Sungguh entah setan apa yang merasuki Denas pagi ini. Pagi tadi tepatnya saat matahari baru saja ingin menyapa, sang Ibunda menerobos masuk ke dalam kamarnya dan memintanya untuk bersiap menggantikannya untuk bertemu Duke Napios.
Namun justru itu kepala pusing sejak tadi mengamati berkas kerjasama yang menurut Areya sangat amat buruk. Matanya sibuk mengamati sedang kan jarinya sesekali mencoret tulisan yang berada di berkas.
"Ini benar benar gila"
Dalam novel, Duke Napios dengan sengaja menyetujui kerjasama dengan sang ibu yang akhirnya membuat usaha mereka jatuh dan Denas mulai mengidap depresi. Dan alasan dibalik semua semua yang dilakukan nya semata-mata sebagai balasan untuk perlakuan-perlakuan buruk yang di terima oleh Tyrese.
Sungguh Areya Sampai ingin muntah rasanya saat membaca nya.
Tok
tok
tok
"Nona ada tamu yang ingin bertemu dengan mu" Gesy
“suruh saja masuk” titahnya
Pintu dibuka menampilkan sosok Butler muda, dengan setelan berwarna hitam lengkap, tak lupa dengan Duke Napios yang berada di belakangnya.
Areya langsung bangkit untuk menyambut sang Duke sebagai bentuk kesopanan.
"Selamat pagi, salam Duke"
"Saya ingin bertemu dengan marquise, Dimana Marquise Denas?" tanya Duke heran sebab tak mendapati sang Marquise, melainkan sang putri.
"Ibunda sedang ada urusan lain jadi beliau meminta saya-"
Entah dimana kesopanan sang Duke, Napios langsung memotong ucapan gadis cantik itu,
"Cih, ingin menggantikan? maaf saja, tapi kerjasama ini bukanlah lelucon. Atau percobaan untuk belajar bisnis,Kerugian besar akan berakibat fatal!" ucap Napios dengan nada yang terdengar begitu tak bersahabat.
Areya menarik napas lelah, berusaha untuk menenangkan agar tak meledak saat itu juga. Wajahnya sangat amat rupawan namun sangat disayangkan karakternya cacat. Semua Kesempurnaan turun menjadi nol besar.
"Alangkah baiknya bila Duke bisa mendengarkan terlebih dahulu hal-hal yang ingin saya sampaikan," ucap Areya dengan lembut, tak lupa menyunggingkan sebuah senyum tipis.
Iris saling bertemu. Tampak Keraguan besar terselip , dirinya bukan tidak tahu apa yang direncanakan sang Marquise.
wajah rupawan dan status tinggi, lantas membuat banyak orang tua menjodohkan anak mereka sendiri . Dengan alasan keturunan. Namun hal yang paling tidak Napios mengerti ialah pemikiran para Lady di negeri ini. Berniat menolak dengan kasar agar tidak ada secuil harapan yang didambakan, justru membuat rasa cinta semakin kuat. Ramah, menjadi terobsesi. Dingin, dipuja setengah mati.
"Baiklah" Napios mencoba kembali mendengar kan apa yang akan di sampaikan oleh nona muda ini. Itung-itung melihat sampai pemikiran sang gadis. Jika tidak bermutu maka ia akan pergi percuma membuang waktu bukan.
"Lanjutkan,"
Napios masuk keruangan itu lalu duduk tepat di depan Areya. Jujur saja Penampilan sang nona muda in menjadi perhatiannya. Penampilan seperti ini terlalu sederhana untuk ukuran seorang nona muda dari keluarga bangsawan. Hanya memakai gaun berwarna biru dengan rambut yang diikat rapi dan riasan tipis namun tetap cantik memancarkan aura elegan khas Marquise.
Bukankah Ranhy terkenal karena gaya berdandannya yang norak bahkan memalukan? Lantas kenapa ini berbeda?
"Duke?" panggil Areya setelah melihat Napios merenung sambil menatap nya.
"Ya?" Napios tersentak lalu berkedip beberapa kali guna mengembalikan kesadaran.
Kertas kertas yang ada di depan meja Areya berikan pada sang Duke. Walaupun tak sopan karena banyak coretan, yang penting poin utama tersampaikan. Urusan Napios tersinggung atau tidak, itu urusan nanti. Lagi pula Areya sendiri sudah tebal telinga yang namanya kerjasama tidak pernah mementingkan status sosial, melainkan bagaimana caranya agar saling menguntungkan. Just bisnis.
