Kembali ke Sekolah

Setelah beberapa hari aku tidak masuk sekolah. Pagi ini, akhirnya aku merasakan bagaimana antusiasnya aku kembali memakai seragam SMA kebanggan ini. Yah, walaupun cuma sekedar kemeja putih dan rok abu-abu biasa, tapi, rasanya aku sangat merindukan seragam ini. 

Seperti biasa, aku berangkat dengan motor matic kesayangan yang sudah menjadi sahabat ku setiap hari nya. Walaupun sedikit tidak tega meninggalkan ibu di rumah sendirian, tapi aku harus tetap berangkat pagi ini.

Setelah kematian ayah, banyak sekali yang berubah. Terutama, ibu. Biasanya setiap pagi selama sarapan, wajah ibu selalu tersenyum ceria. Tapi, sejak meninggalnya ayah. Ibu jadi lebih murung, banyak diam dan sering menghabiskan waktu di kamar. Bahkan tadi pagi, setelah ibu menyediakan sarapan untukku, ia langsung masuk kembali ke kamar.

Aku, memarkirkan motor di tempat parkiran motor sekolah yang pagi ini belum begitu ramai. Aku sengaja berangkat lebih pagi untuk menghindari macet, sekaligus menghindari dinginnya suasana di rumah sejak kepergian ayah.

"Riska......" 

Baru saja aku berjalan masuk ke koridor sekolah, dari arah belakangku, aku mendengar teriakan yang sudah tidak asing lagi di telinga.

Bruk... 

Amaya, sahabatku, yang kebetulan juga sekelas denganku sejak kelas sepuluh, memeluk ku dari belakang dengan teriakan dari suara cemprengnya.

"Maafin aku, gak bisa Dateng ke rumah nenek kamu. Aku turut berduka cita ya, buat nenek dan ayah kamu." Bisik Amaya, sembari memelukku dari belakang.

"Iya makasih may.." jawabku pelan.

"Kamu yang sabar ya... Aku yakin mereka pasti ketemu di syurga..." Lirih Amaya sambil melepas pelukannya.

Aku tersenyum ke wajahnya sambil memegangi tangannya.

"Kangen banget..." Bisik Amaya membalas senyum ku.

"Sama..." 

Amaya menggandeng tanganku selama perjalanan menuju kelas di koridor sekolah yang masih sepi.

"Banyak banget yang nanyain kamu ka... Pada kangen semua mereka." Ucap Amaya lagi.

"Yah, mau gimana lagi may, aku juga fikir cuma tiga hari doang untuk pemakaman nenek aja. Tapi ..." Ucapku pelan.

"Eh .. ayo buruan ke kelas, ada PR matematika lagi..." tukas Amaya mengalihkan pembicaraan.

"Mampus... " Gumamku sembari berlari kecil bersamaan dengan Amaya menuju kelasku yang ada di lantai dua sekolah ini.

***

"Aaaaaah.... Gak usah ngada-ngada kamu! Aku tau kamu cuma iri kan sama aku karena pacaran sama ketua tim basket!" Pekik salah seorang gadis teman sekelas ku yang sedang berbicara melalui handphonenya.

Aku dan Amaya yang duduk di meja sebelah nya, melirik ke arah gadis bernama Sita yang memilki wajah yang menurutku, sita adalah gadis yang paling cantik di kelas ini.

Devina, teman sebangku sita ikut memasang wajah panik saat teman sebangku nya ini tiba-tiba berteriak ketika menerima panggilan telepon. 

Aku juga melihat Wajah Sita yang berubah menjadi merah, matanya mulai ber-air. Sepetinya sita baru saja mendapat kabar yang kurang mengenakan dari orang di ujung telepon.

Sesaat kemudian, Sita terisak pelan, lalu menyimpan handphone nya ke saku kemeja seragamnya. panggilan teleponnya. Kepalanya di jatuhkan di atas meja.

"Kenapa sit?" Tanya ku yang tidak tega melihat sita yang terus terisak sembari membenamkan wajahnya di atas meja.

