"Terimakasih, Sir " ucap Areya pada Farhel yang membantu nya turun dari kereta.
Sang ksatria hanya bisa tertegun, bingung antara realitas dan ilusi. Seorang bangsawan biasanya akan merasa gengsi berucap pada seseorang yang tak sederajat dengan mereka. Yang lebih mengejutkan lagi sang lady muda Ranhy Seagyr, tak pernah terdengar sama sekali berinteraksi dengan yang disebutnya manusia rendahan.
Begitu juga pesona orang yang di cap sebagai badut membuat ia tertegun, sangat mempesona bak bidadari yang turun dari langit.
"Sir?" Areya kembali memanggil setelah sekian lama sang ksatria belum juga melepaskan pegangannya.
Si ksatria berdehem sambil melepaskan genggaman mereka,
"sama-sama, lady, itu sudah kewajiban saya”
"Kalau begitu saya masuk dulu" pamitnya.
'Sejak kapan badut berubah menjadi dewi?' Farhel bertanya dalam batin.
Begitu Areya masuk, seluruh Mata senantiasa mengikuti kemana pun ia pergi. Gaun merah dengan bagian dada yang sedang terbuka lalu di sulaman bunga teratai kecil berkilau terutama di bawah lampu terang menambah kesan elegan dan cantik, rambut lurus itu diikat menjadi satu, anting perak yang berkilau dengan kalung bermanik satu sederhana namun dapat menunjukkan sisi elegan sang wajah rupawan.
Lupa soal kecantikan pemeran antagonis, Di depan sana Areya tak mendapat kesulitan untuk masuk meski tanpa membawa undangan. Jelas sekali pangeran Lordias telah memberi tahu akan kedatangan nya . Tidak seperti biasa karena jika itu hari biasa mungkin ia akan diseret keluar oleh pengawal.
Lantas Mengapa pangeran menjemputnya?
Senyum culas ia tampil, mungkin jika Ranhy tak ada, para Lady akan mengerubungi dan beliau pasti mengalami kesulitan. Buruk memang namun itu adanya, sang pangeran hanya memanfaatkan cinta mati orang lugu.
Tak penting akan semua itu Yang jelas Areya hanya akan setor muka lalu pulang. Ia juga Sangat malas jika berlama-lama. Apalagi bisikan penuh cemooh terdengar di setiap hentakan.
Bukan kah itu sibadut? Ucap seorang lady
Kukira si benalu tak akan datang
Si pengacau
Aku kasihan pada pangeran Lordias
Tapi ia tampak berbeda
Pesta ini pasti akan bubar lebih awal
Entah drama apa lagi yang akan ia buat
Aku malah Tidak sabar melihat drama apa lagi yang akan ia buat
Mataku yang salah atau efek terlalu banyak minum, Lady Ranhy terlihat sangat cantik sikutan langsung di daratkan oleh Nona di sebelahnya.
Mungkin salah orang bukan
Areya hanya berjalan dengan tatapan datar tanpa menoleh sedikitpun. Ia tidak akan membuang tenaga hanya untuk membuat membalas ocehan bodoh yang tidak ada keuntungannya sama sekali. Sekali dijawab mereka akan kegirangan mendapatkan drama yang mereka mau.
"Kau sudah datang, Lady Ranhy" sapa Lordias setelah Areya berhenti tepat di hadapan.
"Kak!" di samping Pangeran, ada Tyrese. Terlihat sekali keduanya sudah berbincang.
"Jika aku tahu kakak akan kemari tadi kutunggu saja agar kita bisa berangkat bersama-sama," ucap Tyrese polos
" Aku memang tidak berniat datang," ucap Areya dengan datar yang dibalas dengan deherman Pangeran Lordias seolah menegaskan presensi
"Ah! Selamat ulang tahun, yang mulia. Doa terbaik untuk pemimpin masa depan negeri ini," ucap Areya dengan senyum lalu sedikit membungkukan tubuhnya.
"Terimakasih, Lady,"
Semua perilaku sang Lady masih terasa asing. Jika Biasa ia akan ditempeli setiap bertemu baik di setiap pesta atau acara,lalu menyingkirkan semua Lady yang padahal hanya melakukan obrolan ringan, Kini Ranhy terlihat tenang. Ia sudah seperti kebanyakan bangsawan. Bahkan lebih, sepertinya. Malam ini terlihat anggun. Tak ada riasan tebal beserta baju mencolok penuh berlian. Penampilannya Bak Dewi yang baru turun ke bumi.
Seperti dua orang yang berbeda.