"Saya telah meninjau kembali semua perencana bisnis ini, mengingat Ibunda sudah memberikan kepercayaan penuh pada saya," Areya mulai menjelaskan.
"Panen teh kali ini memang sangat melimpah, langkah yang bagus untuk memanfaatkannya menjadi peluang bisnis dan memberdayakan para pekebun. Namun, disini menurut saya target konsumen tidak jelas" jelas Areya membuat Napios mengangkat kedua alisnya.
"Mengapa demikian? apa salahnya jika para bangsawan dan rakyat bisa mencicipi brand kopi yang sama?"
"Ego para bangsawan rata-rata tinggi, sudah jelas mereka tidak akan mau mendapatkan pelayanan yang sama dengan rakyat biasa mereka tidak akan setuju, dan itu akan memakan biaya yang besar. Sementara rakyat biasa tidak akan setiap hari membelanjakan uang mereka untuk segelas kopi mahal. Menurunkan harga jelas bukan opsi jika melihat biaya transportasi pengiriman dari perkebunan ke kota dan juga para pekebun pasti meminta biaya lebih." Areya setelah mengoreksi lembar proposal kerja sama milik sang ibunda dan Duke Napios.
Napios tertegun. Sebenarnya Keinginan untuk mencoba mempersempit jarak antara para bangsawan dengan rakyat biasa sudah lama ia pikirkan sebelumnya , hingga akhirnya Denas memberi kesempatan dengan tawaran kerjasama. Saat ingin merealisasikan tanpa harus kehilangan harta, karena sekalipun gagal, Denas yang akan menanggung kerugian besar. Apalagi setelah melihat perlakuannya pada sang anak tiri, Marquise seperti ini sangat pantas digulingkan.
Dan Kini, ada halangan yang menyusahkan.
"Apa salahnya mencoba terlebih dahulu?" Napios berusaha mempertahankan keinginan nya.
Areya menatap tepat pada manik sang Duke.
"Jika anda tetap pada pendirian, saya rasa lebih baik kerjasama ini kita dibatalkan. Saya tidak ingin meneruskan bisnis yang tidak saya yakini," keberhasilannya, Areya menahan kata terakhir di dalam didalam hati nya.
Tatapan sang Duke berubah dingin,
"Sungguh? Apa kau yakin? kau pasti tahu, banyak bangsawan yang berebut ingin bekerja sama denganku,"
Jika kerjasama ini gagal ibunya pasti akan marah besar. namun Areya tidak terlalu memikirkan itu. Toh nanti pun ia bisa menggantinya dengan keuntungan berkali-kali lipat. Tunggu saja. Bukan tanpa alasan Areya bersikap berani seperti ini, pastinya dia punya rencana yang lain yang lebih matang dan keuntungannya pun jauh lebih besar.
Areya tersenyum tipis menyadari suasana yang mendadak suram. "Ya, saya sangat tahu. Maka dari itu alangkah lebih baik jika Duke mempunyai rekan bisnis yang dapat diandalkan daripada saya yang lemah ini"
Areya bicara dengan sopan tapi kenapa dada Napios terasa panas. Gigi mulai menggertak dengan rahang berakar. Setiap frasa yang terlontar terasa seperti bensin yang siap membakar, ia harus keluar sebelum terbakar.
Namun sebuah ketukan mengambil alih atensi Areya dan Napios yang hendak beranjak.
"Masuk," suruh Areya.
Seseorang masuk dengan pakaian lusuh dan kusam terlebih ia terlihat membawa nampan dengan teh diatas nya. Tyrese, dengan polosnya masuk ke dalam ruangan.
"Permisi, maaf mengganggu. Saya membawakan teh,"
Sungguh Areya ingin terbahak sekarang. Pasti rasanya malu sekali saat melihat teh sudah tersedia di atas meja. Padahal kebetulan saja kebiasaan Areya menyajikan kudapan sebelum tamu datang. Lumayan, berjaga-jaga apabila terlambat. Selagi menunggu, Areya bisa makannya.
"Siapa yang menyuruhmu membawakan teh?" tanya Napios sebelum menelisik Areya dengan sinis.
Tyrese menunduk malu, tak dipersilahkan masuk padahal membawa nampan yang lumayan berat.
"Maaf saya berinisiatif sendiri, Duke,"
"Jujur saja, tidak ada yang akan menghukum mu," ucap Napios dengan mata yang tak lepas menatap Areya.
"benar kan, nona Ranhy?" Lanjutnya sambil menatap sinis. Areya mengendikkan bahu,
"Tentu," Ujar Areya acuh tak acuh.
Dianugerahi umur cukup panjang membuat Areya dapat bertemu dengan berbagai macam orang. Rencana busuk kecil seperti ini tidak sulit untuk diartikan seperti rencana Tyrese yang satu ini. Ia sengaja membawa teh agar nanti duke Napios akan beranggapan kalau salah satu dari keluarga tirinya yang melakukan itu, lalu dengan mudahnya Tyrese mendapatkan rasa simpati dari Duke muda itu. Rencananya terlalu mudah dibaca oleh Areya. Ah tidak mungkin orang bodoh pun akan tau rencana murah ini.
Mari kita buat titel pemeran utama itu menjadi hayalan semata
"Saya berkata jujur, Duke," jawab Tyrese lembut.
"Setelah sekian lama dikelilingi oleh para Lady berparas cantik, saya yakin anda sudah tahu maksud dari adik tiri saya, Duke," ucap Areya,
"atau anda tidak mengerti? baiklah saya bantu perjelas, Tyrese mencoba menarik perhatian pada anda,"
"Ti-tidak, Kak!" Tyrese buru-buru membantah, sementara di telinga dan pipi muncul semburat merah muda.
"maaf saya hanya melakukannya sebagai bentuk kesopanan, Duke,"
Melihat reaksi Tyrese dan sikap Ranhy, Napios sedikit tidak enak telah berburuk sangka. Seandainya memang benar ada niat mempermalukan, air muka Ranhy pasti congkak dan merendahkan. Selama beberapa saat menunggu, tidak ada tanda-tanda datang. Gadis Marquise itu tetap tenang.
"Mohon maaf, Duke, sepertinya saya harus pergi ke kamar mandi sebentar," ucap Areya seraya beranjak.
Tidak ada salahnya memberikan kesempatan kepada si ular ini untuk mencoba memikat hati sang Duke.
"sementara saya pergi. Adik saya akan menemani anda,"
Di sebrang Tyrese, Napios ikut berdiri saat Areya hendak beranjak
"Rasanya pertemuan kita cukup sampai disini, saya ada urusan lain,"ungkapnya,
"Mengenai proposal nona tadi akan saya pikirkan kembali,"
Areya sedikit terkesan. Pasalnya ia Menduga kalo sang Duke akan tetap tinggal dan terjerat oleh pesona lugu Tyrese seperti orang bodoh, namun sepertinya otak masih bekerja dengan benar. Baguslah, setidaknya ia masih bisa berpikir.
"Saya akan kirimkan proposal dengan tulisan yang lebih baik kalau begitu,"
Napios hanya mengangguk, "Ya,"
"Mari Duke, saya antar ke depan!" dengan tidak tahu malunya Tyrese menawarkan diri saat Napios mulai berjalan keluar.
"Tidak perlu, Lady," tolak Napios dingin,
"terimakasih atas sambutan dan tehnya," Tanpa menunggu jawaban, Napios melewati Tyrese begitu saja.
Areya bertepuk tangan dalam hati. Pelajaran pertama belumlah seberapa. Masih banyak kejutan yang menanti si ular pemeran utama. Ada keyakinan bahwa cepat atau lambat akan datang perlawanan. Topeng yang selama ini tak bercela pada akhirnya akan terlepas begitu saja.
"Mau masuk tidak?" pertanyaan Areya menyadarkan Tyrese yang masih berdiri di ambang pintu.
"Tidak, Kak," balas Tyrese.
"aku akan kembali ke kamar, permisi,"
Begitu berbalik sorot binar berganti menjadi kilatan merah. Kelembutan terganti tawar. Nampan digenggam keras dengan remasan disebelah gaun yang digunakan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Hikam Sairi
mampir
2025-01-04
1
Frando Wijaya
napios ini...tua bangka busuk ini bner luar biasa idiot 👏👏👏
2024-09-01
0
Frando Wijaya
heh 😏...hanya bisnis utk cari keuntungan ya? jika bner mka gw udh muak
2024-09-01
0