri dari pemilik brand skincare terkenal dunia ternyata tidak bisa mengatasi masalah jerawat di wajahnya. Sungguh ironis.
"Tidak kok, aku tidak jijik melihatmu," kata Tina dengan lembut. "Aku hanya terkejut karena kamu begitu cantik dan berbakat, tapi kamu merasa rendah diri hanya karena jerawat. Semua orang punya kekurangan dan itu bukan hal yang perlu disembunyikan. Kamu punya bakat luar biasa yang harus ditunjukkan, Allena,"
Allena mendengus. "Kamu bisa bicara begitu karena kamu sudah cantik sejak lahir,"
"Siapa bilang?" Tina mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan membuka galeri foto. "Coba kamu lihat, saat seusia kamu, aku juga punya banyak jerawat,"
Allena memperhatikan foto yang ditunjukkan Tina dengan kening berkerut. "Ini kamu?" ucapnya tidak percaya sambil berulangkali memandang foto itu dan Tina bergantian.
"Iya. Aku dulu punya masalah besar soal jerawat. Hal itulah yang mendorongku untuk membuat brand skincare sendiri," Tina tersenyum lembut. "Kalau kamu mau, aku bisa berbagi tips untuk menghilangkan jerawatku,"
Mata Allena terlihat berbinar. "Kamu serius?"
Tina menganggukkan kepala. "Tentu saja. Aku akan dengan senang hati membantu kamu. Oh ya, untuk saat ini, aku juga bisa berbagi tips menyamarkan jerawatmu agar tidak terlalu kelihatan. Kebetulan perusahaanku baru saja mengeluarkan produk concealer yang cocok untuk para acne fighter. Kamu mau mencobanya?"
Allena menganggukkan kepalanya dengan semangat.
Tina tersenyum puas. "Kalau begitu, ayo kita ke kamar mandi. Aku akan membantumu mengaplikasikannya," Tina kemudian menoleh ke arah Jo. "Jo, Lo tunggu di sini. Jangan kemana-mana. Kalau bisa jangan bergerak dan mengajak ngobrol orang sama sekali. Mengerti?"
Jo, yang sedari tadi hanya bisa bengong mendengarkan percakapan Tina dan Allena yang menggunakan bahasa Perancis jadi kebingungan. "Loh, mau kemana Bu—eh, sayang?"
"Urusan perempuan, Lo nggak perlu tahu," ujar Tina sambil melenggang pergi begitu saja. Jo yang ditinggalkan hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya. Tapi karena takut membuat kesalahan, ia menuruti ucapan Tina untuk tetap duduk menunggu di sana.
"Hai," Seorang pria tiba-tiba menghampirinya. Jo mendongakkan kepala dan terlihat Andra berdiri di depannya sambil membawa dua gelas minuman. "Wanna drink?"
Jo yang nilai bahasa inggrisnya selalu di bawah kkm tentu tidak mengerti ucapan Andra. Tapi karena lelaki itu mengulurkan gelas ke arahnya, Jo menebak kalau maksud Andra adalah menawarinya minum. Jo pun menerimanya sambil tersenyum.
"Makasih Mas,"
Andra mengerutkan keningnya melihat reaksi Jo. "Lo nggak tahu siapa Gue?"
Jo yang sedang sibuk mencium bau minuman di tangannya menggelengkan kepala. "Memangnya saya perlu tahu?"
Andra mendengus tak percaya mendengar ucapan Jo. "Semua orang yang bekerja di bidang ini tahu siapa gue. Setidaknya, mereka pernah denger nama gue. Apa jangan-jangan, Lo bukan termasuk dari kita? Sebenarnya, pekerjaan Lo apa?"
"Saya? Oh, saya asistennya Bu Tin—eh Tina, Mas,"
"What?!" Andra tampak kaget mendengar jawaban Jo. "Sejak kapan Tina punya asisten? Memangnya kemana Yena? Apa dia dipecat?"
"Oh, nggak Mas. Kalau mbak Yena masih ada. Saya juga baru jadi asisten beberapa hari ini,"
"Baru jadi asisten beberapa hari?" Andra menangkap sinyal mencurigakan dari ucapan Jo, kemudian ia tersenyum licik. "Jadi, Lo baru jadi asistennya Tina beberapa hari, tapi udah jadi simpanannya sejak lama?"
"Eng, iya..." Jo menjawab ragu.
"Kalau gitu, kapan tepatnya Lo ketemu Tina pertama kali?"
"Itu..." Jo tergagap. Astaga, tanpa sadar dirinya sudah terjebak dalam permainan Andra!
"Hahaha!" Andra tertawa terbahak-bahak. "Astaga! Bisa-bisanya Tina menyewa pacar bayaran bodoh kayak Lo! Kalau mau menipu, seharusnya yang meyakinkan dong!"
Jo langsung merasakan tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Aduh, gawat! Salah ngomong lagi! Bisa dimarahin Mbak Tina, nih!
"Yah, pantesan aja. Gue heran bagaimana bisa Tina secepat itu move on dari Gue? Ternyata ini cuma triknya untuk menarik perhatian Gue lagi,"
Jo tidak menanggapi ucapan Andra dan memilih untuk menenggak minuman yang ada di tangannya sampai habis. Haduh, mbak Yena! Seharusnya saya juga di-briefing buat menghadapi yang beginian!
"Waw, kamu peminum yang hebat," Andra tersenyum senang melihat wajah lelaki di depannya itu terlihat pucat. "Mau tambah lagi? Masih ada banyak loh di sana,"
Jo, yang tiba-tiba merasakan kepalanya menjadi luar biasa pusing menurut saja saat Andra membawanya ke tepi kolam renang yang berada di luar aula utama. Andra menyuruhnya duduk di sebuah kursi dan orang-orang mulai memberikannya beberapa gelas minuman. Jo yang memang tidak mau terlibat percakapan dengan Andra lagi memilih untuk meminum semuanya.
"Wah! Hebat sekali! Ayo minum lagi! Minum! Minum! Minum!"
Tiba-tiba saja, suasana di sekitar Jo menjadi semakin ramai. Jo yang merasa tubuhnya sudah melayang-layang mengikuti saja ucapan orang-orang yang menyuruhnya berjoget bersama. Sampai pada suatu waktu, Andra mulai memberikan kode kepada teman-temannya untuk menceburkan Jo ke kolam renang. Tujuan Andra tentu saja ingin mempermalukan Jo di hadapan Tina.
Dua orang yang berdiri di belakang Jo mulai beraksi. Mereka memajukan tangan dan mencoba mendorong Jo. Lalu...
BYUR!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Eva Karmita
astaga apa yg sudah kamu lakukan Jo kenapa kamu ngk nurutin apa yg Tina katakan 🤦🏻♀️🤦🏻♀️
2024-06-28
3
Dewi @@@♥️♥️
beraninya Main kroyok si Andra
2024-06-27
1
yellya
wahhhh pembullyan ini 🤦🏻🤦🏻🤦🏻🤦🏻😏😏
2024-06-27
1