Azura melangkah maju, dirinya tersenyum dengan bangga sambil bergumam, "Heh … Ini akan mudah! Tahun lalu aku juga menjadi tim Akademi Garuda di turnamen, sayangnya kalah di final!"
Seorang remaja seusianya menepuk pundaknya, berkata dengan arogannya, "Haha! Kau yakin, Azura? Dasar playmaker licik!"
Azura menoleh, dirinya pun membalasnya, "Sandi, ya! Apa calon rekrutan Persipal Palu telah gagal direkrut?"
"Cih, kalian berdua selalu saja berdebat!" Seorang remaja dengan rambut cepak, tubuh agak pendek.
"Eh, full back kita nih, Si Wagyu!" ejek Azura sambil merangkul remaja tersebut.
Remaja itu melepas rangkulan Azura dan berkata dengan ketus, "Wahyu, sialan!"
Melihat hal itu, para pelatih hanya menggeleng ringan. Memang teknik sosialisasi agar saling mengenal itu sudah mereka lakukan hingga mereka-mereka ini lah yang bisa bertahan sampai tahun kedua, meninggalkan 50 teman seperjuangan mereka di tahun pertama yang tersingkirkan.
"Yasudah, kita akan melakukan seleksi nya untuk mengetahui siapa-siapa saja yang berhak mengikuti tim inti!" seru Pelatih Bima sambil mengarahkan setiap pemain untuk menuju posisi masing-masing.
Kali ini, dua tim saling berhadapan, tim yang kaptennya Azura Adhitama yang berposisi sebagai gelandang serang atau biasa dikenal sebagai playmaker dan tim yang kaptennya Sandi Wijayanto yang berposisi sebagai penyerang sayap kiri, left-wing forward, telah bersiap di Lapangan Timur Akademi.
Mereka akan menunjukkan kelas mereka untuk bisa masuk ke tim inti demi turnamen yang cukup bergengsi tersebut. Turnamen ini juga tempat para pencari bakat setiap negara, bahkan negara-negara Eropa berada untuk memata-matai masing-masing prospek klub mereka.
Bagaimana pun ini adalah turnamen yang dicetus Reza Kusuma, maka relasi tim para pencari bakat tentu ada. Semuanya atas bantuan Reza Kusuma saat itu.
"Sandi, apakah kau bisa menghadapiku!" seru Azura mencoba memprovokasi.
Cahaya dari lampu lapangan menyorot mereka. Wajah-wajah yang dipenuhi oleh ketegangan, juga rivalitas antar sesama rekan. Bagaimana pun, sebelumnya mereka adalah rekan, sekarang mereka untuk sesaat telah menjadi rival lapangan.
Prit~!
Wasit yang dipimpin oleh Asisten Pelatih Rocky pun meniup peluitnya tanda pertandingan seleksi tim inti dimulai.
***
Tim Azura VS Tim Sandi.
Menit ke-25 pertandingan.
Ritme pertandingan tak begitu intens. Mereka hanya saling menyelidiki, tak ada serangan dari kedua kubu yang begitu istimewa.
Bola saat ini mengalir di sisi kanan lini tengah tim Azura, Iqbal yang memegang bola, mencoba mencari celah untuk setidaknya memberikan umpan lambung. Namun, semua posisi dikawal ketat oleh pemain dari Tim Sandi.
"Iqbal, sini!" seru Azura mengulurkan kedua tangannya ke arah bawah, tepat di tengah condong ke arah serangan.
Umpan mendatar melewati dua pemain dari Tim Sandi. Umpan itu begitu memanjakan Azura yang langsung melakukan teknik trap, menghentikan bola menggunakan kaki tergantung posisinya.
Setelahnya, Azura mengedarkan pandangan, hingga sebuah seluncuran tekel dari arah samping terjadi. Namun, beruntungnya visi Azura begitu luas hingga dia mengangkat bola sambil melompat, dan langsung melesat lari.
"Maaf, Luthfi, kulewati dulu, ya!" seru Azura meninggalkan Luthfi yang beranjak dan mencoba mengejarnya.
Posisi pemain lain melebar, Azura lantas melakukan umpan lambung setelah mendapati posisi Erwin, penyerang sayap kanannya yang lepas dari jebakan off-side. Azura lantas mengangkat bola, umpan parabola itu benar-benar mengejutkan tim Sandi.
"Nice pass!" seru Erwin yang langsung melakukan penetrasi menusuk ke kotak penalti, melewati Prasetyo dan Vito yang keduanya bek kiri tim Sandi menggunakan keahlian feint dan step-overnya.
"Heh! Kalian belum bisa menahanku!" ejek Erwin ketika dirinya melewati celah di antara kedua pemain tersebut.
Erwin saat ini melihat posisi kiper Andika yang condong maju dari tempatnya. Erwin mencoba menendang, tetapi teriakan dari tengah kotak penalti lantas membuatnya langsung memberi umpan cut back begitu indah.
"Erwin!" Itu adalah Azura yang menusuk ke kotak penalti lepas dari kawalan. "Terima kasih, Dimas, sudah jadi pemantulku!"
"Awas Azura! Hantu kotak penalti!" seru Andika memberi arahan.
Namun, apa daya, para pemain tim Sandi telah kehilangan visi atas Azura yang tiba-tiba saja muncul tanpa suara atau apapun itu dan menerima bola.
