Azura meraih pundak Kevin, mulutnya mendekat ke telinga Kevin kemudian berbisik, "Kau harus lolos seleksi pendaftaran itu, aku merasa kau berbeda!"
Kevin melepaskan rangkulan Azura dan menjauh beberapa langkah kemudian menghadap ke arah Azura sambil berkata dengan ringan. "Ya, aku harap bisa lolos, nantikan yaa, kamu seorang yang pertama mengajakku bicara selama ini!"
Azura memiringkan kepalanya, wajahnya kebingungan. "Pertama?"
"Bukan apa-apa!" sahut Kevin sambil berbalik.
***
Satu hari setelah pendaftaran Akademi, Kevin kembali lagi mendatangi Akademi Garuda untuk melakukan Seleksi Fase Dua yang mana total 1.200 calon murid akan berjuang keras demi lolos ke Seleksi Fase Tiga.
Seleksi Fase Tiga sendiri memiliki jumlah murid 500 orang yang mana itu kurang dari setengah total awal.
Lapangan Utama Akademi Garuda.
Stadion Jantung Garuda.
Stadion Jantung Garuda adalah sebuah fasilitas olahraga modern yang terletak di tengah area Akademi Garuda. Dengan kapasitas 5000 penonton, stadion ini dirancang untuk memberikan pengalaman menonton yang luar biasa.
Stadion ini memiliki desain arsitektur yang futuristik dengan struktur atap yang aerodinamis dan material kaca yang memaksimalkan pencahayaan alami.
Di pintu masuk utama, terdapat gerbang besar dengan logo Akademi Garuda yang megah, dikelilingi oleh taman hijau yang rapi. Begitu masuk, pengunjung akan disambut oleh area concourse yang luas dengan lantai marmer dan pencahayaan LED modern. Terdapat berbagai kios makanan dan minuman, toko merchandise resmi Akademi Garuda, serta fasilitas toilet yang bersih dan modern.
Lapangan stadion menggunakan rumput alami berkualitas tinggi yang dirawat dengan teknologi mutakhir untuk memastikan kondisi terbaik.
Tribun penonton dirancang agar setiap kursi memiliki pandangan yang jelas ke lapangan, dengan tempat duduk yang nyaman dan ergonomis.
Bagian VIP menyediakan fasilitas eksklusif seperti lounge mewah, layanan makanan dan minuman, serta tempat duduk premium yang dilengkapi dengan monitor pribadi untuk menikmati tayangan ulang pertandingan.
Di sekitar stadion, terdapat fasilitas latihan dan akademik yang modern, termasuk lapangan latihan tambahan, gym, ruang ganti, dan ruang kelas.
Seluruh area Akademi Garuda didesain untuk mendukung pengembangan atlet muda dengan lingkungan yang inspiratif dan sarana yang lengkap.
Dengan suasana yang dinamis dan fasilitas yang mutakhir, Stadion Jantung Garuda menjadi pusat kegiatan olahraga yang vital bagi Akademi Garuda, menciptakan lingkungan yang ideal untuk mengasah bakat dan menyelenggarakan berbagai turnamen atau eksibisi.
Di sinilah 1.200 calon murid Akademi Garuda akan dites untuk menentukan apakah mereka layak menuju Seleksi Fase Dua atau gagal.
1.200 calon murid Akademi yang memakai pakaian olahraga mereka masing-masing berbaris di tengah lapangan dengan rapinya. Sementara sosok bertubuh besar dan atletis berada di atas panggung kecil di hadapan mereka.
"Hari ini … Hari yang kalian tunggu-tunggu setelah proses Seleksi Fase Satu selesai!"
Seleksi Fase Satu adalah pemisahan berkas-berkas yang mampu bersaing di Akademi Garuda. Proses itu berlangsung dari sore hari kemarin hingga malam hari oleh para staf kepelatihan dan juga staf panitia.
Selasa, 9 Januari 2046, pukul 9 pagi.
"Mari kita mulai Seleksi Fase Dua!" teriak Kepala Akademi Aditya.
Hari itu, matahari bersinar cerah di langit biru tanpa awan, memberikan semangat baru kepada para calon siswa yang telah melewati Seleksi Fase Satu di Akademi Garuda. Seleksi Fase Dua, yang ditunggu-tunggu dengan penuh antisipasi, siap dimulai. Di lapangan hijau yang luas, suasana bersemangat menyelimuti udara saat para peserta bersiap menghadapi tantangan fisik dan keterampilan yang akan menentukan langkah mereka selanjutnya.
Di pinggir lapangan, pelatih dan tim penguji berdiri dengan clipboard di tangan, mata mereka tajam mengamati setiap gerakan.
Setiap peserta dipanggil untuk melakukan tes fisik dan kemampuan. Tak ada yang terlewat, setiap dari mereka dinilai sedemikian rupa.
Beberapa peserta yang melakukan kesalahan besar langsung diusir dengan kerasnya.
"PERGI KAU!"
"ASTAGA ITU SALAH, SILAHKAN PERGI!"
"KESALAHAN!"
"SALAH!"
"AYOLAH, YANG BENAR!"
Teriakan dari para pelatih benar-benar menggelegar. Setiap peserta berjibaku bermandikan keringat, tekad membara mereka benar-benar berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Tibalah peserta nomor 100, Kevin Pratama dengan nomor 100 di dadanya, melangkah maju. Di bawah pandangan tegas pelatih, dia memulai tes fisik. Lari cepat sepanjang 50 meter, kakinya seolah berpacu dengan angin. Setiap detik dihitung, setiap langkah dinilai. Kemudian, ia beralih ke lari jarak jauh, mengelilingi lapangan beberapa kali, napasnya teratur dan tekadnya terlihat jelas di matanya.
