Mamahh

Saat melaju di jalanan yang padat kendaraan, Khyra berusaha fokus, meski pikirannya terusik oleh berbagai hal yang terjadi di sekolah. Gombalan, tatapan penuh perhatian, hingga komentar orang-orang membuat hatinya tak nyaman. "Masya Allah... Masya Allah," gumamnya pelan sambil membaca doa perlindungan dari penyakit Ain.

Ia merenung, dari masa kecil hingga kini menjadi seorang guru, tak pernah sekalipun ia luput dari perhatian orang-orang. Bukan hal yang menyenangkan baginya. Bahkan terkadang, situasi itu mendatangkan kejadian tak diinginkan.

Di tengah lamunannya, mata Khyra menangkap sosok kecil di pinggir jalan, berdiri di dekat tiang lampu merah. Awalnya, ia mengira anak itu hanya menunggu giliran menyeberang. Namun, semakin dekat, ia menyadari anak itu tampak menangis sambil menggosok-gosok matanya. Tanpa pikir panjang, Khyra menepi dan memutuskan untuk menghampirinya.

Sebelum sempat turun sepenuhnya dari motor, anak kecil itu sudah menatapnya dengan mata penuh air mata, lalu berlari mendekat.

"Mama..." ucap gadis kecil itu dengan suara serak, sebelum memeluk Khyra erat.

Khyra terkejut. Gadis kecil, yang tampaknya berusia sekitar lima tahun, memanggilnya "Mama" sambil menangis tersedu. Pelukannya begitu erat, seolah-olah ia telah lama kehilangan Khyra.

"Astaga, bisa-bisanya orang tuanya membiarkan anak kecil ini menangis di tengah jalan selama tiga jam!" seru seorang wanita paruh baya dari salah satu kios pinggir jalan. "Memang anak muda zaman sekarang cuma sibuk ngurusin diri sendiri, anaknya malah terlantar."

Khyra tersenyum kaku mendengar komentar itu. Ia lebih kaget lagi mengetahui bahwa anak ini telah menangis di sana selama tiga jam tanpa ada seorang pun yang membawanya ke tempat aman. Ia pun berjongkok, menyejajarkan matanya dengan gadis kecil itu.

"Nak, orang tua kamu di mana?" tanya Khyra lembut sambil mengusap air mata gadis kecil itu.

Namun, anak itu hanya terdiam. Matanya berbinar menatap Khyra, seolah yakin bahwa Khyra adalah ibunya. Khyra merasa bingung. Anak kecil ini tampak rapi dengan pakaian dan aksesori mahal. Jelas, ia bukan anak terlantar, tapi situasi ini membuat Khyra tidak tahu harus berbuat apa.

Ponsel di tasnya tiba-tiba bergetar. Khyra segera meraihnya, melihat nama Sakinah tertera di layar. Ia langsung mengangkatnya.

"Kamu di mana, beb? Udah satu jam aku nunggu, loh," gerutu Sakinah, terdengar jelas di telepon.

"Maaf, Kina. Ada sesuatu yang terjadi, jadi aku terlambat," jawab Khyra sambil sesekali melirik anak kecil di depannya.

"Kamu punya 20 menit lagi. Kalau nggak sampai, aku bakal marah beneran," ancam Sakinah sebelum menutup telepon dengan salam, yang buru-buru Khyra balas.

Setelah menyimpan kembali ponselnya, Khyra menatap gadis kecil itu. "Aku mau ikut Mama. Aku takut sendirian... hikss," ucap gadis kecil itu, suaranya penuh harap.

Khyra terdiam sejenak, merenung. Dari pakaian dan aksesorinya, gadis kecil ini tampak berasal dari keluarga yang berkecukupan. Namun, ia merasa bersyukur bahwa anak ini tidak disakiti atau diculik selama berdiri di tempat berbahaya seperti itu.

