Mata Selina kini terbuka dan sepenuhnya dia telah sadar kembali.
"Terimakasih Putriku, kini ayah dan Bunda sudah bisa kembali ke Alam kami, suatu saat ayah dan bunda akan kembali dan menjengukmu.
"Terimakasih juga Ayah, Terimakasih juga bunda, ucap Selina sambil berlutut.
Nama kami adalah Ajidarma Sadewa dan Wulansari Husada, dan mulai saat ini kamu adalah Putri kami.
Harta yang ada dalam Cincin Dimensi itu, lebih besar dari dunia ini, dan bukan hanya itu saja, di dalam Goa ini juga tersimpan Harta Kekaisaran ayah dan bunda saat menjadi Kaisar, ambilah setelah itu kembali lah ke gubukmu, karena setelah semua harta itu di ambil, maka kami juga akan pergi, karena warisan kami sudah berada pada Pewaris kami.
Segera ambil karena 2 jam lagi akan ada orang yang akan datang ketempat mu, ucap Sang Kaisar.
Selina segera mengenaskan tangannya dan mengambil seluruh harta Kaisar dan Permaisuri dalam satu tarikan napas.
"Nak, dalam Cincin Dimensi ada 3 Kolam, Kolam surgawi, Kolam Kehidupan dan Kolam suci, nanti kamu akan setelah selesai mempelajari yang sudah kami berikan.
Batu Mustika Phoenix simpanlah dengan baik, karena itulah nyawamu, pergilah dan buatlah segel kembali Goa ini, karena suatu saat ayah dan Bunda akan kesini lagi.
"Baik Ayah dan baik Bunda, berhati-hatilah disana, saat kalian sudah kuat kembali, mohon datang menjengukku, ucap Selina.
"Pasti Putriku, kamu juga berhati-hati, belajarlah dengan giat, gunakan Cincin Dimensi saat kamu belajar, jutaan Pill sudah tersimpan di sana, kamu juga membuatnya sendiri, ucap permaisuri.
"Sudah waktunya bagi kami untuk pergi, disamping kanan pintu keluar ada kotak milik kami berdua, simpanlah, itu adalah pedang matahari dan bulan, suatu saat kami akan datang mengambilnya, ucap sang Kaisar dan perlahan mereka berdua berubah menjadi butiran beraneka warna lalu melesat ke satu titik.
Selina segera memperbaiki perasaan nya dan terbang ke arah pinggir air dan meneruskan pekerjaannya.
Awalnya dia kaget karena waktu seolah tak berubah, masih pagi saja, selesai dengan pekerjaannya, dia membawa ikan dan udang untuk dia konsumsi.
Dia mandi sekali lagi dan kembali ke gubuknya dan berganti pakaian, kemudian dia memasak udang dan ikan menu goreng sambal dan kangkung cah.
Baru saja dia mau makan, terlihat banyak orang yang datang menuju ke tempatnya.
Selina kaget, karena yang datang adalah Paman dan bibinya, beserta keluarga besarnya, dengan raut wajah yang tidak enak di pandang, seperti sedang menahan amarah.
"Ada apa bibi dan Paman serta kalian semua datang ke sini? tanya Selina berpura-pura polos.
"Hey Selina, tanah ini, sudah ada yang mau beli, jadi bibi pikir mendingan kamu jual saja, dan pindah ke kampung, dan hasil penjualan tanah ini, kamu bisa simpan sama bibi, dan tiap kamu butuh bisa kamu ambil, ucap Bibi Selina.
"Maaf bibi, sampai kapanpun, tanah ini tidak akan Selina jual, dan kalaupun Selina menjualnya, uangnya Selina yang pegang sendiri, aku bukan anak kecil yang bibi bisa bodohi, biarpun saya SD tidak tamat, bukan berarti saya bisa di percaya bibi lagi, jawab Selina tegas.
"Aku ini bibimu, pengganti orangtuamu, jadi selama kamu belum berumur 17 tahun atau belum menikah, bibilah yang mengatur hidupmu, sengit sang bibi.
"Kalau bibi memang mau mengurus ku, kenapa saya diusir dari rumah warisan nenek untuk ibuku, beberapa tanah yang milik ibu juga bibi ambil, dan akhirnya aku tinggal di hutan sendirian, dan apakah bibi pernah datang menjengukku.
