Grand Duke Iveltto bersama Eleanora sudah berada di dalam Rumah Kaca. Diatas meja sudah terisi dengan berbagai macam cemilan dan juga teh. Sudah 30 menit berlalu, dan belum ada percakapan di antara keduanya.
Namun, Tatapan Grand Duke Iveltto hanya mengarah pada Eleanora. Seakan jika Dia mengalihkan pandangan sedikit saja, Eleanoa akan menghilang dalam sekejap. Dan hal ini berhasil membebani Eleanora.
“Mampuss... Kau mengajak Grand Duke Iveltto tanpa pikir panjang. Sekarang, apa yang harus Kau katakan bodoh ?!” Batin nya.
“Semangat Master.”
“Setidaknya bantulah berpikir.”
“Kami tidak paham jika sudah berurusan dengan hal seperti ini Master..”
“Ya Dewa..”
“El..”
“..Iya, Ayah ?!” Jawab Eleanora yang cukup terkejut dengan panggilan Grand Duke.
Dengan tatapan penuh kasih sayang, Grand Duke berkata, “Tidak.. Ayah hanya ingin mendengar dirimu memanggilku Ayah.. Entah sudah berapa lama tidak Ayah dengar.”
Eleanora tertegun. Apakah di Bumi abad 21 yang dirasakan oleh Ayah dan Ibunya juga seperti ini ?
Eleanora mengeratkan bibir dan berucap dalam batinnya, “Apa yang Aku khawatirkan ? Penjelasan berbelit-belit apa yang sangat ingin Aku utarakan ? Padahal di depan Ku terdapat sosok Ayah yang sudah tersenyum bahagia saat di panggil dengan sebutan Ayah.”
Memang masih Tampak sedikit ragu, namun Eleanor tetap berucap “Maafkan Eleanora, Ayah...”
“El ?! Tidak perlu-”
“Tidak Ayah..” Sela Eleanora sambil menggelengkan kepalanya. Dia menyimpan cangkir teh yang sejak tadi menghiasi jemarinya, dan langsung berlutut. “Semua perkataan Eleanora selama ini... Entah karena sengaja atau memang Aku yang terpengaruh, setiap kata-kata tajam yang berhasil melukai hati Ayah... Eleanora meminta maaf... Tanpa ada paksaan dari siapapun, dengan kesadaran penuh Eleanora meminta maaf.. Maaf-“
Sruukkhh..!
Perkataan Eleanora jelas terhenti.. Siapa yang akan tetap bersuara saat badannya di bawah kedalam rengkuhan tubuh yang lebih besar darinya ?
Grand Duke melepaskan Rengkuhannya dan menatap netra Eleanora dengan sangat intens... Kemudian Dia berkata,
“Tidak El.. Tidak... Ayah tidak pernah mempersalahkan Perkataan El selama ini... Jika perasaan Ayah terluka, Ayah yang harus mengerti akan hal itu. Yang membawa masuk duri ke dalam kediaman ini adalah Ayah sendiri. Kau seharusnya di besarkan oleh Ayah saja.. Seharusnya Ayah tidak perlu khawatir berlebihan dan menikah lagi dengan wanita itu. Karena itu, Kau tidak perlu-“
“Bohong...” Potong Eleanora dengan derai air mata.
“...Ayah bohong... Hiks.. Padahal Eleanora yang memicu semuanya.. Hiks.. Padahal Eleanora yang terus menunjukkan sikap ingin memiliki seorang ibu.. Makanya.. Hikss.. Ayah memilih untuk menikah dengan Anak seorang Baron.. Kenapa ? Kenapa Ayah menyalahkan diri? Hikss.. Seakan Eleanora akan melupakan semua perbuatan di masa lalu saja..”
“Karena Ayah tidak ingin Kau terbebani dengan hal itu.. Lupakanlah itu semua dan ayo mulai yang baru... Waktu Kita akan terbuang sia-sia jika hanya ingin menyalahkan diri.”
“.....” Eleanora terdiam namun tidak dengan sesenggukan nya.
Dia pun memeluk Grand Duke dengan sangat erat. Jujur, Eleanora tengah meluapkan kerinduannya pada Ayah dan Ibunya di Bumi abad 21. .
Seperti yang sudah di ketahui, Karena Eleanora yang terlalu keras pada dirinya sendiri, menjadikannya canggung dan merasa enggan untuk memeluk Ayah dan Ibunya. Setelah kematian mereka berdua dalam menjalankan misi, barulah Eleanora mengetahui yang diinginkan oleh Ayah dan Ibu nya lewat surat wasiat.
...*...
...*...
...*...
