#Episode 02 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)

Tatapan yang menajam disertai dengan intimidasi itu perlahan menghilang saat Eleanora melihat makhluk imut yang tengah melihatnya dengan netra yang tampak amat polos.

Sambil memiringkan kepalanya, Eleanora berkata “Panda ?!” dibarengi dengan sedikit kebimbangan.

“Eleanora...” Ucap Panda itu yang berjalan mendekatinya.

“Kau bisa berbicara ? Itupun bahasa manusia ? Tunggu...” Sesaat Eleanora tersadar akan sesuatu. “Suara ini.. Kau yang membangunkan Ku tadi ?”

“Emm...” Jawab Si panda mengangguk.

“Sebenarnya-“

“Eleanora... Ada yang ingin bertemu.” Sela Si Panda yang sudah meletakkan tangannya di atas tangan Eleanora.

“Dengan Ku ? Siapa-“

“Sriinggg...!” Perkataan Eleanora terhenti karena sebuah cahaya yang nampak.

Cahaya yang tiba-tiba mendominasi penglihatan itu membawa Jiwa Eleanora ke suatu tempat.

*

^^^*^^^

*

^^^*^^^

*

^^^*^^^

Disebuah ruangan putih, luas dan kosong, jiwa Eleanora berdiri mengamati sekitarnya. Kedua tangannya diangkat, dan Eleanora pun dapat melihat bahwa ini adalah jiwanya.

"Ini jiwaku. Aku merasa nyaman dengan ini. Berarti benar, tadi itu hanya tubuh yang mirip saja." Ucap Eleanora merasa cukup lega bahwa dia tidak bereinkarnasi secepat ini.

"Haii..." Sapa seseorang dari belakang, yang membuat Eleanora berbalik.

"......” Eleanora terdiam beberapa detik sebelum berucap.

“Jadi, Kau adalah Jiwa dari tubuh yang ku tempati beberapa saat yang lalu kan ?”

"Emmm...” Jawabnya sambil mengangguk dengan tersenyum anggun, “...Rupanya Kau sangat peka terhadap hal seperti ini." Sambungnya lagi.

“Dari pada peka, bukankah setiap orang lebih paham proporsi tubuh masing-masing ? Aku dapat merasakan dengan jelas perbedaan di antara tubuh kita. Bahkan anak kembar saja tetap memiliki sesuatu yang membedakan mereka sekalipun di sebut bak pinang di belah dua.”

“......”

Hening... Untuk beberapa saat, Di antara jiwa-jiwa itu tak ada yang bersuara. Sedangkan jiwa panda ? Dia hanya melayang di sekitar kepala jiwa yang kini ada di hadapan Eleanora.

“Kau yang ingin bertemu dengan Ku kan ? Apa yang Kau inginkan ?” Tukas Eleanora mengakhiri keheningan.

"Maaf mengatakan ini tiba-tiba... Aku akan mengirim Mu kembali ke raga yang kau tempati sebelum dipanggil oleh Hewan Roh milik Ku. Tapi, bisakah Kau mengabulkan dua permintaan dariku ?" Tawar nya dengan wajah yang tampak gelisah. Wajah yang seolah tengah di kejar oleh waktu yang semakin menipis.

Walaupun wajah nya tampak gelisah, tidak menjadikan Eleanora untuk merasakan Iba sedikitpun.

"Kenapa Kau tidak mengirim jiwa Mu sendiri ? Kau bisa melakukan dua hal yang ingin Kau pinta pada Ku. Bahkan Kau bisa melakukan banyak hal. Maksud perkataan Ku, kenapa harus Aku ?"

"Ah... Ada beberapa hal yang tidak bisa Kukatakan saat ini... Apa Kau sungguh tidak ingin hidup lagi ? Kau hanya perlu melakukan dua hal yang Aku inginkan, selebihnya Kau bisa hidup sesuai dengan kemauan Mu."

"....." Eleanora terdiam.

Dia tau ini tawaran yang bagus dan menggiurkan. Namun, kehidupan di abad 21 membebaninya. Entahlah, Eleanora sedang menimang-nimang tawaran yang diberikan oleh Jiwa di hadapannya.

"Apa yang kau inginkan ?" Tanya Eleanora usai memutuskan sesuatu, dan disambut dengan senyuman dari dua jiwa di hadapannya.

"Yang pertama.. Tolong balaskan dendamku !"

"Dendam ? Pada siapa ?"

"Pada Ibu dan adik tiriku."

"Hanya pada mereka berdua ?"

"Tidak. Balaskan dendam pada mereka yang juga mengkhianati Ku. Untuk lebih jelasnya, Kau akan mendapatkan ingatanku sebelum masuk ke tubuhku nanti. Panda akan memberitahukan semua yang terjadi pada Ku selama ini."

"Haah.. Baiklah.. Memang agak merepotkan, tapi akan Aku lakukan."

"Lalu permintaan Ku yang kedua-"

"Sebentar." Sela Eleanora yang teringat sesuatu.

"Sebelum mengatakan permintaan kedua Mu, Kau juga harus memenuhi permintaanku terlebih dahulu." Tegas Eleanora.

"Apa permintaan Mu ?"

"Aku ingin kau memindahkan seluruh kekuatan yang dimiliki oleh tubuhku dari abad 21 ke tubuh yang akan Aku tempati."

"Itu... Agak sulit..." Jawab nya ragu. Jemari-jemarinya bertautan satu sama lain dengan gelisah. Waktu mereka sudah hampir habis, tetapi Dia harus menyelesaikan kesepakatan ini.

"Agak sulit bukan berarti tidak bisa kan ?" Eleanora meyakinkan.

Yang memberikan tawaran kepada Eleanora itu tampak ragu dan gelisah. Eleanora pun memutuskan untuk angkat bicara.

"Begini.. Aku orangnya tidak suka pilih-pilih. Seandainya tubuhmu itu berusia enam atau tujuh tahun, Aku akan menerima tawaranmu tanpa permintaan apapun. Karena Aku dapat melatih tubuhmu seperti Aku melatih tubuhku berdasarkan pelatihan yang diberikan Oleh Ayah dan Ibu yang mengadopsi Ku di abad 21....”

“...Tapi jangankan melatih tubuhmu, Aku perkirakan usiamu sudah lebih dari 20 tahun. Walaupun hanya Aku tempati selama beberapa menit, Aku dapat merasakan bahwa tubuhmu sangat lemah. Kita berdua memiliki Wajah yang sama, namun jika dibandingkan dengan Aku di Abad 21, tubuhmu itu bukan apa-apa. Jika Kau menjadi musuhku, Aku hanya perlu membunuhmu tanpa usaha sama sekali..." Eleanora berhenti sejenak.

"...Lalu, Dilihat dari jiwa Mu juga, Kau memiliki jemari yang gemulai. Postur tubuh Mu menggambarkan bahwa kau adalah seorang Nona dari keluarga terhormat. Aku yakin jemari itu hanya di gunakan untuk menulis dan menganyam sesuatu. Jangankan pedang, belati saja pasti sulit." Lanjut Eleanora sambil menyilangkan tangan.

Bukannya Eleanora ingin menjatuhkan mental jiwa yang ada di depannya. Namun, keinginan tanpa persiapan yang matang sama saja dengan bunuh diri.

Jiwa yang mendengarkan perkataan Eleanora pun tertegun sejenak. Lalu Dia mulai berbisik-bisik dengan jiwa panda yang sejak tadi melayang di sekitar kepalanya. Setelah berdiskusi, Dia pun angkat suara.

"Baiklah.. Kami akan mengabulkan permintaan Mu."

"Baguslah. Aku suka kesepakatan yang tidak berat sebelah."

"Terimakasih.."

"Tunggu.. Katakan permintaan kedua Mu dulu. Maaf karena Aku memotong perkataan Mu tadi."

Yang di tanya pun tersenyum lagi. Senyuman nya kali ini terkesan berbeda. "Tolong rawat anakku dengan baik. Besarkan dia dengan kasih sayang seorang Ibu. Dia belum mendapatkan kasih sayang itu karena beberapa hal."

"Oh, jadi begi- APA ?! Anak ?! Kau sudah melahirkan ? Jangan-jangan, Kau baru saja selesai-"

"Aku bukan mati karena persalinan.” Selanya sebelum Eleanora pergi terlalu jauh. “Persalinan itu terjadi enam tahun yang lalu. Aku mati karena masuk dalam jebakan Ibu dan adik tiriku untuk yang kesekian kalinya." Sambungnya lagi memperjelas.

"......" Eleanora pun terdiam sambil terus menatap jiwa yang ada di depannya.

"Jangan menatapku seperti itu. Aku memang bodoh. Aku terlalu-"

"Tidak. Aku tidak berpikir begitu. Aku hanya teringat tentang adikku di abad 21 yang juga mengkhianati Ku." Potong Eleanora.

"...Setelah dipikir-pikir usai bertarung dengannya, kurasa semua kesialan yang terjadi di hidup Ku dimulai sejak Ayah dan Ibu mengadopsi anak kecil yang Aku selamatkan. Pasti Dia juga yang menyebabkan kematian Ayah dan Ibu... Sungguh, kenapa aku tidak Peka saat itu ?" Ucap Eleanora sambil tersenyum masam. Terdapat rasa sakit yang menyayat hati jika diingat kembali.

“Kau yakin tidak keberatan dengan permintaan Ku ini ?”

“Emmm...” Eleanora mengangguk. “Aku ingin menikmati hidupku. Sekuat dan sepintar apapun Aku sebelumnya, Aku terlalu tegas pada diri sendiri. Sehingga, terdapat ribuan hal yang baru Aku sadari saat Mereka sudah meninggal.”

“Eleanora, semoga beruntung.. Saat menikmati hidupmu, tolong libatkan anakku di dalamnya.”

“Hahaha.. Tentu saja, Kenapa Kau takut sekali Aku melupakan kesepakatan Kita.”

“Whusss.....” Angin yang tiba-tiba masuk langsung memudarkan keberadaan jiwa wanita itu dan juga panda.

“Waktu Mu sudah habis ?”

“..Ya... Karena dimensi ini diciptakan oleh kekuatan Ku dan kekuatan Nya yang tidak seberapa... Tidak sama seperti seseorang...”

“Seseorang ?” Jiwa itu tersenyum dan memilih untuk mengatakan hal lain.

“Eleanora.. Mendekat Lah.. Letakkan tangan Mu di tangan Ku ini.”

Eleanora pun menurut.

Tap.!

Kedua tangan itu sudah bersentuhan.

“Eleanora...” Panggil si panda.

“Iya ?”

“Sepertinya Kau akan membutuhkan infomasi ini. Bunga Cahaya Rembulan akan mekar di tebing yang dekat dengan sungai tempat Mu berbaring. Terdapat pohon apel yang paling rimbun, duduklah di situ saat menjelang malam hari. Perhatikan tebing itu. Kau akan mengetahui Bunga Cahaya Rembulan saat sekali lihat. Besok malam pasti akan mekar.”

“Terimakasih... Aku pasti membutuhkan informasi itu saat mendapatkan ingatan dari Tuan Mu- Oia... Sebelum benar-benar menghilang, apakah Aku boleh tau namamu dari mulut Mu sendiri ?"

Eleanora baru saja teringat. Sudah di ujung percakapan, Eleanora belum mengetahui nama dari patner bicaranya ini.

"Namaku Eleanora...."

"Apa ?!"

Jiwa itu tersenyum lagi dan berkata, "Kau tidak salah dengar. Namaku Eleanora Jeanette Iveltto."

"Bagaimana bisa-" Perkataan Eleanora terhenti saat penglihatannya dipaksa menghitam dan jiwanya seakan ditarik secara paksa ke suatu tempat.

...*...

...*...

...*...

...*...

“Eleanora....” Panggilnya.

“Suara ini.. Panda ?!” Batin Eleanora yang secara perlahan membuka matanya.

Jiwa nya kini tengah melayang di sebuah tempat yang penuh akan hamparan kegelapan.

“Tahanlah Eleanora... Ingatan ini akan memberikan rasa sakit pada jiwa dan pikiranmu.”

Sebelum Eleanora merespon, ingatan-ingatan sudah menerjang pikirannya. Semua ingatan itu seolah tengah berlomba-lomba untuk masuk lebih dulu. Membuat Elenora amat kesakitan.

