"Nah, sudah," Tina menatap puas hasil karyanya pada wajah Allena. Gadis remaja itu memang dasarnya sudah cantik, namun karena kemahiran tangan Tina dalam mengaplikasikan make-up, sekarang Allena jadi kelihatan lebih cantik dan mulus. Jerawatnya yang semula terlihat jelas sekarang sudah tertutup dengan sempurna.
Allena menoleh ke arah cermin dengan gerakan perlahan sambil menutup mata. Sejujurnya, dia agak ragu dengan kemampuan Tina. Allena takut kalau-kalau hasilnya tidak akan sesuai dengan ekspektasinya. Namun, saat akhirnya ia membuka mata dan menatap cermin, Allena dibuat terbelalak dengan pantulan wajahnya sendiri.
"Ini beneran aku?" tanyanya tak percaya sambil memegang-megang wajahnya sendiri. "Kenapa aku jadi cantik sekali?"
"Sejak awal kamu itu sudah cantik, Allena. Hanya perlu sedikit polesan saja," Tina tersenyum sembari menepuk pundak Allena lembut. "Sekarang, keluarlah. Tunjukkan pada dunia bahwa kamu adalah gadis muda berbakat yang bisa membanggakan papamu,"
"Terimakasih! Kamu benar-benar hebat, Tina!" Allena memeluk Tina erat-erat. "Kalau begitu, Aku akan menemui papaku. Aku pastikan papaku akan bekerjasama dengan perusahaanmu,"
Tina tersenyum puas. Oke, satu langkah berhasil. Dia hanya tinggal menunggu hasilnya sembari memanfaatkan keberuntungannya yang dimiliki Jo.
Ah iya. Bejo! Tina baru menyadari sesuatu. Ia sudah terlalu lama meninggalkan lelaki itu. Bagaimana kalau Andra menemuinya saat Tina tidak ada?
Dengan langkah tergesa, Tina keluar dari kamar mandi dan langsung menuju kursi tempat mereka semula duduk. Tapi, dia tidak menemukan siapapun di sana.
"Sial," dengus Tina. "Kemana perginya biang kerok itu?"
Tina kemudian mulai mengelilingi aula tersebut untuk mencari keberadaan Jo. Tapi batang hidung lelaki itu sama sekali tidak terlihat. Sedang sibuk-sibuknya mencari, tiba-tiba...
BYURRR!!!
Tina tersentak saat mendengar suara itu dari arah kolam renang, diikuti dengan suara tawa orang-orang yang sangat kencang.
Gawat! Tina membatin. Jo!
Tina buru-buru berlari dan menyibak kerumunan itu. "Permisi! Permisi!" Ucapan Tina. Saat ia akhirnya sampai di barisan depan, Tina terbelalak saat melihat Andra sedang tercebur ke kolam.
"Astaga, Andra!" seru Tina syok. "Lo ngapain berenang malem-malem begini?"
"Sh*t!" umpat Andra kesal. Dia yang sudah jadi tontonan orang menjadi lebih malu lagi karena ada Tina di sana. "Bangs*t! Ngapain kalian diem aja! Cepet tolongin Gue!" umpatnya kepada dua orang temannya.
Kedua teman Andra yang sedang kebingungan segera tersadar setelah mendengar teriakan Andra. Mereka kemudian bergegas menarik tubuh Andra dari dalam kolam.
"Andra!" Nancy, pacar Andra, berlari dengan tergopoh-gopoh. "Kamu kenapa? Kok bisa kecebur?"
Andra tak menjawab pertanyaan Nancy. Dia yang sudah merasa sangat malu memutuskan untuk cepat-cepat pergi dari sana. Benar-benar sial, pikirnya. Padahal dia tadi bermaksud mempermalukan Jo di depan orang banyak dengan mendorongnya ke kolam, tetapi entah bagaimana Jo berhasil menghindar dan malah Andra yang tercebur. Sudah begitu, Tina melihat kejadian itu pula. Sungguh double sial.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Andra bisa masuk ke dalam kolam?" Tina menatap kepergian mantan pacarnya itu dengan bingung, lalu ia menoleh kepada Jo. "Jo! Apa yang terjadi?"
Jo, yang sedang berada di tengah pengaruh alkohol berdiri sempoyongan. "Bu Tina!" serunya sambil merentangkan tangan dan memamerkan senyuman paling manis.
"Jo! Lo mabok? Kok bisa sih?! Gue kan udah bilang duduk diam dan jangan pergi kemana-mana!" omel Tina sambil susah payah menyeret Jo pergi. Tapi karena tubuh Jo yang lebih besar darinya, Tina jadi kesusahan menuntun Jo.
"Jo! Sadarlah! Ayo kita pulang!"
"Bu Tina..." Bukannya berdiri dengan tegak, Jo malah memeluk Tina erat-erat.
"Heh! Lo ngapain, sih? Astaga! Ngerepotin banget!" Tina kemudian mengambil ponsel dari dalam tasnya, menelepon Pak supir. "Halo? Pak! Sini masuk! Tolongin saya!"
...----------------...
"Kita mau bawa Mas Jo kemana, non?" tanya Pak supir saat mereka berada di dalam mobil. "Kasihan orangnya udah mabuk berat itu,"
"Kita bawa ke kosannya aja Pak, di daerah B," ujar Tina.
"Daerah B yang perkampungan kumuh itu, non?" tanya Pak supir memastikan.
"Iya Pak. Kenapa? Ada masalah?"
"Aduh non, bukannya apa-apa ya. Jujur, kalau malam-malam begini, saya takut kalau mau masuk ke daerah itu. Daerah B itu terkenal banyak preman dan penjahat non. Saya takut nanti kita malah kenapa-napa,"
"Hah? Seriusan Pak?" Tina jadi ikut ketakutan mendengar penuturan supirnya itu. "Terus, gimana dong?"
"Gini aja non. Gimana kalau untuk malam ini kita bawa Mas Jo ke rumah aja dulu. Nanti biar dia tidur di kamar pembantu yang masih kosong. Kasihan juga kalau masih nggak sadar gini. Masa kita tinggal di tengah jalan gitu aja?"
Tina melirik Jo yang sedang tidur di sampingnya. Haduh, benar-benar biang kerok, batin Tina kesal. Ngapain juga sih dia pake mabuk segala?
Jo yang semula sedang tidur nyenyak tiba-tiba menegakkan tubuhnya, membuat Tina menjadi kaget.
"Jo? Lo udah sadar?"
Jo menoleh ke arah Tina, menatap wanita itu sebentar, lalu...
HUEK!
Ia muntah di gaun mahal Tina.
"Ahhh!!!" Tina berteriak histeris. "Bejooo!!!"
Tapi tentu saja Jo yang sedang mabuk tidak mendengarkan teriakan Tina.
...----------------...
"Terserah ya Pak, mau diseret atau dilempar ke dalem rumah, saya nggak peduli!" Tina keluar dari mobil sambil menghentakkan kakinya. Ia merasa kesal bukan main karena Jo telah muntah di gaun mahalnya.
"Dasar biang kerok!" Kesal Tina sembari terus berjalan masuk ke rumah. "Selalu ada saja masalah yang dia buat! Asal dia tahu, gaun ini harganya seratus juta!" gerutunya.
Para pelayan yang menyambut kedatangan Tina menjadi heran saat melihat penampilan nona muda mereka yang berantakan. Tapi melihat raut wajah Tina yang seperti hendak memakan mereka hidup-hidup, tidak ada yang berani bertanya.
Masih dengan bibir cemberut, Tina terus melangkahkan kakinya naik ke tangga lantai dua menuju kamarnya. Sementara itu, Pak supir dengan susah payah berusaha membopong tubuh besar Jo ke dalam rumah dan membawanya menuju kamar pembantu yang berada di lantai satu. Jo, si pembuat masalah, justru sedang tertidur lelap dan bermimpi indah.
...----------------...
"TINAAA!!!" Esok harinya, pagi-pagi sekali, Yena sudah datang ke rumah Tina sambil menjerit-jerit histeris. Suaranya terdengar nyaring dari lantai satu. Sahabat sekaligus sekretaris Tina itu tampak berlari menuju kamar Tina dengan muka berseri-seri seperti habis memenangkan lotre.
"TINA!" Yena kembali berteriak sambil membuka pintu kamar Tina lebar-lebar. "Pak Moris menawarkan kerjasama dengan perusahaan kita! Katanya—"
Ucapan Yena terputus begitu saja dan tablet mahal yang ia pegang terlepas, jatuh menghantam lantai. Yena tak mempedulikan hal itu karena saat ini ia sedang terkejut luar biasa saat melihat pemandangan di depannya.
Di depan Yena, terlihat Tina dan Jo, yang sedang tidur sambil berpelukan di atas kasur.
"WHAT THE HELL?!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
jumirah slavina
SURPRISE 🥳🥳🥳🥳🥳
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-02-27
1
Riaaimutt
bisa tidur ber dua gimane cerita 😂😂😂
2024-07-08
1
yellya
lho lho 🤔🤔🤔🤔
2024-07-01
1