Yang rusak telah di perbaiki.
Maka, Yang menjadi musuh dalam selimut pun harus di musnahkan.
Setelah percakapannya dengan Grand Duke Iveltto di Taman Bunga Kaca, seminggu kemudian Eleanora tengah berjalan menuju ruang kerja Ayahnya.
Taakhh...!
Langkah kaki Eleanora terhenti lantaran ada yang memegang tangannya. Dia pun berbalik dan tersenyum penuh keceriaan saat melihat wajah yang penuh akan kebencian itu tengah menggertakkan gigi.
“Ada apa, Adik ~? Apa yang membuat wajah Mu menjadi se menyeramkan ini ?” Cetus Nya sambil membelai pipi Sandra dengan halus.
“Tcih.! Berhentilah berpura-pura.!” Ujar Nya sambil menepis dengan kasar tangan Eleanora.
“Tentang apa ?” Jawabnya acuh tak acuh
“...Tentang yang terjadi seminggu ini.!” Jelasnya dengan wajah kesetanan.
“Hem.. Banyak yang terjadi.. Aku tidak bisa menerka-nerka. Bisakah Kau memberitahuku secara langsung ? Itu juga memudahkan Kita untuk mempersingkat waktu kan ?”
“Grrtt... Kau..!” Sandra menggertakkan giginya. Dengan tatapan kebencian yang hanya mengarah pada Eleanora, Dia berucap...
“Kau berhasil mendapatkan perhatian Ayah lagi kan ? Makanya Kau membuat semua pelayan yang selama ini bertugas melayani Kami langsung di pekerjakan di bidang lain. Kau membuat Kami yang biasanya di perlakukan dengan hormat malah diabaikan dan membuat Kami seolah adalah Orang asing di Kediaman ini. Pelayan memberikan makanan basi, makanan yang tak layak di makan, mengabaikan Kami, dan tidak mengijinkan Kami keluar. Itu membuat Aku dan Ibu sesak di kediaman yang selama ini memberikan rasa nyaman. Bahkan.. Bahkan Kau..!”
Perkataan Gadis itu yang tengah berapi-api terhenti sejenak. Dia sudah menunjukkan segala kebencian dan juga kemarahannya pada Eleanora. Tapi apa ? Reaksi Eleanora tidak seperti yang di harapkan. Bukannya kemarahan atau kejengkelan, Malahan Tatapan yang tetap tenang yang Sandra dapat kan.
Sambil melipat kedua tangan di dadanya, Eleaora berucap “Bahkan Aku apa ? Kenapa berhenti ? lanjutkan perkataan Mu, Sandra.”
“..Bahkan Kau menyabotase surat yang ingin Kami berikan pada ‘Orang Itu’. Orang yang bisa menolong Kami disaat-saat seperti ini.” Kedua tangan Sandra terangkat. Dia memegang kedua lengan Eleanora dengan sangat keras. Kuku-kuku nya yang terawat dan cukup panjang mulai menggerogoti raga Eleanora. Dia pun lanjut berucap “Kenapa dan Bagaimana ?... Kenapa Kau melakukan Ini pada Kami ? Dan juga Bagaimana Kau bisa mengetahui nya ? Bagaimana ?!”
“Haah...” Eleanora pun menghela nafas panjang. Dengan wajah kecewanya, Dia menyingkirkan tangan Sandra yang berhasil menciptakan luka di lengan Nya.
“Sandra...” Panggil Eleanora dengan nada rendahnya.
“..?!..”
“Jujur, Aku kecewa dengan Mu.” Cetusnya tiba-tiba sambil menggunakan sihir penyembuh pada dirinya sendiri.
“Kau bisa menggunakan sihir ? Tidak. Tunggu.. Apa maksudmu-“
“Apa-apaan sikap Mu saat ini ?” Potong Eleanora. Kali ini balas Eleanora yang memegang lengan Sandra Tanpa menciptakan luka seperti yang Dia lakukan. Kedua iris mata dengan warna yang berbeda itu beradu dengan jarak hanya sejengkal saja. Eleanora pun lanjut bersuara tanpa mempedulikan netra Sandra yang bergetar.
“Aku sengaja mendeklarasikan peperangan secara terang-terangan kepada Kalian Berdua, berharap akan menjalani kehidupan yang menyenangkan karena memiliki musuh yang cerdik dan jeli. Tapi apa-apaan ?” Eleanora semakin menyipitkan mata dan menguatkan remasan di lengan Sandra sambil lanjut bersuara lagi..
“...Kalian hanya mengirim empat orang yang cukup ahli di ilmu pedang dan juga sihir. Aku tau betul itu bukanlah orang yang Kalian bayar. Melainkan Orang yang di kirim oleh ‘Orang Itu’. Awalnya Aku ingin mengirim kepala mereka ke kamar Kalian sebagai hadiah di pagi hari, Namun Aku tahan. Aku penasaran siapa bekingan Kalian. Setelah berpura-pura mengikuti alur, Ternyata, Kalian memiliki bekingan yang cukup mengejutkan. Siapa sangka bahwa ‘Orang Itu’ adalah Yang Mulia Ratu di Kekaisaran Elion ini ?” Tuntas nya sambil melepaskan tubuh Sandra.
“..!!...” Rasa syok dan tubuh yang sedikit bergoyang karena dihempaskan oleh Eleanora membuat Sandra hilang arah. Pikiranya seolah membeku. Tubuhnya hanya mengikuti naluri yang kini Dia rasakan.
“Ughhh..” Geram nya sambil memegang lengan yang di remas Eleanora tadi.
“Kau menangis ? Pfftt.. Apakah lengan Mu sesakit itu ? Padahal tidak ada darah yang Aku ciptakan seperti kelakuan Mu barusan.” Sindir Eleanora dengan beberapa jemari yang menutup bibirnya.
“Kau hanya membuang-buang waktu Ku. Pergilah ke kamar dan nikmatilah nuansa di Kediaman Grand Duke ini sepuas Mu. Karena sebentar lagi, Kau akan angkat kaki dari Kediaman ini.”
“..Apa ?!”
“Hmpt..” Eleanora tidak merespon lagi dan melanjutkan langkah kaki nya.
Pikiran Sandra semakin kalut usai mendengar perkataan Eleanora barusan. Dengan pikiran yang kacau itu, Dia bersuara...
“..Kak... Kakak... Kenapa Kau melakukan ini pada Kami ? Padahal.. Padahal Aku dan Ibu sudah menganggapmu sebagai keluarga.. Kami memperlakukan Mu dengan baik. Aku bahan rela membagi Kasih sayang Ibu untuk Mu. Tapi apa balasannya ? Kau membalas air susu dengan air tuba. Dan Bla bla bla..”
Sandra terus mengatakan banyak omong kosong, namun tetap tidak dapat memengaruhi Eleanora.
“Oia..” Ucap Eleanora yang kini terhenti. Langkah nya yang terhenti membuat Sandra berpikir bahwa perkataannya barusan berhasil membuat Eleanora dapat bersikap seperti dulu lagi.
“Tadi Kau bertanya-tanya kenapa di Kediaman ini memberikan perlakuan yang tidak pernah Kau terima selama ini bukan ? Baiklah, akan Ku Jawab...”
“...Aku hanya memberikan perlakuan yang selama ini Kalian berikan pada Ku. Ah, dan juga Ayah yang melakukan sebagian hal yang berkaitan dengan Kediaman. Lagi pula sejak awal Ayah memang selalu memotong pergerakan Kalian sampai Kalian tersudut dan hanya memiliki Aku sebagai harapan terakhir kan ? Percayalah, bukan Aku saja yang turun tangan... Berterimakasih lah karena Aku tidak sekejam itu sehingga mencekoki Kalian dengan racun. Toh sekalipun tanpa racun, kualitas otak, tubuh dan kekuatan Kalian tidak akan sebanding dengan Ku. Jadi, untuk apa Aku harus melakukan hal yang merepotkan itu?”
"Tidak.. Seharusnya Kau tidak mengatakan hal itu. Seharusnya Kau-"
"Dan satu hal lagi, Sandra. Ingatlah bahwa Kau memang orang asing di Kediaman ini. Sampai mati pun, Kau hanya akan di kenal dengan sebutan Cucu dari seorang Baron. Bukan bagian dari Iveltto. Camkan itu.!"
“Nona Eleanora...”
“Ah, Simon.. Apa Kau mencari Ku ?” Sahutnya dengan nada yang langsung berubah drastis.
“Tentu.. Anda terlambat sepuluh menit dan membuat Tuan Grand Duke khawatir. Saya pun di tugaskan untuk mengecek kondisi Nona.”
“Hahaha, kekhawatiran Ayah berlebihan.”
“Mau bagaimana lagi, Tuan Grand Duke masih memiliki ketakutan jika Anda tiba-tiba menghilang.”
“Simon terlalu melebih-lebihkan.”
“..Sandra,” panggil Eleanora sambil melirik nya dari ujung mata kanan.
“Aku pergi dulu.. Sampai bertemu di kesempatan berikutnya, jika ada !”
Eleanora yang tengah di dampingin oleh Simon pun berlalu dari hadapan Sandra. Sosok mereka menghilang setelah berbelok dan menyisakan kehampaan untuk Sandra.
***
Eleanora pun tiba di ruang kerja Sang Ayah. Dia harus melakukan tugas-tugas yang sudah Di ambil alih dari Simon, dan akan langsung di periksa oleh Grand Duke jika sudah selesai. Itulah yang Dia lakukan sebelum jam makan siang.
...*...
...*...
...*...
Jika di tinjau lagi dari percakapan antara Eleanora dan Sandra, dari manakah Eleanora mengetahui bahwa Bekingan Jennie dan Sandra adalah Yang Mulia Ratu ?
Jika masih ingat, saat Eleanora pura-pura pingsan dan di letakkan di sebuah altar untuk di jadikan tumbal, Eleanora mendengar bahwa tubuhnya akan di buang ke pelelangan. Setelah bercakap-cakap dengan Spirit Angin, Asael, maka ditinggalkan lah Spirit Angin level rendah di tempat itu untuk mengumpulkan informasi.
Setelah bangun dari pingsan dan memperbaiki hubungan yang rusak dengan Grand Duke Iveltto, Eleanora pun bergegas ke kamar dan mendapatkan Laporan yang di berikan oleh Spirit Angin level rendah yang di tugaskan oleh Asael.
Di secarik surat itu berisikan dua informasi. Yang pertama tentang wanita yang Eleanora dengar suaranya, dan yang kedua fakta bahwa Yang Mulia Ratu bekerja sama dengan Penyihir hitam.
...*...
...*...
...*...
Setelah bekerja sesuai dengan dosis yang telah di tentukan oleh Sang Ayah, lalu makan siang bersama Grand Duke, Kini Simon tengah mengantar kembali Eleanora ke kamar nya untuk beristirahat. Sekedar infomasi, Kamar Eleanora sudah kembali ke Rumah Induk, bukan di Paviliun Barat lagi.
Diperjalanan, terjadi percakapan di antara keduanya.
“Simon, jika Aku ingin mengetahui Informasi yang cukup berbahaya, apakah ada Guild informasi yang akan mengabulkan keinginan Ku ?”
“Hem ~ Tentu ada Nona. Yang pertama, Guild Telur emas.”
“Dari namanya saja sudah terdengar matre. Apa mereka akan melakukan apapun demi uang ?”
“Sesuai perkataan Anda Nona.”
“Menarik.. Apakah hanya itu ?”
“Tidak.. masih ada satu lagi.. Namun akses masuk ke Guild itu sangat sulit.”
“Tunggu... Sebuah Guild Informasi sulit untuk di masuki ?”
“Ya.. Guild itu adalah Guild white. Anda harus memiliki semacam sebuah tiket yang bisa membuat Anda memasuki tempat mereka. Permintaan Dan pertanyaan apapun akan mereka ladeni.”
“Begitu yaa....”
“Apa Nona ingin mengetahui sesuatu ?”
“Ah, Tidak.. Tidak jadi.. Aku rasa cukup ribet jadi lupakan saja.”
“Kalau begitu, Silahkan masuk dan beristirahatlah Nona. Saya akan menjemput Anda saat sudah waktunya makan malam.”
“Emm.. Terimakasih untuk hari ini, Simon.”
“Sama-sama, Nona.”
Klekk..
Pintu pun tertutup.
Eleanora menengok brankas uang nya dan berucap “Malam ini Kita akan menggali sebuah Informasi. Persiapkan diri Kalian, Anak-anak.”
“Baik Master..!!” Jawab mereka yang bersorak riang di dalam dimensi.
...*...
...*...
...*...
...*...
Holaa💃... Thanks masih stay yaa😘.. Jangan lupa like dan komennya Guys😎.. Biar Author tambah semangat🫂.. See you in the Next Chapter Guys, Love youu ~❤️🔥~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments