"Hehehe! Kalau begitu … Aku ingin membuat kombinasi umpan denganmu, Raka, Henry dan rekan lainnya!" balas Kevin sambil mengusap-usap rambut Bimo dengan gemasnya.
"Ugh! Jangan diacak-acak!"
"Oi, Rambut Wortel! Minta wortelmu satu, ya!" seru Gilang pada Raka yang hanya diam menyaksikan perayaan kecil-kecilan para murid Pelatih Nein.
"Cih, beli sendiri!" balas Raka dengan datarnya.
"Hahaha! Raka sepertinya akan jadi maskot kita!" sahut Mahesa yang ikut-ikutan.
"Cih!" Raka hanya berdecak kesal, dia langsung pergi begitu saja, kepribadiannya sangat unik sehingga murid lainnya hanya tertawa terbahak-bahak melihat Raka kabur.
***
Ruang Rapat Staf Akademi Garuda.
Ruangan dipenuhi suasana yang menegangkan, setiap pelatih saling melirik dingin. Mereka saat ini sedang mempertimbangkan sesuatu yang akan membawa mereka pada hal besar kelak.
Pada ujung meja, Kepala Akademi Aditya duduk diam, melihat situasi perdebatan para pelatih yang nampaknya memiliki banyak perbedaan pendapat.
Pelatih Nein mengetuk-ngetuk jarinya di meja, menatap satu per satu pelatih lainnya sambil berkata dengan ketusnya, "Kalian, apakah kalian tidak memikirkan impian anak-anak itu?"
Seorang pelatih bertubuh pendek gemuk, menggebrak meja sambil berseru, "Nein, saya tau kamu yang cukup lama di sini, tapi … Kita tidak bisa mengikuti turnamen itu!"
"Heh … Kenapa Pelatih Suryo? Apa kamu takut?" balas Pelatih Nein dengan alis yang terangkat, mencoba memprovokasi Pelatih Suryo dengan wajah tengilnya.
"Saya berpikir lebih baik kita ikuti saja turnamen itu, memang tahun-tahun kemarin kita kalah telak, tetapi …" sahut Pelatih Bima sambil melihat beberapa data grafik murid akademi. "Sekarang kurasa berbeda, anak-anak itu berbeda, Pelatih Suryo!"
Seorang pelatih bertubuh pendek nampak tertawa tipis, wajahnya khas orang Jepang, dia berkata dengan nada sombong, "Kalian berdua mengacak-acak jadwal, memang bisa berkata demikian?"
"Hei, jangan kurang ajar, ya, Pelatih Yagami!" sahut Pelatih Bima yang mulai naik pitam.
Asisten Pelatih Rocky mencoba menenangkan suasana, dia berkata dengan gugupnya, "Me–Memang saya masih cukup muda di sini, tapi … Para pelatih harus bijak untuk mengatasi ini!"
"Apa yang kau tau, Rocky?! Kau baru empat tahun di sini!" seru Pelatih Suryo dengan tatapan tajamnya.
BRAK!
Tangan besar Kepala Akademi Aditya menggebrak meja, suaranya begitu menggelegar dan tercipta retakan kecil yang menjalar di meja kayu tersebut. Para pelatih pun terdiam, menatap ragu pada Kepala Akademi Aditya.
"Analis Pertandingan, bagaimana dua tim yang mengacak jadwal Akademi tadi sore?" ucap Kepala Akademi Aditya sambil melirik pada seorang pria yang terus menatap laptop di hadapannya.
Pria itu kemudian mengalihkan pandangan dari laptop ke arah Kepala Akademi Aditya. Dia memperbaiki kacamatanya dan berkata, "Ya, pertandingan tadi cukup baik. Setiap teknik anak murid lumayan potensial, terutama Kevin Pratama dengan dribble-dribble cantiknya!"
"Tak kalah juga beberapa pemain dari tim Pelatih Bima, mereka sendiri pantang menyerah setelah tertinggal 3-1. Kemudian … Alur taktiknya tadi sebenarnya diserahkan kepada setiap pemain, belum menonjolkan strategi dari kedua pelatih."
"Memang, strategi kedua pemain cukup berantakan, tetapi kemampuan mereka mumpuni dalam menanggulangi strategi yang buruk!"
Penjelasan dari Analis Pertandingan, Yunus, pun didengarkan baik-baik oleh Kepala Akademi dan juga para pelatih. Analis Pertandingan tak biasanya condong kepada masing-masing tim, terkadang seorang Yunus sangat intens dalam menilai setiap pertandingan untuk membawa sebuah strategi yang baik.
"Analis Akademi memang berbeda," kata Kepala Akademi Aditya sambil memangku dagunya dengan kedua tangannya.
"Jadi, apa keputusan anda?" tanya Pelatih Suryo yang nampak masih kesal dengan Pelatih Nein dan Bima.
