"Minum dulu sit.."
Setelah kejadian tadi, jujur saja aku merasa kasian melihat Sita. Ah, entahlah, kalau saja aku di posisi Sita, mungkin aku akan lebih mengamuk dari hanya sekedar kejadian tadi.
Aku tahu, sita ingin menyudahi hubungannya dengan Arno, tapi setelah apa yang sudah Arno perbuat kepadanya, semuanya jadi tidak mudah untuk sita.
"Makasih ya ka..." ucap sita sembari meneguk minuman dingin yang tadi kuberikan. "Aku gak tau kalau gak ada kamu, pasti sampai sekarang aku masih di bohongi sama kedua iblis itu."
Aku tersenyum sembari mengusap punggung sita.
Amaya, sahabatku yang sedari tadi hanya diam melongo tidak percaya dengan apa yang terjadi, selalu menatap ku dengan tatapan heran. Mungkin ia ingin bertanya kenapa aku bisa tahu semua itu dan sejak kapan, tapi belum ada pertanyaan apapun yang keluar dari mulutnya selain hanya diam dan melongo.
"Trus, rencana kamu kedepannya gimana sit?" tanya ku lagi pelan.
Sita menarik nafas pelan sembari menengadahkan kepalanya ke langit yang mulai gelap, senja sebentar lagi berubah jadi malam. Angin yang berhembus di sekitaran taman yang sedang kami singgahi pun sudah semakin dingin.
"Aku gak tau ka, aku pengen banget pukulin mereka berdua. Jijik banget aku liat Arno dan Devina." jawab sita pelan. "aku juga gak mau ngeliat muka mereka lagi."
Amaya menatap wajah Sita yang sebelumnya terlihat menyebalkan, tapi kali ini, ia menatap sita dengan tatapan iba. "maaf ya sit, kami jadi tahu semua masalah ini. Tapi, kalo boleh aku kasih saran, kalau aku jadi kamu, mendingan kamu move on, dan tunjukkin ke mereka kalo kamu kuat." Amaya tersenyum.
Sita membalas senyum Amaya sembari memegangi tangan Amaya. "makasih ya may, Riska... Aku gak pernah nyangka kalau akhirnya aku bisa Deket sama kalian, sampai kalian tahu semua rahasia aku." ucap sita pelan. "Aku, akan berusaha supaya move on dan tetep kuat."
Amaya tersenyum, mengangguk sembari membalas menggenggam tangan sita. "Mulai besok, kita bertiga tunjukkin ke Arno dan Devina kalo kamu sama sekali gak terpengaruh dengan apa yang sudah terjadi. tunjukkin kalo kamu yang pegang kendali."
Sita mengangguk.
Aku setuju dengan saran Amaya. Ya walau bagaimanapun, sita akan tetap bertemu Arno dan Devina di sekolah, tapi satu-satunya hal yang harus dilakukan sita adalah menunjukkan pada mereka kalau dia tetap menjadi sita yang kuat, setidaknya di depan mereka berdua.
"besok, kamu boleh tukeran tempat duduk sama aku kalo kamu mau." Ucap Amaya sembari tersenyum.
Aku mengangguk setuju.
Kami bertiga menghabiskan waktu cukup lama di taman ini, sampai langit yang tadinya senja, berubah semakin gelap.
Sita pulang lebih dulu dengan motornya, sementara Amaya ikut kembali ke rumahku dibonceng oleh motorku.
Sesampainya di kamar, semua pertanyaan yang sedari tadi menumpuk di kepala Amaya, langsung di lontarkan ke wajahku.
"Gila! dari mana kamu bisa kayak gitu? Aku gak nyangka ka. kamu jadi se mengerikan ini." Tanya Amaya sembari menjatuhkan badannya di kasurku.
"kartu ini aku temukan di kamar nenek." jawabku sambil duduk di kursi meja belajar. "Aku mulai bisa melihat sesuatu yang aneh ini, sejak kasus meninggalnya ayah."
Amaya bangun dari rebahnya. Ia mendengarkan ceritaku dengan serius. "trus, kasus ayah kamu juga, di kasih liat dari kartu-kartu itu?" tanyanya
Aku mengangguk, tanganku sembari memasukan buku-buku pelajaran yang akan kubawa besok ke sekolah. "tapi, semuanya kayak puzzle, penglihatan itu muncul satu persatu, gak langsung seperti tadi." jawabku.
"jadi, kamu bisa kembali ke masa lalu juga buat liat kejadian itu? Atau apa ya bahasanya. Aku pernah liat di YouTube gitu soal penglihatan, perjalanan ke dimensi lain."
"Astral Projection." Jawabku pelan.
"nah iya, itu astral Projection dengan bantuan kartu Tarot ini." Amaya terlihat antusias dengan pembahasan ini. "keren sih ka.. " gumam Amaya lagi sambil tersenyum.
Aku cuma sesekali tersenyum. Karena aku fikir, tidak keren sama sekali.
"berarti tadi juga kamu pas baca kartu itu, lagi astral Projection ke kamarnya Arno.?" tanya Amaya lagi.
Aku mengangguk.
"ih .. Berarti kamu lihat dong mereka lagi gituan ." ucapnya sembari menekuk wajahnya.
Aku melirik sinis ke wajah Amaya. "Tolong ya .. jangan yang aneh-aneh pertanyaannya "
Amaya nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Heh! Udah malem, kamu mau nginep disini?" ucap ku sembari menggeser Amaya yang sedang duduk di diatas kasur.
"Males banget pulang... Aku masih banyak pertanyaan" jawabnya sembari menjatuhkan kepalanya lagi ke atas bantal di sebelahku.
"Telepon dulu mama kamu, nanti nyariin. Aku Yang disalahin ." gumam ku sambil mencoba memejamkan mata.
"Ah, lagian ini baru jam delapan, masa kamu udah mau tidur." Amaya menggerutu di sampingku.
"Gak tau, kayak capek aja badan aku." jawabku
"Apa jangan-jangan itu efeknya? efek kalau kamu astral Projection." Amaya kembali bangun dari rebahnya.
aku membuka mataku lagi. jujur saja, aku tidak pernah terpikir kalau semua ini akan ada efeknya, tapi ada benarnya juga omongan Amaya.
Setelah ku ingat lagi, setelah aku menggunakan kartu-kartu ini, dan tubuhku seperti astral Projection, pasti aku merasa lelah capek dan seperti mengantuk. Bahkan pernah, saat aku menginap di rumah om Baskara, aku sampai merasakan emosi yang dirasakan oleh Tante sari. Dan setelahnya, tubuhku sangat merasa kelelahan seperti habis berlari jauh. Entahlah aku belum memikirkan hal itu sama sekali.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Ray
Keren ini bisa berpindah tempat ke masa lalu atau sekarang👍😍
Semangat buat Outhor💪🙏😍
2024-12-18
0