Kereta kuda yang membawa Areya berhenti tepat di halaman istana putri Ziyis, pesta minum teh diadakan di kebun bunga yang letaknya tak begitu jauh dari istana putri. Areya turun dari kereta setelah sang kusir membukakan pintu untuknya.
"Terimakasih" Ujar Areya kepada sang kusir.
Sang kusir agaknya masih belum terbiasa dengan perubahan sikap sang nona muda. sebab biasanya sang gadis akan mengomel jika ia terlambat membukakan pintu atau mungkin akan pergi begitu saja tanpa mengucapkan terimakasih. Yah, mungkin saja sang nona telah mendapatkan berkah dari dewa hingga sikapnya kini tak lagi membuat sakit kepala.
Areya datang sendiri, Jika kalian bertanya mengapa ia tidak pergi bersama Tyrese? Ia sengaja menyuruh Gesy pergi bersama Tyrese yang sangat bersemangat untuk menghadiri jamuan pesta minum teh sang putri hingga tak sabar dan memilih untuk berangkat lebih dulu. Tidak apa-apa, toh itu yang memang Areya inginkan, karena dia tak akan sudi duduk dalam satu kereta kuda dengan wanita berbisa itu.
"Oh lihat, bukankah ini lady Ranhy yang terkenal itu?"
Ucapan sinis itu berhasil menarik atensi Areya, dia menoleh guna melihat mulut sampah siapa yang tengah berbicara.
Setelah melihat orang dan lambang yang ada di kereta kuda, Areya tersenyum sinis, ternyata hanya seorang putri dari Viscount tapi berani sekali berbicara lancang seperti itu padanya, itulah kenapa pendidikan etika sangat penting di usia muda. Terlebih melihat derajat siapa yang lebih tinggi.
Sudut bibirnya terangkat, Areya mengingat betul siapa yang dihadapannya ini. Dari postur tubuh, pakaian, aksesoris, serta warna rambut, sudah jelas gadis ini lah yang menjadi alasan utama para lady suka mengganggu Ranhy yang membuatnya kerap kali lepas kendali hingga mengamuk dengan brutal.
Cih, dari penampilannya saja sudah mencerminkan sifat kemunafikan yang sesungguhnya.
"Wah, benarkah itu lady?, tak ku sangka kau juga mencari tahu tentang ku ya, Lady Nanaj ". Ujar Areya dengan senyum yang tampak menyebalkan di mata Lady yang bernama Anita itu. Lady yang kerap kali menyudutkan Ranhy karena rasa iri.
Nanaj mendengus mendengar itu, perangai boleh saja berubah tapi sekali memiliki cap buruk maka selamanya akan dipandang buruk, dia yakin bahwa Ranhy yang ada di depan nya ini hanya sedang berpura-pura menjadi seorang bangsawan yang terhormat.
Lihat saja, saat dia memancing amarahnya, pastilah topeng yang menutupi wajah akan terbuka dan seperti biasa si badut akan akan mengacau membuat semua orang kesal dengannya.
"Semoga saja kali ini anda tidak akan mengacau ya, nona Ranhy." Ujar Nanaj dengan senyum culas seraya menutup sebagian wajah menggunakan kipas yang sejak tadi menjadi hiasan tangan. Lalu pergi begitu saja meninggalkan Areya yang masih tersenyum sinis.
Pantas saja Ranhy begitu kesal dengannya mendengar suara nya sudah membuat Areya ingin merobek mulutnya. Lihat saja sampai mana wajah congkak itu bertahan.
Dalam novel dijelaskan bahwa Lady Nanaj mati bunuh diri lantaran depresi ketahuan menjadi simpanan pria bangsawan yang telah beristri, skandalnya menjadi perbincangan panas hingga membuatnya dikucilkan oleh seluruh negri. Padahal dia salah satu Lady yang memiliki paras yang cantik, bisa saja dia memilih bujang manapun yang la mau, tapi justru terjebak menjadi simpanan, benar-benar miris sekali.