"kenapa gaun mu berbeda?" Tanya Areya setelah sadar akan penampilan Tyrese. Gaun biru muda yang Areya berikan terganti oleh gaun keemasan super mewah.
Alih-alih Tyrese, justru Pangeran Lordias lah yang menjawab,
"Tadi saya tidak sengaja menumpahkan minuman pada gaun Lady Tyrese, jadi tentu saya harus bertanggung jawab,"
"Ah, begitu," Areya acuh.
Meskipun Ada rasa curiga terselip, ketidaksengajaan agaknya sedikit sulit dipercaya, mengingat pendidikan tata krama pasti sudah dipelajari sedari kecil terutama anggota kerajaan.
" saya juga minta maaf perihal undangan. Lady Tyrese tadi juga sudah menjelaskan bahwa dirinya jarang keluar karena lebih nyaman di rumah. Agar bisa menikmati pesta, Anda sampai memberikan undangan anda. Sangat baik. Maka dari itu Saya mengirimkan jemputan agar anda juga bisa hadir"
Sebelah sudut bibir Areya berkedut. Dia benci basa basi Dengan mahluk didepan nya ini meskipun wajah bak dewa Yunani ini sangat memikat.
"Terimakasih, pangeran sungguh sangat bijaksana"
"Tidak perlu berbicara seformal itu, aku hanya ingat kalo Lady senang berdansa, bukan" ujar Lordias,
"Jadi, silahkan menikmati pestanya, saya permisi," ucap Lordias seraya pergi
"Semoga malam anda menyenangkan, yang mulia," tanpa membuang kesempatan untuk pergi, Areya langsung berbalik kembali dengan tampang datarnya meninggalkan sang pangeran tanpa sepatah kata pun, lalu berjalan ke salah satu meja, tepatnya di sudut yang tidak terlalu ramai.
Lordias mengerutkan dahi. Biasanya Ranhy akan berusaha memamerkan diri hanya untuk mendapatkan pujian dari nya. Lordias tak punya pilihan, kendati pahit acap kali harus ditelan demi membuat perasaan sang Lady baik sepanjang malam
Bahkan ucapan terimakasih atas jemputan sama sekali tak terucap. Desas desus perhatian Pangeran sudah sampai di telinga para bangsawan, mengingat lirikan penasaran kerap kali tertangkap indra.
Lordias menolak percaya. Bagaimana bisa Ranhy yang begitu menggilainya menyerah begitu saja setelah satu dekade dengan terang-terangan menyatakan pasti menjadi calon pengantinnya kelak.
"Izinkan saya mendapatkan kehormatan berdansa dengan anda Lady Tyrese," ungkap Lordias sedikit meninggikan suara.
Areya tetap tenang ditempat sembari meminum minumannya dengan tenang. bahkan tak melirik sedikit pun. Sayang sekali ia bukanlah si malang yang mungkin langsung membuat kegaduhan atas konfrontasi kalengan.
Seperti Pangeran yang selalu menutup mata dan telinga, mengetahui Ranhy dikucilkan bahkan di caci dalam setiap pesta atau pun acara lain oleh para Lady karenanya, Areya pun akan melakukan hal yang sama.
"Boleh aku duduk" Kepala Areya mendongak menatap sosok Marquis muda yang berada di depannya.
" Tentu tidak ada yang melarang bukan"
"Bukankah Kau bilang tak akan hadir"
"Saya rasa tidak mungkin anda tidak tahu" timpal Areya sembari menghabiskan sisa minumannya.
"Orang-orang bilang kau memaksa Pangeran Lordias untuk menjemput dengan kereta kerajaan beserta ksatria sebagai penjaganya," jelas Harist.
"Sinting!" Areya mengumpat.
Harist terkekeh ringan menyadari umpatan sang Lady muda, tak salah jika malam ini Ranhy menjadi pusat perhatian, penampilannya berubah 180⁰ dari biasanya. Ibarat angsa buruk rupa berubah menjadi peri dengan sayap indah.
" Maka dari itu aku bertanya"
"Percaya saja apa yang ingin kau percayai," timpal Areya santai
"Cih," Harist berdecak
Areya menyeringai menatap sosok Harist. Di dalam novel tertulis jika Harist merupakan putra tunggal, dirinya yang memiliki hobi bermusik harus melupakan semua impian nya menjadi seniman musik demi menjadi seorang Marquis yang kompeten, seluruh alat musik yang ia miliki dirusak, hidupnya diatur oleh orangtuanya hingga suatu saat saat ia jatuh cinta pada gadis dari seniman musik jalanan yang memiliki suara merdu, namun sayang mengetahui sang putra jatuh cinta dengan rakyat biasa orang tuanya murka hingga sang gadis dijual ke rumah mucikari membuat gadis itu depresi lalu bunuh diri.
