Mataku melotot kaget, tanganku mencoba mengambil kartu yang menempel di bingkai foto itu sembari melirik sekitar, semoga saja tidak ada yang melihat.
Benar, ini adalah kartu yang hilang, kartu yang kemarin ada di tanganku.
Cepat cepat aku masukkan kartu itu ke dalam saku jaket ku, lalu kembali duduk ke sofa ruang keluarga rumah om Baskara saat Tante Sari datang kembali dengan membawa nampan berisi dua gelas teh hangat dan secangkir kopi hitam yang masih panas.
Dua gelas teh di taruh di meja kami, sementara se cangkir kopi, dibawakan ke depan untuk ayah maksudnya.
Aku mendelik ke wajah Tante Sari yang sangat ramah, hanya saja aneh, kenapa Tante sari yang menyuguhkan? Bukankah, mereka punya ART?
"Tante sari kan punya ART ya Bu? Kenapa repot repot Tante sari yang bawa minuman buat kita?" Bisikku pada ibu.
Ibu melotot sembari menyuruhku diam. "Hush, gak boleh ngomong gitu, nanti kedengeran Tante sari, Tidak sopan" katanya.
Dari tempat kami duduk di ruang keluarga rumah keluarga baskara, kami bisa mendengar obrolan ayah dan om Baskara. Tapi, suara om baskara yang lebih terdengar nyaring. Berkali kali, om Baskara seperti membentak, sampai aku berkali kali meminta ibu, untuk menemani ayah di ruang tamu. Tapi lagi lagi ibu melarangku.
"Maaf mbak, aku lama. Sebentar aku cuci tangan dulu." Ucap Tante Sari sembari membawa nampan kosong ke belakang, ke arah dapur.
Kami hanya tersenyum dan mengangguk.
"Maaf, aku sebenarnya udah bilang ke mas baskara, untuk tidak terlalu meributkan masalah itu mbak." Tante sari kembali masuk keruang keluarga dan segera mengambil tempat duduk di hadapan kami. Tangannya terlihat basah, dan berkali kali menggaruk telapak tangannya.
"Aku juga sudah bicara sama mas Raka, sar. Mas Raka juga gak mau sepenuhnya menerima semua warisan itu, makanya dia kekeuh untuk mampir kesini supaya bisa ngobrol sama baskara." Ibu menjawab dengan nada tenang sekali sembari terus tersenyum.
Aku seperti mendengarkan obrolan dua orang dewasa yang entahlah, seperti mereka berdua tidak jujur dalam ucapannya.
"Di minum dulu mbak, Riska ayo teh nya mumpung masih hangat." Tante sari melirik dan tersenyum ke wajahku.
Aku membalas senyumnya sembari mengambil gelas teh itu, lalu menyeruput sedikit teh manis yang masih hangat itu.
"Anak-anak kemana sar?" Tanya ibu ku sembari menaruh kembali gelas teh ke atas meja.
"Oh, itu anak anak lagi main ke rumah temannya mbak." Jawab Tante Sari sembari terus terusan menggaruk jari jari tangannya.
Singkatnya, kami menghabiskan waktu sekitar kurang lebih satu jam, dirumah om baskara. Lalu, ayah dan om baskara datang menghampiri kami, aku sepertinya melihat mereka sudah lebih akrab. Berkali kali aku melihat om baskara merangkul pundak ayah.
"Hayuk, pulang sekarang supaya gak kemalaman." Kata ayah sembari tersenyum.
Hati ku sedikit lega melihat apa yang saat ini kulihat. Aku fikir mereka berdua sudah sedikit berbaikan.
Kami berdua berdiri dan pamit sekali lagi pada om baskara dan Tante sari. Berkali kali Tante sari memeluk ibu.
Yang aneh, saat aku ingin bersalaman dengannya, Tante sari malah langsung memelukku, dan tidak menerima jabatan tanganku.
Singkat cerita, kami pamit dan diantar sampai ke pelataran rumah om Baskara. Mereka sempat melambaikan tangan saat mobil kami keluar dari rumahnya. Hangat sekali penyambutan mereka.
"Ayah lapar, kita makan dulu ya nanti dijalan." Ucap ayah yang sudah lebih ceria sekarang.
Ibu tersenyum.
"Aku mau makan di restauran cepat saji saja yah. Aku mau burger nya aja. Gak mau makan nasi." Ucapku.
Ayah tersenyum sembari mengacungkan jempolnya ke arah kaca spion.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Ray
Apakah Tante Sari menaruh sesuatu di minuman teh atau kopi? Dan apa yg terjadi selanjutnya?🤔
2024-12-16
0
gedang Sewu
me curigakan
2024-11-25
0
Azumi Rahmat
Seperti nya minumannya fi ksh sesuatu deh. berharap kecelakaan & mati llu warisan dikuasai om Baskoro... ntar yg hidup cuma Riska
2024-09-20
1