Meski sempat goyah beberapa saat, Kevin yang telah berpengalaman terus berlari di bawah rundungan benar-benar pantang mundur. Dirinya bertekad untuk berusaha sekuat mungkin.
Setelah tes fisik, giliran keterampilan sepakbola diuji. Di sudut lapangan, kerucut-kerucut oranye ditempatkan dalam pola zigzag untuk tes dribbling.
Kevin menggiring bola dengan cekatan, menghindari setiap rintangan dengan kelincahan yang mengagumkan.
"Huh?! Ke–Kemampuan dribble yang … Indah!" ucap Kepala Akademi Aditya yang terpesona akan gerakan Kevin.
Seorang pelatih bertubuh ramping berkata sambil tersenyum, "Anak itu … Sempurna! Tanpa kesalahan!"
Beberapa pelatih di sampingnya pun juga mengangguk setuju. Kemampuan menggiring bola Kevin di atas rata-rata anak seusianya.
Kemudian, ia menguji kemampuan passing, mengarahkan bola dengan presisi ke target yang telah ditentukan.
"Passingnya masih lemah, tetapi … Masih bisa diasah!" ucap Kepala Akademi Aditya.
"Benar, Kepala. Peserta nomor 100, Kevin Pratama, dia memiliki kekurangan, tetapi kelebihannya cukup mumpuni!" balas pria bertubuh ramping di sampingnya.
Selanjutnya adalah tes shooting. Di depan gawang, dia mengatur bola, menarik napas dalam, dan dengan satu tendangan kuat, bola meluncur cepat ke sudut kanan atas gawang, membuat jaring bergetar.
"Tidak buruk, tapi tendangan selanjutnya melenceng!"
'Fyuuuh … Ini benar-benar sulit!' batin Kevin sambil menyeka keringatnya.
Sore hari telah datang, di sisi lain lapangan, sekelompok peserta lainnya mengikuti small-sided games, sebuah simulasi pertandingan kecil. Di sini, kerja sama tim dan pemahaman taktis diuji.
Kevin yang sekarang bermain sebagai gelandang, mengoordinasikan pergerakan timnya, memberikan instruksi singkat, dan mengoper bola dengan ketepatan berantakan. Setiap operan, setiap keputusan di lapangan, diperhatikan dengan seksama oleh para penguji.
'Cih, ini bukan posisi impianku! Ini terlalu kaku!' batin Kevin sambil melirik kanan dan kiri.
Kepala Akademi Aditya menyadari sesuatu, dirinya tersenyum sambil berkata, "Anak itu … Bukan gelandang, dia … Penyerang murni!"
"Saya rasa anda benar, posisi gelandangnya berantakan, dia malah lebih maju ke posisi penyerang! Naluri menyerangnya sedang terbuka sekarang!"
Ketika mereka fokus menilai, gerakan Kevin yang menusuk dari sisi kanan menggiring bola dengan lari yang sedikit pelan. Namun, lambatnya dia berlari dibantu oleh teknik dribble miliknya yang ditingkat 70.
Kevin melakukan gerakan tipuan kepada seorang remaja, fleksibilitas tubuh dan kontrol bolanya benar-benar menakjubkan.
"Cih! Ini masih lambat!" gumam Kevin.
Kevin terus merangsek masuk ke sisi kanan pertahanan, hingga gerakan tipuan terakhirnya dia langsung mengambil ancang-ancang menendang menggunakan kaki kirinya. Tumpuannya sedikit goyah, meskipun begitu, Kevin tidak patah semangat.
"Harus gol!" seru Kevin dengan semangat.
Bola melesat kencang membelah udara. Suara dentingan besi terdengar ketika bola menghantam mistar gawang.
"Arrghh! Tidak gol!" keluh Kevin mengacak-acak rambutnya.
"Hahaha! Wajar, anak itu harus ditempa lagi," ucap Kepala Akademi Aditya yang berharap sebelumnya Kevin mencetak gol. "Setidaknya dia memiliki prospek bagus, saya loloskan ke Fase Tiga!"
"Wah! Re–Rekomendasi dari Kepala Akademi!" seru para pelatih.
Sore itu, setelah rangkaian tes selesai, peserta berkumpul di lapangan, menunggu pengumuman hasil awal. Wajah-wajah mereka penuh harap dan kegugupan. Kepala Akademi Aditya melangkah maju ke depan. Dengan suara tegas namun bersahabat, ia mulai mengumumkan nama-nama yang lolos ke fase berikutnya.
"Peserta nomor 666, Noah Faresta, lolos ke Fase Tiga!"
"Peserta nomor 7, Chairil Lukman, lolos ke Fase Tiga!"
"Peserta nomor 100, Kevin Pratama, lolos ke Fase Tiga!"
Kevin dengan keringat masih mengalir di pelipisnya, mendengar namanya dipanggil. Senyum lebar menghiasi wajahnya, matanya bersinar dengan semangat baru.
"YEAAHH!" seru Kevin bersemangat, butiran keringat mengkilap diterpa cahaya sore.
Dengan semangat yang membara, para peserta yang lolos beranjak dari lapangan, meninggalkan jejak keringat dan usaha mereka, bersiap untuk menghadapi Seleksi Fase Tiga yang akan menentukan nasib mereka di akademi ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
reinkarnasi
gass crazy up
2024-06-25
2
alex sander
up 3 chapter dong tor
2024-06-25
4