Entah emang sudah takdir atau apa, pagi ini sudah terjadi kekacauan. Areya melihat beberapa pelayan tengah mengerubungi sesuatu yang entah apa itu,
"Apa yang sedang kalian lakukan?!" intonasi yang diujarkan Areya terlihat tenang namun tegas.
Mendengar suara Areya sontak para pelayan yang tadinya berkumpul langsung berbaris rapi dengan kepala tertunduk. Areya melihat Tyrese yang terduduk di atas lantai kotor dengan baju sedikit robek. Begitu juga wajah pucat nya, ia kegelisahan tak bisa disembunyikan.
"Bangun," titah Areya seraya mengulurkan tangan.
"Maaf, Kak aku tak sengaja, sungguh!" dengan mata berkaca-kaca, Tyrese mengangkat kepala nya bibirnya bergetar.
"Bangun," Areya kembali berucap.
Melihat Keadaan Tyrese sekarang tidak sedikitpun membuat hatinya bersimpati. Lantaran tak ada semua sudah terlihat bahkan diawal cerita. Ini palsu .
Setelah beberapa saat, akhirnya Tyrese menyambut uluran tangan Areya. Kepalanya tertunduk seakan bersiap untuk menerima luapan amarah.
Tentu saja bukan tanpa alasan mengapa kekacauan ini terjadi, karena malam nanti akan ada pesta ulang tahun Pangeran Lordias dan itu tinggal beberapa jam lagi. Jika yang ada dihadapan mereka saat ini adalah Ranhy mungkin semua sudah habis dimakinya karena menggangu acara bersiap nya.
"Ada apa sebenarnya?" Tanya Areya dengan sikap tenang
"Ka-kami melihat poci pemberian pangeran Lordias dipecahkan oleh Nona Tyrese, nona." salah satu pelayan menjawab.
Areya tersenyum miris mendengar nya, poci itu bukan pemberian melainkan Ranhy sendiri yang memaksa membawanya pulang sehabis jamuan minum teh bersama. Sebegitu putus asanya Ranhy menginginkan hadiah dari pangeran. Terlalu menjijikkan untuk kisah cinta.
"Aku benar-benar tidak sengaja, Kak!" Suara Tyrese bergetar berusaha membela diri.
Areya benar-benar tak perduli baik itu Sengaja maupun tidak. Semua yang ada disini kelak akan terlihat busuknya.
"Kalau pecah, yasudah. Nanti beli lagi saja yang baru," ucap Areya dengan santai.
Sontak para pelayan melogo bagaimana bisa Ranhy membiarkan barang pemberian pangeran yang sangat ia cintai dirusak begitu saja. Menyentuh saja sudah dimaki tapi kini apa yang mereka dengar tidak salah kan?
"Ta-tapi nona bar.."
"Sudah, tak apa," potong Areya,
" Ah iya, Tyrese bukankah kau ingin pergi ke istana?"
Tyrese yang ditanya lantas menatap Areya lalu kemudian mengangguk
"Jika begitu, kau boleh pergi ke istana untuk menghadiri pesta pangeran Lordias" ucap Areya
Mata Tyrese membola sempurna, ini sangat tidak mungkin bagaimana Ranhy bisa membiarkan ia pergi.
"Aku diizinkan pergi ke Istana? Menghadiri pesta?!, " tanya Tyrese mencoba untuk memastikan. Ini sangat tidak bisa di percaya.
Alis Areya terangkat, "Ya, apa kau tidak mau?"
"Tentu! Tentu Aku Mau, Kak!" Tyrese menjawab dengan cepat karena kegirangan. Bagaimana tidak, ini adalah kali pertamanya berkesempatan menginjakkan kaki di Istana dan menghadiri pesta anggota kerajaan.
"Kalau begitu mulai bersiap, kalian bantu Tyrese untuk bersiap untuk pergi ke Istana," titahnya sembari mengisyaratkan gesy untuk memberikan bungkusan berisi gaun dan aksesoris lainnya yang memang telah ia disiapkan.
Tepat saat ia ke pusat kota Minggu lalu bersama Duke Napios ia teringat akan bagian ini dimana Tyrese ajak ke istana oleh Harist lantaran tidak dibiarkan pergi.
Sebagai antisipasi Areya sengaja memisahkan diri dari Duke Napios yang tampak entah kenapa seperti menempel padanya. Jujur itu sangat membuatnya kesal bukan main.
Setelah itu Areya pergi meninggalkan Tyrese yang tersenyum lebar dengan beberapa pelayan yang akan meriasnya.
"Ternyata kau tak seburuk yang orang-orang katakan,"
Areya berhenti untuk melihat lawan bicara yang sedari tadi bersembunyi dan memperhatikan.
