Senja mulai meredup, mengantarkan kita perlahan menuju malam yang tenang. Cahaya jingga di langit memudar, berganti dengan gelapnya malam yang merangkul.
Suara burung-burung pulang ke sarang terdengar sayup, diiringi angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Lampu-lampu jalan satu per satu menyala, menyebarkan cahaya lembut di sepanjang kota. Hingar-bingar siang mereda, memberi ruang pada ketenangan yang meresap ke setiap sudut. Malam pun tiba, membawa janji mimpi indah yang menanti kita.
Tepat pukul 20.00 malam, beberapa murid masih beraktivitas dengan latihan tambahan mereka masing-masing. Sebenarnya jam segini mereka setidaknya memiliki waktu bebas, tetapi banyak murid yang memilih menambah porsi latihan.
Lapangan Barat Akademi Garuda.
Beberapa murid sedang bercengkrama bersama, melakukan beberapa latihan sederhana seperti operan pendek dan juga latihan menendang. Kevin yang saat ini merasa akurasi dan kekuatan menembaknya terlalu buruk tentu berlatih dengan giatnya bersama rekan-rekannya.
Kevin tidak ingin namanya yang ada di tim inti Akademi Garuda harus sia-sia menjadi penghangat kursi cadangan, apalagi ada Erwin dari tahun kedua dan Shin Hye-Jun dari tahun ketiga yang tentunya sangat-sangat kuat.
"Vin! Akurasinya masih buruk, padahal sudah mencetak empat gol, loh!" seru Bimo sambil melakukan dribble menghadapi Raka.
"Aku tau, itu mungkin keberuntungan!" balas Kevin dengan tersenyum kikuk.
Di sisi lain lapangan, Viktor dan Arya sedang melakukan teknik menyerang dan bertahan. Arya sebagai bek harus bertahan dari teknik-teknik menyerang Viktor.
"Lewati aku kalau bisa!" seru Arya pada Viktor yang latihan bersama saat ini. "Kau terlalu eksplosif waktu itu! Tapi … Sekarang aku berbeda!" lanjutnya sambil memperbaiki kacamata khusus olahraga nya.
"Begitu kah?" balas Viktor yang melakukan teknik feint dilanjutkan step-over untuk mengelabui Arya, tetapi tentu saja Arya sudah bukan Arya yang latih tanding perdana waktu itu.
Arya sebagai bek melakukan kontak mata dengan lawan, terus menatapnya begitu dalam membuat Viktor tersentak hingga pengendalian bolanya terlepas. Arya mendapatkan bolanya, tersenyum dengan bangganya.
"Bagaimana, Viktor?"
"Bagus! Setidaknya kau sudah sulit ditembus!" jawab Viktor sambil bertepuk tangan singkat. "Penjagaanmu mengingatkanku dengan Van Dijk, bek legenda dari Livpool!" lanjut Viktor sambil merangkul Arya.
Di sisi lain, saat ini Aril, Denis, Pandu dan Henry melakukan umpan-umpan pendek cepat. Mereka tentu ingin membuat formasi terbaik mereka di lini tengah demi menguasai jalannya pertandingan. Seorang gelandang sangat diperlukan untuk alur pertandingan, tanpa mereka, formasi terkadang menjadi tak beraturan.
Di pinggir lapangan, seorang remaja dengan wajah penuh kekesalan melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya terus bergerak menatap pergerakan Kevin, umpatan demi umpatan digumamkan.
"Brengsek! Anak itu brengsek! Kenapa dia harus masuk ke tim inti?" gumam remaja itu dengan sorot mata penuh api membara. "Apa ayah tidak melakukan sesuatu? Seharusnya dia tau anak itu dari Daerah Kumuh Sakarta!"
Kevin yang menyadari seseorang sedang menatapnya pun mengedarkan pandangan, memilih untuk menyisihkan bola dalam pengendaliannya yang lantas direbut oleh Azura yang berlatih bersamanya.
"Oi, Vin! Kenapa?" tanya Azura sambil mendekati Kevin.
Kevin masih fokus, hingga pandangannya tertuju pada seseorang yang sedikit familier, yaitu Noah Faresta. Remaja itu dengannya benar-benar memiliki pertemuan pertama yang tak mengenakkan.
"Oh~ Si Noah?" Azura nampak memahami pandangan Kevin yang tertuju pada Noah. "Sudah, biarin saja! Anak itu masuk dengan uang, seleksi kemarin formalitas saja! Kau pikir Kepala Akademi itu bersih?"
Kevin menatap Azura, sorot matanya dipenuhi ketidakpercayaan yang tinggi. "Benarkah? Kupikir zaman sekarang sudah tak ada yang seperti itu!"
Azura melakukan kuncian leher pada Kevin dan lantas dengan nada candaan langsung berseru, "Aih! Kau masih berusia 15 tahun, tapi … Perkataanmu seperti orang berusia puluhan tahun deh!"
Di tengah keduanya sedang asyik bercengkerama, Noah yang telah menyadari bahwa dia telah dideteksi pun lantas dengan perasaan penuh kekesalan melangkah cepat ke arah Kevin dan Azura. Kevin kembali menyadarinya dan lantas melepas kuncian Azura dan segera mempersiapkan segala sesuatu yang akan terjadi.