Meskipun tahu akan semua itu, Sayang sekali Areya tak ada sedikitpun niat untuk membantu, lagi pula melihat tingkah congkak nya, Areya pikir dia pantas mendapatkan hal itu, anggap saja itu hukum karma atas semua perbuatannya terhadap Ranhy.
Yang awalnya semua orang tertawa saling melempar candaan, namun seketika sunyi kala Areya tiba. Suasana mendadak hening bahkan ada yang membuang muka Areya sendiri acuh toh mereka juga tidak penting.
" Ah Kak, maaf karena aku pergi lebih dulu dan tidak menunggumu, maafkan aku."
Lihatlah bahkan ia belum duduk dan sudah ada menyerangnya lebih dulu? Wah, lihat, betapa serigala ini begitu apik memainkan peran agar terlihat seperti domba yang malang.
Areya mengulas senyum tipis,
"Tidak masalah, lagipula memang aku kan yang memintamu untuk berangkat lebih dulu."
Terlihat Tyrese meremas gaunnya yang tersembunyi dibalik meja. Cih dia pikir bisa mempermalukan nya dengan omong kosong nya itu.
Putri Ziyis si pemilik acara lantas langsung mempersilahkan Areya untuk duduk. Ada beberapa penjaga yang berdiri di sampingnya, bersiaga bilamana terjadi kekacauan yang tidak bisa dihindari. Jujur saja, ia benar benar enggan mengundang Ranhy karena sudah pasti akan mengacau. Akan tetapi jika karena paksaan sang ibunda ratu lah, ia mengundang Ranhy untuk hadir hari ini.
Acara pesta minum teh itu dimulai tatkala semua tamu undangan telah hadir.
"Gaun putri sangat cantik." Celetuk Tyrese memuji gaun yang Ziyis pakai, Areya melirik sekilas lewat ekor mata lantas menyesap teh hangat yang tersedia di atas meja.
Mendengar pujian yang terlontar, sang empu tersenyum,
"Terimakasih lady, kakak kulah yang memberikan gaun ini saat acara ulang tahunku." Jawab Ziyis dengan mata berbinar.
Di seluruh kerajaan ini, tidak ada yang tidak tahu bagaimana sayangnya pangeran Lordias pada sang adik, keduanya memiliki visual bak dewa dan dewi yang diberkati membuat semua orang terus saja memuji.
Di dalam novel, hidup sang putri di gambarkan sebagai seorang yang sangat beruntung sebab menikah dengan Duke wilayah sebrang yang bijaksana dan tampan, satu bulan setelah upacara kedewasaannya. Namun sayang hingga usia pernikahan beranjak 5 tahun, sang putri tak kunjung mengandung.
"Lady Tyrese, saya dengar anda tinggal di paviliun yang berada jauh dari rumah utama, benar begitu, Lady?" Tanya seorang ya siapa lagi jika bukan si ular Nanaj.
Tyrese yang tiba-tiba mendapatkan pertanyaan seperti itu menunduk memasang wajah sedih lantas mengangguk pelan sebelum menjawab,
"Benar, saya tinggal di paviliun yang berada di belakang rumah utama."
Lihatlah para ular ini sudah mulai, Areya sendiri masih diam, tak bereaksi apapun. Hanya meminum tehnya pelan . Jika itu adalah Ranhy, ia pasti sudah naik pitam hingga mencakar wajah Tyrese dan Nanaj saat itu juga.
"Oh ya? Kenapa seperti itu? Lady Ranhy, apa anda juga tahu hal ini? Kenapa anda begitu tega?" Ucap salah satu lady yang duduk di sebrang Nanaj
Semua orang menatap Areya, sedikit penasaran dengan reaksi apa yang akan ia lakukan, sebab biasanya dia akan langsung mengamuk mendengar ia disalahkan tanpa alasan yang jelas.
Namun, betapa terkejutnya mereka tatkala melihat bagaimana sang gadis yang begitu begitu tenang.
