[Misi Pertama Sistem diterbitkan!]
[- Belilah Perlengkapan hidup, dan juga khususnya perlengkapan untuk bersekolah.
- Masuklah ke Akademi Garuda dan setidaknya berada dalam peringkat 20 besar.
Hadiah Penyelesaian: Kartu Keterampilan "K. Mbappe - Run to Dribble the Ball" Legenda Masa Lalu
Jangka Waktu: 13 hari 23 jam 59 menit 40 detik]
"Mbappe, macam pernah dengar?" gumam Kevin.
R menyahut dengan sombongnya. "Dih, legenda hidup masa lalu gak dikenal, benar-benar anak zaman sekarang ya!"
"Haisssh! Kau mentor yang menyebalkan!" keluh Kevin.
Kevin yang menyadari beberapa orang dijalan memerhatikannya pun langsung berlari dan memasuki sebuah gang sempit di antara gedung pencakar langit. Di sana, Kevin hanya bisa mencoba untuk menenangkan diri karena hanya beberapa meter saja langsung kelelahan.
"Anak zaman sekarang lemah-lemah, dulu zamanku–"
"Eh, kamu, ya! Zaman dulu dengan zaman sekarang beda astaga! Setiap zaman punya kelebihan dan kekurangannya!" keluh Kevin yang sedari tadi kesal dengan kalimat-kalimat menyebalkan R. "Tengil sekali, cih!" lanjutnya.
Kevin pun kembali berjalan dengan normal dan acuh tak acuh terhadap ocehan dari R yang seringkali terus terdengar.
Kevin terus berjalan, menyusuri jantung Kota Jayakarta yang begitu hiruk-pikuk oleh banyaknya lautan manusia dan kendaraan di mana-mana.
Kevin yang tak ingin hidup di jantung kota pun memiliki wilayah yang agak jauh dari hiruk-pikuk masyarakat berkegiatan. Dirinya memiliki bagian Jayakarta Selatan di mana tempat perumahan yang terbilang asri dan damai dari keramaian manusia.
Sekitar satu jam berjalan, Kevin akhirnya mendapatkan alamat di mana developer perumahan yang akan menjajakan perumahannya ke banyak orang.
Perumahan Pondok Asri.
"Adek … Mana orangtua kamu?" tanya seorang pria bertubuh gempal dengan kumis terpisah antara kiri dan kanan, rambutnya botak tengah.
Mata Kevin tanpa sadar berkilat dingin membuat pria bertubuh gempal di depannya terkejut.
"Dasar tidak so–!"
"Uang dua ratus juta tunai apakah bisa langsung saya bayar?" sela Kevin sebelum pria itu meneruskan kalimatnya.
'Cih, anak orang kaya yang memberontak rupanya … Tapi uangnya tidak main-main sih!' batin pria itu yang tanpa sadar mengeluarkan raut wajah rakusnya.
"Ini," ucap Kevin sambil membuka koper yang benar-benar penuh dengan uang pecahan 100 ribu rupiah.
Beberapa menit lalu.
Kevin mengambil uang di bank atas nama rekeningnya yang benar-benar nyata adanya. Tentu mengambil uang sebanyak itu adalah hal mengejutkan, maka bahkan sekelas manajer bank langsung menangani Kevin.
"Uang tunai sebanyak ini untuk Tuan Muda buat apa, ya kalau boleh tahu?" tanya Manajer Bank bernama Adrian yang nampak sedikit kikuk.
Kevin menatap mata Adrian sambil berkata dengan polosnya, "Hehehe … Beli permen!"
"Ah … Ba–Baiklah!"
'Cih, candaan orang kaya sekarang aneh-aneh!' batin Adrian.
Adrian kemudian memberikan koper eksklusif untuk Kevin. Koper ini nantinya diisi uang sebanyak 300 juta secara langsung.
'Seratus jutanya sebagai pegangan sih,' batin Kevin.
Kembali ke masa sekarang.
Kali ini, Kevin berhadapan dengan pria bertubuh gempal yang bernama Udin tersebut. Salah satu pegawai bagian penanganan pembelian rumah dari Perumahan Pondok Asri.
"A–Anak muda … Ah! Tuan Muda!" Udin nampak gelagapan. "Ka–Kami akan urus," lanjutnya yang langsung menyiapkan banyak dokumen penandatanganan.
'Ini gak parah, kan? Masih masuk akal, kan?' batin Kevin yang merasa keputusannya ini benar-benar gila.
Sementara itu, R di dalam perangkat tablet hanya bisa menghela napas pasrah sambil bergumam, "Ugh! #### #### terlalu banyak memberikan uang di Kotak Hadiah! Dasar #### #### sialan!"
