"Benar apa Sandi katakan, mereka terlihat luar biasa walau baru setidaknya satu dua hari berkenalan!" sahut Wahyu sambil mengelap keringat di dahinya.
"Nah, itu kalian tau! Kalian itu saat ini sedang dipecundangi oleh tahun pertama!" ejek Pelatih Nein dengan wajah tengilnya.
"Ingat usia, Nein, usiamu genap 45 tahun ini!" bisik Pelatih Bima yang mendekati Pelatih Nein. "Kau adalah pelatih muda yang terbilang senior di sini, melatih di Akademi Garuda sejak 10 tahun lalu setelah gantung sepatu!"
"Yaa … Anda sendiri berapa?" balas Pelatih Nein mencoba menggoda Pelatih Bima. "Usia 44 jangan sombong, gantung sepatu di usia 34 tahun, ckckck, dasar lemah!"
Para murid melihat bagaimana tingkah dari dua pelatih tersebut. Bagaimana pun, keduanya adalah yang paling senior di sini, tetapi tak begitu karena usia mereka sendiri masih cukup muda untuk sekelas pelatih di akademi.
"Ya … Semuanya balik istirahat, persiapan lainnya masih lama, kita akan secara efektif untuk mempersiapkan semuanya awal Februari!" seru Pelatih Bima tak ingin memperdebatkan hal-hal aneh bersama Pelatih Nein.
Semua murid pun balik kanan bubar, menyisakan Pelatih Nein dan Pelatih Bima yang saling berbincang di bawah rembulan malam. Asisten Pelatih Rocky sendiri sudah pergi bersamaan dengan para murid.
"Nein, saya sedikit bingung denganmu, kenapa hanya mengambil empat murid tahun kedua?" Pelatih Bima menoleh pada Pelatih Nein.
Pelatih Nein mendongakkan kepalanya, menatap cahaya bulan yang begitu terang tepat bulan purnama. "Begini, saya ingin mencoba membuat prospek besar untuk tahun pertama, mereka kan masih berusia 15 tahun, itu bagus untuk para pencari bakat luar!"
"Begitu, ya? Namun, saya merasa kamu masih mencari sosok pengganti legenda itu yang menghilang sejak enam tahun lalu, kan?"
"Saya jujur, Bima, benar apa adanya. Legenda itu merubah hidupku, dia menghancurkan harga diriku saat Jerman menghadapi Indonesia 15 tahun lalu di laga Persahabatan Internasional itu!" jelas Pelatih Nein mengingat laga gila tahun 2031 tersebut, di mana Jerman terbantai 5-0 melawan Indonesia.
"Haha! Kemudian kau berkhianat dan memilih untuk membesarkan generasi muda Indonesia mulai sepuluh tahun lalu?" celetuk Pelatih Bima mencoba menahan tawanya.
"Cih, sialan!" Pelatih Nein hanya bisa mengumpat tipis. "Ya, tapi saya heran, legenda itu kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja enam tahun lalu? Dia … Seperti ditelan bumi!"
"Hei, rumornya legenda itu mengalami penyakit langka dan menyembunyikan diri!" balas Pelatih Bima sambil menenggak sebotol air mineral.
"Sayang sekali jika rumor itu fakta, tapi … Takdir tentu terus berjalan sesuai rencana, mungkin kelak legenda itu bisa kembali menunjukkan aksinya, siapa yang tau!" timpal Pelatih Nein sambil berbalik dan pergi langsung meninggalkan Pelatih Bima.
"Kebiasaan, lagi berbincang, langsung meninggalkanku!"
***
Kamar Asrama 58.
Kevin saat ini sedang berbincang pelan dengan R. Sementara Mahesa sendiri telah tertidur dengan nyamannya, mendengkur begitu keras membuat R yang melihatnya hanya menggeleng pasrah.
"Teman sekamarmu seperti binatang itu deh!" celetuk R. "Oink! Oink! Hahaha!" R kemudian memperagakannya membuat Kevin tersedak saat sedang meminum segelas air hangat.
"Ugh! Candaanmu gila! Jika Mahes dengar, pasti kesal dia!" timpal Kevin sambil melirik ke kanan, di mana layar hologram sedang ditampilkan.
[INVENTARIS SISTEM]
[- Kartu Keterampilan "T. Kroos - Passing" Legenda Masa Lalu]
[Mampu meningkatkan poin stat berikut:
- Umpan Jauh
- Umpan Pendek
Penambahan Poin Stat berjumlah masing-masing 50]
"Hmm … Kenapa waktu kartu milik Mbappe itu cuma 30 nambahnya, ya?" gumam Kevin yang tanpa sadar diperhatikan oleh R.