"Wah sepertinya anda begitu tertarik dengan kehidupan keluarga kami ya lady, Tyrese kau tak ingin menjelaskan?, ya baiklah biar saya saja yang menjelaskan semua nya, memang benar Tyrese tinggal di paviliun yang cukup jauh dari mansion, namun itu murni karena keinginannya sendiri. Tanya saja kalau tidak percaya, lagipula paviliun itu sangat bagus dan memiliki interior serta fasilitas yang lengkap"
"Toh selama ini pun ia dilayani dengan baik. Tinggal terpisah dari rumah utama, bukan berarti bentuk dari sebuah diskriminasikan? Lagi pula ia yang meminta." Jawab Areya dengan kembali menyesap teh dengan gerakan perlahan.
Tyrese dan Nanaj menatap Areya sekilas lantas mengepalkan tangan dengan kuat di bawah sana. Anggapan bahwa mungkin saja bisa menjatuhkan harga diri Ranhy dengan menyebarkan cerita kemalangan yang ia punya, justru kini seluruh rencananya gagal. Ia tidak menyangka, bahwa Ranhy yang dulu terlihat begitu bodoh, kini jauh lebih pintar dan mudah sekali memutar balikkan fakta.
Areya berdehem pelan lalu kembali berbicara
"Kudengar belakangan ini ada Lady yang kerap kali memamerkan barang-barang mewah yang bahkan sulit untuk dibeli oleh bangsawan kelas atas, dan yang lebih parahnya lagi dikabarkan kalau semua barang itu diberikan oleh seorang bangsawan kaya raya yang sudah beristri?" Ucap Areya dengan mata yang senantiasa menatap tepat didepan Nanaj yang duduk disampingnya.
Manik mata Nanaj melebar sempurna setelah mendengar ucapan Areya. Melihat reaksi itu, Areya tersenyum seraya berpura-pura terkejut dan menutup mulutnya dengan sebelah tangan,
"Oh! Bukankah itu akan menjadi skandal yang besar?!"
"Tutup mulutmu Lady Ranhy!" Teriak Nanaj sambil berdiri
"Hey! Kenapa anda begitu marah Lady Nanaj, Santai saja Kita sedang tidak membicarakan anda"
" Atau jangan jangan itu adal-" ucap Areya yang pura pura terkejut
" Tidak! Ak-ku han-ya"
" Anda gugup Lady? Wajah anda memerah? Seperti maling yang tertangkap lalu mencari alasan untuk lepas"
Semua sontak menatap Nanaj bahkan sudah ada yang bergosip tepat di hadapannya. Wajah Nanaj memerah menahan malu akan tingkahnya. Tangan nya meremas kuat gaun yang dia gunakan. Kepalanya menunduk menetralkan sorot amarah yang tersembunyi.
Areya yang berada disampingnya lantas mengikis jarak antara dirinya dengan Nanaj, manik mata rubah miliknya menyorot Nanaj dengan intens,
"Dengarkan aku Lady, aku hanya menyamarkan dirimu hari ini, tapi jika kau berulah, mau tidak mau skandal tentang dirimu yang menjadi simpanan pria beristri itu akan tersebar di ibu kota, maka tutup mulutmu dan jangan sampai memancing ku untuk melakukan sesuatu yang akan sangat kau sesali, kau mengerti?" Bisik Areya tepat di telinga Nanaj yang menyoroti dirinya dengan kebencian. Namun apa Areya peduli? tentu saja tidak!.
" Lady kiranya siapa sosok itu?" Ucap seorang lady
" Entahlah saya hanya mendengar berita itu sekilas saja" ucap Areya dengan mata yang masih menatap Nanaj.
Melihat suasana yang tampaknya menjadi sedikit aneh, Ziyis lantas mengambil peran untuk mencarikan suasana dengan kembali meminta pelayan untuk mengisi gelas para Lady yang telah kosong.
Namun entah sengaja atau tidak, tiba-tiba seorang pelayan menyiram teko berisi teh panas pada pakaian Areya hingga membuat gadis itu berdiri lantaran terkejut akibat rasa panas pada punggung tangan serta tubuh yang terbungkus sarung tangan.
Sontak semua tampak terkejut
"Lady, anda baik-baik saja?" Ucap seorang lady yang berada di kirinya tampak terkejutnya dengan tindakan pelayan tadi, sudah jelas ini disengaja, mereka itu kenapa suka sekali membuat lady Ranhy marah. Jujur ia juga sedikit tidak suka dengan tindakan mereka, namun apa daya ia hanya bangsawan kelas menengah.
Si pelayan langsung bersujud meminta maaf,
"Ma-maafkan saya nona, saya bersalah, sungguh saya tidak sengaja melakukannya.."
Sial! Areya dapat merasakan punggung tangan seolah terbakar, air teh yang tumpah itu sangat panas. Brengsek!!
"Tenang lah , Aku baik-baik saja." Ujar Areya berusaha tenang meski rasa perih menjalar pada punggung tangan,
"Maaf putri, bolehkah saya izin menggunakan kamar mandi untuk membasuh diri?"
Demi dewa!!, semua orang yang ada di sana tampak terkejut sebab tak mengira jika sang Lady masih bisa bersikap tenang setelah disiram teh panas, bahkan Ziyis sendiri pun menolak untuk percaya.
"Oh... Emm.. lya, silahkan." Ziyis bahkan sampai kikuk dibuatnya.
Tak peduli dengan pelayan yang masih bersujud dibawah kaki, Areya lantas pergi guna membasuh diri sebelum lukanya menjadi infeksi. Areya tahu ini pasti sudah direncanakan, pasti ada dari mereka yang menyuap pelayan istana guna melakukan hal rendah semacam ini.
Tujuannya? Sudah jelas, mereka ingin melihat Ranhy mengamuk lalu diusir dengan tidak terhormat oleh putri. Cih, benar-benar trik murahan!. Cih siapa sebenarnya yang menjadi antagonis Jika begini?.
Areya berjalan cepat sebab sudah tak tahan dengan rasa perih yang membungkus punggung tangan, dia bahkan membuang asal sarung tangan nya , mata menatap tak fokus serta dalam hati merutuki istana sang putri yang terlalu luas hingga membuat Areya kesulitan mencari kamar mandi.
Lantaran tak melihat jalan dengan benar, saat dirinya hendak berbelok, Areya tanpa sengaja bertabrakan dengan seseorang yang berasal dari arah berlawanan. Areya jatuh terduduk dengan kening yang terasa sakit, sepertinya ia menabrak sesuatu yang keras.
"Kau baik-baik saja?"
Areya mendongak lalu mendengus kasar, dari sekian banyak orang yang ia temui di istana ini, mengapa harus sosok ini yang muncul di hadapannya?!
Memang benar hari sial tidak dapat diprediksi lihatlah setelah tersiram air panas sekarang dirinya harus menghadapi manusia setengah iblis ini.
'Menyebalkan! Ini sangat menyebalkan!' Batin Areya berteriak.
Sosok itu, pangeran Lordias yang tadinya hendak melihat jamuan pesta minum teh sang adik juga terkejut melihat sang gadis Marquise Seagyr itu ada disini.
Namun yang menjadi perhatiannya adalah sebagian gaun yang dipakai Areya tampak basah dan punggung tangannya juga tampak memerah. Apa ini? Apakah terjadi sesuatu pada pesta minum teh adiknya?
Sang pangeran mengulurkan tangannya untuk membantu Areya yang terjatuh , alih alih menyambut tangan Lordias Areya berdiri tanpa melihat apalagi menyambut tangan Lordias. membersihkan gaunnya yang sedikit kotor akibat debu yang menempel.
Entah mendapat dorongan dari mana, tiba-tiba saja Lordias melontarkan tanya,
"ada apa dengan baju dan tanganmu, Lady?"
"Seorang pelayan tidak sengaja menumpahkan teh, kebetulan saya berada di sana." Ujar Areya tak minat menjelaskan terlalu jauh, toh barangkali Lordias bertanya bukan karena peduli, tapi hanya sebatas penasaran.