Mengetahui sang pujaan hati telah tiada ia tanpa ragu menghabisi dirinya sendiri dengan meminum racun yang ia tahu untuk Tyrese yang waktu itu pesta penyambutan putri mahkota. Dan saat itulah Ranhy tertuduh sebagai pelaku.
" Terlalu sulit jika terus mengikuti seluruh ekspetasi seseorang yang bahkan diluar kemampuan diri sendiri, hingga melupakan apa yang kita impikan" Harist diam mendengar lanjutkan
Areya tersenyum tipis menatap wajah tampan itu
" Semua berhak atas diri mereka sendiri, menjadi diri sendiri jauh lebih baik, setidaknya bahagia walau hanya beberapa detik saja"
Harits terdiam. Aneh, namun pundak terasa ringan, otot-otot juga tak lagi keras. Seolah Harist ia mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.
"Aku percaya kau bukanlah masokis yang bahagia dengan mendapat rasa sakitkan tuan muda Harist," ucap Areya bercanda
Harits terkekeh. Berbeda dengan yang sering ditunjukkan pada orang, senyum kali ini benar-benar bukanlah sebuah formalitas ataupun paksaan.
"Tentu saja bukan. Aku benci rasa sakit"
Rasa bersalah tiba-tiba menusuk dada. Reputasi sang gadis muda sangat buruk di kalangan bangsawan, dan ia pun ikut mencemooh tingkah Ranhy yang terus mengejar Pangeran. Padahal jika dilihat pada sudut pandang berbeda, Ranhy hanyalah seorang gadis yang sedang jatuh cinta.
"Selamat malam"
suara berat khas pria mengalihkan atensi keduanya.
Keduanya membalas sapaan sosok itu namun sang gadis terlihat sedikit canggung. Tentu saja, kejadian di rumah masih membuat ia sedikit merasa tidak enak. Maka dari itu bertemu dengan Duke Napios menjadi hal yang paling dihindari malam ini.
"Maaf telah mengganggu. Izinkan saya mendapatkan kehormatan berdansa dengan Lady Ranhy," ujar Napios sedikit membungkuk seraya mengulurkan telapak tangan kanannya
Bisikan sekitar langsung menusuk indra
Duke Napios
Ya Tuhan!
Apa apaan ini!
Duke yang terkenal membenci dansa mengajak Areya!
Aku pasti sedang bermimpi
Trik kotor apa yang telah ia dilakukan si badut?!
Sempat terbesit ide gila untuk membelah kepala Napios dan melihat apa yang dipikirkan, Areya menghela dengan pelan. Menolak ataupun menerima pasti mendapatkan cibiran.
Sialan itu
"Suatu kehormatan bisa berdansa dengan anda Duke" setelahnya Areya meraih tangan Napios.
Lantunan lagu mengiringi pasangan yang berdansa. Hiasan dan bunga di sekitar ruangan berkilau tersorot lampu pesta. Megah. Sungguh menggambarkan kemewahan istana.
Entah disihir oleh apa sang Duke hingga tidak menyadari beberapa Areya sengaja menginjak kakinya. Bahkan mata itu tak pernah lepas darinya.
Areya memang sengaja menginjak kaki Napios untuk memberikan sedikit pelajaran karena rasa kesalnya terhadap sosok sang Duke
Alunan musik telah berhenti dan beberapa pasangan sudah berpisah namun lain halnya dengan dua manusia yang sekarang menjadi pusat perhatian itu.
Iya Duke Napios yang masih saja belum melepaskan rangkulannya.
"Ehmm" Areya berdehem untuk menarik kesadaran Duke Napios. Kenapa tidak langsung didorong saja? Ingat tata Krama diajarkan untuk para bangsawan apa yang ada dihadapannya ini adalah Duke dengan kedudukan tinggi.
"Maaf, Lady," ungkap Napios, setelah menyadari suasana menjadi hening. Ia melepaskan rangkulannya dan sedikit memberi jarak dengan sang gadis. Pipinya memerah hingga ke telinga. Sang Duke dengan julukan sedingin es itu tengah tersipu.
Sebenarnya dirinya sengaja mengajak Ranhy untuk berdansa dengan nya . Karena dalam yang ia terima laporan sudah tertulis alasan, Ranhy menolak berdansa dengan siapapun kecuali Pangeran, Berniat sedikit mempermalukan sebagai bayaran karena telah menolak ajakannya, namun siapa sangka ia malah terjebak dalam pesona indah sang gadis.
