Wajah datar dengan Jari jari yang terus saja mengetuk meja kaca dengan atensi yang tak lepas menatap sinis tumpukan peti yang beberapa menit lalu baru di turunkan.
Helaan napas yang meluncur dari belahan bibirnya membuat pelayan yang berdiri di sana, merasa was-was serta keringat dingin.
Jujur saja, para pelayan yang sejak tadi memperhatikan merasa aneh dengan sikap sang nona muda. Alih-alih merasa senang dengan datangnya tumpukan hadiah mewah dari pangeran Lordias, yang mereka tahu bahwa hal ini adalah ketidakmungkinan yang nyata, lady muda itu justru terlihat kesal dengan kedua alis yang menukik tajam menatap peti-peti tersebut.
Bagaimana bisa sosok yang sangat menggilai pangeran Lordias, kini telah kehilangan minat. Awalnya tidak percaya namun setelah melihat semua ini mereka tidak bisa lagi tidak terkejut akan perubahanan drastis yang dialami oleh Ranhy.
"Dasar Gila!" Ucap Areya , sontak semua yang ada di sana terkejut. Sang nona mengumpati pangeran Lordias? Sungguh ini seperti tidak nyata.
Areya sendiri tidak habis pikir bagaimana bisa si pangeran yang narsis itu mengirim hadiah yang bukan hanya satu hadiah, melainkan tujuh peti hadiah yang entah apa isinya.
Jika saja Ranhy yang mendapatkan semua ini, pasti dia senang bukan kepalang sebab merasa diri begitu spesial. Namun, beda lagi dengan Areya ia sudah kesal setengah mati melihat ulah manusia narsis itu.
Apa sebenarnya yang di inginkan Lordias?! Bukankah Areya sudah dengan jelas menunjukkan rasa tidak tertariknya? Lalu, untuk apa Lordias mengirim semua sampah ini ?
Cih Lordias kira ia akan luluh hanya dengan mengirim hadiah, jangan kira Areya tidak tahu akan tujuan dari hadiah dadakannya ini. Permintaan maaf karena insiden pesta minum teh? Omong kosong!,
Bukannya ingin sombong atau apa, akan tetapi ia adalah anak Marquise Seagyr yang memiliki berbagai macam jenis bidang usaha yang sukses, dia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan tanpa harus menerima belas kasihan orang lain. Lagi pula permintaan maaf an hanya dilakukan oleh yang bersangkutan seperti putri Ziyis yang datang ke mansionnya bukan dengan hadiah dari pangeran Lordias yang tidak tahu akan kejadian tersebut.
Jika ia menerima semua hadiah ini, sudah dipastikan bahwa Lordias akan besar kepala dan berpikir bahwa dirinya telah berhasil menaklukkan dirinya kembali .
Areya tersenyum sinis, sangat di sayang itu hanya akan menjadi angan Lordias saja.
"Siapkan kereta, dalam angkut semua barang-barang ini ke dalamnya, aku akan ke istana untuk mengembalikannya." Perintahnya dengan tegas.
Areya tak peduli jika tindakan nya dianggap sebagai tindakan yang tidak sopan serta dianggap sebagai penghinaan apalagi pangeran Lordias sendiri lah yang mengirimnya.
Semua pelayan yang mendengar perintah sang nyonya tentu terkejut bukan main, mereka saling menatap satu sama lain dengan raut wajah bingung, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
Areya meninggalkan para pelayan yang masih tak percaya akan perintah sang nyonya. Tentu Areya bersiap, tidak mungkin bukan dia datang ke istana dengan lusuh seperti ini? Sama saja bertarung di medan perang tanpa senjata.
Areya mendengus pelan, batal sudah rencana untuk santai dengan bermalas-malasan.
'Terkutuk-lah kau Lordias!' Pekik Areya dalam hati.
*************
Perjalanan menuju istana tak banyak memakan waktu, Areya tiba di Istana. Seorang pengawal dengan sigap membuka pintu kereta dan membantu sang nona muda turun. Udara siang ini cukup cerah dengan matahari yang bersinar terang serta awan yang menggulung membentuk berbagai macam bentuk abstrak. Jika bukan karena pangeran sialan itu, Areya saat ini mungkin sudah tidur siang untuk mempercantik kulit wajah.
Ketika hendak masuk ke dalam istana, Areya terhenti karena salah seorang penjaga.