Akhirnya, tanpa berpikir panjang, Khyra memutuskan untuk membawanya. Dia akan menenangkan gadis kecil itu terlebih dahulu sebelum mencari tahu siapa orang tuanya dan bagaimana mengembalikannya dengan selamat.

Dengan motor maticnya, Khyra mendudukkan gadis kecil itu di bagian depan. Wajah gadis kecil itu perlahan berubah ceria, terlihat jelas dari senyumnya. Khyra hanya bisa berharap keputusan ini adalah langkah terbaik untuk sementara waktu.

***

Setibanya di kafe yang diberitahukan sahabatnya, Khyra turun dari motor dengan hati-hati, kemudian menggendong gadis kecil yang imut itu.

Semua pandangan di kafe itu tertuju pada Khyra, yang mengenakan setelan seragam guru yang tertutup kardigan, serta jilbab lilit yang menutupi dadanya. Sakinah, yang melihat gadis kecil di gendongan sahabatnya, tak bisa menahan rasa penasaran.

"Anak siapa itu kamu bawa lari?" tanya Sakinah, menatap Khyra yang duduk tepat di depannya, sambil meletakkan gadis kecil itu dengan hati-hati di sampingnya. Perlakuan Khyra begitu lembut, seolah gadis kecil itu adalah anaknya sendiri.

"Aku juga nggak tahu. Tadi aku lihat anak ini menangis di jalan, berdiri sendirian di lampu merah. Jadi, aku mendekatinya, dan kagetnya, dia malah manggil aku Mama," jelas Khyra, lalu melirik daftar menu untuk memilih minuman yang cocok untuk anak kecil dan beberapa cemilan.

"Serius?!" Sakinah terkesiap. "Makanya itu yang bikin kamu lama, dan akhirnya malah bawa anak itu barengan?"

Khyra hanya mengangguk lelah sebagai jawabannya.

Sakinah memegang keningnya, rasanya kepalanya seperti mau pecah. Pertama, karena sahabatnya itu membuatnya menunggu lama, dan kedua, karena Khyra membawa gadis kecil yang asal-usulnya tidak ia ketahui. Apalagi, janji temu hari ini seharusnya untuk mencari dress. Tapi melihat kondisi sekarang, itu rasanya tidak mungkin. Membawa anak kecil berkeliling pasti melelahkan, apalagi Khyra baru saja selesai dari kerja.

Sakinah terus menatap gadis kecil itu, seolah merasa pernah melihatnya. Matanya menyelidiki setiap detail yang menempel di tubuh anak itu dari baju, kalung, cincin, hingga anting, semuanya bermerek. Tubuh anak kecil itu juga sangat bersih, seperti dirawat dengan sangat baik.

"Aku kayak pernah lihat anak ini deh… Tapi di mana ya?" Sakinah berpikir keras, berusaha mengingat, namun akhirnya dia menyerah karena tidak berhasil menemukan jawabannya.

"Sudahlah, biarkan dia makan dulu. Kata ibu yang ada di pinggir jalan itu, anak ini udah menangis selama tiga jam. Coba bayangin," ucap Khyra, lagi-lagi membuat Sakinah terkejut.

"Untungnya dia baik-baik saja," balas Sakinah.

"Alhamdulillah, itu karena Allah menyayanginya, makanya Dia memberikan perlindungan."

Tak lama kemudian, pesanan Khyra pun datang.

"Ayo sayang, makan cemilannya," ucap Khyra dengan sangat lembut. Namun, anak itu hanya terdiam, tampak sedang berpikir keras.

"Ada apa? Nggak suka sama cemilannya?" tanya Khyra. Anak itu hanya menggelengkan kepala.

"Kata Ayah, Lea nggak boleh makan sembarangan," jawabnya dengan bibir mungil, matanya berbinar-binar, seolah sangat ingin memakan cemilan itu.

"Jadi, nama kamu Lea, ya? Lea… Kamu bisa makan ini karena kakak pilihkan cemilan yang nggak mengandung banyak gula, dan ini bagus kok buat Lea, jadi nggak perlu khawatir," jelas Khyra, menahan diri untuk tidak bertanya tentang nama ayahnya. Ia memutuskan untuk menunggu anak itu kenyang dulu.

