Happy reading semua
Jangan lupa vote and komen ya 😄
Setelah selesai sarapan bersama Denas pamit untuk pulang lebih dulu karena memiliki agenda bersama sahabatnya, Marquise Hera. Areya sendiri tidak langsung pulang ia ingin sedikit punya waktu untuk berkeliling di kota ini sebelum kembali ke mansion. Lagi pula sudah lama ia ingin berkeliling namun selalu gagal.
Mari kita lihat, apakah ada sesuatu yang menarik? Areya melihat toko toko di sekeliling namun tidak ada yang dapat menarik perhatian sama sekali , semua tampak biasa saja mungkin karena dia sudah memilikinya di mansion Seagyr
"TANGKAP ANAK ITU CEPAT!!"
Terdengar teriakan keras dari arah belakangnya. Sontak saja Areya langsung menoleh dan memutar tubuhnya, iris mata Areya menemukan seorang anak kecil yang berlari ke arahnya dengan beberapa orang dewasa yang mengejarnya di belakang.
Bruk!
Anak itu tak sengaja menabrak tubuh Areya lantaran tidak memperhatikan jalan dengan benar.
"Tolong saya," Lirih anak itu mendongak dengan sorot mata berkaca, meminta bantuan Areya untuk menolong nya
Terus terang saja, Areya terlalu malas untuk terlibat dengan hal-hal rumit semacam ini, akan tetapi melihat anak laki-laki dengan pakaian lusuh dan tubuh kurus seperti ini tentu saja ia merasa iba. Ayolah, dia mungkin saja licik namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia tetap seorang manusia yang memiliki rasa simpati dan kasihan terutama untuk orang-orang yang lemah dan tak berdaya. Ingat, yang lemah! Bukan yang pura-pura lemah!
"Berhenti!" Areya menghentikan langkah orang-orang yang mengejar si anak
"Hei nak, jangan coba menghalangi kami, kami tidak punya urusan denganmu, sebaiknya kau serahkan anak kecil Itu pada kami," Ujar seorang pria dengan sebuah kain yang diikat pada kening, tubuhnya tinggi dan berisi dengan balok ditangan nya.
Ditatap tajam oleh orang-orang itu tak membuat Areya sedikitpun gentar, justru dia membalas seluruh tatapan yang mereka berikan tak kalah sengit,
"Memang apa kesalahan anak ini? Tidak bisakah kalian membicarakan masalah ini baik-baik?"
Menyebalkan!
Salah satu dari lima pria itu berdecih remeh dengan kedua tangan berkacak pinggang seraya menatap Areya mengejek sebelum melanjutkan ucapan nya,
"Anak yang kau bela itu telah berhutang pada kami, dia bahkan kerap mencuri makanan di toko toko kami! Bagaimana bisa kami melepaskannya?!"
Baiklah, sepertinya tidak ada cara lain karena dirinya juga sudah terlanjur ikut campur,
"Berapa banyak hutangnya pada kalian?" Ujar Areya dengan Tenang, tentu saja keluarga Marquis sangat kaya jadi hal sepele seperti ini tak akan membuat mereka bangkrut.
Lima lelaki yang sebelumnya mengejar si anak saling melempar senyum culas. Lihatlah, betapa pikiran licik mereka dapat terlihat dengan jelas. Mereka pasti akan memeras dirinya dengan menyebutkan nominal yang luar biasa banyaknya. Areya sudah banyak bertemu dengan orang-orang semacam ini.
“sekitar 10 juta, anak ini berhutang sebanyak 10 juta pada kami"
"Apa!!, yang benar saja!" Pekik Areya ketika nominal disebut. Tidak mungkin anak sekecil ini berhutang sebanyak itu!.
"Kenapa? Kau tidak bisa melunasinya bukan? Makanya berikan anak Itu dan jangan sok jadi pahlawan kesiangan!"
Sial! Mereka sungguh memeras dirinya dengan sangat licik. Lihat saja. Areya akan menandai wajah mereka satu persatu dan pasti akan membalas mereka ketika dia kembali ke mansion. Lihat saja enak sekali memeras dirinya!
Si anak kecil yang bersembunyi di balik tubuh Areya hanya bisa terdiam dengan mata yang sesekali menatap takut pada para pria di depan sana. Jika buka karena keadaannya yang begitu sulit, dia juga tidak ingin mencuri atau berhutang pada penjual makanan di sekitar sini.
Kening Areya mengerut saat menyadari ia tidak membawa tas yang biasa dia bawa. Sialan dia lupa membawa tas atau dompet mana ia tidak membawa uang sepeser. Sepertinya memang hari ini adalah hari sial untuk untuknya.
'Oh my God! Apakah ada yang lebih buruk lagi? ' Areya berteriak keras dalam hati.
Jika tahu begini jadi maka tadi ketika sang ibunda menawarkan untuk pulang bersama Areya ikut saja. Akibat dari tolakan itu lihatlah sekarang jadinya, bukannya menikmati waktu luang untuk bersantai, Dirinya justru ikut terjebak dengan si pencuri kecil ini.
