"Peserta nomor 100, Kevin Pratama, lolos ke Fase Tiga!"
Kevin dengan keringat masih mengalir di pelipisnya, mendengar namanya dipanggil. Senyum lebar menghiasi wajahnya, matanya bersinar dengan semangat baru.
"YEAAHH!" seru Kevin bersemangat, butiran keringat mengkilap diterpa cahaya sore.
Dengan semangat yang membara, para peserta yang lolos beranjak dari lapangan, meninggalkan jejak keringat dan usaha mereka, bersiap untuk menghadapi Seleksi Fase Tiga yang akan menentukan nasib mereka di akademi ini.
Kevin pun beranjak, membersihkan pakaiannya yang dipenuhi debu dan berjalan dengan bangganya menuju pintu keluar stadion.
"Oi~!" Sebuah suara familier terdengar dari tribun penonton dekat pintu keluar.
Kevin menoleh ke arah suara tersebut, seorang remaja melambaikan tangan sambil berseru, "Fase Tiga! Harus lulus, yaa!"
"Kak Azura!" seru Kevin sambil membalas lambaian tangannya.
"Woy, maju dong, jangan halangi jalan!" seru seorang remaja yang sengaja menabrakkan diri pada Kevin.
Seorang remaja berusia 15 tahun berdiri dengan tegap dan penuh kesombongan. Rambut hitamnya mencolok dengan bagian depannya yang dicat kemerahan, mencerminkan sikap beraninya. Tatapannya tajam dan merendahkan, seolah-olah menantang dunia dengan pandangan yang penuh keyakinan dan ketidakpedulian.
Kevin menoleh kepada remaja itu sambil berkata, "Jalur keluar ini lebarnya 8 meter!"
"Cih!" Remaja itu langsung pergi dari Kevin setelah mendapati jawaban yang tentu telak.
Kevin pun menunduk sejenak pada Azura dan langsung memasuki koridor jalan keluar stadion.
Saat berada di dekat taman pintu masuk stadion, Kevin bertemu sekali lagi dengan remaja yang memandang rendah dan bersikap begitu sombongnya.
Remaja itu menatap sejenak pada Kevin, meludah ke samping dan berseru, "Kamu dasar lemah, egois, tidak tahu diri, tendangan jelek, lari lambat!"
Kevin terdiam menunduk, hatinya tiba-tiba dihantui oleh bayangan kegelapan yang mulai menyelimuti dirinya.
Kevin menatap remaja itu dengan sorot mata kosongnya. Mata segelap jurangnya itu benar-benar menusuk hati remaja yang menyombongkan diri tersebut.
"Kau–!"
Kevin berniat menghajar remaja sombong tersebut. Namun, Azura langsung meraihnya dari belakang dan menahan tubuhnya untuk tidak menyerang.
"He–Hei, Kevin! Sstt … Diamlah, jangan kehilangan akal," ucap Azura sambil membalik badan Kevin dan menatapnya dalam-dalam.
Sorot mata Kevin yang kosong bagai mata ikan perlahan berbinar kembali. Kevin menyadari sikapnya dan langsung menjauh satu langkah dari Azura dan juga remaja tersebut.
"Pergilah, Noah!" seru Azura sambil mengisyaratkan lambaian tangan.
Remaja bernama Noah itu pun berdecak kesal dan langsung pergi dengan langkah beratnya. Mulutnya terus menggerutu tanpa henti dengan kesalnya.
"Kau … Kau bodoh, ya? Anak itu … Noah Faresta, anak dari konglomerat Dedi Faresta loh!" jelas Azura menatap Kevin dengan pasrahnya.
Kevin menunduk lesu sambil berkata, "Ya … Dia merendahkanku, aku kan tersulut emosi!"
Azura pun langsung berpamitan kepada Kevin karena kelas akademiknya akan segera berjalan. Bagaimana pun anak Akademi Garuda masih harus belajar pembelajaran umum karena untuk menunjang berbagai aktivitas ke depannya.
Azura sebelum menjauh dari pandangan Kevin, berbalik dan berseru, "Semoga kau lulus seleksi ya! Jika lulus, tiga tahun dari sekarang, aktivitasmu akan dipenuhi Akademi Garuda!"
***
Rumah Kevin.
"Kamu masih lemah untuk lari, akurasi tendangan, kekuatannya, dan banyak lagi, yang penting juga adalah stamina. Penyerang perlukan itu loh!" jelas R yang visual hologramnya sedang berbaring.
Kevin yang saat itu baru pulang dari Seleksi Fase Dua pun hanya bisa mengiyakan. Lagipula semua yang dikatakan oleh R adalah fakta, dirinya masih sangat lemah untuk masalah inti dari seorang penyerang.
Kevin mengelap rambutnya dengan handuk kecil, bagian atas telanjang dada menunjukkan dada dan perut yang cukup mulai terbentuk meski belum begitu sempurna. Bagaimana pun Kevin masih dalam masa pertumbuhan.
"Kapan Seleksi Fase Tiga?" tanya R. "Seharusnya besok, kan? Karena berturut-turut," lanjutnya yang membuat sudut bibir Kevin berkedut kesal.
"Dih, dia yang bertanya, tapi dia yang menjawab!"
***
Rabu, 10 Januari 2046.
Pagi itu, langit masih diselimuti kabut tipis ketika para peserta berkumpul di aula utama Akademi Garuda. Mereka yang telah lolos Seleksi Fase Dua kini berdiri dengan perasaan campur aduk antara kegugupan dan harapan. Seleksi Fase Tiga, fase terakhir yang akan menentukan siapa yang layak menjadi bagian dari akademi bergengsi ini, segera dimulai. Di antara mereka, Kevin Pratama berdiri, merasakan detak jantungnya yang berdegup lebih kencang dari biasanya.
Kevin, seorang remaja berusia 15 tahun dengan rambut hitam pendek dan postur tubuh yang tegap, menatap sekelilingnya. Teman-teman baru yang ditemuinya selama proses seleksi saat pertandingan eksibisi sederhana kini menjadi pesaing dalam pertarungan terakhir ini. Hari ini, kemampuan mental dan psikologis mereka akan diuji, serta wawancara individu dengan panel pelatih dan staf akademi.
Sesi pertama adalah evaluasi psikologis. Para peserta, termasuk Kevin, dibawa ke ruang tes yang tenang dan nyaman. Di sini, mereka menghadapi serangkaian pertanyaan dan situasi simulasi yang dirancang untuk mengukur ketahanan mental, motivasi, dan kecerdasan emosional mereka.
Kevin menjawab setiap pertanyaan dengan hati-hati, berusaha menunjukkan ketenangan dan kedewasaannya meski cukup sulit karena tentu dirinya tak begitu berpengalaman dalam dunia sepakbola dari masa kanak-kanak. Hidupnya benar-benar miris sejak lahir, maka seleksi ini pertama kalinya dirinya menyentuh bola sepak bersama rekan lapangan juga rivalnya.
Evaluasi psikologis cukup sukses bagi Kevin. Tak sedikit para peserta calon murid akademi yang berguguran karena mereka yang tak begitu kompeten dalam menjawab pertanyaan psikologis.
Setelah evaluasi psikologis, para peserta dipanggil satu per satu untuk sesi wawancara. Kevin menunggu dengan sabar, meskipun kegugupan mulai menyelinap.
Akhirnya, namanya dipanggil. Ia melangkah masuk ke ruang wawancara, di mana sebuah meja panjang menanti dengan beberapa pelatih dan staf akademi duduk di belakangnya. Di tengah ruangan, kursi kosong menantinya.
"Selamat pagi, Kevin," sapa Kepala Akademi Aditya dengan senyum tipis. "Silakan duduk."
Kevin duduk dengan tegak, berusaha menunjukkan kepercayaan diri yang ia rasakan. Pertanyaan pertama mulai mengalir, dari motivasinya bergabung dengan akademi hingga mimpinya di dunia sepakbola.