“Tu...Tunggu... Satu per satu... Ughhh... Kumohon... Pelan-pelan...” Ringis Eleanora yang kini meremas rambutnya dengan amat kuat.

Walaupun Ingatan masuk secara berdesak-desakkan, Eleanora dapat memahami setiap ingatan itu. Kinerja Otak yang dipaksa untuk memahami semua ingatan yang masuk secara bersamaan itulah yang menciptakan rasa sakit yang luar biasa. Walaupun terasa sangat sakit, Eleanora tidak meneteskan air mata nya.

Dia hanya merasa sakit pada otak, bukan pada hati. Begitulah seharusnya, hingga Eleanora mendapati beberapa ingatan yang memicu emosional yang tak pernah Ia rasakan selama ini..

“Hikss.... Ayah.... Ibu...” Rengeknya dengan derai air mata.

Perlahan, semua ingatan telah didapati. Eleanora masih mengambang di ruangan yang di penuhi oleh hamparan kegelapan itu.

“Ugghhhh...” Ringis Eleanora saat merasa jiwanya ditarik secara paksa, lagi ! Seolah-olah enggan untuk memberikan waktu istirahat bagi Eleanora.

...*...

...*...

...*...

...*...

...*...

Hai lagi Guys 👋😊 Masih suka sama cerita Author ? Kalo gitu jangan lupa dukungannya dalam bentuk like dan komen ya 🥰.. Author bakal tambah semangat kalo kalian berkomentar. Terimakasih 😌❤️🔥

Episodes
1 #Episode 01 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
2 #Episode 02 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
3 #Episode 03 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
4 #Episode 04 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
5 #Episode 05 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
6 #Episode 06 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
7 #Episode 07 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
8 #Episode 08 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
9 #Episode 09 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
10 #Episode 10 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
11 #Episode 11 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
12 #Episode 12 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
13 #Episode 13 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
14 #Episode 14 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
15 #Episode 15 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
16 #Episode 16 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
17 #Episode 17 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
18 #Episode 18 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
19 #Episode 19 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
20 #Episode 20 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
21 #Episode 21 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
22 #Episode 22 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
23 #Episode 23 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
24 #Episode 24 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
25 #Episode 25 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
26 #Episode 26 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
27 #Episode 27 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
28 #Episode 28 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
29 #Episode 29 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
30 #Episode 30 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
31 #Episode 31 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
32 #Episode 32 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
33 #Episode 33 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
34 #Episode 34 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
35 #Episode 35 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
36 #Episode 36 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
37 #Episode 37 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
38 #Episode 38 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
39 #Episode 39 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
40 #Episode 40 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
41 #Episode 41 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
42 #Episode 42 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
43 #Episode 43 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
44 #Episode 44 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
45 #Episode 45 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
46 Pengumuman
Episodes

Updated 46 Episodes

1
#Episode 01 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
2
#Episode 02 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
3
#Episode 03 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
4
#Episode 04 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
5
#Episode 05 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
6
#Episode 06 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
7
#Episode 07 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
8
#Episode 08 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
9
#Episode 09 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
10
#Episode 10 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
11
#Episode 11 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
12
#Episode 12 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
13
#Episode 13 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
14
#Episode 14 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
15
#Episode 15 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
16
#Episode 16 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
17
#Episode 17 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
18
#Episode 18 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
19
#Episode 19 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
20
#Episode 20 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
21
#Episode 21 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
22
#Episode 22 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
23
#Episode 23 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
24
#Episode 24 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
25
#Episode 25 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
26
#Episode 26 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
27
#Episode 27 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
28
#Episode 28 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
29
#Episode 29 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
30
#Episode 30 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
31
#Episode 31 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
32
#Episode 32 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
33
#Episode 33 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
34
#Episode 34 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
35
#Episode 35 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
36
#Episode 36 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
37
#Episode 37 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
38
#Episode 38 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
39
#Episode 39 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
40
#Episode 40 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
41
#Episode 41 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
42
#Episode 42 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
43
#Episode 43 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
44
#Episode 44 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
45
#Episode 45 (•͈⁠ᴗ⁠•͈)
46
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!