"Kau ingat kan perkataan ibunda tadi, kau harus berusaha menarik hati Pangeran!" kalimat yang sama entah sudah berapa kali diucapkan sang Ibunda, bahkan dia sudah hafal di luar kepala.
"IbundaTenang saja," ucap Areya singkat. jujur Areya sendiri sudah mulai pusing dengan ocehan dari sang ibunda.
kereta kuda yang membawa Areya dan sang ibunda pun terus berjalan, Areya dan sang ibunda akan pergi ke istana untuk menghadiri jamuan teh dari sang Ratu. Ini adalah kebiasaan para bangsawan di sini untuk membawa putri putri mereka untuk dikenal dengan sang Pangeran agar tertarik dengan anak mereka.
Sungguh di bagian ini Areya sangat ingin muntah saat membacanya. Di mana dalam cerita sikap Ranhy begitu agresif mendekati sang Pangeran setelah dia menyatakan kalau dia jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat betapa gagahnya sang pangeran. Ewh sangat cheese sekali.
"Pelayan bilang kemarin saat Duke Napios datang anak sialan itu bertemu dengannya kemarin. Dasar jalang! Dia pasti berpura-pura baik agar dikasihi. Ran! jangan biarkan siapapun mengasihaninya, atau dia akan semakin melonjak nantinya!" Ujar Denas dengan ekspresi wajah yang jelas menaruh rasa tidak suka pada anak tirinya itu.
Areya sendiri tahu alasan dibalik rasa tidak suka Denas pada Tyrese. Semua tidak lain berasal dari ibu kandung Tyrese atau mantan istri ayah tiri Ranhy. Ibu Tyrese sendiri sudah meninggal sekitar dua tahun lalu, dan tak lama setelah kematian sang istri Kaiyl Vaverit ayah tiri Ranhy langsung melamar Denas yang sudah menjanda sejak Ranhy kecil.
"Ibunda tidak perlu khawatir, aku bisa mengatasinya" ucap Areya menenangkan sang ibunda yang tampak menggebu itu.
Kereta kuda mereka telah memasuki pekarangan istana. Sepanjang perjalanan yang mereka lalui Areya benar benar disuguhi pemandangan yang amat menyejukkan mata. Mulai dari hijaunya rerumputan, pohon pohon yang menyejukkan lalu saat masuk ke perkarangan istana ia juga di perlihatkan pekarangan bersih, bunga bunga yang tampak subur, patung-patung di depan istana yang di buat oleh para ahli kerajinan di susun rapi di depan istana hingga kesan mewah amat melekat saat pertama kali kemarin. tumpuan beberapa batu yang diukir sedemikian rupa lalu di letakkan tengah-tengah air mancur dan pagar tanaman yang terawat sempurna. Areya sendiri benar benar di buat kagum melihat semua ini.
"Akhirnya kau sampai, Denas!" Sapa seseorang saat Areya dan ibundanya baru saja turun dari kereta.
"Oh, Hera!" Balas Denas lalu keduanya berpelukan singkat.
Hera Deswasri atau yang akrab dipanggil Hera merupakan bangsawan di kalangan Marquise, sama seperti Denas .
Mereka bersahabat saat masih kecil hingga saat ini masih terjalin begitu erat. Namun sangat amat disayangkan tali persahabatan itu tidak ikut terjalin pada anak anak mereka. Semuanya karena sifat Ranhy yang sedikit buruk juga selalu agresif pada sang pangeran membuat Harist tidak menyukai sifat kekanakan Kanakan Ranhy.
jika pun seandainya Ranhy menjadi pendamping penerus kerajaan. Sebuah Monarki tidak mungkin dipimpin oleh ratu yang kurang kompeten dan kekanak-kanakan, bukan?
"Oh kau membawa tuan muda Harist?" Tanya Denas
" Iya, hanya sekedar menemani, wah apa ini Ranhy? Dia sangat cantik hari ini" ucap Hera saat melihat Ranhy yang jauh dari biasanya, sederhana namun cantik.
" Maksud bibi aku buruk rupa sebelumnya?" Canda Areya
Hera terkekeh sambil menggeleng, ia menyadari bahwa Ranhy kini tampak lebih santai dan ceria.
"Ayo kita masuk! Dan biarkan pangeran ku menemani putri mu yang cantik itu lalu berkumpul dengan yang lain," ajak Hera yang dibalas anggukan oleh Danes.
Keadaan menjadi hening setelah sang Ibu meninggalkan mereka berdua. Sungguh ini sangat canggung untuk keduanya yang ibunya saling bersahabat. Kalau disini adalah Ranhy yang asli sudah dipastikan dia akan terus mengoceh tentang pangeran Lordias dan akan membandingkannya dengan Harist. Namun kali ini sungguh diluar dugaan Ranhy terlihat lebih kelam dan cenderung lebih memilih memperhatikan sekitar seolah ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di istana ini.
"Mau kemana kau hai nona muda ?" tanya Harist saat melihat Ranhy yang hendak pergi.