~> Bumi Abad 21
Suasana berkabung masih menyelimuti kediaman Iveltto. Karena didikan yang keras sejak kecil, membuat semua keluarga Besar Iveltto tidak tau cara menyalurkan emosional nya untuk saat-saat seperti ini. Itu juga mengapa tidak terdengar jerit tangis dari mereka. Meneteskan air mata iya, namun tidak dengan jerit tangis. Bahkan oleh Eleanora sekalipun.
“.......” Eleanora masih mematung di tempatnya. Mata nya hanya melihat foto tersenyum yang berdiri kokoh di atas meja.
Dadanya sesak. Terasa sesuatu ingin keluar, namun entah tertahan oleh apa.
“Nona Eleanora... Tuan Besar ingin Anda menemui nya.” Bisik seorang pelayan wanita.
“Dimana Kakek berada ?”
“Di kamar Tuan dan Nyonya.”
“..?!..” Eleanora bertanya-tanya. Kenapa harus di kamar Ayah dan Ibu nya ?
“Apa perlu Saya antar, Nona ?”
“Tidak.. Tidak perlu.” Tolak Eleanora yang langsung berjalan ke tempat Kakeknya berada.
***
Tok tok tok.
Klek..
“Selamat malam Kakek.. Apakah ada sesuatu yang harus Saya lakukan ?” Tanya Eleanora yang tetap menunduk. Dia tak sanggup melihat kamar yang pernah dia tempati saat nasibnya berubah total dalam satu malam.
“Eleanora.. Apa Kakek boleh bertanya sesuatu ?”
“Tentu. Apapun itu.”
“Haah.. Kau sangat pandai dalam berbagai hal. Kau pintar membuat taktik saat di hadapkan dengan musuh yang berbeda-beda setiap saat. Bisakah Kakek simpulkan kalau Kau sangat peka ?”
“Kakek bebas menyimpulkan apapun tentang Saya.”
“Lagi-lagi jawaban Mu se formal itu...” Ucap Kakek sambil mengambil dua amplop di meja yang ada di belakang nya. “Bacalah..” Sambil menyodorkan.
“Baik.” Jawab Eleanora sambil mengambil kedua amplop itu.
Tiba-tiba tangan yang tampak sudah keriput itu memegang bahu Eleanora. Perkataannya kali ini terdengar lebih halus... “Kamar ini tidak akan di masuki oleh siapapun sampai besok pagi... Kau Bebas melakukan apapun.”
“...Baik.” Walaupun tidak mengerti maksud dari perkataan Kakeknya, Eleanora tetap mengiyakan dengan patuh.
Atensinya langsung dapat membaca dua nama berbeda yang tertera di atas amplop. Tertulis nama Sofia dan juga Perez. Sambil mengangkat satu alisnya, Eleanora mulai membuka amplop itu. Mata nya terbelalak saat melihat untaian tulisan yang berjejer rapi dan memenuhi kertas putih.
“Huuuu.. Haaahh..” Eleanora mulai mengatur nafas dan langsung membaca kata demi kata. Dia memilih surat yang di tulis oleh Ibunya, Sofia.
______________________________________________
Teruntuk Eleanora, Putri Ku sayang...
Mungkin Kau tidak mengetahui hal ini, Namun terdapat kebiasaan turun temurun dalam keluarga Kita. Saat menjalankan misi, Kita akan memperkirakan tingkat bahayanya. Dan jika memang tidak ada peluang untuk hidup, Kami harus menulis surat wasiat untuk orang-orang yang Kami sayangi. Ibu dan Ayah hanya menulis surat untuk Mu dan kakek.
Sayang.. Putri kecil Ibu... Ibu sangat tertekan dengan perubahan sikap Mu saat Kau terobsesi menjadi kuat dan lebih baik. Yang awalnya kita sering berpelukan bersama, tertawa dan bercanda, langsung lenyap saat Kau menempa tubuh. Ibu pikir itu sifat alami setiap anak yang memasuki usia remaja, namun sikap Mu itu seolah menjadi permanen bahkan saat telah melewati masa remaja.
Ibu ingin mencairkan suasana, namun setiap kali Ibu dekati kau tampak kikuk dan kaku. Kau selalu terlihat berpikir keras agar bisa menjawab dan berperilaku sempurna di hadapan Ibu dan Ayah, bahkan dengan Kakek. Ibu tidak tau kesalahan nya di mulai dari mana, sehingga Kami bingung harus memperbaiki nya dari mana. Apalagi semenjak Kami mengadopsi Alexa sesuai dengan yang Kau minta, Sikap Mu tampak lebih terbuka dan Kau bisa dengan leluasa memberikan kasih sayang pada Nya. Kami kira waktunya telah tiba untuk kembali dekat dengan Mu. Namun ternyata tidak. Kita malah semakin menjauh karena Kau lebih fokus pada tumbu kembang Alexa.
Jujur, hingga detik ini Ibu belum bisa menerima Alexa. Ibu merasa bahwa Dia tidak tampak seperti yang Dia perlihatkan. Namun Ibu tahan. Ibu menghormati keinginan dan kemauan Mu untuk menjadikannya Adik.
Eleanora, jika Ayah dan Ibu berhasil pulang dengan selamat, Kami akan mengatakan yang Kami inginkan. Kami akan terbuka se terbuka mungkin agar hubungan Kita membaik. Apakah takdir akan mengiyakan kemauan ini ? Ibu harap Iya. Namun jika tidak, tolong buka brankas rahasia. Sebelum berangkat, Aku dan Ayah Mu sepakat untuk mengganti kata sandinya dengan tanggal lahir Mu.
Eleanora... Apapun yang terjadi, kesalahan apapun yang Kau lakukan, Seburuk apapun tingkah laku Mu, Tidak akan mengubah fakta bahwa Ibu sangat amat mencintai Mu. Lebih dari pada nafas yang berhembus di tubuh Ibu.
Ibu menyayangi Mu, Eleaora...
_____________________________________________
***
“Haa.. Huuhhh... Agghh...Bertahanlah Bodoh.! Kau harus membaca surat dari Ayah lagi.” Gumamnya dengan wajah yang sudah di banjiri air mata. Dia berusaha keras mengatur nafas dan juga ingus nya.
***
_____________________________________________
Untuk Eleanora, gadis bodoh yang pasti sedang menangis terseduh-seduh saat ini...
Maaf karena surat ini harus sampai ke tangan Mu. Kami juga tidak punya kekuatan untuk merekam wajah Kami.. Kami takut akan menunjukkan reaksi wajah yang membuat Mu semakin tercekik rasa penyesalan.
Eleanora, Ibu Mu pasti sudah menulis yang Kami ingin lakukan dengan Mu. Namun di antara Kita benar-benar terhalang tembok tinggi nan besar. Kita sebut saja itu gengsi dan juga kebodohan diri Kita masing-masing. Padahal Kita bisa memperbaiki hubungan dengan berkomunikasi, namun sesulit itu untuk di lakukan.
Jika sempat Ayah ingin mengatakan hal ini dari mulut Ayah sendiri. Namun waktu Kita tidak banyak. Kita selalu punya kesibukan masing-masing yang membuat Kita baru menyesali semua yang telah berlalu. Seolah dengan menyesal dapat menyelesaikan segalanya.
Banyak yang ingin Ayah katakan pada Mu gadis bodoh... Namun, sudahlah... Ayah akan berusaha agar pulang dengan selamat. Jaga diri Mu baik-baik. Jangan pernah berpikir untuk bunuh diri dan sebagainya. Dan sebagai tambahan, saat membuka brankas nanti, tolong kendalikan dirimu. Ayah tidak melarang Mu menangis, namun Ayah tak tega melihat Mu menangis seorang Diri.. Ayah mencintai Mu, Eleanora...
______________________________________________
“Ugh.. Hikss.. Huhuhu.. Huwaaa.. Aaahh.. Hiksss... Maaf... Hiksss.. Aku selalu takut menjadi anak yang mengecewakan.. Maaf.. Seharusnya Kalian mengatakan ini sejak awal.. Aku juga menahan diri.. Aku juga.. Hikss.. Tapi Aku selalu takut anak yang tidak ada hubungan darah ini akan mencoreng prestasi-prestasi besar yang sudah Kalian hasilkan.. Hikss.. Maaf...”
Air mata itu terus terjun bebas seolah tak ada habisnya. Tangan Eleanora sudah penuh dengan air mata yang membludak itu.
Sekalipun sudah begitu, Eleanora tidak membutuhkan waktu untuk istirahat. Dia langsung membuka brankas karena penasaran dengan yang ada di dalam.
“Sebuah surat ?” Pikirnya sambil membuka tiga surat dengan judul Laporan tes DNA
"Apa yang Ayah dan Ibu coba sampaikan ? DNA ? Apakah Ayah dan Ibu memiliki anak- Eh ?!" Eleanora terdiam.
Kedua iris mata itu mencoba untuk membaca ulang nama yang terpampang nyata di kertas hasil tes DNA itu. Namun, Mau di lihat ribuan kali pun, tetap tertera nama Eleanora Jeanette Iveltto.
"Kemungkinan Perez Jonatte Iveltto dan Sofia Eveldez Iveltto adalah Ayah dan Ibu biologis Eleanora Jeanette Iveltto adalah 99,99%"
Bruukkhh
Kaki Eleanora benar-benar tak bisa menopang tubuh nya lagi. Sudah cukup. Dia terus di berikan pukulan sejak tadi. Di kertas yang sudah terjatuh di lantai itu terlihat ada coretan tinta. Mata Eleanora mulai di pertajam agar dapat membacanya.
"Maaf karena tidak memberitahumu. Kami takut sikapmu akan lebih dingin lagi pada Kami, yang membuatkan masa kecil Mu di lalui dengan sangat tragis. Maaf..."
"Aahh.. Aahh... Aaarrgghhhhh... Huwaaaa....."
Gadis itu pun menangis bak anak kecil. Tak ada julukan Ratu Dunia Gelap lagi. Saat ini Dia bagaikan anak malang yang sudah kehilangan orang tuanya. Banyak.. Terdapat sangat banyak penyesalan.. Sangat banyak hal yang ingin Dia lakukan namun terhalang dengan nama adopsi.. Namun apa-apaan? Eleanora adalah anak biologis? Lalu untuk apa Dia bersikap keras selama ini ?
Gadis itu menangis selama sejam penuh. Sampai akhirnya kelelahan dan tenggelam dalam tidur nya.
***
Saat membuka mata, jam tangan nya sudah menunjuk pukul tujuh pagi. Eleanora langsung berlari dengan tergesa-gesa menuju ke halaman belakang. Cukup jauh karena itu adalah kuburan umum tempat keluarga besar Iveltto di makamkan. Entah karena sedang tergesa-gesa atau apa, jalan yang biasanya terasa dekat malah terasa sangat jauh karena belum sampai juga.
"... Terlambat ? Aku terlambat ?" Cetusnya dengan senyum kecut. Saat melihat dua nisan sudah tertancap di atas tanah.
Bahkan yang melayat pun sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanya beberapa orang saja.
"Nona, Anda kemana saja-"
"Berhenti bertanya. Tinggalkan Aku sendiri. Aku butuh waktu berdua dengan Ayah dan Ibu Ku." pinta nya sambil meremas tangan.
Semuanya paham situasi dan meninggalkan Eleanora seorang diri.
Srukkhh.. Tubuh nya meluruh ke tanah.
"Bahkan untuk mengantarkan kepergian Kalian untuk terakhir kali saja Aku tidak ada... Anak biologis apa nya ? Ratu dunia gelap apanya ? Anak emas dari keluarga Iveltto apanya ?? Hikss.. Aku hanya ingin bersama kalian.. Maaf.. Maaf.. Maaf.. Ku mohon, maafkan Aku.. Aku ingin melakukan banyak hal dengan Kalian.. Aku ingin memanggil Kalian dengan sebutan Ayah dan Ibu secara manja. Aku ingin bertingkah bak anak kecil di hadapan kalian.. Maaf.. Ku mohon.. Kembalilah.. Beri Aku kesempatan.. Aku tak akan menyia-nyiakan nya.. Hikss.. Ku mohon..."
Gadis itu terus meminta. Berharap permohonannya di penuhi. Padahal Dia sudah tau lebih jelas, bahwa sesuatu yang sudah terjadi tak akan pernah bisa di ubah. Namun apa daya ? Dia hanya ingin memohon.. Toh siapa tau di kabulkan bukan ? Sekalipun oleh Iblis, Eleanora tidak keberatan sama sekali.
...*...
...*...
...*...
"Ayah.. " Panggil Eleanora yang masih nyaman berada di pelukan Grand Duke Iveltto
"Ayah disini.. Ada apa ?"
"Aku sayang Ayah.."
"Ayah juga sayang pada Mu, Nak."
"Aku sayang Ayah.. Aku ingin menceritakan banyak hal. Aku ingin melakukan banyak hal.. Aku ingin menciptakan banyak kenangan indah dengan Ayah.. Eleanora ingin..."
Sambil mengusap punggung anaknya, Grand Duke berkata, "Kita akan melakukannya. Kita memiliki banyak waktu untuk itu. "
"Eemm..." Jawab Eleanora yang kini sudah merasa nyaman dengan rengkuhan Ayahnya.
Eleanora pun tersenyum puas karena untuk kedepannya Dia pasti akan menciptakan banyak kenangan bersama sang Ayah. Tanpa mengetahui terdapat hal-hal lain yang sudah menantinya.
...*...
...*...
...*...
Hola Guysss👻💃 Makasih yang masih Stay.. Jangan lupa Like dan Komennya yaa... I love you always Guys.. See you in the next Chapter 💃❤️🔥💅
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments