Rasanya, aku ingin sekali ikut ke dalam dan mendengar semua pembicaraan kedua polisi itu dengan ibu dan seluruh keluarga dari ayahku di dalam. Tapi, satu sisi, aku merasa kurang sopan kalau harus meninggalkan mas Kharis dan teman-teman kantor ayahku.
"Kenapa ada polisi ka?" Tanya mas Kharis pelan. Aku tau, mas Kharis pasti juga bertanya-tanya perihal kematian ayah yang mendadak.
Aku terdiam sebentar, lalu akhirnya aku putuskan untuk menceritakan semuanya.
"Mas, bisa gak kita ngobrol di belakang aja? Ada danau kecil di belakang rumah nenek. Aku ingin cerita sesuatu. Tapi, aku bingung kalau harus cerita disini." Ucapku.
Mas Kharis sedikit kaget dengan ajakanku, lalu setelah ia izin sebentar dengan teman-teman kantornya, akhirnya kami berdua pergi ke belakang rumah nenek.
Kami duduk di sebuah bangku kayu di pinggir danau kecil, tempat dulu aku dan ayahku sering kesini, kalau nenek habis memarahi ayah, atau kalau ayah sedang suntuk.
Awalnya aku sangat ragu harus mulai dari mana, tapi aku meyakinkan diriku, kalau mas Kharis pasti mendengar dan percaya semua ceritaku.
"Mas Kharis tahu kan kalau ayah meninggal karena di racun seseorang.?" Tanya ku memulai obrolan.
Mas Kharis melihat ku dengan tatapan iba sekaligus khawatir. "Iya, menurut cerita kamu kemarin, kalau pak Raka meninggal karena racun, tapi yang jadi pertanyaan mas sampai sekarang adalah, kenapa, dan siapa yang tega melakukan itu?"
Aku menarik nafas pelan. "Mas Kharis percaya dengan intuisi, firasat atau penglihatan?"
Mas Kharis mengerutkan keningnya menatapku aneh. "Hem, kalau intuisi dan firasat mungkin beberapa kali mas pernah mengalami, tapi kalau penglihatan yang kamu maksud itu seperti seorang cenayang yang bisa melihat masa depan atau hal hal klenik, mas sendiri belum pernah mengalami, jadi mas tidak begitu percaya, memangnya kenapa ka?
Aku menatap mata mas Kharis. Memberanikan diri agar mas Kharis bisa melihat balik kejujuran dari mataku. "Kalau aku bilang, aku mengalami sebuah penglihatan soal kasus kematian ayah, apa mas Kharis percaya?"
Mas Kharis semakin dalam menatap mataku. "Contohnya? Seperti apa?"
"Aku tahu siapa yang membunuh ayah."
Mas Kharis melotot kaget. "Kamu serius?"
"Sebutlah, aku mendapatkan sebuah firasat, sehari sebelum kematian ayah, aku melihat, om baskara dan istrinya tengah merencanakan sesuatu yang tidak baik, di tujukan kepada ayah." Ucap ku pelan, mataku memindai sekitar, takut kalau tiba-tiba orang yang sedang kuceritakan ini menghampiri kami.
"Om Baskara? Adiknya pak Raka?"
Aku mengangguk. "Lalu, setelah kejadian, aku kembali mendapatkan penglihatan yang menampilkan kejadian saat kami berkunjung ke rumah om Baskara. Tapi, aku belum menemukan bukti kuat yang memperlihatkan kalau ayah benar di racun oleh keluarga om baskara."
Mas Kharis menarik nafas panjang. "Kamu harus hati-hati ka, kesaksian kamu ini tanpa dasar, kalau kamu merasa yakin om baskara dan istrinya yang merencanakan pembunuhan ini, setidaknya kamu harus menemukan bukti kuat yang menunjukan kalau benar om baskara dan istrinya yang melakukannya."
Aku terdiam sejenak.
"Mas Kharis mau bantu aku?" Tanyaku.
"Apa yang bisa mas Kharis bantu?"
"Membantuku mencari bukti kuat kalau mereka yang melakukannya." Jawabku pelan.
Mas Kharis terdiam. Aku tahu ini mungkin tugas yang sulit bagi mas Kharis, tapi entah siapa lagi yang bisa kumintai tolong selain mas Kharis.