Devina yang tidak berhentinya mengusap punggung teman sebangkunya ini, melirik ke wajahku yang sudah berdiri di samping meja nya. Wajahnya ikut panik tapi, sepertinya Devina juga tidak tahu apa masalahnya sampai-sampai sita tiba-tiba menangis seperti ini.

Aku terdiam untuk beberapa saat di depan meja sita dan Devina. Amaya berkali-kali menarik tanganku untuk tidak ikut campur urusan sita ini. Yah, karena memang kami tidak begitu dekat, beberapa kali juga, sita ini sering merundungku dan Amaya. Tapi kami tidak pernah menanggapi nya.

Sita ini, walaupun wajahnya cantik, tapi memang kadang-kadang ucapannya suka menyakitkan hati teman-temannya. Jadi bukan cuma aku dan Amaya saja yang sering terkena omongan pedas dari sita. Kayaknya hampir seluruh teman sekelas pernah di caci dan di bully sita. Tapi, melihat sita seperti ini, rasanya tetap saja tidak tega.

"Ka, Ayuk ke kantin..." Bisik Amaya sembari menarik tanganku.

Aku bergeming sebentar. 

Lalu, aku berjalan meninggalkan meja sita menuju kantin bersama Amaya.

"Palingan juga drama lagi..." Celetuk Amaya saat kami berjalan menuju kantin.

Siang ini, Koridor sekolah lantai dua dan lantai satu, tidak se sepi pagi tadi. Ya jelas saja, semua siswa berlarian menuju kantin atau hanya sekedar main dan ngobrol di koridor ini. Ah  benar-benar suasana yang aku rindukan setelah seminggu lebih aku tidak masuk ke sekolah.

"Emang kenapa sih? Ada drama apalagi sita?" Tanya ku pelan.

Amaya selalu menggelantung kan tangannya di pundakku setiap kami jalan bersisian, entahlah kebiasaan selalu begitu. Katanya kurang afdol kalo jalan gak gandengan.

"Kemarin juga dia tiba-tiba berantem di depan kelas sama pacarnya." Jawab Amaya pelan.

"Si Arno? Anak basket itu kan pacarnya?" Tanyaku

Amaya mengangguk. "Gak ngerti apa masalahnya, tapi kayaknya mereka berdua lagi drama terus lah seminggu ini." Jelas Amaya lagi.

Aku mengangguk pelan sebelum akhirnya kami berdua sampai ke kantin sekolah yang sudah dipenuhi anak-anak dari hampir seluruh kelas.

***

Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa menit lalu. Sebagian murid dari kelas ku sudah pergi meninggalkan kelas. Aku memutuskan untuk duduk dulu sebentar di ruang kelas. Selain karena aku malas pulang cepat, aku juga harus meminjam beberapa catatan dari pelajaran yang ketinggalan beberapa hari kebelakang.

Amaya menemaniku sambil berkali-kali menjelaskan isi catatannya. Tulisannya ini sulit dimengerti. Kayak tulisan dari artefak kuno yang ditemukan oleh para arkeolog. 

"Ahhh kesel nanya mulu." Gumamnya sambil melihat-lihat halaman media sosialnya.

Aku terkekeh pelan. "Lagian tulisannya sulit dipahami. Aneh deh." Goda ku.

Tidak lama, kami berdua di kagetkan oleh suara teriakan seorang lelaki dari arah luar kelas, lalu di susul suara isakan tangis seorang perempuan yang seperti nya aku kenal suaranya.

"Kamu ini tolol nya kebangetan ya Sit!" Bentak Arno yang saat ini sedang melotot ke wajah sita yang tertunduk di hadapannya.

Aku dan Amaya mengintip dari balik pintu. Sampai saat Arno mengangkat tangannya dan ingin menampar sita, aku keluar dan membentak Arno karena tidak tahan melihatnya.

"Woy! Aku udah rekam ya! Berani tampar sita, aku sebarin videonya!" Bentak ku yang berpura-pura merekam dengan handphone. Padahal handphone ku saja mati kehabisan baterai. 