"Oh anda kesini tuan muda ?" tanya Areya walaupun sudah mengetahui maksud kedatangannya. Harist mengendikkan bahu lalu berjalan mendekati Areya
"Hanya ingin mengajakmu pergi bersama ke Istana,"
Pakaian yang dikenakan Harist sangat mewah. Dengan warna maroon mendominasi dengan bros berbentuk segitiga yang tertempel di dada, rambut Hitam nya di tata sebaik mungkin hingga menampakkan kening, aura seksi menguar tanpa permisi. Sudah jadi ciri khas seorang tuan muda Marquis untuk memikat para lady muda.
"Maaf saja tuan muda ,Harist. tapi malam ini Tyrese lah yang akan pergi," ujar Areya dengan santai.
Pangeran belum tahu mengenai Tyrese karena keberadaannya yang selalu ditutupi oleh sang ibunda.
Harist mengerutkan dahi
"Kenapa begitu? Bukankah biasanya kau paling bersemangat jika pergi ke Istana"
"Hanya sedang tidak ingin saja," ujar Areya acuh tak acuh.
"Kau yakin ini adalah acaranya pangeran Lordias lho? Yakin tak ingin pergi?" Goda Harist
Areya memutar matanya malas kenapa pula Harist malah bersikap seperti ini padahal selalu ketus padanya.
Lagi pula Areya sudah sedikit mengubah jalan ceritanya jika di novel Harist yang membawa Tyrese lalu menjadi temeng untuk nya, kini Areya cukup diam dan menikmati hidupnya saja.
Seperti cerita klasik di dongeng begitu sampai di istana semua orang akan terpesona akan kecantikannya termasuk Duke dan Pangeran
"Yasudah kalau begitu aku pergi sendiri. Jangan menyesal kalau pangeran Lordias direbut orang lain" Harist masih menggoda,
Areya tersenyum tipis. Ia berjalan mendekati Harist sampai jarak mereka tersisa beberapa Senti saja.
"Jika pangeran diambil orang lain, maka aku akan menikahi mu saja" goda Areya menatap nakal Harist.
Harist mematung, ia seperti sedang kena serangan jantung mendadak, dadanya bergemuruh hingga pipinya memerah.
"Anda akan terlambat jika seperti itu saja tuan muda"
suara Areya menarik kembali kesadarannya, tanpa kata ia pergi meninggalkan Areya begitu saja seolah melupakan sopan santun seorang bangsawan.
Areya tertawa melihat salah tingkah Harist cukup lucu. Ia kembali menyesap teh disela kegiatan membacanya. Setelah memastikan Tyrese pergi dari balik jendela, bersantai sebelum tidur menjadi kewajiban. Sudah menjadi kewajiban untukmu untuk memastikan suatu berkas sebelum tidur agar ia tenang saat deadline nanti.
"Nona," terdengar suara gesy dari balik pintu.
"Masuk saja gesy" jawab Areya seraya menata buku yang telah ia baca.
" Maaf nona, tapi Ada tamu,"
Areya mengerutkan kening. Bertamu saat malam dianggap tidak sopan, apalagi jika tak ada janji atau undangan berkunjung.
"Duke?" Mata bulat Areya melebar melihat sosok yang ada di blakang gesy.
"Bukankah seharusnya Duke ada di Istana?"
"Anak buahku mengatakan jika kau tidak datang," balas Napios tenang.
Areya mengerutkan keningnya. Apa hubungannya antara kedatangannya dengan anak buah sang Duke?
"Ya, karena Tyrese yang pergi. undangannya juga hanya ada satu dan saya memberikan nya untuk Tyrese, bukankah ia berhak untuk bersenang-senang?" ujar Areya yang salah fokus melihat penampilan Duke Napios yang begitu tampan juga gagah hanya dengan setelan formal; jas hitam dengan dalaman rompi biru tua beserta aksesoris kebangsawanan yang mencolok di dadanya. Sangat tampan.
"Jika begitu Kau bisa pergi denganku," ajak sang Duke .
"Maaf?" Apa ia tidak salah dengar? Duke Napios
'MENGAJAK INGAT MENGAJAK PERGI BERSAMA !!!'
Itu tidak penting, tapi mengapa tiba-tiba? sebenarnya Napios menaruh mata mata untuk mengawasi setiap tindakan Ranhy terhadap Tyrese bukan karena apa hanya melihat apakah sang nona hanya berpura pura atau tidak.
Ia banyak mendengar tentang sikap buruk Ranhy dari orang orang namun setelah mendengar cerita tentang perilaku Ranhy dari orang suruhannya semua berbanding terbalik Ranhy memperlakukan Tyrese cukup baik ia juga tidak seburuk yang diberitakan oleh orang orang, lantas mengapa ia bisa di cap seburuk itu? Praduga buruk yang ia terapkan untuk sang nona muda itu kini menjadi rasa bersalah yang membuat nya sedikit malu untuk mengakui kalo insting nya sangat salah.
Areya yang masih melongo itu semakin tercengang dengan ucapan sang Duke
"Aku tinggal mengatakan bahwa kau adalah pasanganku malam ini," ucap sang Duke dengan santainya.
"HAH?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Ni Ketut Patmiari
hah? siapa elo? hehehe
2024-10-03
0