Ini adalah pertama kalinya penglihatanku pergi ke tempat yang jauh. Aku bingung harus menyebut nya apa, penglihatan kah atau apa?
Tubuhku seperti berada disana, mataku melihat semuanya, telinga ku bahkan bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh om Baskara bersama istrinya malam itu.
Aku melihat om Baskara dan istrinya sedang memperdebatkan masalah warisan nenek.
"Mas Raka itu memang dari dulu sangat rakus!" Suara om Baskara jelas sekali terdengar.
"Sudah lah pah. Toh warisan keluarga ku juga lebih banyak dari itu. Sudah biarkan saja mas Raka ambil semuanya." Tante sari, istri dari om Baskara terlihat sedikit cuek dan tidak begitu menanggapi keluhan suami nya itu. Matanya terfokus pada gadget di tangannya.
"Gak bisa gitu mah! Warisan itu amanah, ada hukum dalam agama yang menjelaskan pembagian warisan itu." Om Baskara terlihat sangat bersikukuh. "Aku gak bisa tinggal diam, Mas Raka ini harus di beri pelajaran sesekali."
Sedetik kemudian, aku seperti tersedot kembali ke dalam tubuhku. Kepalaku sedikit berputar saat aku tersadar kali ini. Tubuhku sudah tergeletak di lantai, kartu THE DEVIL yang tadi ada di tanganku, sudah raib.
Aku mengusap wajahku dan mencoba duduk. Untungnya ibu masih tertidur di atas ranjang kasur nenek.
Aku buka lagi buku Tarot yang tergeletak di lantai, tapi anehnya, aku tidak menemukan kartu THE DEVIL yang tadi kupegang sebelum kemudian aku seperti dibawa ke rumah om Baskara.
Sudah kucari ke setiap sudut kamar nenek, sampai kolong ranjang, tapi kartu itu tidak kutemukan. Entahlah hilang atau raib secara ajaib. Yang jelas, setelah kucari keseluruh kamar, dan aku periksa satu persatu tumpukan kartu di dalam buku, aku tidak menemukan kartu yang bergambar iblis dengan tajuk THE DEVIL itu.
Klek ...
Hampir saja aku melompat kaget saat ayahku membuka pintu kamar.
"Kamu belum tidur ka?" Tanya ayah, wajahnya terlihat kusut.
Aku menggeleng sembari pelan pelan menutup buku Tarot di tanganku dan ku sembunyikan di belakang badanku agar ayah tidak melihatnya.
"Ayah belum tidur?" Tanya ku balik.
Ayah memaksakan senyum nya ke wajahku. "Ayah belum ngantuk." Jawabnya.
Aku kembali menggeser buku Tarot ke bawah ranjang, pokoknya sebisa mungkin supaya ayah tidak melihat buku itu, kemudian aku berdiri, memutuskan untuk menemani ayah yang sepertinya memang butuh teman untuk mengobrol.
"Aku bikinin kopi ya yah." Kataku sembari memaksa ayah agar keluar kamar dan menutup pintu nya lagi. Setidaknya untuk sementara, buku Tarot itu aman. Ayah tidak melihat, walaupun terlihat dari wajah ayahku, yang memicing aneh ke muka ku yang gelagapan.
"Tumben banget..." Gumam ayah.
Aku menjawab dengan senyuman yang dibuat buat. "Uh, ayah nih, anaknya lagi baik mau bikinin kopi malah dibilang tumben." Aku berpura pura menggerutu kesal.
Aktingku berhasil, ayah memutuskan untuk kembali ke teras depan dan menunggu ku membuatkan kopi untuknya.
Tidak lama, aku keluar dengan membawa dua gelas kopi di atas nampan plastik.
"Nih, aku temenin ayah juga ngobrol sambil ngopi." Ucapku sembari memberikan segelas kopi yang masih berasap.
"Ada mau nya ini, anda sopan ayah curiga." Guraunya sembari terkekeh pelan.
Aku bisa melihat dari raut wajah ayah ku sekarang, tawanya seperti tertahan, tidak seperti biasanya.
Aku mengerti kalau ayah sebenarnya merasa kehilangan setelah nenek meninggal, ditambah lagi, dirinya harus dihadapkan permasalahan warisan yang membuat hubungannya dengan adiknya renggang.
"Yah, apa bener, nenek kasih semua warisan buat ayah?" Tanyaku memulai obrolan.
Ayahku melirik sembari terkekeh. "Kamu ini, kecil kecil nanya warisan." Guraunya lagi.
"Ih, bukan gitu. Maksud aku, apa ayah bener bener mau ambil semua peninggalan nenek?."
Ayahku memalingkan muka nya dari wajahku, ia lebih memilih menatap kebun pisang kosong yang ada di seberang rumah nenek. "Ya gak mungkin ayah ambil semua ka." Ucapnya sembari menarik nafas pelan. "Ayah juga ngerti, warisan itu bukan sepenuhnya Han ayah. Cuma saja, ayah tadi kebawa emosi sama om Baskara."
Aku menatap wajah ayahku, aku baru sadar kalau ayah sudah tidak semuda dulu. Ada Kerut yang mulai jelas di pinggiran mata dan di sekitarnya dahi nya. Tapi, bekas ketampanannya masih tergurat di garis wajah dan rahang tegas nya.
"Aku kok takut ya, kalo om Baskara bakal jahatin ayah dan keluarga kita." Ucapku reflek.
Ayah melirik lagi sembari melotot kali ini.
"Hush... Gak boleh suudzon gitu." Ucapnya. "Biar gimanapun dia kan adik ayah. Gak mungkin lah om kamu itu sampe tega macem-macem." Ayah mengacak acak rambutku sembari terkekeh. "Besok atau lusa sekalian kita pulang, nanti kita mampir dulu ke rumah om Baskara ya."
"Loh mau apa yah?" Tanyaku.
"Ayah mau minta maaf dan meluruskan semuanya, biar tidak ada lagi masalah."
Aku tersenyum sembari mengangguk.
Ah... Ayah, Begitulah, ayahku. Pingin rasanya aku meluk ayah lagi seperti waktu aku kecil. Tapi, gak tau kenapa rasa gengsi dan malu ini selalu menjadi penghalang diriku. Entahlah.
Padahal seharusnya om Baskara yang datang ke rumah kami untuk meminta maaf, tapi, ketulusan hati ayah ku ini memang tidak ada tandingannya. Yah semoga saja, apa yang tadi kulihat di penglihatanku itu tidak benar.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Ray
Akankah terjadinya pembunuhan atau hal yg bersifat ghoib akan terjadi?🤔🙏
2024-12-14
0
SATURNUS MV
seru 👏
2025-01-11
0
anggita
👏semoga lancar novelnya banyak pembacanya.
2024-06-19
1