Si orang dengan ikat kepala meludah lantas tersenyum mengejek,
"Kenapa nona manis? Apa kau kehilangan tasmu? Atau kau mau beralasan bahwa tas mu ketinggalan?" Gelak tawa mengudara, tawa yang jelas sekali mengejek Areya,
''Sama-sama gembel, tapi sok ingin menjadi pahlawan!"
Lima orang itu mendekat,
" Jangan mendekat atau kalian akan tahu akibatnya!!" Teriak Areya memperingati
Tak peduli peringatan Areya untuk tak mendekat namun mereka justru semakin dekat dengan smirk di bibirnya. Tangan Areya mencengkram kuat tangan kecil itu begitu juga dengan si anak yang semakin takut.
"Nona wajahmu lumayan juga, bagaimana jika bermain dengan kami sebentar?"
Menjijikkan, orang-orang ini sungguh membuat Areya ingin muntah di depan wajah mereka. Areya menangkis tangan salah satu pria yang ingin menyentuh nya, lalu tanpa basa-basi Areya menendang tepat pada kemaluan yang mana membuat si pria menjerit kesakitan.
"Dasar bodoh!" Umpat Areya, dia baru saja bersiap untuk lari namun sial seseorang berhasil menangkapnya.
Areya mengumpat dalam hati, di kota sebesar ini apakah tidak ada satupun orang yang berniat untuk membantunya hah?! Padahal, dirinya hanya ingin hidup tenang, namun entah kenapa dewa seolah mempersulit keinginan sederhananya itu.
"Lepaskan aku sialan! Brengsek! Kau salah jika berurusan dengankul" teriak Areya seraya terus meronta melepaskan genggaman itu.
"Lepaskan dia!" Ujar suara berat yang begitu tegas.
Suara berat namun tegas itu berhasil menarik atensi hingga gerakan semua orang terhenti untuk beberapa saat.
Areya menoleh melihat siapa pelaku itu, sedikit terkejut lantaran ketika mengetahui siapa orang yang datang menolongnya.
Duke Napios Kiltar.
"Ah, pahlawan kesiangan dari mana lagi ini?"
Napios tersenyum remeh, dia keluarkan uang dari balik jas hitam yang dipakai lalu menyebarkannya di jalanan. Sontak lima orang yang semula menarik tangan Areya dan si anak kecil tentu saja langsung berlari untuk mengambil uang tersebut, sebab pada dasarnya mereka hanya menginginkan uang dan ketika uang itu ada di depan mata, bagaimana bisa mereka mengabaikannya.
Areya menggelengkan kepala, melihat orang-orang yang saling dorong untuk berebut uang yang Napios sebar di jalanan. Mereka bahkan saling tarik-menarik dan tak mempedulikan orang lain.
"Anda baik-baik saja, Lady?" Tanya Napios ketika diri telah berada di depan Areya yang masih melihat tingkah miris para orang yang haus akan uang.
Mata Napios memperhatikan Areya dan menemukan bahwa pergelangan tangan Areya yang memerah.
"Lady, Tangan anda "
Areya segera menarik tangan ketika menyadari Napios yang hendak menyentuhnya,
"Saya baik-baik saja, Duke, terimakasih untuk bantuannya." Ucap Areya dengan cepat.
Areya menunduk melihat ke si anak kecil yang masih di sana dengan tatapan mata polos menatap orang-orang yang berebut uang. Areya sedikit merendahkan tubuhnya agar bisa setara dengan tinggi anak itu,
"Kau baik-baik sajakan?" Tanya Areya pada sang anak.
Si anak hanya mengangguk pelan,
"Te-terimakasih, nona" Ujar si anak ragu-ragu
"Aku tahu hidup itu tidak mudah, tapi mencuri juga bukan sesuatu hal yang baik. Setelah ini cobalah untuk cari pekerjaan yang lebih baik, yang sesuai dengan tenaga yang kau punya, berapapun bayaran yang mereka berikan, setidaknya bisa mengisi perut, dan kau tidak perlu takut di kejar lagi " Areya memberikan sedikit nasehat seraya membersihkan sedikit debu pada pakaian sang anak.
Untuk sekarang, hanya ini yang bisa ia lakukan. Di mana pun itu baik di jaman kuno maupun modern , pasti selalu ada kesenjangan sosial yang membuat mereka terpaksa berusaha lebih keras untuk mendapatkan mengisi perut yang tidak seberapa.
Tentu semua hal yang Areya lakukan tak luput dari pasangan mata Napios yang sejak tadi memperhatikan setiap gerak sang gadis.
Sekarang, Napios semakin yakin bahwa rumor yang mengatakan bahwa Ranhy adalah gadis dengan jahat dengan tingkah buruk, kasar dan suka menindas orang lain tidaklah benar adanya.
Nyatanya, kini ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana cara sang gadis memperlakukan orang lain dengan baik bahkan seorang anak jalanan tak luput dari kebijakannya, bahkan tak ada sedikitpun rasa jijik dan membatasi diri seperti kebanyakan bangsawan yang lain setiap berinteraksi dengan rakyat jelata.
Ingin sekali rasanya menolak tawarannya Duke Napios untuk mengantarnya pulang. Namun ia juga tidak ingin kejadian tadi terjadi kembali maka dengan terpaksa Areya menerima tawaran Napios untuk mengantarkannya pulang.
Bahkan tak ada sedikit pembicaraan antara keduanya hingga ditengah perjalanan. Keduanya saling diam Napios dengan rasa canggung nya dan areya dengan rasa lelahnya
"Terimakasih untuk bantuan anda tadi, Duke, saya pasti akan mengganti uang yang anda berikan cuma-cuma pada orang-orang tadi." Ujar Areya memecah keheningan diantara mereka.
Napios tersenyum kecil seraya menatap Areya yang duduk tepat disampingnya,
"Tidak perlu, lady, saya senang bisa membantu anda," Meski pun Napios mengatakan demikian, tetap saja Areya akan mengganti uang sang Duke.
"Maaf, bukan saya ingin ikut campur, tapi kenapa anda mau membantu anak itu? Bukankah akan lebih mudah jika anda mengabaikannya saja?"
Areya pikir Napios berbeda dengan bangsawan lain, rupanya bangsawan tetap lah bangsawan, mereka berdarah dingin dengan gengsi yang begitu tinggi, martabat adalah hal yang penting untuk harga diri mereka.
"Ya, anda benar, akan lebih mudah jika saya mengabaikannya. Namun, tak pernah kah Duke berpikir jika Duke sendiri yang berada diposisi anak itu? Duke, anak itu tidak bersalah, keadaan yang membuatnya jadi seperti itu dan saya yakin masih banyak anak-anak yang menderita lebih dari pada anak itu di luar sana." Areya kesal, mereka yang terlahir dalam keluarga yang utuh dan memiliki segalanya pasti berpikir bahwa hal ini tidaklah penting,
"Akan lebih baik lagi jika kerajaan bisa memberikan kebijakan yang lebih baik untuk rakyat yang kurang mampu atau pun anak-anak yang terpaksa menjadi gelandangan maupun pencuri hanya untuk bisa mengisi perut mereka. Karena mereka di negeri ini merupakan generasi generasi penerus yang akan mengharumkan nama kerajaan ini dimasa yang akan datang
Melihat keterdiaman Duke Napios Areya menghela nafas. Yah, untuk apa juga ia mengatakan semua ini pada seorang Duke yang sama sekali tidak memandang rakyat kecil? Para bangsawan didukung dengan keadaan keluarga mereka yang sangat beruntung bisa memiliki kekayaan dan juga martabat yang baik.
Napios tersenyum kecil , mengagumi pemikiran Ranhy, jarang ada bangsawan yang memiliki nilai sosial yang baik , apalagi untuk rakyat bawah bahkan dirinya sendiri pun terkadang tidak peduli akan hal itu. Gadis ini cantik bukan rupanya saja tapi hati dan pikirannya juga.
Kereta kuda milik Duke Napios telah berhenti tepat di halaman mansion keluarga Marquis Seagyr. Sang Duke turun lebih dulu, lantas mengulurkan tangan guna membantu sang Lady turun.
"Terima kasih, Duke," Ujar Areya setelah berhasil turun.
Areya sebenarnya tak ingin Napios mampir, namun menyuruh sang Duke untuk langsung pulang jelas tak bisa ia melakukan karena itu bisa menjadi celah untuk Napios kembali mengoloknya,
"Apa anda ingin mampir lebih dulu, Duke?"
Mendengar ucapan Areya Napios tersenyum kecil jujur ia juga ingin mampir, namun ada hal lain yang harus dia lakukan, dan tidak bisa ditunda lagi
"Terimakasih untuk tawarannya, lady, tapi maaf sepertinya saya harus segera pergi, karena ada urusan yang tidak bisa saya tinggal" jelas Napios,
"Titip salam saja untuk Marquis Kaiyl dan Marquise Denas, Lady, saya izin pamit, salam"Napios menunduk hormat sebelum kembali masuk ke dalam kereta kudanya.
Areya benapas lega, beruntung sekali karena Duke Napios punya urusan lain jadi dia tidak perlu terus menahan diri dan berusaha menyampaikan setiap ucapan sang Duke dengan berujung moodnya turun. Melihat kereta kuda Duke Napios yang sudah menjauh baru lah Areya masuk ke dalam mansion.
Baru saja Areya masuk dia sudah melihat beberapa pelayan yang sibuk berlalu lalang membawa barang-barang. Ah dia jadi ingin Kalau besok ada acara pesta minum teh Tyrese. Sepertinya para pelayan ini sibuk untuk mempersiapkan pesta minum teh yang akan Tyrese selenggarakan. Areya tersenyum sinis menatap raut sibuk Tyrese yang mengatur para pelayan.
'Tyrese kau harusnya menyimpan lebih banyak tenaga mu, karena besok akan menjadi hari yang luar biasa untukmu.'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
ASER
Areya udah bisa bela diri sebelum masuk ke dalam novel 😊
2024-09-02
1
Frando Wijaya
Thor....apa mungkin novel ini utk areya gk bljr bela diri???
2024-09-01
0