Happy reading all
jangan lupa vote and komen ya 😄
Pagi ini Areya bersiap untuk keluar, sebab mendapatkan sebuah ajakan untuk sarapan bersama di luar mansion dari sang Ibunda. Iyalah sang ibu memang dari siapa lagi, pangeran Lordias? Mungkin saat itu juga Areya akan pura pura jatuh sakit , ia takkan Sudi duduk satu meja dengan pangeran narsis itu. Ingat Areya masih memiliki dendam dengan perilaku Lordias.
Namun Areya sendiri tahu pasti ada alasan kenapa mendadak sang ibunda ingin makan bersama di luar, karena di saat dalam mansion saja mereka jarang sarapan bersama. Pasti ada yang ingin disampaikan tapi tidak ingin satu pun orang mansion tahu. Seperti pepatah bahkan tembok pun memiliki telinga.
Restoran mewah dengan gaya elegan menjadi tempat sarapan mereka pagi ini. Areya yakin tempat ini pasti terkenal bukan hanya suasananya tapi letaknya yang juga sangat strategis. Mereka duduk saling berhadapan di dekat jendela yang terbuka dengan dihiasi sedikit sinar pagi yang hangat. Tampaknya cuaca sedang bersahabat.
Selera Denas sangat bagus tak heran kenapa bisnisnya dapat sukses dan berkembang pesat, selain itu keluarga Seagyr juga cukup terkenal lantaran masuk ke dalam jajaran bangsawan yang memiliki kekayaan yang melimpah serta bisnis yang selalu sukses.
Buah tak jatuh dari pohonnya, Orang-orang bilang, bahkan pasir pun bisa menjadi uang bila sudah keluarga Seagyr yang mengelolanya.
"Ibu dengar kau mengembalikan hadiah pemberian pangeran Lordias", Denas mengawali pembicaraan setelah hidangan utama selesai di santap, iris mata menyorot sang anak yang tampak santai meminum tehnya.
"Kenapa? Apa kau sudah tidak tertarik lagi dengan pangeran Lordias?"
Tidak heran bila semua orang keheranan dengan sikap Ranhy yang mendadak jadi kehilangan minat pada pangeran Lordias, sebab semua orang tahu bagaimana gilanya sosok Ranhy pada sang pangeran hingga membuang seluruh harga diri dan rasa malunya. Cih memalukan.
Denas sendiri bukan tipe orang tua yang akan ikut campur urusan asmara sang anak, lantaran dia sendiri amat sangat tahu bagaimana rasanya harus kehilangan orang yang dia cintai dan dipaksa untuk menikah dengan orang lain oleh orangtuanya. Jadi, ketika sang putri mendeklarasikan diri bahwa dia mencintai sang pangeran, maka sebagai orang tua sebisa mungkin dirinya membantu sang anak agar bisa dekat dengan sang pujaan hati.
Denas memang sangat membenci pemikahannya dengan mendiang sang suami dulu, namun ia tidak bisa membenci anak yang lahir dari rahimnya ini. Bahkan ia begitu menyayangi Ranhy hingga apapun keinginan Ranhy akan selalu ia penuhi meskipun akan sedikit menentang dengan prinsipnya.
Areya meletakkan gelas tehnya setelah dirasa sudah kosong
"Ya, bisa dibilang seperti itu, aku hanya
berpikir, bukankah selama ini aku hanya membuang-buang waktu dengan mengejar sesuatu yang belum pasti menjadi milikku? Lagi pula aku memiliki segalanya dan yang paling penting aku terlalu berharga hanya untuk menjadi badut penghibur. Terlalu sia sia jika hanya mengejar satu orang saja." Ucap Areya dengan alisnya yang naik satu
Oh, kemana saja dirinya selama ini? Apa benar ini adalah sosok sang putri yang selalu bersembunyi dibalik tubuhnya dan mengancam orang lain menggunakan namanya?. Dirinya tak menyangka jika sang putri kini sudah tumbuh dewasa dan hei sejak kapan sang anak terlihat begitu cantik serta elegan seperti ini? Bahkan sikap sombong namun dibalut dengan elegan dari mana ia belajar?
Denas terkekeh kecil karena ucap congkak itu " wah benarkah ini putri ku ? Terasa berbeda namun pertahanan sikap itu , ibunda suka"
"Ibunda tidak marah?"
"Marah? Kenapa? Karena Kau gagal menjadi pendamping pangeran Lordias ? Cih itu tak akan membuat kita jatuh miskin, jangan khawatir, kekayaan keluarga kita bisa untuk anak cucumu kelak. Harta kita berlimpah kau tahu itu"
Kalimat itu sukses mengundang gelak tawa keduanya. Sepertinya selama ini dirinya terlalu mengabaikan sang putri dan sibuk dengan kehidupannya sendiri, hingga tidak terlalu mengikuti setiap perkembangan yang dilalui anaknya itu. Tapi mulai detik ini dirinya berjanji akan lebih memperhatikan sang anak lebih baik lagi agar kelak tak ada hal yang perlu ada disesali.
Tawa mereka berhenti, hanya tersenyum namun tiba-tiba dirinya teringat sesuatu , sorot bahagia itu berganti dengan raut serius dan sedikit kesal,
"Ibunda dengar, kalo kau mengizinkan anak kotor itu mengadakan pesta minum teh di halaman mansion, cih , kenapa kau memberinya izin? Bagaimana jika dia membuat masalah?" Ucap Denas dengan sorot kesalnya.
Areya menyeringai kecil, "Ibu, tahu kadang cara terbaik untuk menyerang musuh bukan dengan secara langsung menunjukkan kebencian, namun kita juga harus bisa berkamuflase mengikuti setiap permainan yang sedang ia tunjukkan," Ujar Areya dengan sudut bibirnya yang terangkat.
" maksudmu?"
"Maksudku, ibu jangan khawatir, sesekali kita harus membiarkan Tyrese melakukan apapun yang dia inginkan,"
Denas berdecak tak suka. Memang, alasan kenapa dia memutuskan menikah dengan Kaiyl lantaran masih ada cinta di hatinya, namun semakin kesini hubungan mereka tampak tak begitu baik, tak seperti awal-awal pernikahan.
Sejak awal memang Denas tak pemah menerima keberadaan Tyrese, karena anak itu hanya mengingatkan Denas akan senyum menghina ibu kandung Tyrese akan kemenangan dirinya yang berhasil menikah dengan Kaiyl saat itu, itulah kenapa dia selalu menempatkan Tyrese jauh dari padangan mata. Lagi pula wajah anak itu tampak seperti serigala berbulu domba.
"Keluarga kita adalah keluarga yang terpandang, Ran, jangan sampai ada masalah yang membuat nama keluarga kita kembali jelek di mata bangsawan lain, kau mengerti bukan?"
"Tanpa ibunda beritahu aku pun sudah mengerti, ibunda tenang saja biar ini menjadi urusan putri ibu yang cantik ini saja" ucap Areya dengan senyum lembut.
' Karena aku punya cara sendiri untuk membalas apa yang ia tabur' batin Areya menyeringai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Frando Wijaya
cih 😒💢....putri lo udh mati lama dsr jlng tua sialan!....kmna aja lo Selamat ini....HA!!!!?
2024-09-01
0