Happy reading semua
Jangan lupa vote and komen ya 😄
Suasana pesta minum teh semakin memanas tatkala si pelayan kembali membuka semua keburukan Tyrese di hadapan semua orang. Tentu saja, Tyrese yang merasa terpojok segera memutar otak guna membantah seluruh tuduhan yang si pelayan layangkan untuknya.
"Semua itu tidak benar! Kak, percaya padaku, tidak mungkin aku melakukan semua itu!" Ujar Tyrese dengan wajah melas, atau lebih tepatnya pura-pura melas agar semua orang kasihan.
"Saya melihatnya sendiri, Lady, Nona Tyrese selalu iri dengan anda! Dialah yang selalu diam-diam mengambil perhiasan dikamar anda!" Ujar si pelayan kembali membuka kelakuan Tyrese.
Tyrese menatap si pelayan dengan tatapan tajam, matanya memerah menahan tangis sekaligus amarah yang tengah membasuh diri.
"Aku tidak menyangka, ternyata Lady Tyrese orang yang seperti itu," Celetuk salah seorang Lady yang menutup sebagian wajah dengan kipas, menatap Tyrese dengan tatapan merendahkan.
"Cih, kelakuan nya sangat memalukan" lanjut seorang Lady tepat di samping putri Ziyis yang juga tampak terkejut.
"Anda benar benar memalukan! Bagaimana bisa anda iri dengan Lady Ranhy yang selalu percaya pada anda!"
" Bahkan binatang lebih baik dari anda!" Ucap seorang lady blak-blakan didepan Tyrese
Tyrese panik tangannya gemetar sorot matanya tidak bisa diam mencari alasan belum lagi orang orang yang menghakimi dirinya membuat dia semakin merasa frustasi, peluh keringat membasahi diri.
Terkutuk mulut sialan pelayan itu berani beraninya ia membongkar semua kebusukannya. Ingin sekali rasanya ia merobek mulut sialan pelayan itu.
"Tidak, tidak, bukan aku, tolong percaya padaku, aku sangat menyayangi Kak Ranhy, bagaimana mungkin bisa aku iri bahkan sampai mencuri dan menghancurkan barang barangnya, itu tidak masuk akal!" Pekik Tyrese yang semakin terpojok.
Astaga, Areya rasanya ingin tertawa melihat dan mendengar penuturan Tyrese barusan. Menyayangi katanya? Oh ayolah, jangan mengatakan hal menjijikkan seperti itu. Ah, sepertinya pertunjukan ini tidak terlalu seru, mereka hanya berteriak saling menyalahkan satu sama lain tanpa ada aksi.
"Cukup! Hentikan!" Seru Areya tegas, iris mata menatap si pelayan dan Tyrese bergantian.
"Kau tahu bukan? Berbohong dengan memfitnah keluarga Marquis akan mendapatkan hukuman yang berat. Tyrese adalah anggota Marquis, bagaimana mungkin dia melakukan hal rendahan seperti itu, lagi pula barang bukti sudah ada, lantas kenapa kau melempar kesalahan mu pada orang lain?" Untuk kali ini, Areya akan membantu Tyrese.
Terus terang, Areya belum puas, dia masih ingin melihat bagaimana Tyrese dipermalukan di hadapan seluruh tamu yang datang. Namun, bukankah ini terlalu mudah untuknya? Hanya sebatas dianggap sebagai pencuri? Tidak Yang Areya inginkan adalah penderitaan tiada akhir untuk Tyrese, karena kelicikan perempuan itu, Ranhy harus menanggung semua rasa sakit dan penderitaan yang harusnya tak dia alami.
Si pelayan bersujud, dia tahu bahwa semua orang tak akan percaya dengan apa yang ia katakan,
"Maafkan saya, Lady, tapi saya hanya berkata jujur, ,saya bersalah! Tolong ampuni saya!" Mohon si pelayan yang bersujud tepat di hadapannya kaki Areya yang bersilangan.
Dalam hatinya, si pelayan mengutuk Tyrese yang terbebas dengan mudah, jika bukan karena wanita licik itu semuanya tak akan jadi seperti ini.
Ekspresi wajah Areya masih tak berubah, dia masih begitu tenang seperti air di telaga,
"Lady, bukankah sekarang dia adalah pelayanmu, aku harap kau mengajarinya bagaimana cara untuk bersikap dan memberinya hukuman yang pantas! Dan jangan terlalu sering menuduh seseorang tanpa mempunyai bukti yang kuat" sindir Areya.
"B-baik, maafkan saya yang telah menuduh anda, Lady" ucap Lady itu dengan raut malu sebab terlalu menggebu menuduh sang tuan rumah.
Acara pesta minum teh kembali berlanjut setelah sang Lady dan pelayannya meninggalkan tepat, mereka cukup tahu diri untuk tidak melanjutkan acara lantaran malu dan tak ingin membuat Areya semakin marah, yang mana hal itu bisa berbahaya untuk keduanya.
Sedang Tyrese, wanita itu dengan pedenya tersenyum seolah-olah semua yang terjadi tadi bukanlah sesuatu yang penting.
Ya, tersenyumlah , tersenyum sesukamu untuk sekarang, karena setelah ini kau mungkin saja tak akan bisa tersenyum seperti itu bahkan untuk membuka mulut mu saja kau tak sanggup.
Areya meninggalkan pesta minum teh Tyrese, tugasnya sudah selesai lalu untuk apa dia masih di sana, tidak Sudi dia melihat senyum munafik dari Tyrese.