Kevin berbicara tentang kecintaannya pada sepakbola yang dimulai sejak kecil meski dibatasi takdir yang miris. Bagaimana pun Akademi Garuda memiliki banyak informan, maka identitas dirinya yang telah bangkit dari takdir miris itu pun diketahui mereka.
"Bagaimana kamu menghadapi keputusasaan itu hingga bangkit?" tanya salah satu pelatih, matanya tajam mengamati reaksi Kevin.
Kevin menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Keputusasaan itu menyebar dalam diri saya, meski begitu saya dengan tekad dan juga sikap pantang menyerah mampu menghadapinya hingga saya bisa berada di hadapan anda sekalian."
Para pelatih saling bertukar pandang dan mengangguk, tampaknya puas dengan jawaban Kevin. Wawancara berlanjut dengan beberapa pertanyaan lagi.
"Bagaimana kehidupan kamu di daerah sampah itu?" Seorang pelatih lainnya nampak langsung bertanya dengan kalimat menohok hati.
Kevin memberikan senyuman manisnya pada pelatih itu kemudian berkata dengan santainya. "Hidup saya dipenuhi kekerasan, ketidakadilan, dan kegilaan. Saya nyaris bunuh diri hari itu, tetapi sebuah hal masuk begitu saja dalam kepala saya dan membuat saya mengurungkan niat itu!"
Kepala Akademi Aditya berdiri, menatap Kevin dengan sorot mata tajam. "Kamu, apakah kamu bisa mengemban tugas ini ke depannya? Masa depan Tim Nasional ada di remaja seusiamu, khususnya kamu!"
Kevin berdiri, meletakkan kepalan tangannya di dada kiri dan berseru dengan sorot mata membara. "Saya bersumpah untuk mengemban tugas itu, demi masa depan Indonesia! Saya mengabdikan jiwa saya untuk Tim Nasional!"
Kepala Akademi Aditya tersenyum puas dan segera mempersilahkan Kevin untuk keluar tanda bahwa wawancara ini selesai baginya.
***
Sore harinya, semua peserta berkumpul kembali di aula untuk mendengar hasil akhir. Suasana tegang memenuhi ruangan. Kepala Akademi Aditya maju ke depan, membawa selembar kertas berisi nama-nama yang lolos seleksi. Setiap mata tertuju padanya, menunggu dengan napas tertahan.
"Saya ingin mengucapkan selamat kepada kalian semua yang telah sampai sejauh ini," katanya dengan suara tegas. "Namun, hanya ada beberapa yang bisa kami terima di akademi ini."
Nama-nama mulai disebutkan satu per satu, para staf pelatih dan Kepala Akademi terus menyebutkan nama. Kevin merasakan detak jantungnya semakin kencang. Lalu, terdengar namanya dipanggil. "Kevin Pratama."
Sejenak, dunia Kevin seolah berhenti. Kemudian, senyum lebar merekah di wajahnya. Ia melangkah maju, menerima penyematan pin Akademi Garuda dari Kepala Akademi Aditya dengan hati yang penuh syukur dan semangat.
"Selamat, ya!" ucap Kepala Akademi Aditya sambil tersenyum. "Masa depan ada di tanganmu!"
Dia tahu, perjalanan ini tentu saja baru akan dimulai. Seleksi Fase Tiga telah ia lalui, dan kini ia resmi menjadi bagian dari Akademi Garuda, siap mengukir masa depannya dalam dunia sepakbola.
"Selamat untuk 100 murid baru Akademi Garuda!" seru Kepala Akademi Aditya dibarengi dengan tepuk tangan meriah seisi gedung. "Oh, kalian mau lihat peringkat? Silahkan!" lanjutnya sambil beberapa pelatih membawa papan dengan banyaknya kertas tertempel.
100 murid baru Akademi Garuda berbondong-bondong melihat papan peringkat yang mereka tunggu-tunggu.
"Kevin Pratama … Kevin Pratama … Ayolah, dimana namaku?" gumam Kevin dengan gemetar melihat urutan satu hingga dua puluh.
"AH! Itu dia!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments