Kevin menatap lima remaja seusianya yang begitu bersemangat, terkecuali remaja yang memiliki rambut yang mirip warna wortel, Raka, yang nampak datar menikmati oatmeal miliknya.
"Salam kenal semuanya!"
Semuanya pun lanjut menikmati sarapan mereka, disela-sela makan, terkadang ketujuhnya saling berbincang dan sosok yang paling sedikit mengeluarkan kalimat adalah Raka Yudha.
"Hahaha! Rambut wortel memang adalah teman kamar yang pendiam!" celetuk Gilang sambil merangkul pundak Raka.
Raka melirik Gilang, sorot matanya begitu tajam hingga Gilang langsung melepas rangkulannya. "Cih, kemampuan sosialisasimu benar-benar, ya! Kemarin bahkan canggung sekali kita!"
Selepas mereka sarapan pagi, para murid dikumpulkan langsung oleh beberapa pelatih. Mereka dibagi menjadi sebanyak empat kelompok yang masing-masing berjumlah 25 murid. Sebelum itu mereka mengganti pakaian dengan jersey latihan hitam.
Sekelas murid tahun pertama, ini masih sangat banyak. Tahun kedua murid Akademi Garuda sekarang sendiri berjumlah 25 orang saja, bahkan tahun ketiga saat ini telah menipis semakin drastis dan hanya menyisakan 5 orang saja.
Bagaimana pun, ketika mereka naik ke tahun kedua, seleksi ketat dilaksanakan hingga tak sedikit mereka yang berjuang selama setahun harus tersingkir dari tempat terbaik karena tak kompeten. Begitulah kira-kira yang terjadi selama tiga tahun ke depan, semakin maju, maka semakin menipis setiap murid.
"Ugh … Sekarang kita hanya akan latihan sederhana, kan?" ucap Mahesa yang agak khawatir, dirinya belum begitu beradaptasi dengan situasi Akademi Garuda.
Lapangan Barat Akademi Garuda.
Berkumpul setengah dari murid tahun pertama di sana, setengahnya lagi di Lapangan Timur Akademi Garuda. Mereka dibagi menjadi dua kelompok untuk membantu mengorganisir setiap pelatih.
"Tahun ini murid tahun pertama banyak sekali, jadi … Kalian harus membuktikan bahwa kalian layak mencapai tahun kedua!" seru seorang pelatih, Nein Anderlecht, salah satu pelatih terbaik dari Akademi Garuda.
Tubuhnya menjulang tinggi tegap dengan 190 cm, posturnya ramping dan nampak terlihat mudah jatuh jika melakukan sentuhan badan saat bertanding, tetapi kelasnya benar-benar berbeda. Mata kecoklatannya menatap satu persatu murid di hadapannya, dirinya tersenyum kepada Kevin yang berdiri tegap nampak tegang.
Kevin yang menyadarinya pun tak ragu untuk saling berselisih tatapan terhadap Pelatih Nein. Kedua pasang mata begitu intens saling melirik, bak terbentuk kilatan listrik di antara mereka.
'Anak itu … Rekomendasi Kepala Akademi, aku ingin melihat kekuatan penuhnya!' batin Pelatih Nein sambil mengusap hidungnya dan tersenyum penuh misterius.
"Baik, kelompok satu, kalian akan dibawakan oleh Pelatih Bima Satria yang berada di samping saya, silahkan ikuti Pelatih Bima!" seru Pelatih Nein.
Kelompok satu pun membubarkan diri dari barisan mengikuti arahan Pelatih Bima yang membawa mereka ke sisi lapangan lain. Dua puluh lima murid Akademi Garuda kali ini benar-benar berlatih dengan gugup, karena mereka sendiri belum begitu mengenal Pelatih Bima yang bertubuh cenderung pendek dengan kulit kecoklatannya.
Sekarang, Pelatih Nein bertolak pinggang, menatap dua puluh tiga murid Akademi Garuda di depannya.
"Nah, apa yang harus saya lakukan terhadap kalian yang polos ini?" ucap Pelatih Nein sambil mengusap dagunya. "Terlebih lagi dua sisanya telah mengundurkan diri meninggalkan kesempatan emas!"
Pelatih Nein setelah mendapati jawabannya lantas berseru, "Kalian maju satu persatu, jelaskan kemampuan dan posisi terbaik kalian!"
Pelatih Nein melihat data grafik yang telah diterbitkan oleh Tim Analisis Pemain. Data grafik itu menunjukkan kemampuan mereka yang dikeluarkan saat seleksi, belum begitu akurat, tetapi sebagian dari pemain menunjukkan grafik yang cukup tinggi yang membuat Pelatih Nein tertarik.
"Oh, iya, jangan lupa ketika kalian dalam bimbinganku, jadwal yang diberikan oleh staf pelatih akan sering berubah!" jelas Pelatih Nein membuat beberapa murid saling berbisik. "Bagaimana pun, saya memiliki taktik tersendiri dalam pelatihan!"
Setelah itu, dua puluh tiga murid tersebut mengambil barisan dan segera mendatangi satu persatu Pelatih Nein.
