Usai mendeklarasikan peperangan secara terang-terangan, Eleanora tidak kembali ke Paviliun Barat. Entah kemana langkah kakinya mengarah...
***
Beberapa saat kemudian, Di kamar Jennie Dorez.
Prang..!
“Arrrgghhh... Kenapa Anak bodoh itu mendadak berani ?” Teriak Jennie. Kemudian dengan gelisah Dia menggigit jemarinya dan berkata, “Gawat... Keberadaan Kita di Kediaman bisa terancam jika rantai dari anak itu sudah putus !”
Rantai yang Dia maksud adalah tali yang mengekang dan membodohi Eleanora selama ini.
“Ugh.. Kalau anak sialan itu sukses memperbaiki hubungan nya dengan Grand Duke, Kita pasti mati. Kita telah memberikan racun, mempermainkan pikiran Eleanora sejak kecil, dan melakukan berbagai hal.. Jika langsung mati tak masalah, setidaknya Kita tidak merasakan sakit lewat penyiksaan.. Tapi, Ibu rasa Grand Duke tidak akan membiarkan Kita begitu saja-“
Braakk...!
Buku-buku sudah berserakan di mana-mana. Ini adalah ulah Sandra.
“Argghh... Ibu, Aku ingin membunuhnya.. Aku ingin membunuhnya... Bunuh.. Bunuh... Hanya itu yang ada di pikiran Ku saat ini !”
Geraman Sandra berhasil membuat Ibu nya mematung. Di saat Dia tengah memikirkan hidup dan mati mereka berdua, Sandra malah ingin memperburuk situasi ?
Jannie mengatur pernapasan agar intonasi suara nya tidak meninggi di hadapan sang Putri. “Sandra, Grand Duke akan pulang satu minggu lagi.. Sebaiknya Kita memikirkan sesuatu.. Kita masih bisa berpura-pura menyesal sambil meminta maaf di hadapan Eleanora .Dia pasti akan merasa iba dan memaafkan Kita-“
“Meminta maaf ?” Sela Sandra sambil meremas kedua lengan Ibunya. “Aku ? Pada wanita itu ? Apa Ibu serius dengan perkataan Mu ?” Bisiknya dengan mata yang membuas.
“..!!..” Jennie tertegun dengan yang Dia lihat. Apa Sandra sungguh anak yang Dia besarkan degan kasih sayang selama ini ? Tidak.. Jennie menggeleng kepala dengan kuat. Berusaha Mengusir kekecewaan yang tersirat sepintas di benak.
Jennie pun melepaskan rengkuhan kuat milik Sandra dari lengan, dan dengan suara yang intonasinya masih sama, Jennie berucap...
“Sandra, Ingatlah.. Bahwa semenjak Eleanora berhasil Kita bodohi, Grand Duke memang tak bisa menyentuh Kita. Namun Dia terus menyingkirkan pelayan-pelayan kepercayaan dari Orang itu dan alhasil Kita hanya bisa berpegang pada Eleanora saja. Setidaknya Kita dapat menikmati kekayaan dan kekuasaan Grand Duke Iveltto dengan sepuasnya, Walaupun Gelar Grand Duchess telah terkubur dengan Duchess Sofia dan Kita tetap dengan gelar Baron, tapi Kita tetap di perlakukan dengan hormat.. Ibu rasa itu sudah cukup.. Tapi jika Eleanora, tali yang kita pegang putus... Kita tidak ada harapan lagi..”
Jennie berusaha menenangkan Putri nya dengan fakta. Namun, kebencian dan kedengkian berhasil membius akal sehat nya.
“Ibu... Jika Ibu terlalu takut akan hal itu, biar Aku saja yang lakukan !” Hardik nya sambil menghempaskan tangan Jennie yang menggenggam tangannya. Dia berbalik dan ingin melangkah, namun Dia terpikirkan sesuatu dan melirik Jennie sambil berkata..
“Orang itu pasti akan membantu Kita.”
Tok tok to-
Sringg... Brakkhh.!!
Bukannya bertanya dan mengijinkan masuk, Sandra malah melancarkan sihir penyerangan yang menyebabkan pintu terlepas dari engsel nya.
“....”
Hening.. Tidak ada teriakan atau jeritan orang yang kaget atau ketakutan. Sandra memeriksa pintu, dan tidak di temukan siapapun. Lantas, siapa yang mengetuk pintu ?
“Ibu, jika Kita ketahuan, pikirkan sesuatu untuk membereskannya. Aku akan kembali ke kamar.” Ketusnya dan berjalan begitu saja..
“Sandra.. Sejak kapan ? Hiks... Beberapa saat yang lalu Kita masih membicarakan soal Gaun apa yang akan Kau kenakan untuk Pesta di Istana.. Tapi.. Hikss.. Ah, ini semua karena Eleanora.. Benar.. Apapun yang di lakukan oleh Sandra, Aku akan membereskan Nya. Sekalipun mengorbankan nyawa, Aku tidak peduli. Anak Ku berhak mendapatkan yang terbaik!”
“Wuaah.. Hubungan Ibu dan Anak yang entah kenapa tidak membuat Ku terharu sama sekali.” Simpul Eleanora yang saat ini masih bersandar dengan santai di pintu yang masih utuh. Keberadaan nya di sembunyikan oleh Bella, dan Dia mendengarkan percakapan Jennie dan Sandra sejak awal.
Ini jugalah yang membuat Dia keluar terlebih dahulu dari ruang makan.
“Master, perempuan yang bernama Sandra itu ternyata adalah penyihir level empat. Satu tingkat di atas Master.” Kata Asael
“Hmpth..! Memangnya kenapa ? Master memiliki Kapasitas Mana yang besar. Juga memiliki Aura.. Master juga bisa menggunakan Aura Blade sebagai serangan sebanyak tiga puluh kali. Di tambah dengan penyihir level tiga, memang nya Gadis bernama Sandra itu bisa menang melawan Master ?” Sanggah Samuel.
Bella dan Rangga mengangguk setuju dan lanjut menimpali,
“Dan juga Master memiliki tiga Shinsu Serigala bersaudara.”
“Master juga menjalin Kontrak dengan penyihir tingkat tinggi. Apalagi yang memiliki elemen angin. Kita semua tau bahwa di dalam tubuh Master tertanam kekuatan Magis yang di segel kan ? Jika segelnya sudah terlepas semua, Master bahkan bisa menjadi Archmage.”
“Haah.. Bukan itu maksud Ku.” Dengus Asael kesal.
Memangnya Dia sudah gila sehingga memihak musuh Master nya ?
“Jadi, apa yang ingin Kau katakan Asael ?” Tanya Eleanora.
“Sihir nya tadi bukan berasal dari kekuatan magis asli.”
“Apa kekuatan magis di dunia ini juga bisa di palsukan ? Uniknya ~”
“Bisa.. Namun yang dapat melawan hukum alam ini hanya para penyihir hitam.. Penyihir yang punya kelainan untuk menhancurkan seluruh manusia.”
“Hem ~” Eleanora berpikir sejenak.
“Bagaimana cara kerja magis itu ?”
“Ku rasa Sandra itu tidak terlahir dengan kekuatan magis. Namun memang Dia memiliki kapasitas mana yang besar. Tapi tidak sebesar milik Master sih..”
“Hahh.. Asael, kembali ke topik pembicaraan.” Tegur Eleanora.
“Mana biasanya menempati dua paru-paru. Sedangkan Kekuatan magis berada di setiap jantung manusia. Jadi, Para penyihir hitam pasti menanam kekuatan Magis pada jantung anak itu. Hal ini sulit di sadari sekalipun oleh orang yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap sihir. Sehingga saat di gunakan, Spirit seperti Ku bisa langsung merasakan perbedaan nya. Aku ini sudah hidup cukup lama, jadi bukan hal yang sulit untuk menyadari hal ini."
Kemudian, Eleanora berjalan meninggalkan Kamar Jennie. Dia sempat berpikir beberapa saat, dan berkata...
"Hahaha... Sandra, memaksakan sesuatu yang tidak dianugerahkan untuk Mu itu tindakan yang ceroboh.. Sungguh Menarik sekali..."
"Master langsung ingin ke kamar ?"
"Tentu saja. Mereka terus berkata 'Orang Itu' sejak awal. Pasti 'Orang Itu' akan membantu mereka. Di lihat dari sikap Sandra tadi, Dia pasti ingin membunuhku."
Dan seperti yang di katakan Eleanora, Dia pun kembali ke Paviliun Barat. Tentu saja sebelum menyambut sesuatu, Dia harus mempersiapkan kamar nya agar tidak terdengar keributan dan mendatangkan kerumunan pelayan.
...*...
...*...
...*...
...*...
Malam hari, pukul 12.
Eleanora sudah terbaring di atas kasurnya. Dan beberapa saat kemudian, Dia merasakan kehadiran beberapa orang.
"Apa ini benar kamar nya ?"
"Benar. Di bagian Barat hanya terdapat satu Paviliun saja."
"Apa Kita Dobrak saja pintu nya ?"
"Jangan bodoh. Apa kau orang baru dalam urusan seperti ini ?"
Eleanora Pun tersenyum dan berucap dalam batinnya, "Datang juga... Heemm, ada empat orang. Jika mereka datang lebih larut lagi, Kurasa Aku benar-benar akan tertidur lelap."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments