"Kerjaan Lo itu jadi asisten Gue! Jadi tugas Lo ya mendampingi dan melayani Gue! Nggak perlu bantuin tukang bersih-bersih segala!" omel Tina pada Jo saat mereka sudah berada di dalam ruangan CEO.
"Ya maaf mbak. Soalnya saya kasihan ngelihat ibu-ibu itu. Udah tua, mukanya pucet. Kayanya dia lagi sakit tapi terpaksa mau kerja," jawab Jo sambil menundukkan kepalanya.
"Itu bukan urusan Lo, Bejooo!" Saking kesalnya, Tina sampai menyebutkan nama asli Jo. Ia sampai lupa kalau sudah merubah nama pria itu menjadi Jonathan.
Tok, tok, tok.
Pintu ruangan yang diketuk membuat Tina langsung terdiam. Yena masuk sambil membawa beberapa berkas.
"Maaf Bu, tapi para dewan direksi sudah menunggu di ruang rapat,"
Tina menghembuskan napas panjang, berusaha menenangkan diri.
"Oke," kata Tina setelah dirinya mulai merasa lebih tenang. Ia kemudian menatap Jo dengan tajam. "Lo ikut, tapi diem aja! Tetap di samping Gue! Dan jangan melakukan hal-hal yang nggak Gue suruh!"
"Siap mbak,"
"Panggil gue Bu!"
"Siap bu!"
Tina mengibaskan rambut panjangnya kesal, kemudian ia berjalan keluar dari ruangan diikuti oleh Yena dan Jo. Yena sempat menepuk pundak lelaki itu untuk memberikan semangat.
Mereka bertiga sampai di ruang rapat dan orang-orang yang semula sedang sibuk berdebat langsung terdiam. Mereka langsung berdiri untuk menyambut kedatangan Tina.
"Selamat pagi Bu," sapa mereka dengan kepala tertunduk.
"Ya," jawab Tina singkat, lalu ia duduk di kursi kebesarannya. Sementara itu Yena dan Jo mengambil tempat duduk di sisi kiri dan kanan.
"Ada masalah apa?" tanya Tina. "Kenapa kedengarannya kalian ribut sekali?"
Salah satu direktur, Pak Darma, mengawali pembicaraan. Wajahnya tampak tegang. "Bu Tina, kami punya masalah besar dengan proyek terbaru kita. Pabrik di salah satu cabang kita mengalami kendala teknis yang signifikan. Mesin-mesin yang baru saja kita pasang tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya, produksi terhenti total."
Tina mengerutkan dahi. "Kenapa baru dilaporkan sekarang? Ini bisa merugikan kita miliaran!"
"Tim teknisi di sana sudah berusaha memperbaiki, tapi mereka tidak menemukan solusi yang tepat. Kami bahkan memanggil ahli dari luar negeri, tapi mereka baru bisa datang minggu depan," jawab Pak Darma, suaranya menahan kekhawatiran.
"Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Kita harus segera cari solusi!" Tina semakin gusar, matanya berkilat marah. "Yena, coba kamu hubungi mitra kita di Korea! Mereka punya teknologi yang sama dengan milik kita, siapa tahu mereka punya solusinya!"
"Baik Bu!" Yena segera bangkit dari kursinya dan melaksanakan perintah sang bos. Tak berselang lama, Yena kembali sambil menggelengkan kepalanya pada Tina.
"Astaga..." Tina memejamkan matanya frustasi. "Kesialan apa lagi ini?"
Jo, yang sedari tadi hanya bisa terbengong memperhatikan keributan itu memberanikan diri mendekati Tina.
"Mbak, eh, Bu, apa nggak mau dicoba sentuh tangan saya?"
Tina membuka mata dan melirik tajam Jo. Meskipun ragu, ia kemudian mengulurkan tangannya ke bawah meja, menyuruh Jo menyentuhnya. Dengan hati-hati, Jo pun menyentuh tangan Tina dan mereka menunggu.
Satu menit berlalu, tapi tidak terlihat ada perubahan. Tina berdecak kesal, "Sebenarnya apa sih yang gue harapkan dari permainan konyol ini?"
Tina berusaha melepaskan tangannya dari Jo, tapi belum sampai ia melakukannya, Pak Darma kembali bicara dengan wajah berbinar. "Tim teknisi baru saja mengabari saya Bu. Katanya mereka sudah menemukan sumber kerusakannya. Sekarang, mereka sedang berusaha memperbaikinya kembali,"
Tina terdiam sejenak, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Tatapannya beralih dari Pak Darma ke Jo, yang juga terlihat kaget dan bingung.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba memahami situasi."Pak Darma, pastikan tim teknisi terus bekerja dengan baik dan laporkan perkembangan selanjutnya setiap jam," perintah Tina dengan tegas.
"Baik, Bu," jawab Pak Darma, yang segera meninggalkan ruangan untuk melanjutkan tugasnya, diikuti dewan direksi yang lain.
