Hari ini Areya berencana untuk mengunjungi pasar. Sebenarnya sejak beberapa hari yang lalu dia benar benar ingin tahu tempat yang menjadi sumber bisnis di abad ini.
Lagi pula Areya senang pertemuan dengan Duke Napios berjalan singkat, jadi rencananya untuk jalan-jalan ke pusat kota tidak akan terlalu siang, Suasana juga sangat mendukung tidak terlalu panas.
“nona Ranhy?” panggilan itu membuat Areya Menoleh, ia menemukan Napios tengah berdiri dengan sang pengawal di belakangnya.
"Duke? Anda masih disini?"
Napios mengangguk namun pandangan nya menelisik penampilan Areya siang ini. Pakaian yang dikenakan Areya tampak lebih sederhana daripada saat keduanya bertemu beberapa saat lalu. Bahkan terlihat seperti tanpa riasan Sama sekali dengan gaun biru polos.
" Oh Ya, saya tadi tidak sengaja bertemu dengan tuan Kaiyl lalu berbincang sebentar."
"begitu, ya" timpal Areya singkat.
Melihat sang Duke membuat moodnya menjadi turun. Kesenangannya akan melihat pusat kota hilang begitu saja setelah melihat Napios, jujur saja Napios sosok yang tampan dan cukup berwawasan sang cocok dijadikan sebagai idaman namun melihat karakter Napios terhadap Ranhy membuat rasa kagumnya berubah menjadi kekesalan yang tiada terkira.
Lagi pula tidak baik berekspektasi lebih terhadap seseorang bukan ,kebanyakan dari tampan lelaki hanya memanfaatkan seorang wanita yang rela mati atau mengotori tangan mereka sendiri demi menyingkirkan saingan pujaan hati. Sedang kan mereka tinggal menikmati hasilnya.
"Sepertinya nona Ranhy hendak keluar?" tanya Napios.
Dengan berat hati Areya menjawab.
"Ya, saya ingin pergi ke pusat kota, Duke."
"Bagaimana kalau saya antar?" tawar Napios. Hal ini semata-mata untuk menebus kesalahan pahaman dan tatapan tidak sopan yang ia layangkan tadi. Tidak lebih.
Areya paham akan maksud Napios, namun ia tak ingin berada di dalam kereta bersama dengan sang Duke. Ia khawatir bibirnya tidak bisa menahan kalimat sarkastik yang akhirnya bisa menyulut perseteruan nanti.
"Terimakasih atas tawarannya, Duke, tapi mohon maaf saya tidak ingin merepotkan. Lagipula sebentar lagi kereta saya siap,"
Kedua alisnya bertaut. Seharusnya Ranhy merasa terhormat, sebab menjadi wanita pertama yang ia ajak masuk ke dalam keretanya. Tak terhitung berapa banyak wanita di luaran sana yang mencoba masuk dengan berbagai cara hanya demi mendapatkan kesempatan untuk berdua bersama dirinya. Namun apa ini? Dia ditolak?.
"Tidak apa-apa. Kebetulan saya juga ingin memeriksa beberapa toko milik saya yang berada disana"
"Bukannya kemarin sud-" Kaki sang pengawal di injak sekuat tenaga agar bungkam. Areya hanya bisa tersenyum canggung.
"Nona Ranhy!" Syukur lah kehadiran Butler waser sang pengawal pribadi nya datang meski sedikit terburu. Ia tak tau harus bereaksi seperti apa tadi
"Nona ada tam-"
Belum selesai ucapan sang butler sebuah kereta kuda berhenti di depannya. Kereta dengan kayu terlihat mahal dan mengkilap dengan ornamen emas, terlihat sekitar delapan pria berseragam di atas kuda mengawal dari segala arah, tak lupa lambang kerajaan tercetak jelas.
Apa ibunda memiliki janji dengan pejabat kerajaan memiliki janji? Atau ayah tirinya?.