Arno melirik sinis ke wajah ku dan Amaya. Lalu dengan wajah yang kesal, ia pergi, meninggalkan sita yang tertunduk sembari terisak.

Aku dan Amaya memutuskan untuk mengajak sita masuk ke dalam kelas. Pelan-pelan aku meyakinkan sita, kalau aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Lalu, saat sita sudah sedikit tenang, dan sudah duduk di kursinya, barulah aku berani menanyakan kenapa Arno, pacarnya sampe se marah itu, dan sampai ingin memukul sita.

"Aku, yang salah... Aku gak percaya sama Arno, dan lebih dengerin omongan temen-temen dance aku." Isak sita sambil menyeka matanya berkali-kali.

Aku melirik ke wajah Amaya.

"Maaf ya sit, bukannya aku mau ikut campur, tapi, kalau cowok udah mau main tangan gitu, menurutku sih udah bukan cowok ya." Ucapku sembari menatap wajah sita nanar.

Sita menundukkan wajahnya. "Aku tau, makasih ya ka, udah bela in aku tadi."

Aku tidak menyangka, sita yang biasanya ketus dan kalau ngomong suka seenaknya, malah berterimakasih padaku. Tadinya aku fikir, sita bakal mencaci maki lagi.

"Arno baik banget, sebelumnya dia selalu lembut. Tapi, karena aku selalu curiga dan nanyain pertanyaan yang sama terus-terusan jadi, mungkin dia kesal." Jelas sita. Matanya terlihat sayu. "Aku kemakan omongan teman-teman yang bilang kalo Arno selingkuh." 

Aku melirik ke wajah Amaya lagi. Lalu kembali menatap sita yang terlihat sangat sedih. "Emangnya kamu udah pernah tahu sendiri kalau Arno selingkuh? Atau cuma tahu dari teman-teman kamu aja?" Tanyaku pelan.

Sita menggeleng. "Aku belum pernah liat sendiri. Tapi, perubahan sikap nya bikin aku tambah curiga." 

Aku terdiam.

"Kamu udah selidikin belum?" Celetuk Amaya yang sedari tadi melongo mendengarkan.

Sita melirik ke wajah Amaya. "Gimana aku mau nyelidikinnya?" Jawabnya lemas.

"Ya, gimana kek, lihat hape nya atau gimana gitu. Tanya kek ke peramal." Celetuk Amaya sembari melirik sinis. 

Aku tahu Amaya masih sedikit kesal dengan perlakuan sita kepadanya.

Sita menundukkan wajahnya. "Semenjak pacaran, kita berdua komitmen untuk gak cek handphone satu sama lain." Jawab sita pelan.

"Kerumahnya? Kamu udah pernah ke rumahnya?"  Tanyaku, dijawab anggukkan oleh sita. "Trus gimana?"

"Gak ada kecurigaan apa-apa. Orang tuanya bilang setiap hari, Arno selalu dirumah, katanya, Arno jarang kok keluar-keluar kalo bukan sama aku." Jawab sita.

Aku terdiam, mengingat lagi celetukan Amaya tadi, 'tukang ramal'. Aku ingat sesuatu, yah walaupun aku juga tidak yakin bagaimana cara kerja dari kartu tarot yang aku punya itu, tapi, rasa kasihanku pada sita saat ini, akhirnya membuat aku menawarkan bantuan yang sebenarnya aku sendiri tidak yakin.

"Kamu, mau ikut kerumah ku gak sit?" Tanyaku pelan. 

Amaya melotot kaget.

"Aku, barangkali bisa bantu lihat pake kartu tarot." Ucapku lagi. Sita menaikan wajahnya, menatapku penuh harap.

"Hah! Sejak kapan kamu bisa ngeramal." Protes Amaya sembari melotot.

Aku melirik memasang wajah yang sedikit mengintimidasi ke arah Amaya. 

"Aku, bisa bantu kamu lihatin Arno lewat kartu-kartu itu." Ucapku lagi.

Sita terdiam sebentar.

Amaya mencubit lenganku berkali-kali. Sampai aku menyuruhnya diam.

"Gimana? Kamu mau?" Tanya ku lagi.

Sita menatap wajahku yang tulus menawarinya bantuan. Lalu, sita mengangguk setuju. 

Amaya masih melotot tidak percaya, sampai akhirnya, kita bertiga, memutuskan untuk kerumahku, karena aku fikir, aku tidak membawa kartu-kartu tarot yang kutemukan di rumah nenekku itu.

***

Terpopuler

Comments

Ray

Ray

Khihihihi muantap ini Riska jadi peramal👍Semoga bisa menolong temennya Sita👍😍

2024-12-18

1

MasWan

MasWan

hahahaha tulisan zaman mesir kali ya Hahahaha

2024-08-18

0

lihat semua
Episodes
1 TAROT
2 Ten of Pentacles
3 The Tower
4 THE DEVIL
5 Bingkai Foto Keluarga Baskara
6 Tante Sari dan Om Baskara
7 Kematian Mendadak
8 Autopsi
9 Pemeriksaan Saksi
10 Kembali ke Rumah Nenek
11 Teman Kantor Ayah dan Dua Orang Polisi yang Datang.
12 Bantuan Mas Kharis
13 THE DEATH
14 FIVE OF A CUPS
15 THREE OF SWORDS
16 THE JUDGEMENT
17 Akhir Kasus.
18 Kembali ke Sekolah
19 Perselingkuhan
20 Efek Samping
21 RENCANA AMAYA
22 Panggilan dari Kepolisian
23 Kehebohan di Kelasku
24 TEN OF SWORDS
25 THE LOVERS
26 Investigasi Sekolah
27 Interogasi Kepolisian
28 Bukti Foto Devina
29 Surat Kaleng
30 DEATH
31 Penyelamatan Sita
32 TEROR KELUARGA AMAYA
33 X 2836 ABC
34 Ancaman Arno di Koridor Sekolah.
35 Aku yang saat ini sedang di pelukan seorang Mathew.
36 CERITA MATHEW
37 THE SUN
38 Turun Temurun.
39 BUKU CATATAN NENEK.
40 Serangan Om Baskara.
41 KETAKUTAN AMAYA DAN SITA
42 Dibalik Kematian Devina
43 Kaos Hitam Polos Mathew.
44 Kembali ke Kamar Hotel.
45 SIX OF WANDS
46 PENCULIKAN KEDUA
47 THE HERMIT
48 KAMBING HITAM
49 Rencana Brutal
50 Makan Malam yang Terganggu.
51 TIGA HARI
52 Di Balik Mata Bengep Kak Mathew
53 Kebohongan
54 ACE OF WANDS
55 LAGI-LAGI BANTUAN MAS KHARIS
56 BRIPTU TONI
57 SITA DI JAKARTA UTARA
58 NESSA JET
59 FAKTA YANG DISEMBUNYIKAN RAKA
60 SEMUANYA RUNTUH. HANCUR!
61 JUSTICE FOR MATHEW
62 Rumah Baru Ayah.
63 Aku Terbangun dari Kematian.
64 .. Yang Terjadi Seteah Aku Mati Suri
65 KASUS WANITA YANG MATI TENGGELAM
66 SOSOK HITAM YANG MASUK KE TUBUH NENEK
67 TIGA ANAK GADIS YANG TERJEBUR DI DANAU
68 THE STAR
69 MATHEW DAN AMAYA MELIHAT SOSOK ITU
70 TUMI, SUCI DAN NANI
71 THE MAGICIAN
72 PERJALAN MENCARI KEBENARAN
73 RATU TRIBUANA TUNGGADEWI
74 Nenek, Danau dan Pohon Beringin
75 Seorang Lelaki yang Membawa Arit Tajam
76 Beringin Tumi
77 Tumbal
78 Kembali Ke Kerajaan
79 Makhluk hitam dengan mata merah menyala
80 IBLIS
81 SEASON DUA
82 TRIO DETEKTIF PEMBASMI IBLIS
83 Makhluk Dengan Mata Seperti Seekor Kucing.
84 IBU
85 Mereka Membakar Hidup-hidup para Korbannya.
86 THE CHARIOT
87 SITA KEMBALI
88 BANYAK DAN BAHAYA
89 SOSOK YANG TERIKAT TIANG TINGGI YANG MENEMBUS LANGIT
90 ZHAMIRI
91 KILATAN MASA DEPAN KAK MATHEW
92 Waktu yang Berhenti
93 TERPISAH DI PINTU RUANG TAMU
94 THE WORLD
95 RUMAH SITA
96 LIMA ORANG DENGAN KEPALA TERTUTUP
97 BERPULUH KALI LIPAT LEBIH MENGERIKAN
98 GANINDRA DAN KELUARGA PAK SANTO
99 Amaya yang Tengah Kejang-kejang dengan kulit terbakar.
100 AKU MELIHAT KEPALA TANTE SARI TERLEPAS DARI BADANNYA
101 KERASUKAN
102 GUBUK KECIL, DI TENGAH HUTAN ANTAH BERANTAH DI KOTA BANYUWANGI.
103 GELANG NAGA YANG HILANG
104 PENTAGRAM
105 IBU DAN AMAYA TERTANGKAP
106 AKU TERGANTUNG, TERIKAT, TERBALIK.
107 INANG BARU IBLIS AZAZIL
108 RAMALAN JAYABAYA DAN RADEN PRAWIRA
109 GULUNGAN KERTAS DARI KULIT SAPI
110 RUANG MAKAN ISTANA RATU
111 AKU IKHLAS
112 SEPERTI MAYAT HIDUP DENGAN WUJUD YANG AKU KENAL.
113 DUNIA AMBANG BATAS ANTARA HIDUP DAN MATI
114 Aku sudah berada di dalam tanah, terkubur dengan kain kafan.
115 YUDHIS ANGGARA
116 SAMPAI TERIAKANKU KEHABISAN SUARA
117 MENJELANG AKHIR BAB NOVEL MATA BATIN SANG PERAMAL TAROT
118 "BAIK MAS, AKU SIAP MATI"
119 Rinduku akan menjadi rindu yang paling sakit, ibu.
120 RADEN PRAWIRA DAN JANJI SANG RATU
121 PERJALANAN RUH KETURUNAN SANG PERAMAL AGUNG
Episodes