"Wah..." Tina menyandarkan punggungnya pada kursi sambil menghela napas lega. "Yang tadi itu nyaris sekali,"
"Benar-benar hebat," Yena tersenyum senang. "Sentuhan Mas Bejo benar-benar membawa keberuntungan!"
"Bukan Bejo, tapi Jonathan," ralat Tina. "Dan kamu salah, bukan sentuhan Jo yang membawa keberuntungan, tapi sejak awal itu adalah keberuntunganku yang sudah diambil oleh dia!"
"Ya, ya, ya," Bejo mencibir. "Kalau gitu, sekarang saya sudah bisa lepasin tangan saya kan?"
"Jangan!" Tina malah semakin mengeratkan genggaman mereka berdua. "Kita harus tetap pegangan tangan sampai memastikan kalau semuanya benar-benar selesai!"
"Baiklah kalau begitu," Jo pura-pura cuek. Nyatanya di dalam hati ia merasa senang sekali. Kapan lagi coba dia bisa memegang tangan mulus wanita secantik Tina?
"Yena, kamu tunda jadwal meeting untuk hari ini. Saya harus pergi ke pabrik untuk memastikan semuanya berjalan dengan baik. Jo, kamu siapin kendaraan. Kita harus berangkat ke pabrik sekarang," Perintah Tina kemudian.
"Saya Bu?" Jo bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ya iyalah, siapa lagi? Kamu kan kerjanya di sini jadi asisten saya!"
"Memangnya Ibu mau naik apa?"
"Terserah kamu! Mau kereta api, odong-odong, gerobak! Pokoknya terserah!"
"Oke Bu," Jo kemudian mengutak-atik ponselnya. "Sudah Bu, beres, kendaraannya sudah menunggu di depan," ucap Jo kemudian. Tina kemudian bangkit dari kursinya dan melangkah keluar ruangan.
Tina dan Jo berjalan keluar dari gedung kantor masih sambil berpegangan tangan. Hal itu jelas menarik perhatian seluruh karyawan yang melihat mereka.
"Eh, Lo lihat kan? Tadi Bu Tina gandengan tangan sama siapa?" Bisik seorang karyawan.
"Bukannya itu asisten barunya Bu Tina?" Jawab karyawan yang lain.
"Asisten baru atau simpanan baru? Soalnya aku dengar Bu Tina sama Pak Andra putus,"
"Jadi, mereka putus karena Bu Tina selingkuh dari Pak Andra?"
"Bisa jadi, buktinya sekarang Bu Tina terang-terangan gandeng cowok lain,"
Bisikan-bisikan itu jelas sampai di telinga Tina dan Jo. Berbeda dengan Tina yang berusaha mengabaikannya, Jo tampak gelisah mendengar omongan itu.
"Mbak, eh, Bu, apa perlu saya lepasin tangan saya dulu?"
"Nggak usah! Biarin aja!"
"Tapi Bu, kita jadi omongan orang loh,"
"Udah terlanjur. Lagian kamu pikir saya mau gandengan kaya gini sama kamu kemana-mana? Kalau bukan demi perusahaan, saya juga nggak sudi kali!" kesal Tina. "Udah, diem kamu! Saya lagi kesel, jadi nggak usah cerewet!"
Jo serta merta menutup mulutnya. Mereka kembali melanjutkan langkah mereka keluar gedung. Sampai di sana, Tina merasa heran karena tak menemukan mobil apapun.
"Jo, mana mobilnya?" tanya Tina mulai tidak sabar. Tiba-tiba ada perasaan tidak enak menghampirinya. Benar saja, beberapa saat kemudian, sebuah angkot datang dan berhenti tepat di depan mereka.
"Nah, ini dia kendaraan kita! Makasih udah mau jemput ya Pak Sar!" ujar Jo sambil melambaikan tangannya pada Pak Sar.
"Tenang Jo! Aman!!" ucap Pak Sar sambil mengacungkan jempol.
"Ayo Bu, masuk! Loh, Bu, kok diem aja? Katanya tadi mau pergi ke pabrik?"
Tina masih mematung di tempatnya karena terlalu syok. Ia memandang angkot di depannya dengan ekspresi tidak percaya. Matanya kemudian beralih ke Jo yang tampak santai dan bahkan tersenyum riang. Ia menarik napas panjang sebelum berteriak sekuat tenaga.
"JOOO!!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
jumirah slavina
angkot wweeii...
salah sendiri ya Jo., bilang 'y trserah naik apa...
buahahahahahahahahahaaaaa 🤣🤣
2025-02-26
1
jumirah slavina
hilihhh...
bilang aja klo perlu kita lem Bu biar gak bisa lepas Skalian 🤣🤣🤣🤣🤪
2025-02-26
1
Maya Ratnasari
ya Allah, thoorrr, sukses bikin ngakak
2025-02-21
1