Mata yang berbinar, bibir tipis Semerah ceri, serta harum bunga mawar melekat menggoda setiap indra.
Suasana diantara mereka kembali menjadi canggung sebenarnya hanya Napios lah merasa begitu. Areya tampak biasa saja. Ranhy gadis aneh yang selalu berhasil mengaduk emosi. Gadis bodoh pemburu afeksi Pangeran kini berubah drastis.
Dulu, sorot selalu pongah, menganggap orang-orang hanya sebagai ekstra dalam kehidupannya. Namun Kini tidak lagi terbaca. Kilatan dan sinar mata digunakan dengan baik dalam setiap situasi Juga banyak tindakan yang sulit dibaca, benar benar standar istri bangsawan.
Namun kecanggungan mereka malah memilih arti lain di mata orang orang, terutama dua sosok yang terus menerus menatap mereka dengan tatapan dingin. irisnya tak sengaja menangkap sosok Pangeran yang berjalan ke arah mereka. Tak ingin berurusan lebih panjang dengan dua tokoh menyebabkan ini, bagusnya ia pamit saja.
"Kalau begitu saya pamit, Duke!"
"Tunggu," sayang, rencana melarikan diri tak berjalan mulus sebab tangan duke menahan lengannya,
"ada yang ingin saya tanyakan,"
Areya memutar matanya malas, persetan dengan sopan santun , rasa jengkel lebih mendominasi, berurusan dengan dua pemeran utama yang merepotkan ini benar benar menguras tenaga. Kendati demikian, Duke masih sedikit waras daripada Pangeran narsis yang masih tak terima akan perubahan yang ia tunjukkan.
"Kalau begitu mari kita cari tempat yang nyaman untuk berbincang"
Setelah itu dengan cepat, Areya menggandeng tangan Napios untuk keluar dari lantai dansa. Membuat Lordias berhenti tepat dibelakang mereka, menatap tajam dengan kedua tangan terkepal.
Sedangkan Areya berusaha menelan umpatan. Bagaimana bisa ia mengabaikan rahasia umum, bahwasanya Napios sangat membenci sentuhan. Meskipun terbalut sarung tangan. Namun Napios tampak abai akan itu, sebaliknya ia justru ikut menggandeng tangan Areya.
"Duke Kurasa kita sudah terlalu jauh," ucap Areya,
Keduanya menghentikan langkah. Sejauh mata memindai, tak ada hiasan mewah di sekitar lorong. Hanya beberapa pahatan patung kecil, lukisan artistik dan karpet merah yang membentang entah menuju kemana. Sepertinya mereka tersesat.
"Ah, maaf, Lady," ucap Napios, berusaha tenang.
Sebenarnya ia ingin bertanya perihal bagaimana bisa Areya tidak ingin berinteraksi dengan Pangeran Lordias, namun semakin dipikirkan Sungguh, itu bukanlah urusannya. Makanya ia bingung ingin mengatakan apa, membuat keduanya dilanda hening.
Namun Samar samar mereka mendengar orang berbincang dengan suara pelan, menyadari hal itu, Napios langsung menarik Areya untuk bersembunyi dibalik tembok.
".....pihak dari Duke Napios"
"Semuanya sudah sesuai rencana, kita hanya tinggal menjalankan nya saja dan kau pasti semua tidak ada yang gagal kau ingin"
" Benar terutama keluarga Marquis Seagyr "
Kening Areya mengerut setelah nama keluarganya disebut, yang jadi bagian yang membingungkan adalah salah satu dari suara itu begitu familiar di telinga nya .
Apa yang sebenarnya terjadi?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
sahabat pena
laki-laki itu aneh ya? di kejar2 secara ugal-ugalan ilfil. giliran di acuhkan jengkel. makanya jangan nyiai2in seseorang yg tulus mencintaimu. giliran diambil orang nyesek, nyesel kan? nikmati aja pangeran 🤣🤣🤣🤣
2025-02-13
0
Frando Wijaya
heh 😏😈❄️....sgt suka cari gara2? jika bner mka lain klo cari pembawa mslh anak buah...biar bch ini Tau kpn da dmna bila sering kli penggangu terus mka dpt akibat yg gk bs selesaikn
2024-09-01
0
Frando Wijaya
heh 😏... semua berawal pembawa bencana itu ulah orgtua sendiri... ckckck 🙄... bner2 bangsawan sampah 😒💢
2024-09-01
1