"Cih! Anak itu," gumam Azura sambil mengepalkan tangannya.
"Apa maksud Lu lihat-lihat Gua?! Lu mau Gua jatuhin lagi ke tempat sampah itu?!" hardik Noah membuat rekan-rekan Kevin menaruh atensi kepada teriakan itu.
Kevin mengendikkan bahu dengan remeh, berkata dengan tenangnya, "Memangnya siapa yang mencari perhatian lebih dulu?"
Urat-urat di dahi Noah mulai timbul, kemarahannya benar-benar tak tertahankan. Anak seusianya memiliki tempramental gila dengan sikap sombongnya.
Noah meludah ke samping, wajahnya merah padam dan langsung dengan cepat melesat ke depan, melayangkan kepalan tangannya pada wajah Kevin.
Kevin mengangkat tangannya ke arah wajah, telapak tangannya secara tepat menahan tinjuan dari Noah. "Daerah sampah memang buruk, aku adalah sosok yang bangkit dari sana!" Sorot mata Kevin berkilat dingin.
"He–Hei! Sudahlah! Jangan bertengkar tanpa sebab!" Azura mencoba meraih Kevin, sementara yang lainnya meraih Noah yang semakin murka.
"Brengsek kau! Anak sepertimu seharusnya tetaplah di bawah diinjak-injak oleh Gua!"
Bukan hanya Kevin, rekan-rekannya pun mendengar kalimat penuh kesombongan itu. Sorot mata mereka dipenuhi perasaan dingin, menatap Noah yang masih saja menyombongkan dirinya.
"Hei! Kenapa kau segila itu sekarang?! Dulu kau tidak begitu!" seru Azura langsung meraih Noah dan mencengkram kerah baju nya. "Apakah kau telah berubah karena … Uang kotor ayahmu?!"
"Kau dipilih Pelatih Nein karena kemampuanmu, tapi … Jika tanpa uangmu, kau juga tak bisa masuk ke sini!" Azura semakin membeberkan segalanya. "Kau kotor, lebih kotor dari Kevin, Noah! Kau waktu kita kecil tidak seperti ini, kau … Banyak berubah!"
Semuanya terdiam, bahkan Noah sekalipun mulai berangsur-angsur meredakan kemarahannya. Dengan perasaan kesal, Noah menampik tangan Azura dan langsung berbalik badan meninggalkan semuanya.
"Noah … Kuharap kau kembali kepada dirimu enam tahun lalu!" seru Azura dengan suara yang parau, menahan diri terhadap emosi penuh kesedihan miliknya. "Ingat, Noah, aku ada di sini menunggumu!"
***
"Ckckck … Mereka tak bisa bersosialisasi!" gumam Pelatih Nein yang saat ini melihat dari jauh perselisihan kecil tersebut.
"Bagaimana ini, Nein, anak itu bisa merusak formasi kita!" sahut Pelatih Bima dari belakang Nein.
"Benar apa yang dikatakan oleh Pelatih Bima, Noah Faresta sebenarnya tak cocok dengan formasi ini. Keegoisannya dan tempramental miliknya benar-benar merusak segalanya!" timpal Asisten Pelatih Rocky yang saat ini melihat data grafik milik Noah Faresta. "Lagipula data grafiknya sangat rendah!"
Pelatih Nein terdiam, mencoba memikirkan beberapa hal yang tentunya akan sangat mengejutkan siapa saja. Pelatih Nein berbalik, menatap Bima dan Rocky yang menunggu kepastiannya.
"Saya tahu anak itu sangat kotor, dipenuhi sikap yang tak cocok sebagai atlet profesional," balas Pelatih Nein yang lantas diikuti senyuman lega dari Bima dan Rocky. "Namun, kemampuannya sendiri tak bisa dianggap remeh!" lanjutnya yang lantas membuat Bima dan Rocky menghela napas pasrah.
"Dara grafiknya sendiri menunjukkan betapa lemahnya dia dan membuat rumor bahwa ayahnya membayar Kepala Akademi, lagipula kenapa kau harus memilihnya?" tanya Pelatih Bima dipenuhi rasa penasaran.
"Ya, saya tahu anak itu menggunakan uangnya, tetapi … Jelas saya melihat berlian kasar dari dirinya!" jelas Pelatih Nein sambil meraih data grafik dari tangan Rocky. "Data milik Noah … Palsu semua! Ini telah dimanipulasi oleh Kepala Akademi!"
Pelatih Bima dan Rocky cukup terkejut. Bagaimana mungkin seorang pemimpin mereka melakukan hal seburuk itu. Mereka tak habis pikir apa yang dilakukan oleh Kepala Akademi Aditya.
"Kalian tahu kenapa?" tanya Pelatih Nein.
Keduanya menggelengkan kepala tanpa mereka tak mengetahui apapun itu.
"Karena … Kepala Akademi yang telah menerima uang kotor itu ingin membuat penebusan dengan membuat Noah kesulitan dan ditempa habis-habisan para pelatih lain dengan data kemampuan yang rendah ini!" jelas Pelatih Nein sambil mengacak-acak data grafik di tangannya. "Kepala Akademi dengan cara liciknya, dia ingin menciptakan seorang bintang yang dipenuhi nafsu kemenangan!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Protocetus
Kasih kartu Pirlo min si MC biar longballnya mantep
2024-07-05
2