Ranhy menghentikan langkahnya lalu menoleh,
"Melihat lihat mungkin." Balas Areya acuh
" Cih, Bilang saja ingin menempel in pangeran" Harist menyindir Ranhy
Sudah menjadi kebiasaan bagi Ranhy kalo sudah berkunjung ke istana, ia akan terus mencari pangeran lalu menempelnya.
Ranhy menghela nafas malas kemudian mengendikkan bahu sebelum benar-benar pergi,
" Terserah, lagi pula aku Sudah tidak tertarik untuk itu,"
Di dalam Istana begitu megah. Terdapat pilar pilar besar yang menjulang tinggi, pengangan tangga berukir sebegitu indah lalu dipoles hingga bersinar. Lukisan keluarga Kerajaan yang dicat dengan minyak bingkai emas lalu di gantung di dinding dinding istana. Semua perabotan terlihat jelas hasil buatan tangan pengrajin ahli juga. Dan yang lebih hebatnya, sama sekali tidak ada debu yang ditemukan di setiap sudut ruangan semua bersih dan ditata rapi.
Areya berhenti tepat di ruang baca yang terletak di dekat taman. Di dunianya banyak buku tentang bisnis dari peradaban kuno yang dijadikan sebagai panutan. Seakan akan menjadi tidak pernah lekang meskipun ditengah pemikiran yang lebih modern.
"Siapa yang menyuruhmu masuk tanpa izin?!"
sebuah suara berat membuat langkah Ranhy terhenti ketika ingin memasuki ruangan tersebut. Sosok tinggi dengan Surai hitam legam yang sedikit memanjang. Memakai pakaian berwarna putih dengan beberapa sulaman benang emas khas keluarga Kerajaan.
Ini dia sang pemeran utama pria pangeran Lordias Deminup
Orang yang paling tidak ingin Areya lihat kini malah berdiri tepat di depannya dengan gaya angkuhnya.
"Salam kesejahteraan, pangeran" Areya salam sopan ala kerajaan.
" Maaf, kalo saya tidak sopan dan terkesan lancang untuk masuk. Di depan tidak ada orang yang menjaga jadi saya kira perpustakaan boleh masuk oleh para tamu yang ingin berkunjung," jelasnya
Sang Pangeran tersenyum remeh, "Itu hanya alasan mu kan. Kau sebenarnya datang untuk mencari ku, kan? Sudah berkali kali saya bilang berhenti mengikuti ku nona Ranhy! Saya sama sekali tidak pernah tertarik dengan Anda!"
Areya tersenyum sumbang mendengar ocehan orang yang berada didepannya ini. Sudut bibirnya ia tertarik ke atas sambil memperhatikan sosok pangeran idaman para wanita ini. Jujur saja Areya sudah sangat amat tidak sabaran untuk mencakar wajah rupawan itu. Bahkan dia sudah mengumpat dalam hati, tidak mungkin dia memaki-maki anggota kerajaan terutama calon putra mahkota.
Liat saja Areya akan benar benar memberikan pelajaran pangeran Lordias yang sudah membuat Ranhy kesayangannya menderita tiada henti.
"Terserah Pangeran ingin berasumsi seperti apa tentang saya, tapi yang jelas saya benar-benar tidak sengaja kesini lalu berniat membaca, itu saja" jawab Areya dengan sedikit malas.
"apa saya diperbolehkan masuk pangeran?"
Lordias menatap mata Ranhy yang berada didepannya dengan seksama. Rasanya Sedikit aneh ketika melihat tatapan yang dipancarkan oleh netral yang berkilau itu. Tidak ada gemilang, tak ada tatapan memuja, dan juga tutur kata yang digunakan pun sangat jauh berbeda, tidak manja atau mendayu.
"Silahkan kalo ingin membaca, tapi kau harus ingat jangan pernah menggangguku!" Tungkas Lordias dengan sedikit penekanan.
Sebenarnya Lordias hanya inginmelihat apakah Ranhy sedang berbohong atau tidak.
"Baiklah pangei, saya ucapkan terimakasih atas kemurahan hati pangeran,"
setelah itu Areya langsung pergi dari hadapan Lordias yang masih menatap bingung.
Waktu terus berlalu dan kini tak terasa Sudah lebih dari sejam mereka didalam sana namun Ranhy atau Areya tak pemah sekalipun mendekat atau pun menegur.
Gadis cantik itu hanya akan berpindah tempat saat mencari buku yang lain atau pun mengembalikan buku yang sudah ia baca.
Lordias sendiri sempat mencoba keluar sebentar untuk melihat apakah Ranhy akan mengikuti atau tidak. Dan ternyata gadis itu tetap diam bahkan tidak menoleh sedikitpun.