"Yang mulia, apa yang anda lakukan!." Ucap Areya yang sedikit terkejut karena tiba-tiba saja Lordias menarik lengan Areya membawanya entah kemana.
"Diam dan ikut saja."
Apa apaan ini seenak saja. Namun Areya hanya memutar bola matanya, tak mengerti dengan si pangeran yang sok tampan ini. Ia juga terlalu malas untuk berdebat dengan pangeran narsis ini rasa perih ditangan semakin terasa.
Lordias membawa Areya ke ruang kerja miliknya, lalu tanpa basa-basi si pangeran segera mendudukkan Areya di salah satu sofa yang ada di dalam ruangan lalu dia pergi keluar dan mengatakan akan segera kembali.
Retina Areya memindai seluruh isi ruang kerja si pangeran, semua sesuai dengan apa yang digambarkan dalam novel dimana ruangan Lordias terlihat begitu rapi, rak buku disusun sesuai urutan bahkan mejanya bersih dari lembaran-lembaran kertas yang kadang menganggu pandangan. Ya, tidak salah jika karakter Lordias digambarkan sebagai sosok yang perfeksionis serta begitu teliti dan rinci.
Tak berapa lama kemudian, Lordias kembali dengan membawa sebuah baskom berisi air. Tunggu! Seorang pangeran seperti Lordias?! Membawa Baskom berisi air?!Oh, sepertinya ia sedang bermimpi, akan tetapi rasa sakit pada punggung tangannya begitu terasa!.
"Berikan tanganmu," Titah Lordias setelah berhasil meletakkan baskom di atas meja serta duduk di samping Areya yang masih mencerna situasi.
"Tidak perlu Yang mulia , Saya bisa melakukannya sendiri, ." Ujar Areya hendak meraih sebuah kain dari tangan Lordias.
"Aku bilang berikan, jangan membuatku mengulangi kalimat yang sama."
Areya berdecak kesal, apa-apaan ini? Kenapa jadi pemaksa. Tak ingin memperpanjang maka dengan sangat terpaksa, Areya membiarkan Lordias mengkompres punggung tangannya yang terkena air panas.
Apa Lordias salah makan kenapa dengan sang pangeran yang arogan, yang selalu menatap Ranhy dengan tatapan paling hina di seluruh dunia tiba-tiba saja bersikap baik.
Areya diam-diam tersenyum remeh, membayangkan betapa buruk perlakuan Lordias pada sosok Ranhy, sangat bertolak belakang dengan yang ia lakukan saat ini.
"Saat pulang nanti, kau bisa mengganti perban nya dengan yang lebih baik atau periksa ke dokter jika masih terasa sakit." Ucap Lordias setelah selesai membalut punggung tangan Areya dengan kain.
Ini lucu sekali, hingga Areya ingin tertawa mendengarnya. Pangeran tampak mengkhawatirkannya hanya karena luka bakar yang seberapa tapi begitu acuh saat Ranhy dihukum mati.
"Ya, saya mengerti, kalau begitu saya pamit undur diri dulu, yang mulia" Areya berlalu meninggalkan ruang itu.
Hanya itu?, entah kenapa hati Lordias merasa sedikit kecewa. Dulu, setiap kali mereka bertemu sang gadis akan selalu menatapnya dengan binar mata memuja seolah ia adalah seseorang yang paling berharga dalam hidupnya. Namun kini, tatkala mata mereka bertemu yang ada hanya kehampaan. Apakah Ranhy sungguh telah menyerah akan dirinya?, Dulu dia begitu menginginkan hal ini namun kenapa hati berdenyut sakit saat mata yang selalu memuja nya hilang?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Buke Chika
lebih baik begitu areya jgn sampai terpesona yg berarti akan mengulang cerita ranny
2024-10-20
1
Frando Wijaya
heh 😏....rasain dsr jlng munafik 😈❄️
2024-09-01
0
Frando Wijaya
heh 😏 mandul ternyata 😏😈❄️
2024-09-01
0