"Restauran kami itu selalu mengikuti selalu mengikuti prosedur pak, jadi saya rasa, sangat kecil kemungkinan kami melakukan kesalahan seperti ini, apalagi, kami tidak pernah menggunakan kalium sianida untuk keperluan apapun di restauran kami." Ucap seorang lelaki paruh baya yang tidak lain adalah Humas dari restauran cepat saji tempat ayahku meninggal dua hari lalu.
Saat ini, aku, ibu di dampingi oleh mas Kharis, sedang berada di kantor polisi tempat kemarin kami di mintai keterangan.
Di hadapanku, ada empat orang yang dua diantara nya adalah pegawai yang melayani kami saat kejadian itu, lalu dua orang lainnya adalah Humas atau pembicara dari manajemen restauran tersebut yang didampingi pengacara dari restauran itu.
Aku tidak begitu banyak bicara saat ini. Kebetulan, mas Kharis yang juga lulusan Sarjana Hukum, walaupun dia bukan sebagai pengacara yang sah keluarga ku, tapi setidaknya mas Kharis bisa membantu kami soal proses hukum yang sedang kami hadapi ini.
Mataku tidak bisa mengabaikan dua karyawan restauran itu yang ternyata sudah di tahan selama dua hari ini di kantor polisi ini.
Jujur saja, aku sangat kasian melihatnya, tidak ada kecurigaan sama sekali. Tapi, proses hukum harus tetap berjalan sampai kami menemukan pelaku yang sebenarnya.
"Baik pak, kami mengerti, tapi untuk membebaskan dua orang karyawan ini, kami dari pihak kepolisian perlu meminta persetujuan dari keluarga korban, yah setidaknya sampai kasus ini benar-benar terang benderang, kami tidak bisa bertindak hanya dengan persetujuan satu pihak." Ucap pak Hendrawan, polisi yang memeriksa dan menulis BAP kemarin.
"Saya kira, karena tidak ada bukti yang menunjukan kedua orang itu melakukan pembunuhan ini, kami dari pihak keluarga, tidak terlalu mempermasalahkan kalau kedua orang ini di bebas bersyaratkan selama penyidikan berjalan." Tegas mas Kharis.
Aku dan ibu mengangguk setuju, toh kami sudah merundingkan sebelumnya bernama mas mas Kharis.
"Baik kalau begitu, keluarga korban dan pengacara pihak restauran silahkan menandatangani surat pernyataan ini." Pak Hendrawan memberikan kami selembar surat.
Ibu yang menandatangani.
Aku sesekali melirik ke wajah kedua orang karyawan itu. Seorang perempuan dan seorang lelaki yang aku ingat betul wajahnya. Mereka yang melayani kami saat memesan makanan di restauran cepat saji tersebut.
Setelah proses bebas bersyarat yang sudah kami semua tanda tangani, kedua orang itu sempat bersalaman denganku dan ibu. Wajahnya terlihat lega dan bersyukur sambil berkali-kali berterimakasih pada kami.
"Maaf kan kami ya kak, semoga kasus ini cepat menemukan jalan keluarnya." Ucap ku saat menjabat tangan pegawai perempuan yang bernama Intan itu.
Kami bahkan sempat bertukar nomor telepon, untuk tetap berkomunikasi. Usia intan masih sangat muda, katanya ia baru lulus SMA setahun yang lalu, usianya baru 19 tahun. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku yang ada di posisi intan.
"Saya pamit pulang ya kak. Terimakasih sekali lagi." Ucap intan sekali lagi berpamitan dengan kami sembari memelukku.
***
"Aku minta maaf sekali lagi om, Tante. Karena kemarin aku sudah berbicara kasar dan tidak sopan sama om dan Tante." Ucap ku mencoba bersikap baik di depan om baskara dan Tante sari yang saat ini sedang duduk di hadapan ku, ibu dan mas Kharis yang juga ikut menginap di rumah om Baskara.
Kami sudah kembali ke rumah om Baskara, seperti rencanaku kemarin, aku ingin memeriksa dan mencari bukti di rumah om Baskara. Padahal aku sendiri tidak tahu, bukti seperti apa yang harus aku temukan di sini, tapi setidaknya aku harus mencoba.
"Yah, sudahlah tidak perlu dibahas masalah itu, yang penting sekarang kalian beristirahatlah disini." Ucap om baskara.
Aku menundukkan wajahku.
"Mbak, tolong antarkan tamu-tamu kita ke kamarnya ya." Tante sari yang duduk di sebelah om baskara berdiri sembari memanggil ART dirumahnya.
Aku dan ibu di antar ke dalam kamar tamu yang ada di lantai satu rumah om Baskara. Sementara mas Kharis, di persilahkan untuk tidur di kamar anak pertama om baskara. Karena kamar tamu di rumah om Baskara ini hanya ada satu, dan kebetulan anak-anaknya om baskara sedang menginap di rumah Oma opa nya, orang tua dari Tante sari.
"Ka, ibu ke dapur ya, bantuin mbak masak, ibu gak enak kalau cuma diam saja di kamar." Ucap ibu sambil berpamitan keluar kamar.
Aku terdiam sebentar sambil memindai sekitar kamar, kepala ku berfikir, harus mulai dari mana untuk mendapatkan bukti yang sedang aku cari ini. Lalu, mataku melihat tas milik ku yang aku gunakan untuk menyimpan buku Tarot yang aku temukan di rumah nenek.
Aku segera mengeluarkan semua kartu tarot dari dalam buku itu. Aku fikir, tidak ada salahnya mencoba sekali lagi bertanya dengan kartu-kartu itu.
Sedetik kemudian, aku kembali duduk di atas kasur. Kartu tarot sudah di tanganku, lalu aku menyilangkan kedua kaki dan memejamkan mataku.
'nek, kalau memang kartu-kartu ini adalah milik nenek dan nenek benar-benar mewariskannya kepadaku, tolong bantu aku. Perlihatkan kebenaran dari kejadian yang menimpa ayah.' bisikku dalam batin.
Lalu, sedetik kemudian, tanganku seperti bergerak otomatis tanpa di perintah oleh otakku.
Tanganku mengacak kartu-kartu itu, lalu, aku seperti dituntun. Tanganku mengambil tiga buah kartu dari tumpukan kartu-kartu yang sudah ku taruh di atas kasur.
Ketiga kartu itu ku jejerkan dalam posisi tertutup, demi tuhan, aku merasa seperti ada yang menuntunku melakukan itu semua.
Aku terdiam sebentar sambil menatap tiga kartu yang sudah berjejer dengan posisi yang masih tertutup.
Aku membuka kartu yang berada di tengah terlebih dahulu, entahlah kenapa aku memilih yang tengah terlebih dahulu, yang jelas aku merasa seperti dituntun oleh sesuatu yang tidak terlihat oleh mataku.
THE DEATH
Kartu bergambar tengkorak memakai baju zirah besi dan seperti sedang Duduk di atas sebuah kuda perang dengan membawa bendera di tangannya itu, adalah kartu pertama yang ku buka, kartu yang berada di posisi tengah.
Aku mengerutkan kening sebentar, dengan sedikit ragu, jari jemariku menyentuh kartu itu lalu...
Wush....
Penglihatanku seperti dibawa kembali ke momen di saat ayah tiba-tiba meninggal dunia di restauran cepat saji itu.
Aku seperti berdiri di samping meja tempat diriku yang saat itu sedang makan bersama ayah di meja itu. Sementara aku tidak melihat ibu, karena ibu masih berada di wastafel untuk mencuci tangannya.
"Ayah..." Bisikku saat melihat kejadian itu.
Aku seperti di tunjukan setiap detail kejadian itu. Ayah yang makan tanpa mencuci tangan. Tangan kiri ayah memegang nasi yang masih terbungkus plastik pelindung. Aku ingat betul, ayah bilang, dia bisa memakan nasi yang dibentuk bulat seperti burger itu dengan cara yang sama seperti ia memakan burger, tanpa harus melepas plastiknya.
"Apa plastiknya yang beracun?" Pikirku lagi.
Tapi, entah kenapa, batinku seperti menolak dengan dugaanku barusan. Sampai kemudian, tangan kanan ayah mengambil ayam yang goreng yang ia pesan. Adegan itu seperti melambat di mataku. Entah kenapa, tiba-tiba, semuanya berjalan lebih lambat saat ayah memakan potongan ayam goreng dengan tangan kanannya.
Sampai satu kejadian yang akhirnya membuat mataku terbuka, ayah menjilati jari-jari tangan kanan dengan lidahnya saat ia memakan potongan ayam goreng tersebut. Lalu, ekspresi wajah ayah berubah setelah itu. Ya... Aku menemukan sebuah titik terang, bukan plastiknya yang beracun, bukan ayamnya, bukan nasi nya. Melainkan jari-jari ayah yang sudah tertempel racun tersebut. Aku yakin betul...
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Ray
Kan ayahnya Riska salaman dengan Istrinya Baskara. Dan waktu relatif ska mo salaman tantenya m nilai lalu memeluk Riska. Dan Riska juga lihat kalo tantenya garuk2x tangannya kan?🤔🙏
2024-12-18
0