"Pangeran"
Suara halus itu langsung membuat Lordias menoleh. Sudah dia diduga pada akhirnya Ranhy pasti akan bosan dan seperti biasa, ia akan menggangu nya. Namun Ranhy malah membungkuk singkat
" Saya sudah selesai, terimakasih terimakasih karena sudah mengizinkan saya membaca disini. Kalau Saya pamit undur diri, Salam untuk pangeran"
"Tunggu!" Ucapan itu mengalir begitu saja tanpa persetujuan pemiliknya.
Seakan kata-kata dan tindakannya tidak sejalan. Seluruh nya berlawan pikiran nya timbul banyak tanya. Memang seharusnya Lordias senang karena sudah tak ada lagi pengganggu, namun di sisi yang lain juga Lordias juga ingin Ranhy tetap mengejarnya.
"Ya? Pangeran, apa ada sesuatu yang pangeran ingin kan?" tanya Ranhy memastikan.
" Bukankah kau tadi membaca, lantas buku apa saja yang tadi kau baca?" Lordias ingin memastikan bahwa Ranhy bukan sekedar mencari alasan untuk mencari perhatian anya dengan melakukan trik tarik ulur yang biasa digunakan para wanita untuk menarik perhatian pria.
Satu alis Areya terangkat. Ada apa dengan Pangeran ini bertingkah nya sangat aneh. Bukankah dia tak tertarik sama sekali dengan apapun yang Ranhy lakukan.
"Saya hanya membaca beberapa buku sejarah, beberapa buku tentang sistem perdagangan dan seni desain grafik,"
Lordias sedikit kaget. Pasalnya sangat jarang wanita memiliki ketertarikan tentang perdagangan terlebih grafik. Karena biasanya mereka hanya dipersiapkan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, seperti merawat kecantikan mereka, beretika baik, bisa menyulam dan mengatur keuangan keluarga mereka.
Lordias tiba-tiba pergi lalu kembali dan langsung menyerahkan sebuah buku ke Areya.
"Jika begitu, jelas sedikit tentang buku ini, bukankah kau sudah membacanya"
Entah apa yang ada dipikiran Lordias, tapi meskipun tidak tahu apa yang sedang di pikiran olehnya, Areya tetap menurut.
"Buku ini menganut tentang para pedagang rasis yang hanya menjual barang mereka ke orang orang mereka saja dan engga untuk memberikan nya pada orang orang yang mereka anggap berbeda dari mereka."
"Bagaimana kau..." Lordias hampir tidak bisa berkata kata lagi
"Kesimpulan buku ini seperti para bangsawan yang menjual anggur mereka kepada bangsawan lain dan tidak untuk rakyat biasa yang dianggap tidak mampu." Jelas Areya kembali.
"ada lagi, yang mulia?"
Lordias hanya bisa tertegun. Pada mulanya, Ranhy terlihat tak tahu apa-apa. Namun kini Lordias melihat sesuatu yang berbeda. Rasa penasaran perlahan muncul. Ranhy tak lagi sama.
"Oh, maaf sepertinya saya harus bergegas. Ibunda pasti telah menunggu saya," ucap Ranhy setelah melihat jam.
" Jika tidak ada lagi, saya izin pamit, Pangeran!"
Lordias kembali hendak menahan Ranhy, namun Ranhy sudah terlebih dahulu membuka pintu perpustakaan dan berjalan keluar. Tidak, Lordias masih belum percaya akan perubahan Ranhy. Dia harus memastikan hal sebelumnya bukanlah sebuah kebetulan. Dia akan menayangkan kembali.
"Ibuku menyuruh untuk mengantarkan mu pulang . Katanya akan berbelanja bersama Ibumu terlebih dulu," ucap Harist saat bertemu Ranhy
"Bukankah kau bilang sudah tidak tertari dengan pangeran? Namun faktanya yang terlihat tidak seperti itu," Harist memang tak segan melontarkan komentar sarkastik kapanpun dan di manapun, dia cukup sarkastik.
Areya memutar malas kedua bola matanya.
"Terserah diri mu saja, Aku sudah lelah ingin dan ingin segera pulang!"
Lordias memandang kepergian keduanya. Entah berapa banyak kata-kata pedas yang diterima dan perlakuan yang tak menyenangkan didapatkannya juga berapa waktu yang terbuang hanya untuk usaha mendekatinya. Sekarang dia mengerti kenapa Ranhy tampak acuh padanya. Ranhy telah memutuskan untuk berhenti.
Tingkat gelar kebangsawanan Eropa
Laki-laki Perempuan
Raja. Ratu.
Pangeran. Putri
Duke. Duchess
Marquis Marquise
Count. Countess
Visscount. Visscountess
Baron. Baroness
Rakyat biasa
Baron itu sama kayak rakyat biasa cuma baron lebih tinggi tingkatannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Frianty Frianty
aku malah bingun dengan nama areya dan aranhy.
2024-12-04
0
Wisteria
Thor apa Baron setingkat sama Lurah y, g paham aku
2024-11-07
0
💖 sweet love 🌺
pasangan Marquis bukannya marchiones ya?? 🤔
2024-12-20
1