"Mama, setelah Lea makan ini, boleh nggak Lea makan yang Lea inginkan?" tanya Lea dengan mata memelas.

"Tentu saja, memangnya Lea mau makan apa?" jawab Khyra dengan senyuman.

Interaksi antara keduanya hanya bisa disaksikan oleh Sakinah, yang merasa seolah keberadaannya tak dianggap. Khyra masih menatap Lea, sabar menunggu jawabannya.

"Lea ingin sekali makan burger dan ayam dengan puas, kata teman Lea itu sangat enak, tapi Ayah nggak kasih Lea makan itu," jelas Lea sambil terus menyantap cemilannya.

Khyra memperhatikan cara makan anak itu, yang sangat anggun, jauh berbeda dari anak-anak lainnya. Anak itu tampak seperti anak bangsawan. Sakinah juga berpikir hal yang sama. Entah siapa anak ini, dan bagaimana dia bisa berada di pinggir jalan.

Terpopuler

Comments

awesome moment

awesome moment

jelas anak mampu lah. pengasuhnya j yg kabur

2025-01-25

0

Soraya

Soraya

mampir thor

2025-02-02

0

🌷💚SITI.R💚🌷

🌷💚SITI.R💚🌷

nemu anak di jalan..smg aja pertolongan ksmu ga jd bumerang bust ksmu ya kay

2025-01-04

1

lihat semua
Episodes
1 Senyuman manis
2 Mamahh
3 KAMU MAMA LEA!
4 Arrysakka?
5 Lea mau sama mama!!
6 Apa aku setua itu di matanya?
7 Arshaka Virendra
8 Lea..
9 Terima kasih
10 Sholat?
11 Ceo V'E kembali
12 Mata yang selalu menatap
13 Informasi Gelap
14 Suara Merdu
15 Menciptakan Momen
16 Mawar Putih
17 Sebuah Masalah
18 Berkat Kehadiran Mu
19 Merasa Lega
20 Tugas Baru
21 Pikiran Aneh
22 Menemani?
23 Malu
24 Keberangkatan
25 Tingkah Aneh
26 Merah seperti Tomat
27 Menunggu
28 Ketakutan
29 First love
30 Ingin memilikimu
31 Sebuah harapan
32 Ketidakberdayaan
33 Sangat Cantik
34 Berjanji akan Menjaga dan Melindungi
35 Sebuah Usaha
36 Jingshang Park
37 Mencari Perhatian
38 Perjodohan
39 Awal Kenangan
40 Kenangan kelam mengejarnya kembali
41 Di Bawah Langit Senja
42 Dua Lamaran
43 Apa dia beragama Islam?
44 Sebuah Keputusan
45 Dunia Seakan Berhenti
46 Sebuah Tekad
47 Cintai Tuhannya Baru Umatnya
48 Kehilangan dan Keraguan
49 Antara Cemas dan Lega
50 Saat Semua Mata Tertuju Padamu
51 Dua Jalan, Satu Keputusan
52 Keputusan Shaka
53 Bertemu Lea
54 Langkah Awal
55 Kegelisahan di Balik Kepercayaan
56 Keputusan yang Mengubah Segalanya
57 Interaksi Singkat yang Mendebarkan
58 Kembalinya Tuan dan Nyonya Virendra
59 Jejak yang Tak Terduga
60 Kehadiran yang Mengguncang
61 Di Balik Tatapan dan Kata
62 Maukah Kamu Menungguku?
63 Cahaya Rembulan
64 Ingat Janjimu
65 Sosok yang Kembali
66 Dilema
67 Dia Calon Menantu Saya
68 Berita Hangat
69 Konferensi Pers
70 Bertemu Kedua Orang Tua Khyra
71 Lamaran
72 Sosok Asing
73 Gaun Merah
74 Suasana Perlahan Mencair
75 Sebuah Acara
76 Perjalanan Menuju Jeddah
77 Tiba Di Jeddah
78 Air Mata Bahagia
79 Saat Dua Hati Menyatu
80 Cahaya Subuh, Saksi Cinta Halal
81 Saat Cinta Berbicara dalam Sunyi
82 Saat Waktu Menguji Kesabaran
83 Keberanian yang Tertunda
84 Untung Aku Tak Memakanmu
85 Perjalanan Pulang dari Tanah Suci
86 Pertarungan Kecil di Pagi Hari
87 Tak Akan Terpisahkan
88 Waktu Seolah Melambat
89 Aku Harus Melihat Mereka
90 They are Everything to me
91 Kita Semua akan Melewati ini Bersama
92 Kembali
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Senyuman manis
2
Mamahh
3
KAMU MAMA LEA!
4
Arrysakka?
5
Lea mau sama mama!!
6
Apa aku setua itu di matanya?
7
Arshaka Virendra
8
Lea..
9
Terima kasih
10
Sholat?
11
Ceo V'E kembali
12
Mata yang selalu menatap
13
Informasi Gelap
14
Suara Merdu
15
Menciptakan Momen
16
Mawar Putih
17
Sebuah Masalah
18
Berkat Kehadiran Mu
19
Merasa Lega
20
Tugas Baru
21
Pikiran Aneh
22
Menemani?
23
Malu
24
Keberangkatan
25
Tingkah Aneh
26
Merah seperti Tomat
27
Menunggu
28
Ketakutan
29
First love
30
Ingin memilikimu
31
Sebuah harapan
32
Ketidakberdayaan
33
Sangat Cantik
34
Berjanji akan Menjaga dan Melindungi
35
Sebuah Usaha
36
Jingshang Park
37
Mencari Perhatian
38
Perjodohan
39
Awal Kenangan
40
Kenangan kelam mengejarnya kembali
41
Di Bawah Langit Senja
42
Dua Lamaran
43
Apa dia beragama Islam?
44
Sebuah Keputusan
45
Dunia Seakan Berhenti
46
Sebuah Tekad
47
Cintai Tuhannya Baru Umatnya
48
Kehilangan dan Keraguan
49
Antara Cemas dan Lega
50
Saat Semua Mata Tertuju Padamu
51
Dua Jalan, Satu Keputusan
52
Keputusan Shaka
53
Bertemu Lea
54
Langkah Awal
55
Kegelisahan di Balik Kepercayaan
56
Keputusan yang Mengubah Segalanya
57
Interaksi Singkat yang Mendebarkan
58
Kembalinya Tuan dan Nyonya Virendra
59
Jejak yang Tak Terduga
60
Kehadiran yang Mengguncang
61
Di Balik Tatapan dan Kata
62
Maukah Kamu Menungguku?
63
Cahaya Rembulan
64
Ingat Janjimu
65
Sosok yang Kembali
66
Dilema
67
Dia Calon Menantu Saya
68
Berita Hangat
69
Konferensi Pers
70
Bertemu Kedua Orang Tua Khyra
71
Lamaran
72
Sosok Asing
73
Gaun Merah
74
Suasana Perlahan Mencair
75
Sebuah Acara
76
Perjalanan Menuju Jeddah
77
Tiba Di Jeddah
78
Air Mata Bahagia
79
Saat Dua Hati Menyatu
80
Cahaya Subuh, Saksi Cinta Halal
81
Saat Cinta Berbicara dalam Sunyi
82
Saat Waktu Menguji Kesabaran
83
Keberanian yang Tertunda
84
Untung Aku Tak Memakanmu
85
Perjalanan Pulang dari Tanah Suci
86
Pertarungan Kecil di Pagi Hari
87
Tak Akan Terpisahkan
88
Waktu Seolah Melambat
89
Aku Harus Melihat Mereka
90
They are Everything to me
91
Kita Semua akan Melewati ini Bersama
92
Kembali

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!