Hari ini kalian datang karena ada keuntungan biaya kalian, tanah ini bukan warisan dari keluarga ayah maupun ibu, tanah hasil keringat kedua orang tuaku, jawab Selina.
"Selina, kami juga adalah saudara ayahmu, kamu juga akan mengurus mu, ucap kakak ayahnya.
"Saya sudah nyaman hidup sendiri, paman juga sudah kenyang menggunakan warisan kakek untuk ayah, paman jual 1 miliar, aku datang meminta sedikit buat beli obat ibuku, paman hanya membentakku dan menamparku, jadi jangan bicara sok kalian adalah keluargaku", jawab Selina
"Jadi apa maumu? Apa kamu selamanya akan tinggal di sini? Tanya bibi dari sebelah ayahnya.
"Terus saya mau kemana, ke rumahmu dan pasti bayarannya aku harus jual tanah ini begitu ! ketus Selina.
"Sudahlah bang, cari saja sertifikatnya dan biarkan dia disini, ucap bibinya sebelah ibu.
"Carilah, ucap Selina
Ke-dua keluarga besar itu mengobrak abrik gubuk Selina, beruntung ayah angkatnya sudah memberitahukan nya, jadi saat dia sampai dari kolam ikan dus berganti pakaian dan menyimpan dokumen tak seberapa miliknya dan foto keluarga nya ke dalam Cincin Dimensi.
Cincin Dimensi juga sudah di kendalikan Selina agar tidak terlihat.
Mereka membuang baju Selina dan tapi mereka tidak menemukan apa-apa, selain uang sisa penjualan ikan dan udang serta sayuran.
"Kamu simpan dimana sertifikat tanah ini, bentak pamannya dari sebelah ayahnya.
"Aku keluar dari rumah membawa apapun selain perkakas buat masak dan berkebun, kilah Selina.
"Kalau kamu tidak berikan, kami akan bakar gubuk mu ini, ancam pamannya.
"Bakarlah, dasar manusia serakah, Warga kampung sudah cerita, kalau kalian akan merebut tanah saya ini, jadi saya paham kenapa kalian semua datang kesini, jadi silahkan bakar, tantang Selina.
"Kesabaran kami ada batasnya Selina, mau serahkan baik-baik atau kami akan memaksamu, ancam mereka dengan penuh nafsu.
"Silahkan, matipun tak akan kuberikan, ucap Selina
"Bondan, tangkap dan siksa dia, perintah bibinya dari sebelah ayahnya.
Selina langsung lari keatas perbukitan, dia bukan takut tapi malas berhadapan dengan mereka.
Sudahlah, bakar saja tempat tinggalnya ini juga baju-bajunya, lumayan uangnya ada 3 juta, cukup lah 300 ribu perorang.
Atau uang ini kita gunakan untuk bayar orang memperkosanya, ucap bibinya dari sebelah Ibunya.Mereka tidak sadar, kalau Selina mendengarnya.
"Untung ayah dan Bunda sudah memberikan aku kekuatan, batin Selina.
Terlihat asap membumbung, membakar Gubuk gadis Yatim Piatu itu yang ada keponakan mereka.
Mereka juga merusak tanaman milik Selina, padahal sayuran sudah siap panen, untung saja beberapa pakaian yang agak bagus sudah di masukkan bersama koper dan sertifikat tanah milik ayahnya.
Setelah mengacak-acak tanaman milik Selina, mereka pergi meninggalkan Gubuk yang sudah mereka bakar.
Selina tersenyum dan menarik napasnya, dia berjalan kearah Hutan yang belum tersentuh dan terbang menuju Goa Kaisar dan Permaisuri.
Dia ke kolam dan menangkap beberapa ekor ikan dan udang, ternyata ayah dan bundanya memelihara kelinci.
Dengan cepat dia membersihkan semuanya dan mengambil bumbu dalam Cincin Dimensi, Selina memang memasukkan beberapa bumbu dapur walau tidak banyak, cukup sekali atau 2 kali pakai.
Dia berencana, akan ke kampung dan dan menjual beberapa ekor ayam, ikan dan udang, untuk ongkos ke Ke kota.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Choi Jaeyi
sudah mampir thor🙏🏻
2024-08-31
1