Dunia terasa lambat, seakan semua yang kulihat berjalan seperti slowmotion.
Dari sudut mataku, aku melihat ibu yang tidak berhentinya menangis, sementara yang lain, hilir mudik lewat di depan ku seperti tidak terjadi apa-apa.
Aku dibuat hanya mematung oleh kejadian ini, sudah hampir satu jam, ayah di bawa masuk ke dalam ruang IGD. Polisi sudah beberapa kali bertanya kronologis nya. Aku seperti di tampar kenyataan saat salah satu polisi dan dokter yang menangani ayahku, sempat keluar dari ruang tindakan IGD dan bilang kalau ayah di racun. Ada indikasi racun, dari ciri ciri jasad ayahku. Ya, benar, kalian tidak salah dengar, 'jasad'. Ayahku sudah menjadi jasad. Beberapa saat setelah ayah dibawa ke RS, dokter mengatakan kalau ayah sudah meninggal, polisi yang datang bersama kami, memberi saran untuk cepat dilakukan autopsi, katanya jelas ini adalah kasus pembunuhan. Tapi siapa? Masa iya salah satu dari karyawan di restoran cepat saji yang secara random kami pilih, dengan sengaja memasukan racun ke makanan ayah? Apa motif nya?
Entahlah. Kepalaku benar benar dibuat bingung sekaligus tidak percaya dengan semuanya.
"Dek, tadi siapa namanya?" Seorang polisi memecah lamunanku. Pak Handika namanya, terlihat dari nametag di seragam coklatnya.
"Riska pak, nama saya Riska Radiva." Jawabku sedikit menahan sesak.
"Nanti setelah ini, dik Riska dan ibu bisa ikut ke kantor dulu untuk kita buatkan BAP?" Tanya pak Handika lagi dengan nada yang lembut.
Aku mengangguk pelan, mataku melirik ibu yang masih menangis di depan pintu ruangan tindakan.
Setelah pak Handika tadi pergi, aku mencoba mendekat ke arah ibuku lalu dengan hati yang sama lemas dan sedihnya, aku memeluk tubuh ibuku erat.
Kamu berdua menangis sejadinya, sembari aku ajak ibu ku duduk.
"Bu, sudah ya, ibu tenang." Ucap ku sembari mengelus punggung ibuku.
"Kenapa begini ka, ayah kenapa, Ayah salah apa?" Ibuku berkali kali terisak.
"Aku juga gak tau, tapi pak polisi janji, akan segera mengungkapkan penyebab kematian ayah. Sementara itu kita tenang Bu." Ucap ku pelan.
Ibu mengangguk sembari menyeka mata nya.
Aku kembali mengosongkan kepala, mengingat segala kejadian, kenapa ayah bisa sampai seperti ini. Sampai kemudian, tiba tiba aku merasakan panas dari dalam kantong jaket ku.
Kartu THE DEVIL yang tadi aku temukan di bingkai foto keluarga om baskara, seperti memancarkan aura panas. Entahlah, aku segera merogoh kantong jaket, memastikan kalau hawa panas ini benar dari kartu yang ku kantongi di dalam jaket.
Dan setelah aku mengetahui benar kalau kartu itu yang kukantongi mengeluarkan hawa panas, aku segera berpamitan dan pergi ke kamar mandi.
Aku ingin memastikan, kenapa kartu ini mengeluarkan hawa panas seperti terbakar.
"Kenapa? Apa ini." Aku mengambil kartu itu dari kantong ku, panasnya seperti membakar tanganku, tapi aku coba tahan. Cepat cepat aku tutup pintu kamar mandi yang kebetulan sepi saat itu. Aku duduk di atas closet lalu memegang kartu THE DEVIL. Tidak ada reaksi awalnya. Entahlah, padahal aku punya firasat semua ini berhubungan. Aku tidak ingin percaya awalnya, tapi, setelah semua yang terjadi, hanya ini yang bisa kulakukan saat ini.
"Tolong, bantu aku. Nek." Bisikku dalam batin sembari menggenggam kartu itu di tanganku.
Sedetik kemudian, kepalaku seperti ditarik ke suatu tempat. Kembali ke rumah om Baskara lagi-lagi.
Aku seperti berada di ruang tamu rumah om Baskara saat ini.
"Ayah..." Mulutku berucap tapi tidak mengeluarkan suara, aku melihat ayah yang sedang duduk berhadapan dengan om baskara. Aku mengira, ini adalah kejadian saat kami berkunjung ke rumah om Baskara tadi.
Ayah dan om Baskara berbincang dengan tenang saat itu. Sampai akhirnya aku tahu, kalau om baskara dan ayah sudah berdamai, tidak lagi meributkan masalah yang sebelumnya di ributkan saat di rumah nenek.
Lalu, sedetik kemudian, Tante Sari datang dengan membawa secangkir gelas kopi, lalu menaruhnya di meja dihadapan ayah. Tante sari menjabat tangan ayah lalu memeluknya sebagai ucapan selamat datang mungkin, entahlah. Yang jelas, aku tidak mengerti kenapa aku dibawa kesini oleh penglihatanku.
Knock knock knock.
Aku kembali ke tubuhku, karena pintu kamar mandi mandi yang tiba-tiba diketok seseorang dari luar. Aku menghela nafas pelan, lalu segera keluar dari kamar mandi, dengan berbagai macam pertanyaan di kepala. Kenapa aku dibawa kembali ke rumah om Baskara? Apa semua ini ada hubungannya dengan om Baskara, apakah kematian ayahku ada hubungan dengannya om Baskara?
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Ray
Yang dilihat Riska waktu itu Tante Sari menggaruk tangannya, apa karena terkena racun saat memasukan ke dalam kopi atau waktu salaman tangan?🤔
2024-12-16
0