Cukup lama terdiam, suasana ruangan begitu hening, bahkan hembusan napas jelas terdengar. Tak ada satupun yang mencoba menginterupsi, bagaimana pun keputusan Kepala Akademi Aditya adalah keputusan yang diambilnya dengan mempertimbangkan segala hal.
"Kita ikut, siapkan 23 murid dari seluruh tingkatan, kemudian kali ini yang akan memimpin tim adalah … Pelatih Nein!"
"Hah! Bu–Bukannya saya?!" sahut Pelatih Suryo dengan wajah penuh harapannya.
Kepala Akademi Aditya memandang Suryo, sorot matanya begitu tajam, sambil berkata, "Anda yang menolak ini, jadi … Silahkan pergi untuk setidaknya menenangkan kepalamu!"
Pelatih Suryo berdecak kesal dan langsung pergi begitu saja. Dalam struktur jabatan terkadang ada seorang oknum yang hanya melihat uangnya saja, kinerja mereka sendiri sangat buruk dan terus menjilat atasan, sekalinya salah mereka bahkan bisa bersujud untuk memohon maaf.
"Pelatih Nein, apa kamu mampu?" Kepala Akademi Aditya menoleh pada Pelatih Nein yang nampak berpikir keras.
"Saya mampu, saya akan membawa trofi Turnamen Akademi Asia Tenggara kembali ke tangan kita!"
Turnamen Akademi Asia Tenggara, atau yang biasa dikenal Tournament ASEAN Football Academy (TAFA) adalah turnamen yang telah diselenggarakan sejak 15 tahun lamanya dengan waktu penyelenggaraan sekali setahun, dimulai bulan Februari tengah hingga Maret.
Turnamen ini akan mempertemukan 10 Akademi terbaik Asia Tenggara dalam memperebutkan gelar yang cukup bergengsi karena selama setidaknya 15 tahun ini telah mengorbitkan generasi muda mereka demi Tim Nasional baik senior atau kelompok umur. Turnamen ini dicetus oleh Reza Kusuma sebagai pendiri turnamen ini.
Namun, selama 15 tahun, lokasi pendirian turnamen ini, Akademi Garuda sendiri baru tiga kali menjuarainya yang terakhir kali tahun 2040, jauh di bawah Vietnam dan juga Thailand yang masing-masing memegang gelar enam kali juara. Ya, walaupun begitu, tiga negara ini benar-benar mendominasi sekelas Asia Tenggara, dan kelas Asia cukup besar apalagi Indonesia yang empat kali berturut-turut memenangkan trofi Piala Dunia.
Dengan rentetan hasil buruk selama turnamen, beberapa pelatih nampak tak setuju untuk Akademi Garuda ikut turnamen tersebut. Namun, pelopor tetaplah pelopor, tak peduli dibantai sekalipun, mereka tak bisa meninggalkannya begitu saja. Apalagi, sistemnya adalah saat ini Akademi Garuda sebagai tuan rumah jikalau mereka ikut!
***
Keesokan harinya, tepat malam hari pukul 8 setelah menyelesaikan seluruh sesi latihan baik dari murid tahun pertama maupun tahun kedua.
Murid tahun kedua saat ini sedang dikumpulkan oleh Pelatih Nein dan beberapa juru taktik lainnya. Satu tujuan, yaitu melakukan seleksi untuk mengumpulkan para pemain terbaik.
"Baiklah, kalian … 25 murid tahun kedua, kalian kuat, tetapi kami tak bisa memberikan seluruhnya hanya murid tahun kedua!" Pelatih Nein mulai angkat bicara.
Kabar Akademi Garuda akan segera mempersiapkan diri untuk turnamen telah terdengar ke setiap murid, tentu mereka menantikannya.
"Kita akan memainkan satu pertandingan simpel, 90 menit penuh, aturan dasar!" jelas Pelatih Bima yang saat ini berdiri berdampingan dengan Pelatih Nein.
Malam itu, 25 murid tahun kedua begitu bersemangat untuk proses pemilihan demi tim Akademi Garuda yang sebenarnya. Mereka tak ingin bermain-main, dan ingin mengerahkan seluruh tenaga mereka demi proses penyeleksian orang-orang berbakat tersebut.
Azura melangkah maju, dirinya tersenyum dengan bangga sambil bergumam, "Heh … Ini akan mudah! Tahun lalu aku juga menjadi tim Akademi Garuda di turnamen, sayangnya kalah di final!"
Seorang remaja seusianya menepuk pundaknya, berkata dengan arogannya, "Haha! Kau yakin, Azura? Dasar playmaker licik!"
Azura menoleh, dirinya pun membalasnya, "Sandi, ya! Apa calon rekrutan Persipal Palu telah gagal direkrut?"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Protocetus
Yagami dengan taktiknya membawa kemenangan
2024-07-01
3
alex sander
lanjut tor🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
2024-07-01
2