"Maaf Lady, apa ada yang bisa kami bantu?" Ujarnya mengingat hari ini memang tak ada jadwal kunjungan dari bangsawan manapun selain rapat pagi tadi.
Areya hanya mengulas senyum, sudah menduga jika dirinya tak akan diizinkan masuk dengan mudah, mengingat pada tingkah laku Ranhy yang dulu sudah pasti semua orang lebih berhati-hati agar tak mendapatkan masalah.
"Saya hanya ingin bertemu dengan pangeran Lordias, ada hal yang harus saya sampaikan pada beliau." Ujar Areya dengan tenang
Kedua penjaga saling melempar pandang, seolah merasa ada yang aneh dengan sikap sang gadis yang bila dihentikan seperti ini pasti akan marah dan langsung menerobos masuk.
"Apakah anda sudah membuat janji dengan pangeran?"
"Belum, tapi kalian bisa sampaikan pada pangeran, kalau Lady Ranhy dari Marquise Seagyr ingin bertemu beliau"
"Baik, anda bisa menunggu disini terlebih dulu Lady."
Salah seorang dari mereka bergegas guna menyampaikan pesan Areya pada pangeran Lordias.
Areya sendiri mafhum akan hal ini , karena memang tidak sembarang orang bisa masuk ke istana, bahkan mereka yang memiliki undangan pun harus diperiksa dengan ketat sebab mencegah jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti penyusup yang menyamar, mungkin.
Lordias yang baru saja selesai membaca laporan terkahir terkait pembahasan yang dibicarakan saat rapat pagi tadi. dia juga sudah mendengar jika hadiah yang ia kirim telah sampai dan diterima oleh Ranhy.
Lordias tersenyum, sebentar lagi pasti Ranhy akan datang kemari dengan perangai yang telah kembali akibat merasa dirinya begitu istimewa mendapatkan perhatian yang begitu besar dari Lordias, lalu semua akan kembali seperti semula, permainan konyolnya akan segera berakhir
Suara ketukan pada pintu berhasil menarik atensi Lordias, tampak seorang penjaga berdiri tegak kemudian membungkuk memberi hormat pada Lordias.
"Salam Yang Mulia," ucap seorang penjaga
" yang mulia, diluar ada Lady Ranhy yang ingin bertemu dengan anda." Lanjutnya
Lordias menyeringai, lalu menyatukan kedua tangan di atas meja,
"Biarkan dia masuk." Ujarnya.
Lihat, umpan yang dia berikan benar-benar berhasil menarik ikan yang ia jarah, bahkan ini belum lewat sehari dari dirinya mengirim hadiah dan Ranhy sudah datang ke hadapannya? Sudah tidak tertarik katanya? Omong kosong, buktinya dia masih datang kemari setelah mendapatkan hadiah, pasti untuk berterimakasih dan bersikap manja seperti sebelumnya, Ranhy Seagyr, kau tidak akan bisa membuang perasaanmu, jadi sudahi saja trik kotor mu ini.
Tak lama Pintu ruang kerja Lordias kembali di ketuk. Sontak saja Lordias langsung menegangkan tubuh lalu memberi izin agar sosok yang ada di luar masuk ke dalam,
Pintu terbuka menampilkan sosok Areya dengan gaun kuningnya, Lordias kembali menyeringai kecil. Menyadari keberhasilan nya. Sedang Areya masih dengan ekspresi wajah tenang melangkah mendekati sang pangeran.
"Salam, yang mulia.." Sapa Areya seraya memberi hormat ala bangsawan.
Kening Lordias membentuk lipatan kecil. Apa ini? Kenapa ekspresi wajah dan tingkah Ranhy masih sama?
"Ya, ada perlu apa hingga lady sampai datang jauh-jauh menemui ku?" Tanya Lordias, berusaha menghilangkan pikiran aneh dalam benak, mungkin saja Ranhy masih berakting.
"Ini tentang hadiah yang anda kirim pagi tadi ke mansion kami-"
"Tidak perlu berterimakasih, kau sudah dengar bukan? Aku mengirimnya sebagai bentuk permintaan maaf atas insiden pesta minum teh adikku, tidak ada maksud lain." Pungkas Lordias bahkan sebelum memotong ucapan Areya
Areya menghela napas, menahan diri agar tidak melontarkan umpatan tepat didepan wajah rupawan itu, sungguh dirinya sudah kesal dengan sikap percaya diri sang pangeran yang amat sangat menyebalkan .