Bola hasil cut back, lantas diselesaikan secara first time oleh Azura menggunakan kaki kanan bagian dalam. Tendangan plesing, membuat bola berputar begitu indah melengkung menghunjam jala gawang Andika.
"Yeah!"
Gol itu dirayakan dengan sederhana oleh Azura dan rekan-rekannya. Sementara, Sandi yang ketinggalan posisi hanya bisa berdecak kesal atas keputusan pengambilan posisinya yang salah.
Para pemain kembali ke posisi masing-masing, saat Azura melewati Sandi, keduanya begitu intens hingga sebuah kalimat provokatif dari Azura menambah konflik di antara mereka.
"Sandi, mana kemampuanmu itu … Dasar calon rekrutan gagal! Kau tidak akan bisa masuk di Persipal Palu, klub milik legenda itu!"
"BRENGSEK KAU!" Sandi menyergah Azura, keduanya jatuh ke tanah.
PRIIIT~!
"Sandi, jangan!" Galih, tim dari Sandi mencoba menarik Sandi untuk tak melakukan tindakan ceroboh.
Sementara Azura ditarik oleh Erwin agar perkelahian itu setidaknya tak terjadi. Beberapa pemain lainnya juga nampak menghadang di antaranya.
"Awas kau, Azura!" teriak Sandi penuh kemarahan.
Asisten Pelatih Rocky yang bertugas sebagai wasit lantas langsung memberi perintah untuk Sandi dan Azura keluar lapangan.
"Keluar, Sandi dan Azura!" Jelas tanpa ampun, bagaimana pun keduanya terlibat perkelahian sia-sia.
"Haa … Sandi, anak itu tempramental dan kalah mental, tapi … Sebenarnya saya suka keahliannya," ucap Pelatih Bima menggelengkan kepalanya dengan berat.
Pelatih Nein menanggapi, "Azura, dia potensial. Saya akan memasukkannya ke tim inti. Untuk Sandi … Saya harap dia introspeksi diri, provokasi lemah seperti itu benar-benar mudah sekali merusak mental Sandi!"
"Itu keputusanmu, Pelatih Nein, saya di sini bertugas sebagai Asisten Pelatih untuk tim inti ini."
Pertandingan pun dilanjutkkan kembali, tak ada yang istimewa setelah satu pemain penting dari masing-masing tim dikeluarkan. Hingga pada menit berakhir, gol yang tercipta hanya satu-satunya dari gol milik Azura.
Sebenarnya yang dinilai bukan dari segi gol, ini adalah pemahaman taktik dan juga bagaimana mereka menghadapi musuh di dalam lapangan. Sudah kurang lebih setahun mereka menjadi murid akademi, maka jelas seharusnya sikap mereka bisa lebih dewasa.
"Baiklah, saya hanya akan mengambil empat orang saja dari hasil seleksi ini." Pelatih Nein melihat data pemain di papan kecil miliknya.
"Azura Adhitama!"
"Erwin Kurniawan yang adalah penyerang murni!"
"Wahyu Firmansyah yang berposisi sebagai full back!"
"Dan … Luthfi Hakim, gelandang bertahan!"
Sungguh sesuatu yang aneh, murid tahun kedua begitu sedikit diambil oleh Pelatih Nein. Namun, ini adalah keputusannya yang dibicarakan bersama Pelatih Bima, tentu tak bisa diganggu gugat.
"Kalian heran?" tanya Pelatih Nein sambil menyeringai.
Tak ada jawaban, rasa lelah di malam hari itu hanya membuat mereka tak ingin menginterupsi, lagipula ini keputusan seorang pelatih yang tentunya paling tahu akan hal tersebut.
"Ya, saya ingin mencoba peruntungan dengan posisi tahun pertama yang baru masuk," jelas Pelatih Nein. "Kalian lihat pertandingan kemarin sore kan, bagaimana pendapat kalian?" lanjutnya diakhiri pertanyaan.
Azura mengangkat tangan, wajahnya dipenuhi oleh rasa bangga. "Ya! Saya melihatnya, bagaimana Kevin dan rekan-rekan satu harinya menggila! Sa–Saya ingin memberi umpan pada Kevin!"
Sandi yang gagal masuk tim inti pun menyahutinya, "Saya netral, memang kemampuan tahun pertama ini sedikit di atas kami sebelumnya. Saya mengakui itu!"
"Benar apa Sandi katakan, mereka terlihat luar biasa walau baru setidaknya satu dua hari berkenalan!" sahut Wahyu sambil mengelap keringat di dahinya.
"Nah, itu kalian tau! Kalian itu saat ini sedang dipecundangi oleh tahun pertama!" ejek Pelatih Nein dengan wajah tengilnya.
"Ingat usia, Nein, usiamu genap 45 tahun ini!" bisik Pelatih Bima yang mendekati Pelatih Nein. "Kau adalah pelatih muda yang terbilang senior di sini, melatih di Akademi Garuda sejak 10 tahun setelah gantung sepatu!"
"Yaa … Anda sendiri berapa?" balas Pelatih Nein mencoba menggoda Pelatih Bima. "Usia 44 jangan sombong, gantung sepatu di usia 34 tahun, ckckck!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
alex sander
status nya mentok di angka berapa tor?
2024-07-02
3