Dari dalam kereta keluar sosok tinggi nan gagah dengan wajah rupawan. Berbalut kemeja putih terpadu rompi navy rapi tanpa lipatan, benang dan motif emas selalu jadi ciri khas jangan lupa simbol naga emas yang berada di dada bagian depan.
Mata Areya melebar melihat siapa yang menghampiri dirinya. Itu pangeran Lordias. Apa ada hal penting yang Areya lewat kan. Karena setau Areya pangeran hanya datang sekali ke rumahnya, itu pun untuk membawa Tyrese pergi ke istana dan menyeretnya ke pengadilan.
Apa sudah sampai adegan itu tapi bukankah itu masih beberapa tahun lagi?
"Selamat siang, yang mulia, selamat datang ke kediaman Marquis"
"Sepertinya Kau tahu kalo aku akan datang?" sudut bibir Lordias naik. Tidak tertarik lagi? Cih dia yakin semua itu hanya bualan. Ranhy masih sangat menyukainya.
Akan tetapi, sepertinya sang pangeran terlalu dini untuk menyimpulkan,
"Tidak, yang mulia, kebetulan saya hendak keluar" jawab Areya dengan sedikit bingung
Pandangan Lordias seketika fokus pada sosok yang tak jauh dari gadis Marquise itu, "Bersama Duke Napios?"
Pangeran Lordias dan Duke berusia sama, mereka juga sama sama pernah menimba ilmu di akademi yang sama. Keduanya tidak begitu akrab, pun tidak bermusuhan. Keluarga Duke Napios cukup berpengaruh membuat nya ikut dalam jajaran orang penting di kerajaan hingga dapat mengenal satu sama lainnya.
Duke Napios memang dikenal dengan kepintarannya dalam mengembangkan bisnis keluarga. namun Jika soal prestasi pangeran Lordias lebih unggul, meski begitu Duke Napios tidak merasa iri akan hal itu. Karena memang sudah seharusnya calon penerus Kerajaan lebih kompeten.
"Iya, yang mulia." Areya yang kalah cepat dengan Napios hanya bisa menghela napas.
"Ah, begitu. Maaf perjalanan kalian jadi terhambat,"
Meskipun tampak acuh pikiran Lordias masih memikirkan seberapa dekat gadis Marquise ini dengan Duke Napios hingga berada dalam kereta yang sama.
"Tidak apa, yang mulia, jika begitu mari saya antar jika ingin bertemu Ayahanda," ucap Areya
"Tidak perlu, Biar Butler anda saja yang mengantar saya, bukankah anda ingin pergi bersama Duke Napios" tolak Lordias sambil menekan kata Duke . sebenarnya ia ingin melihat Ranhy lebih lama, namun gengsi menelan segala. Lagipula Ranhy sendiri juga tidak mungkin akan membuang kesempatan untuk bersama.
"Baiklah, jika begitu Butler waser akan mengantarkan anda, yang mulia," balas Ranhy.
Sekali lagi. Sekali lagi pemikiran Lordias terpatahkan oleh kenyataan. Dirinya masih Menolak percaya jika sang gadis sudah tak tertarik, dirinya sampai menjatuhkan harga diri untuk mengantar sepucuk surat undangan secara pribadi. Lantas apa yang ia dapat setelah membuang ego? tidak ada.
Dirinya dengan lantang berkali kali menolak kehadiran sang gadis dan akhirnya sang gadis menyerah menjauhkan diri dari nya. Semua berjalan seperti keinginan nya namun kenapа? Кеnара dirinya seakan tidak rela akan sikap sang gadis?
" Pangeran, Saya dan Duke Napios pamit undur diri, salam untuk yang mulia, " Areya membungkuk singkat, begitu juga Duke Napios.
"Ya, hati-hati," jawab Lordias singkat.
Suasana entah kenapa berubah aneh saat Napios dengan gentle membantu sang gadis untuk masuk ke dalam kereta. Padahal tak ada sentuhan langsung lantaran keduanya tertutup oleh sarung tangan. Tidak ada yang salah dalam tata krama atau pun tutur kata, namun Areya merasa ada sesuatu salah. Ekspresi Lordias dan Napios tampak tenang. Apa ini hanya perasaannya saja?
"Aku tak percaya kau membiarkan pangeran Lordias begitu saja," Napios memulai percakapan. Ia begitu penasaran mengapa Ranhy yang dikenal dengan kegilaan nya terhadap Lordias bisa dengan mudah melepaskannya.
Areya mengalihkan pandang pada Napios di sebelah nya.
"Memangnya kenapa?"
Kedua alis Napios bertaut
"Semua orang tahu bagaimana anda sangat tergila-gila dengan pangeran Lordias,"
Bahkan ia sendiri juga telah melihat dengan, bagaimana nona muda itu menjatuhkan harga diri dan menjadi musuh dengan hampir semua Lady yang ada di kota ini hanya untuk mengejar Lordias.
Areya mengalihkan pandanganya keluar, "Saya hanya memutuskan untuk berhenti,"
Di dalam novel dijelaskan bahwa Ranhy menyadari, kalo pangeran Lordias hanya menjadikan gadis malang itu sebagai tameng dari perhatian para Lady yang ingin mendekati nya. Beliau hidup tenang tanpa gangguan, sedangkan Ranhy dibenci setengah mati. Bodohnya mau saja jadi orang jahat sebagai bentuk menjaga cinta sejati. Terlalu bodoh untuk cinta sepihak.
"Begitukah? kurasa pangeran Lordias mulai menyukai anda, mengingat beliau jauh-jauh mengunjungi kediaman-"
"Maaf duke," Areya memotong,
"kurasa kita tidak sedekat itu hingga bisa membicarakan hal pribadi masing-masing,"
Duke Napios hanya dapat menelan kembali kata kata nya,
" Lalu, Bagaimana jika mengenai Lady Tyrese? Apa itu juga termasuk hal pribadi?" mengalihkan pembicaraan menjadi cara sang Duke untuk menghindari fakta bahwa dirinya telah melewati batas privasi.
"Ada apa dengan Tyrese?" tanyanya. Belum ada setengah jalan, tapi Duke Napios sudah membuat mulut Areya gatal untuk mencaci. Jangan pikir karena status lebih tinggi, Napios dapat seenaknya mencampuri urusan yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
"Ini" Napios menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Areya.
"agar Anda dapat memperlakukannya lebih baik lagi,"
Areya mulai membaca. Di sana tertulis dengan rinci masa lalu Tyrese; mengenai Ayah yang tidak peduli sama sekali dan Ibu kandung yang kerap melampiaskan kekesalan terhadap suaminya pada Tyrese. Ibu kandung Tyrese sengaja membuat mabuk Kaiyl Vaverit agar ia hamil dan di sayang suami nya namun sayang Kehadiran Tyrese malah membuat Kaiyl semakin membencinya.
Areya sebenarnya sedikit kasihan setelah mengetahui apa yang dialami oleh Tyrese namun melihat betapa serakah dan beracunya Tyrese membuat Areya menepis rasa simpatinya.
"Melihat Anda begitu khawatir dengan adik tiri saya, bagaimana jika sekalian melamarnya saja?"
Areya sebenarnya tidak ambil pusing jika itu Duke karena selagi tidak menganggu tidak masalah.
Mata Napios mendadak melebar
"Asal Anda tahu saja, saya tidak akan menikahi seorang Lady hanya karena dasar kasihan,"
"Lantas kenapa Anda sampai menggali informasi ditel tentang masa lalunya?" Areya semakin memojokkan.
"Hanya... karena simpati terhadap sesama manusia, itu saja."
Areya tersenyum tipis mendengar jawaban sang Duke, bukan dia tidak bisa mendesaknya tapi hanya sebatas saling menghargai privasi masing-masing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
haunted girl
karna authornya pengen buat alurnya kek gitu/Smirk/
2024-12-26
0
Buke Chika
areya good job skakmak semuanya
2024-10-20
0
jodoh org ☃
renjun?, typo nya kejauhan thor 🗿
2024-09-08
0