"Lady Ranhy!"
Namun langkah kaki Areya tertahan ketika mendengar sebuah suara yang tak asing bergema memanggil namanya, sontak Areya menoleh, netranya menemukan seorang gadis dengan paras rupawan berjalan cepat menghampiri dengan diikuti beberapa pelayan milik nya.
"Lady Ranhy, saya ingin berbicara dengan anda," Ujar si gadis yang tak lain adalah putri Ziyis, adik dari pangeran Lordias.
"Hal penting apa yang ingin anda katakan, putri?"
Di dalam novel, putri Ziyis tak banyak disebutkan seperti tokoh-tokoh lain, dia hanya muncul beberapa kali seperti saat beberapa kali pesta minum teh, ulang tahun pangeran Lordias dan terkahir ketika dia akhirnya menikah dengan seorang Duke. Hubungannya dengan Ranhy tidak terlalu baik dengan dirinya mengingat Ranhy yang selalu mengacaukan acara pesta yang ia adakan. Lordias dan Ziyis itu sama, keduanya sama-sama menganggap bahwa Ranhy hanya seekor hama pengganggu untuk mereka.
Areya yang masih menunggu apa yang akan katakan sang putri, gadis itu tampak gugup hingga sebelah tangannya meremas jari tangan yang lain.
"Saya ingin meminta maaf atas kejadian di pesta minum teh saya terkahir kali, harusnya waktu itu saya meminta maaf secara langsung tapi saya tidak melakukannya. Jadi, tolong maafkan saya," Ujar putri Ziyis dengan kepala tertunduk.
Melihat tanggapan Ranhy yang tampak diam , membuat dirinya semakin gugup pasalnya dia juga bersalah karena membiarkan kejadian itu tanpa menghentikan Ranhy yang disudutkan.
Sebelah bibir Areya naik ke atas,
" Ini murni permintaan maaf anda atau anda terpaksa melakukannya atas perhatian orang lain?"
Putri Ziyis langsung menggelengkan kepala dengan cepat,
"Tidak! Ini mumi keinginan saya sendiri tanpa paksaan dari orang lain dan saya juga ingin meminta maaf atas tindakan kakak saya yang mungkin membuat anda tidak nyaman,"
Dirinya ingat dengan jelas bagaimana wajah murung sang kakak setelah mengetahui bahwa semua hadiah yang dia beri dikembalikan, lagi pula kenapa dia begitu bodoh dan bersikap gegabah seperti itu? Uh, mengingat itu dirinya menjadi kesal sekali dengan sikap sang kakak yang tak mencerminkan pribadinya sebagai seorang pangeran. Padahal kakaknya itu sangat pintar namun entah mengapa malah bersikap seperti itu.
Areya mengamati Ziyis dengan seksama, tak ada kebohongan dalam mata gadis itu. Ya, lagipula entah sang putri sungguh meminta maaf karena kemauan sendiri atau karena orang lain yang menyuruh, bukanlah urusan Areya.
"Lupakan saja, putri, toh kejadiannya sudah berlalu, luka saya juga sudah sembuh dan semua ini bukan sepenuhnya salah anda. Jadi, anda tidak perlu meminta maaf," ucap Areya dengan santainya.
Benar, kejadian itu memang disengaja hanya untuk memancing amarah dirinya, akan tetapi Areya tidak menyalakan Ziyis sepenuhnya karena melihat Ziyis yang juga kaget saat para sampah itu melakukan tirk kotor mereka Areya yakin Ziyis yang tidak terlibat,
" Apa ada yang ingin anda sampaikan lagi putri? Jika tidak ada yang ingin anda sampaikan, bisakah kita akhiri pembicaraan sampai disini?" Areya mengatakan hal tersebut karena dirasa Ziyis yang tampak diam termenung seperti tengah sibuk memikirkan sesuatu.
"Ah, iya, maaf karena sudah menyita waktu anda, dan terimakasih karena sudah mau meluangkan waktu dan memaafkan saya," ucap Ziyis dengan senyum ramahnya
Areya membalas dengan tersenyum kecil,
"Tak apa, kalau begitu saya permisi, putri, semoga hari anda menyenangkan," Areya pamit dengan memberikan salam layaknya bangsawan, kemudian membawa tungkainya menjauh meninggalkan Ziyis yang masih menatapnya.
Selepas kepergian Areya, Ziyis masih berdiri di sana dengan netra yang tak lepas menatap punggung sempit Areya yang sudah menjauh, hingga punggung itu menghilang dibalik pintu. Rasanya, dirinya enggan percaya dengan apa yang ia lihat akan tetapi mau dilihat seperti apapun kenyataannya memang Ranhy si gadis pembuat onar itu sekarang sungguh berbeda dengan yang ia kenal sebelumnya.
Gadis dengan sifat kekanak-kanakan itu berubah menjadi sosok bangsawan elegan sifatnya benar benar memenuhi standar untuk seorang pendamping putra mahkota.
Sangat disayangkan sekarang gadis itu sudah tidak tertarik lagi dengan sang kakak , jika saja sang kakak bisa bersikap sedikit lebih baik pada Ranhy, mungkin saja...
Ah, Ziyis memukul pelan kepalanya, dia tidak pantas mengatakan hal tersebut dalam pikirkannya, mengingat sikapnya dulu pun tidak jauh berbeda dengan sang kakak yang kerap bersikap kasar pada Ranhy.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Ni Ketut Patmiari
penyesalan selalu datang terlambat
2024-10-03
0