Singkat cerita, aku dan ibuku sudah kembali kerumah nenek bersama dengan mobil ambulance yang membawa jasad ayahku. Sementara paman bersama bibi, membawa mobil ayah yang tadi masih terparkir di restauran cepat saji, di tempat kejadian perkara yang mungkin sampai waktu yang lama membuat aku trauma dan akan menghindari tempat semacam itu.
Kami tiba di rumah nenek ketika hari sudah gelap, jadi, seperti rencana awal. Ayah akan di makamkan besok pagi.
Jasad ayah di baringkan bersama keranda di ruang tamu rumah nenek. Aku tidak sanggup melihat nya. Jangankan melihat, untuk keluar kamar saja aku tidak mau. Semuanya terlalu menyakitkan buatku dan ibu.
Sejak kami tiba di rumah nenek lagi, aku dan ibu, mengurung diri di dalam kamar. Sementara beberapa pelayat, bolak balik datang kerumah nenek.
Ibu juga sudah mengabarkan teman teman kantor ayah, katanya mereka akan datang besok pagi untuk mengantar ayah ke peristirahatan terakhirnya. Teman kantor ayah sama terkejutnya saat mendengar berita duka ini. Bahkan salah satu bawahan ayah, mas Kharis yang kebetulan aku kenal, karena beberapa kali pernah diajak ke rumah untuk sekedar mampir sampai pernah juga beberapa kali makan malam bersama itu, berkali kali mengirimi aku chat ucapan belasungkawa sampai sedikit wejangan untuk menguatkan aku sekeluarga.
'Mas Raka orang baik, InshaAllah syurga untuk mas raka.'
'Kamu yang ikhlas ya Ka, seluruh keluarga harus ikhlas, Mas Kharis pasti tetap akan sering main ke rumah kamu, karena mas Kharis sudah anggap kalian sebagai keluarga.'
Begitulah kira kira isi chat percakapan yang dikirim mas Kharis kepadaku.
Ya, aku tau dia orang baik, usianya baru sekitar 23 tahun, tapi karena selalu bergaul dan dekat dengan orang orang kantor yang usianya hampir seusia ayahku semua, Mas Kharis jadi lebih dewasa dari usianya.
Aku bahkan sudah menganggap mas Kharis sebagai kakakku. Kami tidak segan berkirim chat atau bahkan cerita tentang aktivitas keseharian ku di sekolah, curhat atau sekedar bercanda. Mas Kharis juga orang pertama yang aku kabari tadi siang sesaat setelah kejadian. Tadinya, beliau bilang ingin langsung menyusul ku ke lokasi, tapi karena urusan kantornya belum selesai, akhirnya mas Kharis akan datang besok pagi bersama teman teman kantor ayah lainnya.
Aku tidak bisa tidur malam ini, padahal sudah hampir jam 2 malam. Jasad ayah masih ada di ruang tamu, tetangga-tetangga yang tadi malam ramai di depan, sudah bubar. Sepi sekali malam ini. Ibu sudah tidur di sampingku, tapi mataku sulit sekali terpejam malam ini. Mungkin aku masih belum terima, ayah pergi secepat ini. Akhirnya malam itu aku memutuskan untuk keluar kamar, sekali lagi aku ingin melihat ayah. Ya walaupun aku sudah tidak bisa melihat wajahnya, setidaknya, aku ingin melihat jasadnya sekali lagi.
"Yah..." Bisikku sembari menjatuhkan badan di samping keranda tempat ayahku berbaring. Aku buka keranda ayah, aku melihat jasad ayah yang sudah terbalut kain putih, tertutup hingga ke wajahnya. Ingin rasanya aku buka ikatan pocong di kepalanya, tapi paman ku kemudian menghampiriku, keluar dari kamarnya.
"Riska... Kamu belum tidur" tanya pamanku.
"Oh, aku gak bisa tidur." Jawabku sembari melirik ke wajah pamanku yang sepertinya juga belum bisa tidur. Wajahnya masih segar.
Pamanku duduk di sampingku sembari melihat jasad ayahku juga. Kami terdiam untuk beberapa saat.
"Paman rasa ada yang gak beres dengan kematian ayah kamu." Ucapnya memecah keheningan.
Aku mendelik mendengar ucapan pamanku.
"Tapi, paman juga gak mau berburuk sangka, yang jelas, tadi waktu paman di interogasi sama polisi, katanya, dugaan paling memungkinkan itu meninggal karena di racun." Ucap paman lagi.
Aku mendengarkan semua ucapan pamanku dengan seksama, sebelum aku menjawab semuanya.
"Tapi apa mungkin pegawai restoran itu tiba tiba aja meracuni ayah kamu?." Ucapnya lagi. "Kebetulan tadi paman di kasih kesempatan juga untuk bertanya sama beberapa pegawai restaurant itu pas paman di interogasi."
Aku baru mendengar cerita ini.
"Tapi, dari cerita dan wajah wajahnya, mereka seperti nya jujur. Gak mungkin mereka yang melakukan." Cerita pamanku lagi.
"Paman, sudah tanya ke para pegawai itu?" Tanyaku pelan.
Pamanku mengangguk. "Mereka juga jadi harus di terlibat mau tidak mau kan?".
Aku mengangguk sembari memalingkan wajahku lagi, menatap jasad ayah lagi. "Sebenarnya, ada sesuatu yang mengganjal di hati aku. Paman tau kan, kalo sebelumnya kami mampir ke rumah om Baskara.?" Ucapku pelan.
Paman mengangguk, wajahnya serius memperhatikanku.
"Entah kenapa, aku menyimpan sedikit kecurigaan pada keluarganya. Terutama pada om baskara." Ucapku lagi.
Pamanku mengernyit sembari menepuk pundakku.
"Kalau alasannya karena keributan kemarin, yah paman juga sempat menaruh curiga, tapi, biar gimanapun, om baskara itu adiknya ayah kamu, mereka memang sering ribut, tapi kalau untuk melakukan hal seperti ini, paman agak menyangsikan." Jelas pamanku.
Aku mengangguk mengerti maksud ucapannya.
Memang ada benarnya ucapan pamanku, ayah dan om baskara memang beberapa kali sering ribut, berdebat lebih tepatnya, tapi, kalau untuk melakukan hal seperti ini, entahlah. Keyakinan ku sedikit goyah sekarang. Ucapan paman ada benar nya, lagian, kecurigaan ku ini sebenarnya tidak berdasar. Yah, hanya karena penglihatan kartu tarot yang tiba-tiba membawaku ke rumah om Baskara beberapa kali, bukan berarti faktanya adalah om baskara yang membunuh ayah kan? Entahlah.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Ray
Menurut AQ yg melakukan Tari?🤔
Teka Teki ini jadinya👍🙏
2024-12-16
0
gedang Sewu
si sari pelakunya ka
2024-11-25
0