Areya terkekeh pelan, sontak Lordias langsung menatapnya
"Sepertinya anda sudah salah paham, Pangeran. Tujuan saya kenari bukan untuk berterimakasih apa lagi merasa terharu dengan hadiah yang anda kirim, justru saya kemari ingin mengembalikan seluruh hadiah yang anda berikan." Ucap Areya dengan datar.
Mata Lordias melebar lantaran terkejut dengan penuturan tersebut, bahkan dia mencoba meyakinkan diri jika pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Apa ini? Bukan ini yang Lordias inginkan, bukan sikap seperti ini yang ingin Lordias lihat dari Ranhy.
" Saya sungguh sangat berterimakasih karena anda mau berbaik hati dengan mengirim hadiah sebagai permintaan
maaf, saya hargai itu."
Areya rasa ingin tertawa melihat wajah konyol pangeran Lordias yang masih tertegun bisu menatapnya,
"Namun, saya juga tidak bisa menerima semua hadiah itu, toh saya juga sudah melupakan dengan insiden kemarin. Jadi anda tidak perlu repot seperti ini, dibandingkan memberi hadiah yang banyak dan mahal untuk saya, akan lebih baik jika anda memberikannya pada rakyat anda yang lebih membutuhkan, itu juga bisa membantu anda mendapatkan dukungan dalam pemilihan putra mahkota nantinya." Jelas Areya.
Apa apaan ini kenapa jadi seperti ini, jujur ini melukai harga diri Lordias, dia sudah membuang seluruh ego hanya untuk mengirimkan hadiah untuk Ranhy, tapi apa yang justru dia dapat? Alih-alih ucapan terimakasih, justru sang gadis malah mengembalikan seluruh hadiahnya.
Tangannya terkepal erat, "Kenapa? Apa hadiah yang aku berikan tidak cukup layak untuk kau terima atau ini masih kurang Lady?" Lordias berusaha untuk tetap tenang meski rasa kecewa menghakiminya.
"Jika anda bertanya ini cukup atau tidak layak atau tidak , ini semua jauh lebih dari layak, tapi bukan itu masalahnya, Yang mulia, tapi saya hanya tidak ingin berhutang apapun pada anda."
Lordias tersenyum getir, hadiah yang ia berikan dianggap sebagai hutang? Dulu dengan lantang Lordias meminta Ranhy untuk menjauhinya. Namun kenapa perubahan itu menggangu nya? Kenapa ia ingin ranhy kembali mengejar dirinya seperti dulu, menatap dengan binar mata penuh cinta dan mendamba, seolah tidak ada yang lain selain dirinya yang Ranhy inginkan. Dia ingin Ranhy kembali menginginkan dirinya kembali .
Areya tersenyum tipis melihat raut kecewa yang amat jelas tercetak di wajah Lordias. Bagaimana rasanya ditolak? Sakit bukan? Ini bahkan belum ada apa apanya di bandingkan dengan apa yang Ranhy terima selama ini.
Melihat Lordias yang tampak diam dan tak ada lagi yang perlu dibahas Areya putuskan untuk undur diri.
"Maaf jika ini menyinggung yang mulia, sekali lagi saya ucapkan terima atau perhatian nya, semua barangnya pasti sudah di turunkan oleh para penjaga, kalau begitu saya pamit, Yang mulia."
Areya membungkuk memberi salam, lalu kemudian berbalik dan keluar dari dalam ruangan Lordias . Meninggalkan Lordias ditengah keterdiamanya.
Melihat kepergian Areya, Lordias melempar sebuah gelas yang ada di samping lembar perlemen, hingga menimbulkan bunyi nyaring lantaran hancur menghantam lantai dengan keras.
"Bukan ini yang aku mau." Gumam Lordias gamang.
Dari awal agaknya, Pangeran Lordias sendiri lah yang terlalu cepat mengambil kesimpulan, merasa bahwa dirinya bisa dengan mudah menarik kembali sosok Ranhy dengan hadiahnya. Tapi ia lupa Ranhy yang sekarang bukan Ranhy yang dulu, Yang dengan mudah terbuai dengan Lordias .
Ranhy sekarang adalah Areya sosok keras si peran antagonis yang sesungguhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
𝕭'𝐒𝐧𝐨𝐰 ❄
anda terlalu sombong
2025-03-02
0
Frando Wijaya
HA! INILAH YG BUAT LO IDIOT!
2024-09-01
0
Cty Badria
semangat up ya sabei cote1
2024-07-21
3