BAB 10. TANDA-TANDA NYA

Waktu pun terus berlalu dan kehidupan Sari bagaikan seorang ratu di kediaman Rico, ia sangat di manjakan oleh kedua orang tua Rico sedangkan sikap Sila meski sudah berusaha untuk lebih baik dan bersahabat dengan Sari namun tetap saja terlihat kaku dan mencurigakan.

Hingga suatu saat Sari bersama keluarga Rico sedang makan malam bersama namun seperti nya Sari sedang kurang sehat dan saat itu sontak kedua orang tua Rico bersikap sedikit berlebihan kepada Sari sedangkan Sila terlihat cukup cuek.

" Sar, kamu istirahat saja di kamar ya biar nanti Mama yang antar kan makan malam nya, "

Ucap Rena dengan tatapan panik melihat Sari yang terlihat pucat.

" Rico, lekas kamu panggil Dokter Edward suruh segera datang kemari, "

Perintah Tedi dengan tatapan serius kepada Rico.

" Iya Pa, sebentar aku antar Sari ke kamar biar istirahat, "

Ucap Rico sambil membopong tubuh Sari.

Saat itu tiba-tiba suasana makan malam berubah menjadi ricuh karena kondisi Sari yang sedang kurang sehat, dengan sigap Rena dan Reni segera membawa piring berisi makan malam dan buah menuju kamar nya Rico dan Sari, sedangkan Sila dan Gandi segera meninggalkan meja makan.

" Dasar lebay sekali! "

Gumam Sila dengan lirikan tajam melihat ke arah Rena dan Reni.

" Kamu juga pernah di seperti itu kan dulu Ma, "

Ucap Gandi diiringi senyum sinis bangkit dari tempat duduk nya.

" Ya begitu lah Pa, habis manis sepah di buang berakhir tetap saja kita hanya jadi babu di keluarga laknat ini, "

Jawab Sila sambil melangkah mengikuti Gandi masuk ke dalam kamar nya.

" Sudah lama aku mengajak mu keluar dari rumah ini agar kita tidak jadi babu tapi kamu kan selalu menolak Ma, "

Ucap Gandi sambil memeluk istri nya dari belakang.

" Karena aku pikir mereka bisa sadar ternyata bukan nya sadar malah semakin menjadi sekarang Pa, "

Jawab Sila sambil berbalik menghadap ke arah Gandi.

" Dari pada kita darah tinggi melihat ulah mereka lebih baik kita membakar lemak Ma. "

Ucap Gandi sambil senyum simpul dan mendekatkan wajah nya ke wajah Sila.

Pasti nya ajakan Gandi di terima dengan tangan terbuka oleh Sila, kemudian mereka berdua pun mulai mengambil posisi yang tepat untuk melakukan fitnes membakar lemak, sedangkan di kamar Sari sedang di periksa oleh Dokter Edward untuk memastikan sakit apakah Sari.

"Dok, bagaimana kondisi istri saya... sakit apa istri saya Dok? "

Tanya Rico kepada Dokter Edward dengan tatapan khawatir.

" Tenang lah Rico, istri mu tidak sakit apa-apa dan sebentar lagi kamu akan menjadi Papa, selamat ya.... "

Jawab Dokter Edward diiringi senyum simpul kepada Rico.

" Yang benar Dok, yes Pa... Ma... aku sebentar lagi jadi Papa dan kalian akan segera memiliki cucu, "

Ucap Rico diiringi tawa bahagia kemudian ia pun melangkah masuk kedalam kamar nya.

" Pak Tedi dan Bu Rena tolong jaga kehamilan Sari yang baru 3 minggu dan jaga pola makan nya. "

Ucap Dokter Edward kepada kedua orang tua Rico yang mengantar sampai pintu depan rumah nya.

Saat itu Rico sangat lah bahagia sambil memeluk tubuh Sari tidak henti-henti nya mencium mesra istri nya yang sedang mengandung buah hati mereka berdua sedangkan Sari merasakan kepala nya terasa pusing.

Di sisi lain tepat nya di kediaman Satya saat ini Nilu Sukma dan Satya memperdalam ilmu yang sudah turun temurun dari keluarga Bei Nyoman, pasti nya Nilu Sukma dan Satya mempelajari nya tanpa sepengetahuan Beli Nyoman.

" Satya, kamu apakah sudah menguasai seloka 12a? "

Tanya Nilu Sukma kepada Satya yang duduk di hadapan nya.

" Itu cukup sulit Bu, sudah berulang kali aku coba tetapi masih saja aku tidak paham apa perlu kita tanya kepada Aji? "

Jawab Satya yang berbalik bertanya kepada Ibu nya.

" Apa kamu mau di kurung di rumah Dadong, kan kamu tahu kalau Aji mu tidak akan pernah mengijinkan kita mempelajari ini semua, "

Ucap Nilu Sukma sambil mbanten di gajebo samping kolam ikan.

" Aku suka bingung kenapa Aji melarang kita untuk mempelajari kitab peninggalan Dadong? "

Tanya Satya sambil bangkit dari duduk nya.

Saat itu sebenarnya Nilu Sukma akan menjawab pertanyaan Satya namun terdengar suara mobil masuk kegarasi dan pasti nya itu Beli Nyoman yang baru saja pulang dari pasar, sebab Beli Nyoman mengelola toko kelontong warisan dari kedua orang tua nya.

" Nilu... Satya... dimana kalian? "

Teriak Beli Nyoman sambil melangkah menuju samping rumah.

" Aji... kok tumben sudah pulang, itu martabak telor ya Aji? "

Tanya Satya diiringi senyum sumringah melihat kantong plastik yang di bawa Beli Nyoman.

" Ini martabak telor kesukaan mu dan ini pesanan Ibu mu ayam betutu, sekarang Aji mandi dahulu setelah itu kita makan malam. "

Jawab Beli Nyoman sambil menyerahkan kantong plastik kepada Nilu Sukma dan Satya kemudian melangkah masuk kedalam rumah nya.

Kemudian Nilu Sukma dan Satya pun mengikuti langkah Beli Nyoman masuk kedalam rumah sambil masing-masing membawa kantong plastik, sedangkan di saat seperti itu Ayah dari Beli Nyoman menyaksikan keluarga kecil anak nya yang bahagia meski hidup dengan sederhana.

" Alangkah bahagia nya aku melihat rumah tangga anak ku dan melihat cucu ku yang kini sudah dewasa, meski itu bukan darah daging dari Nyoman, kasihan nasib mu Nyoman yang tidak bisa memiliki keturunan. "

Gumam Ayah nya Beli Nyoman yang biasa di panggil Dadong oleh Satya.

Tidak lama kemudian keluarga kecil itu pun makan malam bersama dengan canda tawa dan setelah itu Satya lebih memilih pergi ke kolam ikan untuk memberi makan ikan peliharaan nya sambil berfikir mengenai Dadong yang begitu banyak cerita negatif.

" Sebenar nya seperti apa Dadong, kalau melihat wujud nya yang kapan itu memang menyeramkan tapi dari cara bicara nya Dadong bukan lah orang yang jahat, "

Gumam Satya sambil menaburkan pakan ikan ke kolam.

" Cerita apa yang kamu dengar tentang Dadong, Satya? "

Tanya Dadong nya Satya yang tiba-tiba muncul di samping Satya.

" Dadong, kenapa selalu buat aku terkejut seperti nya sebelum aku mengusai ilmu itu sudah mati duluan gara-gara jantungan! "

Jawab Satya dengan nada sedikit tinggi karena terkejut.

Saat itu tanpa sengaja Beli Nyoman mendengar ucapan Satya yang sedang terkejut melihat Dadong nya tiba-tiba muncul di samping nya, sontak Beli Nyoman memutar langkah nya mendekati Satya untuk memastikan Satya berbicara dengan siapa.

" Satya, kamu sedang berbicara dengan siapa itu tadi dan ilmu apa yang sedang kamu pelajari? "

Tanya Beli Nyoman sambil berjalan mendekati Satya.

" Itu aku... aku berbicara dengan Candra kawan ku, kami sedang mempelajari ilmu badminton sebab akan ada lomba antar desa Aji, "

Jawab Satya yang mencoba menyembunyikan kebenaran dari Aji nya.

" Oh begitu rupa nya, ya sudah lekas tidur sudah malam dan besok pagi bantu Aji di pasar sebab banyak barang datang. "

Ucap Beli Nyoman kemudian membalikkan badan nya dan kembali masuk kedalam rumah.

Saat itu Satya hanya mampu mengangguk sambil mengelus dada sebab ia bisa menyembunyikan suatu hal kepada Aji nya, sedangkan Dadong nya sedang tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Satya yang lucu bagi nya.

Terpopuler

Comments

Calista

Calista

sungguh mencurigakan kluarga rico ini, dn knp ya sila seperti ny sngt benci sm kluarga ny sendiri.

2024-12-30

2

Calista

Calista

klu satya bkn ank kandung beli nyoman trs satya ank siapa ya.

2024-12-30

3

Calista

Calista

beli nyoman pasti marah nih klu tau anak dn istri ny memperdalam ilmu tanpa sepengetahuan dia.

2024-12-30

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!