R pun melipat kedua tangannya di depan dada, berkata dengan suara dibuat-buat, "Ya~ Waktu itu supaya larimu tidak makin kencang! Ya~ Walaupun tetap kencang juga!" R kemudian terlihat duduk bersila sambil menutup matanya.
Kevin yang memerhatikannya mencoba menunggu kalimat selanjutnya dari R. Bagaimana pun terkadang R selalu menggantung kalimatnya dan membuat Kevin menunggu.
"Dan … Kenapa kau belum pakai dari saat didapatkan itu?! Hal itu membuat umpanmu berantakan di latihan tadi, kan?!" seru R sambil menunjuk dengan arogannya pada Kevin. "Aku menebaknya dari kau datang-datang ke kamar dengan wajah murung!"
Kevin menggaruk kepalanya meski tidak gatal, kemudian berkata dengan kikuknya, "Ya, aku lupa, hehe~!"
"Yasudah, pakai itu!"
"Baik~!"
[Apakah anda ingin memakai Kartu Keterampilan "T. Kroos - Passing" Legenda Masa Lalu? (Y)/(N)]
"Tentu saja YA!"
Aura keemasan lantas sekali lagi menyelimuti tubuh Kevin. Sebuah Kartu emas terbang dengan gambar T. Kroos sedang dalam posisi memberi umpan mulai berubah menjadi debu emas dan memasuki tubuh Kevin dengan lancarnya.
[Poin {Umpan Jauh} dan {Umpan Pendek} masing-masing meningkat sebanyak 50 poin!]
[Umpan Jauh: 10 >> 60]
[Umpan Pendek: 20 >> 70]
"Nah, itu kan, makanya jangan lupa!" celetuk R sambil memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
Kevin yang telah menyadari bahwa kakinya seperti terasa kesemutan ringan pun hanya tertawa kecil. Sekarang Kevin mencoba memiliki satu tujuan kecil ke depannya, yaitu masuk dalam skuad inti Akademi Garuda dalam gelaran Tournament ASEAN Football Academy.
"Turnamen itu … Aku ingin masuk skuad inti, empat gol kemarin sore harusnya jadi kesempatan besar, kan? Terus kemampuanku juga lumayan," gumam Kevin sambil kepalanya tertunduk dalam, wajahnya tersembunyi di antara kedua tangannya tersebut.
R yang melihat itu pun lantas berseru, "Hei, ayolah, waktumu masih sangaaat~ Lama di sini, jadi … Semangat lah!"
"Iya … Hari-hariku akan berat di sini, tapi tentu ada bantuanmu dan juga sistem, kan?" bisik Kevin ketika suara dengkuran Mahesa berhenti dan saat ini dalam posisi duduk.
"Hoaaam~! Jam berapa nih, Vin? Belum tidur kau?" tanya Mahesa sambil mengusap-usap matanya, cahaya temaram dari lampu meja belajar Kevin menyoroti wajahnya.
"Baru pukul 22:00 … Mau tidur sih, tadi masih terasa lelah jadi susah tidur!" jelas Kevin sambil tersenyum tipis.
Mahesa pun berdiri, menuju dispenser air minum yang memang telah tersedia di setiap kamar asrama. Mahesa meminum segelas penuh air.
"Wah! Segar … Mulutku kering, jadi … Haus deh!" celetuk Mahesa yang menjelaskan sendiri keadaannya saat ini.
"Vin, minggu depan katanya kita akan ditentukan langsung siapa yang berhak masuk tim inti Akademi Garuda untuk ke turnamen!" Mahesa duduk di kasurnya, mencoba berbasa-basi sedikit kepada Kevin.
Kevin menanggapinya dengan anggukan kemudian berkata, "Iya, karena kita sudah latih tanding, untuk kelompok yang belum katanya minggu besok ini. Terus Seninnya, kita ditentukan deh apakah masuk skuad inti atau tidak!"
Mahesa kemudian berpamitan pada Kevin untuk segera mengarungi dunia mimpi. Tak lama setelah meletakkan kepala di bantal, suara dengkuran pun terdengar hingga Kevin dan R serentak menghela napas panjang, walaupun R dalam wujud hologram saat ini, dirinya sendiri masih bisa melakukan aktivitas layaknya manusia.
"Hmm … Tidur lah, Kevin, kau harus mengistirahatkan tubuhmu!" Setelah R berbicara demikian, wujud hologram R pun langsung menghilang.
"Kuharap aku bisa menjalani hari-hari di sini," gumam Kevin sambil merebahkan tubuhnya di atas kasurnya. "Aku tiba-tiba teringat Fery."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments
dennisad
Lanjutty
2024-07-03
2
Protocetus
Der Stegen mana min 😂
2024-07-03
2
alex sander
kapan dapet kartu soot tor?
2024-07-03
3