Rezky Kasuma, kiper andal dengan pandangan luas, dapat memulai serangan dari belakang. Penilaian pribadi yang cukup besar, tetapi di hadapan Pelatih Nein hanya dianggap 1% dari Legenda Kiper Indonesia, Reza Kusuma. Mana dirinya diberi nama semirip itu oleh orangtuanya, benar-benar mengharapkan demikian. Hal itu membuat Pelatih Nein merasa kasihan bahwa Rezky akan disama-samakan dengan legenda tersebut.
Geza Rahadi, kiper dengan refleks yang mumpuni dalam menangani arah tembakan bola, juga mampu mendukung serangan dari lini pertahanan. Ini penilaian pribadi yang dianggap remeh oleh Pelatih Nein.
Danu Pramana, penjaga gawang atau kiper dengan refleks cepat, kemampuan penuh sebagai kiper andal dan tak memedulikan dribble yang mustahil baginya. Memiliki prinsip yang berbeda dari dua kiper sebelumnya.
Arya Putra, bek tengah ramping dengan kecepatan dan kecerdikan dalam membaca permainan. Visi permainannya cukup baik, tetapi sayangnya tubuhnya terlalu mudah terhempas bila beradu badan.
Rama, full back kanan cepat dalam bertahan dan mendukung serangan. Kekurangan yang dikemukakan kepada Pelatih Nein adalah dirinya yang kurang pengendalian stamina.
Gilang Sendani, bek tengah bertubuh besar, kuat dalam duel udara dan adu badan. Menurut penilaian pribadinya, Gilang mampu menekel lawan dengan bersih.
Mahesa Pahlevi, full back yang ahli dalam bertahan dan memberikan umpan silang akurat, kecepatannya tak bisa dianggap remeh. Mampu bekerja di sisi kanan maupun kiri.
Eka Guswana, bek kanan tangguh dalam bertahan dan overlapping runs, mampu bertukar posisi sebagai full back yang condong maju ke depan.
Fajar Jo, bek kiri dengan stamina tinggi, mampu melakukan kombinasi terhadap gelandang dan mampu berakselerasi menghadapi serangan lawan.
Guntur Bumi, bek tengah kuat dalam duel fisik dan memimpin lini pertahanan, memiliki kemampuan yang cukup familier dengan Gilang Sendani. Tak ada yang istimewa.
Pandu Dewanata, gelandang bertahan stabil dan bisa memotong serangan lawan, cenderung sebagai gelandang box-to-box jikalau mengalami keadaan buntu. Penilaian pribadi kepada Pelatih Nein.
Hadi Rudyatmo, gelandang bertahan cerdas dalam membaca permainan, cenderung mengambil posisi libero yang dalam sepakbola modern semakin ditinggalkan karena peran yang cukup beresiko.
Indra Lesmana, gelandang tengah yang menguasai bola dan distribusi miliknya memiliki klaim mampu membawa serangan cepat.
Jaya Fukron, gelandang serang dengan kemampuan menciptakan peluang gol, kemampuan dribble yang cukup mumpuni.
Henry William, gelandang serang dengan visi permainan yang bagus dan umpan-umpan memanjakan para penyerang, kreatif dalam penanganan penyerangan dan pertahanan.
Oscar Lawalata, gelandang serang dengan visi permainan yang bagus dan tendangan jarak jauh yang mematikan. Menurut penilaian pribadinya kepada Pelatih Nein.
Krisna Purna, penyerang tengah dengan finishing yang baik, sebagai pivot atau tumpuan dalam menghasilkan skor pertandingan. Tendangannya cukup akurat dan kuat.
Leo, penyerang sayap kanan lincah dan cepat, memiliki penetrasi yang tajam dan menukik, mampu menciptakan jenis tendangan melengkung di posisi terbaiknya.
Miko Ardiyanto, penyerang sayap kiri yang biasa saja. Atas dasar klaim dirinya kepada Pelatih Nein, sungguh pesimis.
Niko Ardiyanto, penyerang tengah dengan kemampuan heading yang baik, kembaran dari Miko yang pesimis, tetapi Niko berbeda.
Bimo Setiawan, penyerang sayap kanan yang cepat dan ahli dalam dribbling. Penetrasinya memiliki ketajaman penuh hingga benar-benar membahayakan gawang lawan.
Raka Yudha, penyerang sayap kiri lincah dan kreatif dalam serangan, kombinasi duet mematikan dari dua penyerang sayap ini benar-benar berbeda jika disatukan menurut Pelatih Nein saat melihat Analisis Data Grafik.
Dan … Kevin Pratama, penyerang serba bisa dengan insting mencetak gol yang tajam, dribble yang indah, penetrasi di sisi sayap begitu mumpuni dan kontrol bola yang di atas rata-rata.
"Hahaha! Kalian benar-benar beragam macam, baiklah, hari ini untuk pembuka, saya ingin kalian melakukan beberapa set latihan fisik terlebih dahulu dari pukul 07:30 hingga 09:30 kemudian setengah jam istirahat!" jelas Pelatih Nein. "Dilanjutkan latihan teknik dribbling, passing dan shooting, selama dua jam hingga tengah hari!"
'Semua akan dimulai,' batin Kevin sambil memandang langit cerah dengan penuh semangat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
alex sander
tor nanti kevin main di Club apa gak?
2024-06-27
5