"Gimana caranya ka?"
Aku kembali terdiam. "Mas kharis masuk ke rumah om Baskara, kita buat seolah-olah mas Kharis harus ikut menginap disana, karena polisi meminta keterangan mas Kharis." Ucap ku pelan. Entahlah dari mana ide ini muncul, yang jelas, aku seperti di tuntun seseorang, bukan... Bukan seseorang, tapi sesuatu yang berbicara dalam kepalaku, untuk memberi tahukan cara menemukan bukti kuat di rumah om Baskara.
Aku tahu, ada keraguan di wajah Mas Kharis saat aku menceritakan semua rencanaku.
"Lalu, mas Kharis bisa cari bukti di sekitaran rumah om Baskara." Ucapku lagi. "Polisi bilang, kemungkinan ayah di racun dengan menggunakan sianida, aku cuma harus menemukan bukti apapun, pakaian yang digunakan oleh om baskara dan Tante sari di hari itu atau apapun itu." Ucapku lagi.
Mas Kharis terdiam sebentar, ia menatap mataku yang seperti nya sudah sangat putus asa di matanya. Entahlah.
Mas Kharis menepuk pundakku sambil tersenyum. "Kalau itu bisa membuat kamu lebih tenang, mas Kharis akan membantu." Jawabnya.
Aku benar-benar lega mendengar jawaban mas Kharis, aku sampai reflek memeluknya karena saking senangnya.
"Makasih mas..." Ucapku berkali-kali.
Lalu, tidak lama, ibu ku mencari ku. Ibu dan bibi ku menghampiriku ke tempat ku dan mas Kharis saat ini.
"Riska, nak. Kita diminta untuk kembali ke kantor polisi." Ucap ibu yang datang menghampiri ku.
"Kenapa Bu? Apa ada info yang di dapatkan polisi?" Tanyaku seraya berdiri dari duduk.
"Ada informasi yang harus di tanyakan langsung oleh penyidik." Jawab ibuku.
Aku melirik ke mas Kharis, ku pikir ini kesempatan yang tepat untuk menjalankan rencanaku dengan mas Kharis.
"Bu, aku fikir, keterangan dari mas Kharis sebagai teman dekat ayah di kantor juga perlu kita sampaikan ke polisi, dan mas Kharis bersedia membantu penyidikan dengan memberikan keterangan pada polisi katanya." Ucapku.
Ibu ku tersenyum ke wajah mas Kharis, ada ekspresi ragu sekaligus sungkan mungkin karena harus melibatkan orang kantor ayahku. "Kalau begitu, kita berangkat sama-sama saja sekarang, terimakasih banyak Kharis. Terimakasih sekali lagi." Ucap ibu.
"Kita boleh meminta izin menginap di rumah om Baskara malam ini Bu? Aku capek kalau harus bolak balik dari kantor polisi kembali ke rumah nenek. Rumah om Baskara lebih dekat dari kantor polisi dan TKP kan?" Aku memberanikan diri.
Ibuku mendelik ke wajah bibi ku. Wajahnya sedikit panik. "Nanti ibu coba tanyakan ke om baskara ya. Tapi kamu juga harus meminta maaf sama om baskara soal tadi di ruang tamu." Ucap ibu.
Aku tersenyum sembari melirik ke wajah mas Kharis. "Baik Bu, aku pasti minta maaf." Jawabku meyakinkan.
Tanpa menunggu lama, aku, ibu, mas Kharis dan kedua polisi itu segera pergi menuju kantor polisi yang jaraknya satu jam dari rumah nenek.
Sementara om baskara sudah mengijinkan kami bertiga untuk menginap di rumahnya malam ini.
Aku benar-benar tidak sabar untuk mencari bukti yang memperkuat dugaanku ini.
'yah, aku pasti akan menemukan buktinya, ayah yang tenang disana...' bisikku dalam batin sekali lagi.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 121 Episodes
Comments
Ray
Semoga Riska bisa menemukan bukti yg kuat, apa penyebab dan siapa yg memberikan racun ke Ayahnya Riska🤔
Semangat💪🙏😍
2024-12-17
0