Happy reading semua
Jangan lupa vote and komen ya 😄
Areya melihat Satu persatu kereta kuda milik para Lady bangsawan mulai memasuki halaman mansion Seagyr, putri putri bangsawan kelas atas itu keluar dari kereta kuda dengan gaun mahal milik mereka, lalu setelah itu seorang pelayan yang mana ditugaskan untuk langsung membawa mereka menuju taman mansion, dimana pesta minum teh milik Tyrese diselenggarakan.
"Wah, bahkan dia mengundang putri Ziyis? Gumam Areya dengan senyum sinis. Areya melihat semua melalui jendela kamarnya.
Baiklah, sepertinya Areya harus bersiap juga untuk memeriahkan pesta minum teh pertama yang buat oleh Tyrese, bukankah dia harus menunjukkan bahwa dia adalah kakak yang baik.
Kursi-kursi kosong mulai terisi satu persatu, banyak yang penasaran dengan seperti apa pesta minum teh yang akan dibuat oleh Tyrese, sorang lady yang baru saja menunjukkan diri pada dunia luar berkat pesta ulang tahun pangeran Lordias. Ah, tidak, berkat Areya yang berbaik hati membiarkan ular itu berkeliaran.
"Wah, bukankah ini pertama kalinya anda membuat pesta minum teh? Tapi kenapa rasanya anda sudah begitu ahli?" Pujian terlontar dari salah seorang lady yang terkesan dengan penataan pesta minum teh yang Tyrese buat.
Tyrese tersenyum manis, "Terimakasih, sebenarnya saya dulu sering kali membantu kakak saya membuat pesta minum teh, tapi sayang saya tidak bisa menghadirinya," Ujar Tyrese dengan wajah sedih.
Mendengar penuturan Tyrese, para lady mulai saling berbisik. Ini memang bukan pertama kalinya mereka menghadiri acara pesta minum teh di mansion Marquis, hanya saja Ranhy lah yang biasanya menjadi tuan rumah, pun mereka tak pernah melihat Tyrese ada di mansion ini setiap kali mereka datang, jadi mereka berasumsi bahwa Ranhy melarang sang lady untuk keluar, mengingat bagaimana Ranhy yang jahat dan suka membuat masalah membuat mereka membenarkan asumsi itu.
"Maaf, apa saya datang terlambat?" Suara lembut Areya berhasil menarik atensi seluruh tamu yang hadir, mereka seketika dibuat terpesona dengan penampilan sang Lady yang tampak cantik dengan rambut pirangnya diikat sampul pita berwarna putih, belum lagi gaun merah mudanya yang tampak elegan dengan ornamen bunga Daisy kesukaan nya. Wah, penampilan Ranhy sekarang sungguh jauh dari kata norak dan kekanak-kanakan seperti dulu. Bahkan ini jauh luar biasa ibarat sang Dewi turun untuk menyapa bumi.
Tyrese tersenyum sinis melihat penampilan Areya, dia bahkan tidak mengharapkan gadis itu hadir disini,
"Tidak kakak, silakan duduk," balas Tyrese dengan tersenyum lebar.
"Lady Ranhy, bukankah anda harus menjelaskan sesuatu?" Tanya seorang lady yang duduk di samping kiri Areya.
Areya mengerutkan kening,
"Oh ya? Memang apa yang harus saya jelaskan?"
"Kenapa anda tidak pernah mengundang Lady Tyrese saat pesta minum teh? Bukankah kalian tinggal bersama? Atau anda tidak memberikan izin untuk dirinya hadir?" Ucapnya seakan menghakimi Areya
Areya terdiam sesaat, iris matanya menatap Tyrese tampak panik seolah Areya tengah mengintimidasi dirinya, padahal Areya menatap dengan tatapan biasa. Cih ingin dikasihani rupanya.
"Ya, kami memang tinggal bersama dan aku juga selalu mengundang Tyrese setiap pesta minum teh milik ku. Akan tetapi, Tyrese sendiri lah yang tidak pernah datang untuk memenuhi undangan yang aku kirim dengan alasan. sakit, bukan begitu, Tyrese?"
Semua mata kini menatap Tyrese dan areya bergantian. Areya tidak berbohong atau mengarangnya, dia ingat betul bahwa di dalam novel ada hal yang menjelaskan bahwa Tyrese tak pernah menghadiri pesta minun teh yang Ranhy adakan karena sakit, lebih tepatnya karena sang ibunda, Denas , yang melarangnya untuk datang setiap pesta yang diadakan Ranhy
"Em, ya, aku memiliki tubuh yang lemah dan sering sakit, itulah kenapa aku jarang menghadiri acara-acara seperti pesta minum teh," Jawab Tyrese dengan senyum yang mana terlihat sangat dipaksakan.
Sial, Sekali lagi, dia gagal membuat citra Areya semakin buruk di depan orang orang.
"Lady entah hanya saya saja yang merasa kalau anda berubah 180⁰ dari biasanya, anda yang dulu selalu berbuat onar dan masalah sana sini kini bisa menjadi sangat tenang seperti ini? Apakah ini hanya kepura-puraan yang sedang anda lakukan?"
Areya melihat siapa yang bicara, dia seorang lady dengan postur tubuh tinggi, wajahnya cantik tapi tatapan matanya jelas sekali bahwa dia tengah memandang rendah Ranhy. Setelah si Nanaj hilang sekarang ada lagi satu hama yang ingin menggangu nya.
Areya melipat kakinya lalu menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi, dengan tatapan sombong Areya menjawab
"Lantas, untuk apa saya berpura-pura?"
"Ya, mungkin saja untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar, karena yang saya tahu anda itu orang yang jahat, kasar dan bahkan tak segan memukul pelayan. Saya punya bukti jika kalian semua disini tidak percaya. " Si Lady memberi jeda sebelum melanjutkan ucapannya, setelah itu baru memanggil seorang pelayan.
"Pelayan saya ini dulunya bekerja di sini, dia melayani lady Ranhy setiap hari dan dia bilang bahwa lady Ranhy selalu memukulnya," Imbuh sang Lady seraya menunjukkan seorang pelayan yang berdiri di belakangnya
Areya menatap si pelayan yang tampak menunduk, rambut hitam panjang dengan wajah berbintik hitam. Oh, Areya ingat, pelayan ini di pecat beberapa Minggu yang lalu dan tentu saja Areya punya alasan kenapa memecat bahkan memukul si pelayan seperti yang diucapkan sang lady.
Seringai kecil terbit di wajah cantik si gadis Marquise itu,
"Bukankah tidak ada asap jika tidak ada api? Ya, saya akui saya menang pernah memukulnya."
Semua orang tercengang dengan jawaban Areya, Tyrese bahkan memberi sebuah senyum licik ,
"Namun, Itu karena saya tahu dia sering mencuri barang dan perhiasan di kamar saya." Lanjut Areya dengan tenang
"Itu semua tidak benar!" Sela si pelayan.
"Oh ya? Jadi, bisa kau jelaskan bagaimana kau bisa mendapatkan kalung yang kau pakai di balik pakaianmu? Bukankah itu kalung yang sama yang kau ambil dari laci kamarku?"
Si pelayan langsung bergerak gelisah menyentuh area sekitar leher, semua orang menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, membuatnya semakin cemas sekaligus takut tubuhnya bahkan sampai gemetaran.
"Ti-tidak, ini kalung saya sendiri,"
"Kalau begitu tunjukan, kenapa kau gugup begitu? " Areya masih tenang dengan menyesap teh yang ada di hadapan,
"Kalung yang kau ambil itu memiliki ukiran namaku pada liontin-nya, jika memang itu kalung yang kau beli sendiri tentu ukiran itu tak akan ada di sana."
Merasa tertuduh Si Lady yang menjadi majikan dari si pelayan berdiri, dan menarik si pelayan kehadapan semua orang.
"Lihatlah, akan aku buktikan bahwa pelayan ku tidak bersalah!"
Ujarnya dengan yakin lalu mengeluarkan kalung dari balik pakaian milik sang pelayan. Namun betapa terkejutnya sang Lady tatkala melihat dengan jelas ukiran nama Ranhy tertera pada liontin kalung tersebut, ini sesuai dengan yang diucapkan oleh si gadis Marquise Seagyr itu.
"Bagaimana Lady? Saya tidak berbohong, bukan?" Ucap Areya dengan lagak pongah miliknya
Beberapa orang Lady yang penasaran ikut berdiri guna melihat kalung tersebut,
"Astaga! Benar ada nama lady Ranhy disini! Ini benar-benar kalung miliknya!" Seru salah seorang dari mereka.
Si pelayan yang ketakutan karena kedoknya terbongkar sontak bersujud,
"Maafkan saya, nona, saya bersalah! Tapi kalung ini bukan saya yang mengambilnya! Bersumpah!" Ujar si pelayan dengan suara bergetar ketakutan.
Sebelah alis Areya terangkat,
"Jika bukan kau? Lalu siapa yang mengambilnya?"
"Dia!" Si pelayan menunjukkan seseorang dengan telunjuknya,
"Lady Tyrese lah yang telah mengambil kalung ini dan memberikannya pada saya, saya sungguh tidak pernah mengambil kalung ini, Lady! Saya bahkan berani bersumpah atas nyawa saya!."
Semua orang semakin terkejut dengan pengakuan sang pelayan, yang amat tidak terduga itu. Mendengar pengakuan itu sontak semua mata kini beralih menyorot Tyrese dengan tatapan yang mampu membuat dirinya gugup..
"Ti-tidak kak! Hei pelayan, kau ini bicara apa?! Dia memfitnahku kak! Sungguh aku tidak mungkin melakukan nya!" Ucap Tyrese dengan gugup yang tampak panik.
"Saya tidak berbohong, bahkan beberapa Lady Tyrese juga lah yang sering meminta kami untuk mengacaukan dan mengambil barang-barang anda , teko pemberian pangeran Lordias yang pecah itu, Lady Tyrese yang menjatuhkannya dengan sengaja! Saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri!"
Tak dapat lagi berbicara, kini Tyrese ditatap orang orang penuh penghakiman dengan rasa ragu dan jijik. Oh, lihat, sebaik apapun kau menyimpan bangkai, pada akhirnya bau busuk dari bangkai tersebut akan tercium.
'Akhirnya kau juga merasakan bagaimana rasanya menjadi Ranhy yang selalu di tatap penuh penghakiman karena ulah mu, ini baru awal dan juga belum seberapa ' Areya menyeringai tipis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Ayu Dani
wow bangeeeet dech
2025-01-27
0
Eilaria
puas banget aslii😏😤
2024-09-29
0