***
Di sudut perumahan yang tenang, berdiri rumah tipe 40 dengan 2 kamar tidur, satu dapur, satu kamar mandi, dan halaman belakang yang luas serta halaman depan yang tak kalah luasnya.
Ruang tamu yang luas terletak di sebelah depan, menyambut tamu dengan hangat.
Dapur yang terletak di ujung lorong belakang menawarkan akses langsung ke halaman belakang yang hijau. Dua kamar tidur nyaman berada di sebelah kanan dan kiri koridor, sementara kamar mandi terletak di antara keduanya untuk kemudahan akses.
Halaman belakang yang luas memberikan ruang untuk berkebun atau bahkan renovasi yang kapan saja bisa dilaksanakan, halaman yang benar-benar secara nyata seharusnya masih bisa diletakkan satu unit rumah lagi.
Halaman depannya pun tak kalah luas, taman asri dengan beberapa pohon rindang, rerumputan hijau memanjakan mata. Batu alam sebagai pijakan hingga sampai ke teras sungguh terkesan minimalis, tetapi mewah.
"I–Ini rumah Tuan Muda!" ucap Udin dengan gemetaran memberikan kunci rumahnya.
Beberapa pria dewasa lainnya yang memakai jas juga nampak ikut hadir dalam penyerahan kunci serta penyerahan berkas-berkas penting.
"Anak itu … Mengerikan!"
"Kemungkinan itu uangnya, bukan uang orangtuanya!"
"Katanya orangtuanya sendiri sudah meninggal."
"Anak itu … Benar-benar sensasi!"
Rentetan kalimat terus keluar dari beberapa orang yang sedang sibuk mengambil foto dan juga memberikan selamat pada pegawai penanganan pembelian rumah, Udin, yang berhasil mendapatkan klien terbaiknya.
'Bonus dua puluh juta datanglah!' batin Udin dengan antusias tinggi. 'Liburan ke Bali!' batinnya lebih lanjut.
"Heh … Aku tau apa yang dipikirkan Om Gendut itu," gumam Kevin.
Kevin pun berpamitan kepada para pria dewasa yang nampak masih penasaran dengan identitas Kevin. Namun, aturan nomor satu adalah utamakan pelanggan, kerahasiaan pelanggan di atas langit!
Kevin memasuki rumahnya, aroma harum bunga nampak begitu memikat hatinya. Rumah pertamanya, sekaligus melepas masa-masa kelam dunianya yang dipenuhi keputusasaan.
R yang sedari tadi diam pun langsung berseru lantang. "Tanpa saya, kamu masih seonggok sampah, hahaha!"
Kevin menatap tablet di tangannya, layar hologram tercipta dan tubuh R pun terlihat sedang tertawa begitu sombongnya.
"Kau kubuang ke tempat sampah, huh!" seru Kevin dengan ganasnya.
R berhenti tertawa, menatap Kevin dengan sorot mata dinginnya. "Hidupmu bisa begini karena saya, kau tidak ingin membalas budi?"
Kevin tersentak, entah mengapa perasaan dingin menyeruak dalam ruang tamu tersebut. Kevin menyadari bahwa perasaan dingin itu tercipta akan suasana intens dari R.
" Habisnya kamu benar-benar menyebalkan! Di zamanmu kamu pasti tidak punya teman!" ketus Kevin sambil meletakkan perangkat tablet itu di meja ruang tamu.
Satu hal yang lebih jelas, semua furnitur di dalam rumah telah tertata rapi sehingga harga rumah ini sedikit lebih mahal dari biasanya.
R melipat kedua tangannya di depan dada sambil berkata, "Heh … Asal tahu saja, temanku bahkan para legenda hidup sekarang! Mbappe, Messi, bahkan yang tak terlupakan, Ronaldo! Yaa … Meskipun mereka sekarang hanya kakek-kakek kaya!"
"Berarti kamu … Pemain sepakbola juga?"
"Iya, saya adalah ####–"
R mengacak-acak rambutnya dengan kesal sambil berkata, "Akh, sensor sialan! Jika bukan karena #### ####, aku tidak di sensor! Cih!"
Kevin terkekeh geli, dirinya tidak melihat pria dewasa di depannya, melainkan seorang pemuda yang dengan kepribadian uniknya sedang marah-marah.
"Intinya, cepat selesaikan misi pertamamu, setelah ini saya akan benar-benar menjadi mentormu!" jelas R dengan raut wajah serius.
Kevin mengangguk paham. "Ya, aku akan beli perlengkapan dulu, terus … Mendaftar di Akademi Garuda!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
Protocetus
Masih hebat Vlahovic dibanding Mbappe 🤣
2024-06-22
3
Buana Lukman
bagus up
2024-06-22
2