Updated 121 Episodes

1
TAROT
2
Ten of Pentacles
3
The Tower
4
THE DEVIL
5
Bingkai Foto Keluarga Baskara
6
Tante Sari dan Om Baskara
7
Kematian Mendadak
8
Autopsi
9
Pemeriksaan Saksi
10
Kembali ke Rumah Nenek
11
Teman Kantor Ayah dan Dua Orang Polisi yang Datang.
12
Bantuan Mas Kharis
13
THE DEATH
14
FIVE OF A CUPS
15
THREE OF SWORDS
16
THE JUDGEMENT
17
Akhir Kasus.
18
Kembali ke Sekolah
19
Perselingkuhan
20
Efek Samping
21
RENCANA AMAYA
22
Panggilan dari Kepolisian
23
Kehebohan di Kelasku
24
TEN OF SWORDS
25
THE LOVERS
26
Investigasi Sekolah
27
Interogasi Kepolisian
28
Bukti Foto Devina
29
Surat Kaleng
30
DEATH
31
Penyelamatan Sita
32
TEROR KELUARGA AMAYA
33
X 2836 ABC
34
Ancaman Arno di Koridor Sekolah.
35
Aku yang saat ini sedang di pelukan seorang Mathew.
36
CERITA MATHEW
37
THE SUN
38
Turun Temurun.
39
BUKU CATATAN NENEK.
40
Serangan Om Baskara.
41
KETAKUTAN AMAYA DAN SITA
42
Dibalik Kematian Devina
43
Kaos Hitam Polos Mathew.
44
Kembali ke Kamar Hotel.
45
SIX OF WANDS
46
PENCULIKAN KEDUA
47
THE HERMIT
48
KAMBING HITAM
49
Rencana Brutal
50
Makan Malam yang Terganggu.
51
TIGA HARI
52
Di Balik Mata Bengep Kak Mathew
53
Kebohongan
54
ACE OF WANDS
55
LAGI-LAGI BANTUAN MAS KHARIS
56
BRIPTU TONI
57
SITA DI JAKARTA UTARA
58
NESSA JET
59
FAKTA YANG DISEMBUNYIKAN RAKA
60
SEMUANYA RUNTUH. HANCUR!
61
JUSTICE FOR MATHEW
62
Rumah Baru Ayah.
63
Aku Terbangun dari Kematian.
64
.. Yang Terjadi Seteah Aku Mati Suri
65
KASUS WANITA YANG MATI TENGGELAM
66
SOSOK HITAM YANG MASUK KE TUBUH NENEK
67
TIGA ANAK GADIS YANG TERJEBUR DI DANAU
68
THE STAR
69
MATHEW DAN AMAYA MELIHAT SOSOK ITU
70
TUMI, SUCI DAN NANI
71
THE MAGICIAN
72
PERJALAN MENCARI KEBENARAN
73
RATU TRIBUANA TUNGGADEWI
74
Nenek, Danau dan Pohon Beringin
75
Seorang Lelaki yang Membawa Arit Tajam
76
Beringin Tumi
77
Tumbal
78
Kembali Ke Kerajaan
79
Makhluk hitam dengan mata merah menyala
80
IBLIS
81
SEASON DUA
82
TRIO DETEKTIF PEMBASMI IBLIS
83
Makhluk Dengan Mata Seperti Seekor Kucing.
84
IBU
85
Mereka Membakar Hidup-hidup para Korbannya.
86
THE CHARIOT
87
SITA KEMBALI
88
BANYAK DAN BAHAYA
89
SOSOK YANG TERIKAT TIANG TINGGI YANG MENEMBUS LANGIT
90
ZHAMIRI
91
KILATAN MASA DEPAN KAK MATHEW
92
Waktu yang Berhenti
93
TERPISAH DI PINTU RUANG TAMU
94
THE WORLD
95
RUMAH SITA
96
LIMA ORANG DENGAN KEPALA TERTUTUP
97
BERPULUH KALI LIPAT LEBIH MENGERIKAN
98
GANINDRA DAN KELUARGA PAK SANTO
99
Amaya yang Tengah Kejang-kejang dengan kulit terbakar.
100
AKU MELIHAT KEPALA TANTE SARI TERLEPAS DARI BADANNYA
101
KERASUKAN
102
GUBUK KECIL, DI TENGAH HUTAN ANTAH BERANTAH DI KOTA BANYUWANGI.
103
GELANG NAGA YANG HILANG
104
PENTAGRAM
105
IBU DAN AMAYA TERTANGKAP
106
AKU TERGANTUNG, TERIKAT, TERBALIK.
107
INANG BARU IBLIS AZAZIL
108
RAMALAN JAYABAYA DAN RADEN PRAWIRA
109
GULUNGAN KERTAS DARI KULIT SAPI
110
RUANG MAKAN ISTANA RATU
111
AKU IKHLAS
112
SEPERTI MAYAT HIDUP DENGAN WUJUD YANG AKU KENAL.
113
DUNIA AMBANG BATAS ANTARA HIDUP DAN MATI
114
Aku sudah berada di dalam tanah, terkubur dengan kain kafan.
115
YUDHIS ANGGARA
116
SAMPAI TERIAKANKU KEHABISAN SUARA
117
MENJELANG AKHIR BAB NOVEL MATA BATIN SANG PERAMAL TAROT
118
"BAIK MAS, AKU SIAP MATI"
119
Rinduku akan menjadi rindu yang paling sakit, ibu.
120
RADEN PRAWIRA DAN JANJI SANG RATU
121
PERJALANAN RUH KETURUNAN SANG PERAMAL AGUNG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!