Malam setelah keributan yang terjadi siang tadi, ayahku lebih banyak menyendiri di depan rumah, di pelataran rumah nenekku yang saat ini sudah mulai sepi tetangga yang datang.
Aku tidak berani mendekati ayah dalam keadaan seperti ini. Jangankan aku, ibuku saja lebih memilih untuk masuk ke dalam kamar nenek dan tidur lebih cepat.
Om Baskara sudah pulang sore tadi. Entahlah, seluruh keluarga nya akan menilai keluarga kami seperti apa setelah kejadian siang tadi.
Aku memutuskan untuk kembali kedalam kamar, sebenarnya suntuk juga. Selama di rumah nenek, area yang ku kuasai hanya kamar, dapur ruang tamu. Padahal, sekitar kurang lebih 100 meter dari sini, tepatnya di belakang rumah nenek ini, ada sebuah danau kecil yang airnya masih sangat bening. Biasanya waktu aku kecil, aku selalu dibawa ayah ke tempat itu setiap kali ayah merasa suntuk atau habis di marahi oleh nenek.
Aku hampir lupa, Kartu THE TOWER yang tadi kusimpan di kantong celana, belum kusimpan lagi ke dalam tumpukan kartu.
Cepat cepat aku mencari celana yang sudah kusimpan di sebuah tas berisi pakaian kotor ku. Ku rogoh kantong celanaku kanan dan kiri tapi, aku tidak menemukan kartu yang kucari. Jelas saja aku kebingungan.
Mata ku memindai sekitar kamar, batinku berbisik, 'masa iya Sudah masuk ke dalam buku itu lagi?'.
Dengan ragu, aku membuka kembali buku yang kusimpan di dalam tas, dan benar dugaanku. Kartu THE TOWER yang tadi kusimpan di kantong celanaku, sudah kembali ke tumpukan kartu lainnya.
Kartu itu berada di tumpukan paling atas.
Pelan sekali, aku mencoba mengeluarkan semua kartu dari dalam buku. Aku takut ibuku terbangun karena berisik. Kepalaku berfikir, kenapa tadi waktu kartu awal yang kupegang, TEN OF PENTACLES reaksi nya berbeda dengan THE TOWER.
Kartu kartu itu memiliki gambar yang berbeda, sedikit mengerikan menurutku, tapi untuk sebuah kartu yang lama, ini masih terlihat bagus dan terawat. Padahal, ini barang peninggalan nenek, tapi tidak ada kartu yang rusak atau sobek, semuanya masih terlihat seperti baru dan bagus.
Aku kembali berhenti di tumpukan paling atas, THE TOWER. Walaupun tidak ada reaksi dari kartu ini, tapi setelah kartu ini yang keluar, tiba tiba saja, keributan terjadi antara ayah dan om Baskara.
Aku mengembuskan nafasku lagi, lalu menaruh kembali kartu itu ke dalam tumpukan kartu lainnya.
Sekali lagi, keanehan lain terjadi. Saat aku menyimpan kartu THE TOWER , tiba tiba sebuah kartu lain seperti bersinar dari tumpukan kartu itu. Kartu yang tersimpan di tengah, diantara tumpukan kartu tadi. Entahlah, bulu kudukku meremang, mataku melirik ke arah ranjang tempat ibuku tidur, tanganku mengambil kartu kartu itu dan mencari kartu yang mengeluarkan sinar tadi.
THE DEVIL
Sebuah kartu yang memiliki gambar menyeramkan, seperti gambar iblis bertanduk, dengan taring yang mengerikan keluar dari celah mulutnya, itu adalah kartu The DEVIL. Secara terjemahan mungkin artinya iblis. Tapi, apa maksudnya? Aku memegang dua kartu di tangan kanan dan kiri. The Tower dan The Devil. Keduanya bersinar bersamaan, sementara kartu kartu lain tidak bereaksi. Demi apapun aku tidak mengerti apa maksudnya. Sampai tiba tiba, kepalaku kembali tertarik ke sebuah tempat lain. Aku sepertinya pernah ke tempat ini.
Sebuah rumah dengan gaya eropa, berada di sebuah perumahan elit, dan terlihat sangat mewah. Mataku memindai sekitar ruangan, dan aku melihat foto foto di bingkai yang tergantung di tembok tembok rumah itu. Aku jelas mengenali orang orang yang ada difoto itu, dan sekaligus aku bisa menyimpulkan kalau saat ini aku sedang berada di Rumah Om Baskara.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Ray
Masih belum paham jalan ceritanya, masih ngambang, cuma sepertinya perebutan harta warisan
Kelanjutan ceritanya dan apa yg terjadi selanjutnya?🤔🙏
2024-12-14
0